Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter V

"Saya bercanda. Ayo masuk lagi, kita gak mungkin pulang sebelum foto sama Jihoon." Ucap Doyoung sambil beranjak dari tempatnya, berjalan menuju pintu masuk gedung yang ada di belakang Junghwan.

Yang lebih tinggi menurut, mengekori langkah Doyoung yang sepertinya sudah baik-baik saja dan tidak lagi dikuasai oleh minuman keras yang ia konsumsi.

Begitu mereka masuk ke dalam, ternyata banyak tamu undangan yang sudah pulang, termasuk keluarga besar Doyoung.

Keduanya berjalan lurus menuju pengantin, basa-basi sebentar lalu memanggil karyawan perusahaan yang lain untuk mengambil gambar bersama. Ada delapan orang di sana, termasuk Doyoung dan Junghwan.

Doyoung jelas berdiri di samping Jihoon, lengkap dengan Junghwan di sampingnya. Mereka kembali berbincang beberapa saat sebelum berpamitan, tadinya Jihoon hendak menahan, namun ia dapat membaca suasana hati Doyoung yang nampaknya tidak terlalu baik malam ini.

"Hati-hati, kamu gak mabuk kan?" Tanya Jihoon pada Junghwan yang menjawab dengan menggeleng pelan.

"Jagain Doyoungnya, pastiin aman sampe rumah." Jelas Jihoon lagi, dan kali ini Junghwan mengangguk lalu menyusul Doyoung yang sudah terlebih dulu berjalan menuju pintu keluar.

Tidak ada yang bicara selama perjalanan pulang, Doyoung duduk diam menatap jalanan di samping, sedangkan Junghwan yang takut memulai obrolan.

"Ada yang mau dibeli dulu?" Tanya Junghwan pada akhirnya, karena selama di acara tadi, ia tidak melihat Doyoung mengonsumsi apapun kecuali sampanye yang terus-menerus ia ambil dari nampan pelayan.

"Doyoung?" Ucap Junghwan sambil menoleh, dan ia terkejut ketika melihat Doyoung yang ternyata sudah terlelap sambil bersandar pada jendela.

Junghwan memutuskan untuk membeli makanan lewat drive thru, memesan junk food yang pasti sudah disukai semua orang. Dirinya berharap Doyoung tidak terlalu pemilih soal makanan sebab ia memesan cukup banyak.

Nyaris tengah malam ketika mobil yang Junghwan bawa akhirnya sampai ke depan rumah Doyoung, penjaga langsung membuka gerbang dan kendaraan kini sudah terparkir di garasi depan.

Mesin mobil belum Junghwan matikan, ia menoleh ke arah Doyoung yang masih terlelap di sampingnya.

"Doyoung..." Panggil Junghwan sambil mengusap bahu yang lebih kecil. "Doyoung, bangun." Lanjutnya.

Dan Doyoung akhirnya membuka mata, ia mengusap wajahnya sebelum menjawab panggilan Junghwan. "Kenapa? Oh, udah sampe?" Tanyanya, Junghwan mengangguk pelan.

Doyoung melepas seatbelt dan hendak membuka pintu, namun geraknya berhenti begitu menyadari ada banyak makanan di pangkuannya.

"Makan, kamu belum makan apa-apa malam ini." Ucap Junghwan yang kemudian mematikan mesin mobil dan ikut membuka seatbelt, "Saya mau pulang."

Tetapi Doyoung menggeleng, netranya menatap ngeri tumpukan makanan di depan. "Bantuin, saya gak mungkin bisa habisin ini sendirian."

Disini lah Junghwan sekarang, duduk di salah satu kursi meja makan besar yang ada di kediaman bosnya. Di sampingnya ada pemilik rumah dan di hadapan mereka, tertata berbagai macam makanan yang Junghwan pesan sebelumnya.

"Kamu kira porsi makan saya sebanyak ini?" Protes Doyoung sembari menarik piring berisi kentang goreng dan mulai mengunyahnya.

"Saya cuma gak tau harus pesen apa." Jawab Junghwan jujur.

Sambil berusaha menghabiskan makanan yang ia pesan sendiri, netra Junghwan memendar ke seluruh ruangan. Meja makan yang kini ia tempati berada di samping dapur yang hanya disekat oleh tempat mencuci piring. Sebelum sampai di sini, ia harus melewati ruang depan yang dipenuhi oleh lemari kaca berisi figurin koleksi pemilik rumah, juga ruang tamu yang terdapat sofa serta televisi besar.

