Chapter IX
Jemari Junghwan tidak berhenti mengusap wajah Doyoung yang tengah tertidur di sampingnya, laki-laki manis itu akhirnya terlelap saat matahari mulai terbit, setelah semalaman menahan sakit yang ia rasakan di dalam tubuhnya.
Netra bulat Doyoung yang tertutup perlahan mulai bergerak, Junghwan melempar senyum terbaik yang ia punya tepat setelah Doyoung membuka mata.
"Selamat pagi." Ucap Doyoung dengan suara serak.
Junghwan tertawa, masih dengan ibu jari yang tidak berhenti membelai lembut pipi Doyoung. "Ini hampir jam tiga sore." Jawabnya. "Sudah merasa baikan? Mau makan sesuatu?" Tanya Junghwan.
Doyoung menggeleng dan kembali merapatkan tubuhnya dengan Junghwan. "Tubuhku masih lemas karena tersiksa semalaman."
Senyuman manis terukir indah di wajah Junghwan saat Doyoung membenamkan wajah di dadanya, dikecupnya puncak kepala Doyoung berulang kali dengan sebelah tangan yang melingkar di punggung yang lebih kecil.
"Kau tidak ingin berkencan di luar?" Pertanyaan tiba-tiba yang keluar dari mulut Junghwan membuat Doyoung melepaskan pelukannya, ia menatap wajah mantan Dewa dengan tatapan heran.
"Maksudmu?"
"Aku ingin menghirup udara segar."
"Kau hanya berpura-pura bernapas selama ini."
"Ayolah, ku dengar nanti malam akan ada pesta kembang api di pinggir sungai, aku juga ingin mengisi kulkasmu yang kosong dengan beberapa bahan makanan."
Doyoung berdecak kesal sebelum berbalik untuk memunggungi Junghwan. "Jangan minta aku untuk bertingkah seperti manusia."
"Kim Doyoung..." Junghwan berbisik pelan sambil memeluk tubuh Doyoung dari belakang. "Aku akan memenuhi kulkasmu dengan es krim yang kau sukai."
"Tidak."
"Kau juga dapat memilih permen sebanyak yang kau inginkan."
"Tidak."
"Ditambah dengan permen karet, jika kau mau."
"Baiklah, tapi jangan minta aku untuk mandi."
"Tidak mau aku mandikan?"
"Berhenti bicara omong kosong."
Junghwan tertawa, ia akhirnya beranjak dari kasur lalu mulai berjalan ke arah lemari. "Kau tidak memiliki pakaian hangat?" Tanya Junghwan dan dibalas oleh gelengan kepala Doyoung yang masih berbaring di atas ranjang.
"Aku tidak pernah merasa dingin, lagipula aku tidak butuh itu karena kau yang akan memelukku jika aku kedinginan."
Setelah perdebatan panjang akhirnya Doyoung terpaksa menuruti perintah Junghwan untuk mengenakan coat kebesaran miliknya.
"Aku akan berteleportasi, kita bertemu di sana." Ucap Doyoung tepat di depan pintu rumah, dan lagi-lagi ucapannya ditolak oleh Junghwan.
"Naik mobilku sekarang." Perintah Junghwan yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.
"Tidak menghemat waktu, aku benci jika harus berhadapan dengan kemacetan di depan jalan besar." Omel Doyoung, kalau bukan karena Junghwan yang memintanya, ia benar-benar hanya ingin berbaring hingga dua minggu ke depan, bukan justru terlibat pertengkaran dengan Dewa yang terobsesi menjadi manusia seperti Junghwan.
"Bagaimana jika di tengah jalan nanti ada makhluk jahat yang menyerangku?"
"Kau pikir aku peduli? Lagipula aku tidak lagi ingin mendapat hukuman karena membantumu terbebas dari para iblis bau itu."
"Masuk dan akan ku turuti semua keinginanmu."
"Semuanya?"
"Semuanya."
Doyoung tersenyum jahil sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Junghwan, tanpa Junghwan tahu kalau dirinya akan menyesali keputusan impulsif yang ia ucapkan barusan.
***
"Stok permen karet yang kalian punya hanya sebatas ini?" Pegawai supermarket yang Doyoung tanya langsung mengangguk, membuat Doyoung berdecak kesal karena hanya berhasil mengisi satu troli dengan permen karet yang sangat ia sukai.
