Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter III

"Kenapa bawa mobil?" Tanyaku tepat setelah duduk di jok sebelah Haruto, dengan tangan yang sibuk membereskan botol minum di dalam tas agar tidak miring dan mengenai buku sekolahku yang banyaknya bukan main.

"Emang gapapa kalo pake motor?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Haruto otomatis membuatku tertawa cukup keras. "Kok ketawa sih?" Lanjutnya lagi sambil menatapku dengan heran.

Aku berusaha menetralkan napas sebelum menjawab pertanyaan polos laki-laki tinggi yang rambutnya masih setengah basah di sebelahku, "Ya gapapa? Ini lo lagi berusaha branding di depan gue ya biar keliatan keren?"

Haruto terlihat salah tingkah, ia menggaruk belakang telinga kemudian mulai menyalakan mesin mobil yang sempat mati, aku kembali terkekeh di tempat sambil terus memandang wajahnya.

"Gue takut lo gak nyaman kalo bawa motor, apalagi motor gue lumayan tinggi." Ucap Haruto dengan mata fokus ke jalanan.

Siapa yang menyangka kalau aku akan berangkat bersama Haruto pagi ini? Dia bahkan menjemputku tepat di depan gerbang rumah. Jangankan dekat, bertukar sapa saat sekolah pun jarang karena kami hanya tahu nama masing-masing, tidak pernah lebih dari itu.

Namun sialnya, keputusan untuk membawa mobil menuju sekolah justru membuat kami terlambat, jalanan jam enam pagi sangat ramai, kami bahkan terjebak di pintu keluar perumahan selama hampir tiga puluh menit. Haruto hanya tertawa canggung di belakang setir, sebenarnya tidak masalah juga bagiku karena aku hampir tidak pernah absen sekolah sebelum ini.

"Sorry ya." Ucap Haruto yang kini duduk di hadapanku, setelah sampai dan memastikan kalau kami berdua tidak diizinkan masuk ke dalam sekolah karena terlambat hampir dua jam, kami memutuskan untuk pergi mencari sarapan sebelum memikirkan rencana kedepannya nanti.

"Gapapa, gue udah izin orang tua juga lagian."

"Gak diomelin?" Tanya Haruto dengan nada sedikit kaget.

Aku menggeleng, "Katanya wajar, kan jaraknya jauh udah pasti telat kalau pake mobil. Apalagi tadi lo rada siang jemputnya."

"Kayaknya pas kemarin naik bus tuh, jaraknya gak sejauh itu?"

"Jauh, Haru. Hampir satu jam tau."

"Masa sih? Gak berasa jauh, apa karena sambil liatin muka lo ya jadi waktu gak berasa lama."

Ucapan Haruto sukses membuatku tersedak air yang sedang aku minum, ia terlihat khawatir dan buru-buru duduk di sebelahku, menepuk punggungku pelan lalu memberi tisu untuk membersihkan air di area wajahku.

"Pelan-pelan dong minumnya." Siapapun tolong tahan aku untuk tidak menjambak rambut Haruto, jelas ini salah dia.

"Salting ya?"

"Ngaco, udah sana duduk di depan aja."

"Kenapa? Gue gak boleh duduk di sini? Oh, atau lo mau liatin muka gue selama makan nanti?"

Kedatangan pemilik kedai untuk menyuguhkan makanan yang Haruto pesan menyelamatkanku dari semua ucapan anehnya, wanita paruh baya itu memandang kami dengan tatapan heran karena kami masih memakai seragam dan ini belum genap jam sembilan pagi, terlalu awal untuk beralasan kalau kami sudah pulang sekolah.

"Makan yang banyak biar cepet gede." Ternyata mulut Haruto masih tidak bisa diam bahkan saat mulutnya penuh dengan nasi, aku hanya menghembuskan napas berat sambil berusaha fokus untuk menghabiskan makanan di hadapanku.

***

Agenda sarapan kami berlangsung cukup cepat, Haruto berpura-pura dihubungi oleh guru agar kembali ke sekolah supaya pemilik kedai tidak mencurigai kami bolos atau semacamnya, walau kenyataannya memang begitu.