"Kamu tinggal sendirian?" Tanya Junghwan, rumah ini terlalu sempit untuk ditempati oleh keluarga besar konglomerat, namun terlampau luas jika hanya ditinggali sendirian.

"Berdua sama pengurusku dari kecil, bisa dibilang bertiga kalau satpam jaga kamu hitung juga." Jawab Doyoung sambil terus mengunyah makanan.

"Kalau kamu?" Doyoung balik bertanya.

"Saya? Kenapa?"

"Kamu tinggal sama siapa? Sendirian juga?"

Junghwan mengangguk, "Saya anak tunggal, orang tua saya juga udah meninggal beberapa tahun lalu. Kan saya udah cerita tadi."

"Cerita kamu kurang lengkap." Protes Doyoung, memberi tanda agar Junghwan menceritakan soal keluarganya tanpa harus terlihat ingin tahu dengan urusan pribadinya.

Doyoung menatap heran sekertarisnya ketika ia malah tertawa, "Kenapa?" Tanyanya.

"Never knew that you had this habit."

"What habit?"

"Cute habit."

Refleks Doyoung memalingkan wajah, membuat raut penuh tanya sebelum kembali menatap Junghwan yang masih sibuk mengunyah makanan. 

"So?"

"So?"

"Tell me about your family!" Ucap Doyoung, ia mencubit gemas lengan Junghwan yang malah terus menggodanya.

Yang ditanya tertawa, berusaha menelan makanan dimulutnya dibantu dengan minuman bersoda yang ia tenggak langsung dari botolnya. 

"Orang tua saya udah meninggal, saya harus kasih tau apa lagi?"

Doyoung berdecak, "Katanya mereka ninggalin hutang? Kamu lulusan universitas terbaik di Korea, kamu gak mungkin masuk sana kalau orang tuamu gak punya banyak uang."

Sambil menyandarkan tubuhnya ke bagian belakang kursi, Junghwan terus menatap Doyoung yang memandang penasaran ke arahnya.

"Mau tau banget?" Tanyanya sembari menahan tawa, ia tidak tahu bahwa meledek Doyoung rasanya akan semenyenangkan ini.

Yang lebih kecil mengangguk semangat, ia bahkan menggeser kursinya agar duduk lebih dekat dengan Junghwan hingga lutut mereka bersinggungan.

"Mereka kecelakaan satu tahun setelah saya lulus kuliah, saya lagi kerja di Kanada waktu itu. Meninggal di tempat dan sialnya jadi tersangka penyebab kecelakaan beruntun, ada puluhan orang yang nuntut ganti rugi. Saya terpaksa jual rumah, mobil, dan pinjam uang ke bank buat bayar. Sekarang saya harus cicil sisa hutangnya."

Junghwan menceritakan segalanya dengan santai, seakan itu adalah hal biasa yang dapat menimpa siapa saja. Sedangkan Doyoung kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Kok nangis?" Tanya Junghwan panik saat laki-laki manis di sebelahnya mulai terisak, dan Doyoung menggeleng lalu mengusap wajah.

"Saya mudah terharu." Jawab Doyoung asal.

"Cengeng." Ledek Junghwan, tangannya meraih tisu yang ada di sisi meja dan menyerahkannya pada Doyoung. "Gimana? Puas? Udah gak penasaran?"

Doyoung mengangguk lesu, "Maaf kalau saya maksa kamu buat inget lagi sama kejadian itu." Ucapnya, penuh rasa bersalah. Kepalanya tertunduk, isakan samar juga kembali terdengar dari mulutnya.

Sedangkan Junghwan malah tersenyum, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap surai legam laki-laki manis di sampingnya. "Kan saya udah bilang gapapa, it was a long long time ago, dan kamu juga orang pertama yang tau soal ini."

Ucapan Junghwan membuat Doyoung mengangkat kepala, ia menatap lawan bicara yang masih betah mengusap rambutnya. "For real?" Tanyanya dengan nada tidak percaya.

"For real, I had no friend here. Dulu saya tinggal di Iksan, dan pas kuliah juga saya kurang bergaul sama yang lain."