Sedangkan Junghwan hanya memandang dari samping, dengan tangan yang memegang erat pegangan dua troli, satu dipenuhi permen karet dan satu lagi berisi es krim cokelat yang Junghwan yakini tidak akan muat di kulkas Doyoung.
Tapi tidak apa, Junghwan sudah berjanji untuk menuruti semua perintah Doyoung, dan Dewa tidak pernah melanggar janjinya.
"Setidaknya kita harus menyewa truk untuk membawa semua ini."
"Aku tidak peduli, itu urusanmu."
Awalnya Doyoung bersikap baik dan menuruti semua perintah Junghwan, ia membiarkan Junghwan terlebih dahulu membeli berbagai bahan makanan untuk mengisi kulkasnya yang kosong. Dan keduanya kembali ke supermarket untuk membeli makanan yang Doyoung sukai.
Tapi ternyata itu hanya bagian dari rencana Doyoung untuk mengerjai Junghwan, ia memang berniat menghabiskan seluruh tabungan Junghwan agar Dewa itu berhenti memintanya untuk membeli bahan makanan karena Doyoung benar-benar tidak membutuhkan itu semua.
"Kau sudah menghabiskan stok mereka, kita harus pulang sebelum pergi ke pinggir sungai Han karena es krim mu pasti akan mencair jika dibiarkan di mobil terlalu lama."
Doyoung mengangguk, keduanya berjalan ke arah kasir dengan santai. Namun langkah mereka terhenti saat seseorang menyapa Junghwan. "So Junghwan?"
"Oh, Pak Lee. Apa yang kau lakukan di sini?"
Doyoung memutar mata, percakapan basa-basi yang sangat ia benci dimulai tepat di depan wajahnya.
"Menemani anakku belanja, kau? Oh, ini kekasihmu?"
Senyum Doyoung yang baru saja merekah seketika luntur ketika Junghwan menggeleng kuat. "Ia temanku."
"Ah, ku pikir dia kekasihmu yang membuatmu menolak Park Songhwa."
Doyoung berdecak kesal, ia kemudian berjalan meninggalkan Junghwan yang masih sibuk berbicara dengan teman satu kantornya. Dirinya benar-benar menyesal karena harus menuruti perintah Junghwan untuk keluar rumah jika tahu akan berakhir seperti ini.
Meskipun yang Junghwan bicarakan benar, mereka memang tidak memiliki hubungan apapun, tapi bisa-bisanya Dewa itu dengan cepat berkata bahwa ia hanyalah temannya, siapa juga yang ingin berteman dengan Dewa lemah seperti Junghwan.
Doyoung terus berjalan hingga tanpa sadar Junghwan telah menyusulnya di belakang, dengan troli yang entah ia tinggalkan di mana.
"Kim Doyoung." Ucap Junghwan setelah berhasil meraih tangan kanan Doyoung, dengan cepat Doyoung menepis pegangan tangan Junghwan, ia kembali berjalan menjauh karena enggan berbicara dengan Dewa sialan itu.
"Kita harus bayar sebelum pergi, kau tidak tahu itu? Atau mau ku kembalikan semua makanan kesukaanmu ke dalam rak?"
"Aku tidak peduli."
"Kau kenapa? Aku salah bicara?"
"Tidak."
"Kau mengenal atasanku?"
"Tidak."
"Lantas apa? Kenapa sikapmu berubah dengan cepat? Umurmu ribuan tahun, Doyoung. Kau bukan anak manusia yang berusia belasan dan sedang berada di masa puber, kan?"
Doyoung diam, sama sekali tidak berniat menanggapi pertanyaan Junghwan. Jarinya bergerak gelisah di ujung scarf yang ia kenakan.
"Kau marah karena aku berkata bahwa kau adalah temanku?"
Junghwan terkekeh saat menyadari bahwa tebakannya benar, ia bergerak mendekat ke arah Doyoung dan langsung mengusap kepala Immortal itu dengan lembut.
"Aku hanya tidak ingin kau berhubungan dengan teman manusiaku, bukankah kau yang tidak mengharapkan untuk mengenal mereka lebih jauh?"
Lagi-lagi Doyoung berdecak kesal saat menyadari bahwa kalimat Junghwan benar. Tapi tidak semudah itu untuk mengaku di depan Junghwan, ego Doyoung terlalu tinggi.
"Maafkan aku, seharusnya aku bertanya dulu, kan?"
Dengan terpaksa Doyoung mengangguk, sungguh ini sama sekali tidak seperti dirinya. Doyoung yang biasa keras kepala, tidak menuruti perintah siapapun, atau dengan mudah mengiyakan tuduhan orang lain.
