Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XVIII

"Aku memintamu untuk membuat Doyoung melupakanku, bukan justru sebaliknya!"

Haruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia sedang berhadapan dengan Junghwan, Dewa yang baru saja mengorbankan diri untuk Immortal yang sebenarnya tidak perlu diselamatkan.

Ini adalah kesalahan pertama yang ia lakukan, tidak biasanya malaikat pencabut nyawa itu berbuat sesuatu yang benar-benar fatal. Tapi sepertinya keberuntungan memang tidak berpihak pada Junghwan.

Karena kesalahan pertama Haruto adalah membuat permintaannya berantakan.

"Seharusnya Yoshi yang mengurus masalahku, di mana dia?"

Haruto tertawa. "Kau merindukan malaikat yang membuatmu dikutuk itu?" Jawabnya.

Junghwan enggan menjawab dan mulai berjalan menjauh, Haruto mengikutinya dari belakang sambil terus meminta maaf.

"Maafkan aku, Dewa So. Aku akan menuruti semua perintahmu tapi tolong, jangan murka. Amarahmu akan sangat sulit untuk dikendalikan di sini."

Langkah Junghwan berhenti, ia menatap Haruto yang melempar pandangan penuh harapan ke arahnya.

"Tulis proposal ke para petinggi, aku ingin kembali ke dunia."

"Proposal? Kau terlalu lama bergaul dengan mereka! Kita bahkan tidak memiliki alat tulis di sini."

Junghwan mengangkat bahu dan kembali berjalan menjauh.

"Tolong ucap permintaan yang sedikit masuk akal."

"Tidak masuk akal? Kau pikir aku bisa tinggal di sini selamanya dan menyaksikan Doyoung tersiksa karena terus mengingatku di bawah sana? Kesalahanmu fatal, Haruto. Kau bisa saja ditugaskan menjadi penjaga pintu neraka jika aku melaporkan hal ini, kau mau?"

Ancaman yang keluar dari mulut Junghwan berhasil membuat Haruto mengangguk. Menjaga pintu neraka adalah tugas yang semua malaikat hindari, meski pun tubuh mereka tidak dapat merasakan suhu tapi pengap karena api yang tidak berhenti bergejolak seakan menembus tembok tebal yang menjadi pembatas. Serta raungan keras dari mulut para pendosa, Haruto enggan mendengar itu setiap hari di telinganya.

"Baiklah, tapi jangan berharap banyak. Kau tahu kalau dirimu tidak disukai oleh para petinggi."

Tidak ada yang tidak mengetahui fakta itu termasuk Junghwan sendiri, dan hal tersebut lah yang membuat Junghwan meminta Haruto untuk mengemis pada mereka.

"Kau ingin pergi?" Tanya Haruto saat melihat Junghwan berjalan menjauh.

"Menemui Yoshi."

"Oh, mengurus cinta lama yang belum selesai?"

"Tutup mulutmu."

Langkah Junghwan makin cepat, meninggalkan Haruto yang tertawa keras di belakang. Tapi ia benar-benar tidak peduli karena harus menemui Yoshinori hari ini.

***

"Dewa So? Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku butuh bantuanmu."

Junghwan berjalan mendekat ke arah Yoshi yang duduk di kursi panjang tengah ruangan. Mereka berada di ruangan serba putih yang dipenuhi oleh lemari besar.

"Bantuan?" Tanya Yoshi dan dibalas dengan anggukan Junghwan.

"Aku ingin menjadi manusia."

"Kau seharusnya meminta itu kepada Tuhan, bukan kepada malaikat biasa sepertiku."

"Dan aku harap ini dapat menjadi balas budimu, Yoshi."

Kalimat yang keluar dari mulut Junghwan membuat Yoshi seperti dibawa ke kejadian ratusan tahun lalu.

Saat di mana ia mencintai manusia.

Makhluk hidup yang dipenuhi kelemahan namun tetap beranggapan bahwa mereka adalah Dewa yang dapat mengatur segala hal semudah membalikan telapak tangan.

Tidak, Yoshi tidak mendapat hukuman karena hal rendahan seperti itu.

Sebab Junghwan lah yang menanggung segalanya.

Dewa itu rela dilempar ke dunia demi Yoshinori, malaikat yang menarik perhatiannya.

Junghwan baru menyadari ketika ia turun ke dunia bahwa perasaannya terhadap Yoshi ternyata tidak sebesar itu.

Tapi penyesalan tidak pernah hadir di hidupnya, Junghwan merasa bahwa apapun yang terjadi pasti karena takdir yang memang harus ia jalani.

Semua penghuni langit berkata bahwa Junghwan bodoh, Junghwan tidak mengelak dan setuju bahwa itu adalah fakta.

Kali ini, Junghwan kembali mengorbankan diri, mengorbankan gelar Dewa yang ia dapat sejak dirinya diciptakan di dunia. Lagi-lagi karena makhluk yang dicintainya.

Dan takdir membuatnya bertemu dengan Doyoung, Immortal yang membuatnya rela mati.