Mereka terus berbincang, bertukar cerita perihal masa lalu yang kebanyakan tidak diketahui siapapun kecuali diri mereka sendiri. Malam itu, Doyoung akhirnya mengenal Junghwan lebih jauh, begitu pula sebaliknya. Junghwan kini tahu bahwa Doyoung memiliki banyak sisi yang tidak ia tunjukkan selama di tempat kerja.

Junghwan takjub dengan tingkat profesionalitas Doyoung, ia bagaikan mesin yang berhasil dicetak sempurna oleh kakeknya untuk memimpin perusahaan tempatnya bekerja.

"Bawa mobil saya aja, besok saya juga gak akan kemana-mana." Perintah Doyoung saat Junghwan hendak memesan taksi untuk pulang. "Biar sekalian senin kamu tinggal jemput saya ke sini, jadi kita bisa berangkat bareng."

Perintah Doyoung Junghwan turuti, keduanya berjalan menuju pintu depan dan tanpa sadar Doyoung melambaikan tangan ketika mobil yang Junghwan bawa, bergerak keluar gerbang.

Seakan lupa dengan hal buruk yang terjadi beberapa jam sebelumnya, Doyoung kini senang karena ia sudah mulai dekat dengan Junghwan. Setidaknya, ada orang yang dapat menggantikan Jihoon dalam peran yang sempurna di sampingnya.

***

Sialnya, Doyoung kembali diingatkan dengan kejadian buruk tersebut ketika ponselnya berdering di pukul tujuh pagi, membangunkannya yang baru terlelap selama kurang dari empat jam.

"Kakek sakit dan nyuruh kamu dateng ke rumah."

Ucapan Junkyu dari ujung panggilan berhasil membuat Doyoung membuka matanya lebar-lebar, ia bahkan berlari menuju kamar mandi dan langsung bergegas ke rumah utama menggunakan taksi yang untungnya lewat di depan rumah.

Dari semua anggota keluarga, Doyoung paling menyayangi kakeknya. Mereka terlalu sering bersama hingga Doyoung rasa, orang tuanya jauh lebih dekat dan lebih menyayangi kakaknya Junkyu dibanding dirinya.

Doyoung berlutut di samping ranjang rendah tempat kakeknya berbaring, menatapnya dengan penuh perasaan bersalah atas pertengkaran mereka tadi malam.

"Kenapa malah kakek yang minta maaf? Kan aku yang salah." Ucap Doyoung dengan bibir merengut maju.

"Kakek cuma gak mau kamu berakhir urus perusahaan sendirian, gak ada yang bisa bantu kamu di sini." 

Doyoung benci mengakui bahwa ucapan yang keluar dari mulut kakeknya memang benar, tidak ada orang yang dapat mengurus perusahaan selain mereka karena anggota keluarga lain juga sibuk dengan klinik yang mereka bangun puluhan tahun lamanya.

"Kamu harus udah punya pasangan sebelum kakek meninggal." 

Kalimat tersebut terus berputar di kepala Doyoung bahkan hingga ia keluar dari kamar paling luas di rumah, berjalan menuju Ibunya di ruang tengah yang kebetulan sedang tidak memiliki jadwal praktik.

"Kok nangis? Berantem lagi sama kakek ya?" Tanya Ibunya. Doyoung menggeleng, ia mempererat pelukan sambil terus terisak pelan.

Mendadak ia teringat dengan Junghwan, bagaimana jika Junghwan sedih? Ia tidak memiliki Ibu untuk dipeluk dan meringankan beban di hati, ia juga tidak memiliki keluarga untuk dapat dimintai bantuan jika sedang tertimpa masalah.

"Loh kok malah makin sedih nangisnya, kenapa?" Tanya Ibunya lagi ketika isakan Doyoung justru makin terdengar jelas.

Doyoung menggeleng, ia melepas pelukan lalu mengusap wajahnya yang basah karena air mata. "Junkyu hyung mana? Aku mau minta anterin pulang."

"Gak bawa mobil? Hyungmu kerja, baru berangkat tadi pagi sama suaminya. Mau mama anter?"

Dan Doyoung kembali menggeleng, Ibunya jarang mendapat libur dan ia tidak mungkin mengganggu waktu istirahatnya hanya untuk mengantarnya pulang ke rumah.

"Aku pesen taksi aja."

