Prolog
Gemericik air yang mengalir deras di bawah kakinya terdengar samar di telinga, walau dengan penerangan seadanya, netra Doyoung menangkap jelas bagaimana tiap arus membawa apapun yang dilewati menuju muara.
Jika Doyoung lompat sekarang, apa dirinya akan berakhir sama?
Ia mungkin hanya merasa kedinginan untuk beberapa saat, sebelum tubuhnya tenggelam ke dasar karena tidak dapat berenang, ditambah hembusan angin penghujung tahun yang biasanya mampu membuat permukaan sungai membeku.
Sudah berapa lama ia di sini? Satu jam? Dua jam? Kakinya mulai mati rasa karena terlalu lama berdiri di cuaca sedingin ini.
Namun Doyoung harap, belum ada orang yang menghubungi tim penyelamat. Mereka pasti akan bertanya tentang masalah apa yang dirinya hadapi, bertingkah seakan mampu menariknya keluar dari lubang gelap yang menelannya dari hari ke hari.
"Airnya kotor, kalau kamu lompat sekarang, mayatmu bakal jadi mayat paling jelek dan gak akan ada yang mau ngurus."
Doyoung menoleh ke sumber suara, kedua alisnya bertaut heran saat menemukan sosok laki-laki yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.
"Jangan lompat." Ucap laki-laki itu lagi.
Tanpa sadar Doyoung tertawa, buku-buku jarinya memutih sebab menekan kuat besi pembatas jembatan, berusaha menghalau air mata yang terus ia tahan.
"Apapun masalah kamu, jangan lompat. Saya yakin kamu mampu hadapin semuanya, tapi jangan mati dulu." Lanjutnya karena Doyoung tidak kunjung bicara.
Doyoung tetap diam bahkan hingga ia berjalan menjauh, meninggalkan Junghwan yang terus memandang punggungnya dari belakang.
Sudah tiga malam Junghwan melihat Doyoung berdiri di pinggir jembatan dalam rentang waktu satu minggu, dan kali ini ia memutuskan untuk bicara karena biasanya Doyoung akan pergi setelah tiga puluh menit.
Ia tahu masalah apa yang Doyoung hadapi, namun dirinya masih belum merasa pantas untuk menawarkan bantuan, karena Doyoung belum kenal siapa itu Junghwan.
Pukul satu pagi, kepala Doyoung mulai terasa pegal karena ia terlalu sering menunduk hari ini. Minimarket tempatnya bekerja paruh waktu justru memiliki banyak pelanggan di malam hari, mungkin karena lokasinya berdekatan dengan bar-bar kecil pusat kota.
"오서세요." Ucap Doyoung ketika mendengar suara lonceng dari pintu yang dibuka, netranya menangkap sosok yang cukup familiar, namun Doyoung tidak ingat di mana ia pernah melihatnya.
Laki-laki berpakaian serba hitam itu berjalan menuju rak makanan instan, meraih beberapa cup ramen juga sosis yang hanya butuh dipanaskan.
"Totalnya dua puluh ribu won." Ucap Doyoung ketika selesai menghitung belanjaan.
"Buat kamu." Ucap laki-laki di depannya sambil mendorong tas berisi makanan ke arah Doyoung.
Kepala Doyoung refleks terangkat, menatap orang yang berdiri di hadapan lamat-lamat. Suara itu, suara yang Doyoung dengar di pinggir sungai Han minggu lalu.
Junghwan tersenyum, Doyoung nampak jauh lebih baik dibanding terakhir kali mereka bicara.
...
Hmmm... ini temanya fantasi yah tapi belum mau aku kasih tau sih fantasinya gmn hehe btw maaf up buku baru padahal masih ada proyek mangkrak😢
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com