"Apa kabar?" Pertanyaan Yoshi membuat Junghwan sadar dari lamunan. Dirinya tersenyum ke arah malaikat yang sempat menghancurkan hidupnya dulu.

"Baik, hanya jika kau menuruti perintahku."

"Kau tahu itu mustahil untuk dilakukan, Junghwan."

Junghwan mengambil tempat tepat di hadapan Yoshi, Dewa yang baru saja mati itu memandang wajah malaikat di depannya dengan padangan yang sulit diartikan.

"Dan kau juga tahu bahwa malaikat bisa mewujudkan hal yang mustahil dilakukan."

"Kekuatan yang aku miliki tidak sebesar itu."

"Tapi keberuntungan yang kau punya jauh lebih besar dari yang kau pikirkan."

Junghwan beranjak dari duduknya. "Ku harap kau bisa menggunakan itu untuk ku. Aku percaya padamu, Yoshi."

Yoshi memandang punggung Junghwan yang menjauh meninggalkannya, Dewa itu memang memiliki banyak cinta di tubuhnya.

Dulu cinta itu ia gunakan untuk menyelamatkan Yoshi dari hukuman, dan kali ini untuk immortal yang bahkan tidak memerlukan satu orang pun di hidup kekalnya.

***

Entah ini sudah hari ke berapa di dunia sejak kematian Junghwan, dan ia terus memantau gerak Doyoung dari atas. Perasaannya ikut sakit saat melihat immortal itu terus menangis tanpa henti.

Junghwan tidak berhenti melihat bagaimana Doyoung meringkuk di atas ranjangnya seorang diri, berusaha menghalau perih karena tidak ada satu orang pun yang mengingat Junghwan kecuali dirinya sendiri.

Haruto yang menjadi dalang dari kejadian menyakitkan itu mengambil tempat di sebelah Junghwan.

"Maaf, Dewa So." Ucap Haruto pelan.

"Doyoung yang seharusnya mendengar kalimat itu."

Yang lebih tinggi menunjukkan raut penuh sesal, semua menjadi rumit karena satu kesalahan yang ia buat.

"Kau tidak ingin bereinkarnasi menjadi kucing peliharaan?" Tanya Haruto.

Junghwan tertawa. "Hewan itu tidak bisa memberi kehangatan seperti yang manusia lakukan."

"Kau tahu banyak tentang mereka."

"Jelas, ratusan tahun aku berbaur di bawah sana."

"Dan kau ingin kembali menjalani kehidupan seperti itu?"

Junghwan menoleh ke arah Haruto yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Kau hanya butuh satu orang untuk menjadi alasan kau hidup di dunia, Haruto. Saat menemukan orang itu, hidup yang menyesakkan pun pasti akan terasa baik-baik saja."

"Kalimat yang indah, Dewa So."

Kedua makhluk yang sejak tadi bicara itu menoleh ke sumber suara, mereka menemukan Yoshi yang tersenyum dan bergabung ke obrolan mereka.

"Aku berhasil membujuk Tuhan setelah mengemis ratusan kali, kapan kau ingin turun ke bawah sana?"

***

Butuh waktu yang cukup lama bagi Junghwan untuk bersiap sebagai manusia, Dewa itu bahkan dipaksa memberi beberapa kalimat omong kosong ke Dewa lain yang lagi-lagi akan ia tinggalkan.

Tapi kali ini, Junghwan akan meninggalkan mereka untuk waktu yang sebentar.

"Kau yang harus mencabut nyawaku saat aku mati nanti." Perintah Junghwan dibalas dengan anggukan dari Yoshi.

Ketiganya berdiri di tempat yang disebut perbatasan antara hidup dan mati, tidak satu pun di antara mereka yang pernah melewati pintu di depan sana karena mereka bukan makhluk bernyawa.

Tapi Junghwan, Dewa yang seharusnya kekal malah memilih untuk turun ke bumi, menemui makhluk yang sangat ia cintai.

Yoshi dan Haruto tidak tahu apa rencana yang ada di pikiran Junghwan, mengubah dirinya menjadi manusia jelas akan merugikan siapapun nanti.

Doyoung lagi-lagi akan menangis karena harus ia tinggalkan, meski tidak ada satu pun di antara mereka yang tahu kapan.

Junghwan melempar senyum sebelum berjalan menjauh, meninggalkan dua malaikat yang tetap diam di belakang.

"Dia sudah pergi? Menjadi manusia? Semudah itu?" Tanya Haruto.

Yoshi mengangguk. "Dia mendapatkan semua hal yang ia inginkan, Haruto."

Pintu yang ada di depan mulai tertutup dan menghilang tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Yoshi berbalik, hendak pergi dari tempat yang kini kosong itu.

"Tunggu." Ucap Haruto tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Sepertinya aku melupakan sesuatu?"

"Apa?"

"Astaga! Aku lupa memberikan ingatan tentang kehidupannya dulu!"

Awalnya Yoshi terkejut, tapi ia tertawa dan mengusap bahu Haruto pelan.

"Takdir akan menuntunnya kembali pada makhluk yang ia cintai. Kau harus memberikan sesuatu untuknya sebagai hadiah nanti."

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com