Junghwan menarik sebelah tangan Doyoung untuk ia bawa masuk ke dalam genggaman, keduanya berjalan ke arah kasir yang hampir selesai menghitung belanjaan. Dengan cepat Junghwan membayar semuanya dan meminta karyawan untuk mengantar barang-barang mereka ke dalam mobil.
"Tolong jangan sampai rusak, kekasihku tidak ingin memakan es krim yang sudah hancur."
Ucapan Junghwan berhasil membuat Doyoung salah tingkah, ia meremat tangan Junghwan yang masih betah di genggaman. "Apa yang kau bicarakan?" Protesnya.
"Kenapa? Kau kekasihku kan?" Tanya Junghwan sambil tertawa.
Doyoung lebih banyak diam selama perjalanan pulang, entah kenapa ia merasakan sesuatu yang aneh saat bersama Junghwan. Perasaan yang belum pernah ia rasakan selama ribuan tahun berada di dunia.
Ada rasa tidak nyaman saat Junghwan tersenyum ke arahnya sejak tadi malam, dan sesuatu yang membuat Doyoung bersemangat ketika Junghwan dengan lembut memakaikan scarf tebal di lehernya sebelum mereka keluar rumah.
Juga perasaan hangat ketika Junghwan tidak berhenti mengusap punggung tangannya dengan ibu jari, Doyoung benar-benar tidak paham dengan semua hal yang pertama kali terjadi sejak kedatangannya di dunia.
***
"Aku benar-benar lelah, tidak bisakah kita tinggal di rumah?" Rengek Doyoung kepada Junghwan yang masih sibuk menata bahan makanan di dalam kulkasnya.
Doyoung tidak bohong karena sejak bangun tidur tadi, tubuhnya memang lemas setengah mati. Ditambah dengan Junghwan yang mengajaknya berkeliling di supermarket, Doyoung hanya ingin berbaring dan tidak melakukan apapun saat ini.
Junghwan tidak menjawab, dirinya masih mencari cara untuk membujuk Doyoung agar mau pergi ke tepi sungai Han. Pesta kembang api hanya diadakan malam ini dan Junghwan ingin melihat hal indah itu bersama Doyoung.
"Dewa So..." Doyoung yang duduk di atas kursi meja makan kini mulai membenamkan wajahnya di antara kedua tangan, sekuat tenaga ia menahan namun gagal karena kedua matanya mulai terpejam. "Junghwan..." Ucap Doyoung lagi, sambil berharap agar Junghwan menoleh ke arahnya.
Berhasil, usaha Doyoung berhasil karena Junghwan mulai berdiri dan berjalan mendekat. Dewa itu menatap Doyoung dengan khawatir. "Ada apa? Tubuhmu sakit lagi?" Tanya Junghwan lembut.
Doyoung menggeleng. "Kepalaku terasa berputar, Dewa So." Ucapnya tanpa membuka mata.
Dengan hati-hati Junghwan membawa tubuh Doyoung yang terasa ringan dengan kedua tangan, ia berjalan ke arah kamar dan langsung membaringkan Doyoung di atas kasur. Memakaikan selimut tebal di atas tubuh Doyoung yang terlihat bergetar karena kedinginan.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Ucap Doyoung dengan mata setengah terbuka ketika netranya menatap tubuh Junghwan yang mulai berjalan ke luar ruangan.
"Sebentar, aku hanya harus membereskan beberapa peralatan di dapur."
Doyoung menggeleng kuat. "Tidak... temani aku di sini, Junghwan. Aku takut."
Langkah Junghwan seketika berhenti, dengan cepat ia berbalik dan berjalan kembali ke arah Doyoung. "Kau takut? Apa yang kau takutkan?"
Junghwan berlutut di samping kasur, menatap Doyoung yang setengah sadar di hadapannya.
Dengan sekuat tenaga Doyoung berusaha menggerakkan tangan, dan ia tersenyum ketika berhasil membelai lembut wajah Junghwan.
"Aku... aku takut kehilanganmu."
Kalimat itu membuat Junghwan sadar bahwa kesakitan yang Doyoung rasakan, bukan lagi akibat hukuman yang ia terima karena telah menolongnya dari serangan makhluk jahat tadi malam.
...
sorry mentemen kalo ada kalimat yang berulang atau rancu gitu. wattpad lagi error banget di laptop ini aku ketik pake hp hue T_T
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com