Ucapan Doyoung sangat berbanding terbalik dengan tindakan sebab dibanding perusahaan taksi, ia malah menghubungi ponsel Junghwan, memintanya untuk menjemputnya di rumah utama karena hari ini ia sangat tidak ingin sendirian.

Untungnya Junghwan juga tidak memiliki agenda apapun, ia langsung bergegas menuju alamat yang Doyoung kirim menggunakan kendaraan milik atasannya.

Junghwan sampai tidak lebih dari satu jam kemudian, Doyoung duduk di kursi penumpang dan mengenakan seatbelt sebelum mobil bergerak menjauh dari rumah utama keluarganya.

"Maaf ngerepotin, tapi saya beneran gak tau harus hubungin siapa. Biasanya saya bakal minta tolong Jihoon karena dia satu-satunya orang yang tau soal masalah ini." Jelas Doyoung sambil menatap lurus jalanan di depan. Suaranya lesu dan tanpa Doyoung ceritakan, sepertinya Junghwan tahu masalah apa yang sedang ia hadapi.

Masalah yang berhubungan dengan kejadian malam tadi.

"Hubungin saya. Hubungin saya terus, saya bakal selalu dateng tiap kamu butuh." Jawab Junghwan tanpa menoleh.

Jalanan Seoul di akhir pekan selalu dipenuhi oleh kendaraan, suara klakson mobil terus bersahutan, ditambah rintik hujan membuat semua orang ingin cepat-cepat sampai ke tujuan.

Namun Doyoung rasanya tuli sebab yang dapat ia dengar hanyalah rentetan ucapan kalimat Junghwan barusan. Terdengar berulang di telinga, bagai musik yang sengaja diputar lagi dan lagi karena kecanduan dengan irama atau liriknya.

"Tapi kamu gak akan minta bayaran, kan?" Tanya Doyoung pada akhirnya.

"Depends.

"Maksudnya?"

"Kalau tujuan kamu manggil saya jelas, ya saya gak akan protes. Tapi kalau cuma buat buang-buang waktu saya, baru saya minta bayaran." 

Jawaban Junghwan membuat Doyoung tertawa, ia menoleh ke jendela samping sambil merapatkan jaket tipis yang dirinya kenakan. Membuat sebelah tangan Junghwan terulur untuk menaikan temperatur penghangat kendaraan.

"Mau langsung pulang?" Tanya Junghwan.

"Ada bar yang udah buka jam segini? Saya mau cari calon suami."

Ucapan asal Doyoung berhasil membuat Junghwan memelankan laju kendaraan, ia kini menatap atasannya dengan raut heran. "It's nine AM, Mr. Kim. Restoran di sekitar rumahmu aja belum buka."

"Terus, saya harus cari calon suami di mana? Kakek terus-terusan nyuruh nikah, beliau bahkan udah nyerah jodohin saya sama cucu konglomerat lainnya dan pasrah dengan apapun pilihan saya. Gimana kalau saya main dating app? Kamu pernah main itu? Mau ajarin saya, gak? Nanti saya bayar."

Mobil yang mereka naiki berhenti di belakang lampu merah. Junghwan kembali menatap atasannya yang mulai bermain ponsel di sebelah.

"Gak ada orang baik di sana."

"Sok tau, emang kamu pernah coba?"

"Isinya cuma orang aneh yang cari selingkuhan, kamu mau tiba-tiba disamperin karena ngajak nikah pacar atau suami orang?"

Doyoung berdecak kesal, meletakkan ponselnya di pangkuan lalu menatap Junghwan yang ternyata masih bertindak serupa. "Terus gimana dong? Kamu juga gak mau saya ajak kerjasama buat nikah kontrak, kan?"

"Kata siapa? Kemarin kamu yang bilang kalau itu cuma bercanda, makanya saya gak berani buat bahas lagi."

Netra Doyoung mengerjap, ia mendadak takut dengan tatapan tajam Junghwan. 

"Jadi, kamu mau?" Tanya Doyoung dengan suara pelan.

Junghwan mengangguk, "As long as perjanjiannya gak memberatkan pihak manapun, saya setuju."










...

here we goooooo

btw alurnya lambat guys, aku gak mungkin bikin mereka nikah tanpa chemistry wkwkwk ditunggu yah, aku usahain update dua hari sekali okaayyy. kalian juga tunjukkin antusiasnya dong! (menuntut)

btw (lagi) cover baru hehe

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com