Ini pertama kalinya aku bolos karena sumpah demi Tuhan aku tidak pernah punya teman dekat di sekolah. Mereka kadang terlalu berisik atau justru terlalu diam, sangat tidak cocok denganku yang mempunyai kepribadian di antara keduanya.

"Lo mau nyoba gantian bawa mobil gak?" Tanya Haruto tiba-tiba, aku menggeleng sebagai jawaban.

"Gue bahkan gak bisa naik sepeda, kalo nyoba bawa mobil lo yang ada nanti kita nabrak dan malah masuk rumah sakit."

Cukup berlebihan tapi kini Haruto menatapku dengan mata yang membulat sempurna, mulutnya sedikit terbuka seakan hal ini adalah fakta paling mengejutkan nomor satu di dunia.

Dan sekarang aku menyesal karena memberi tahu fakta tersebut, masalahnya Haruto memaksa untuk mengajarkanku naik kendaraan roda dua itu di area pejalan kaki pinggir sungai. Sekuat tenaga aku menolak tapi aku bisa apa kalau dia memaksa? Aku tidak mungkin mau ditinggal disini dan berakhir pulang sendirian naik bus.

"Gue pegangin, ayo." Ucap Haruto sambil memegang satu sisi setang dan tempat duduk kecil yang ada di belakang jok, jantungku berdebar tidak karuan karena ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku tidak mencoba naik sepeda.

Terakhir kali saat aku masih sekolah dasar, membuat kakakku kesal tidak karuan karena aku tidak bisa menyeimbangkan sepeda yang entah kenapa sangat terasa berat saat aku mengayuh pedal, dan berujung jatuh tersungkur dan mendapat beberapa jahitan di bawah bibir setelahnya.

"Takut." Jawabku jujur, tanganku sedikit bergetar dan sudah sangat basah karena keringat.

"Gapapa, lo percaya kan sama gue?" Tanya Haruto, matanya berbinar seakan meyakinkanku kalau semua akan berjalan lancar.

"Nggak..." Aku menjawab sambil menggeleng pelan.

"Doyie!" Kali ini nada bicara Haruto meninggi, tapi tunggu, apa itu Doyie?

"Ih?" Aku refleks menjawab karena heran.

"Kenapa? Nama lo kan Doyoung? Biar gemes gue panggil Doyie."

Ucapan Haruto berhasil membuat rasa gugupku berkurang, "Sejenis pet name ya?"

"Panggilan sayang, apaan pet name kan lo manusia." Kini aku mengambil kesimpulan kalau Haruto tidak lebih pintar dariku.

"Ayo cepet, pegel nih." Lanjutnya sambil memukul pelan helm yang aku pakai.

Aku berusaha mengatur napas sebelum menaikan kaki kanan ke atas pedal, kalau aku jatuh nanti setidaknya kepalaku tidak akan cedera karena Haruto menyewa sepeda lengkap dengan helmnya.

"Nah gitu, ayo kayuh terus. Pegang yang bener setangnya, jangan belok-belok, santai aja." Ucapan Haruto terdengar samar di telinga, kali ini kedua tanganku bergetar dan keringat bahkan sudah membasahi hampir seluruh tubuhku.

"Lurus aja lurus, jangan dibelokin."

"Gak bisa Haru ini stangnya berat banget." Protesku tidak terima.

"Bisa, pasti bisa." Haruto masih berusaha membuat kemudi stabil, tapi karena kaki ku terus jatuh dari pedal, hal itu membuat sepeda miring ke kanan kiri.

"Haru aku gak bisa." Tanpa sadar air mata sudah mengalir di pipiku, aku mendadak teringat kejadian buruk saat belajar sepeda bersama kakakku dulu.

Akhirnya Haruto menarik rem dan membuat sepeda berhenti, aku terhuyung ke arahnya namun Haruto berhasil menahan tubuhku yang hampir jatuh.

"Eh jangan nangis." Kami berhenti di depan kursi panjang yang ada di taman, Haruto menuntunku untuk duduk sambil terus meminta maaf dan berusaha menenangkan.

"Maaf ya, gue gak tau kalo lo beneran gak bisa yang se-nggak bisa ini." Aku menghapus jejak air mata dengan kasar lalu mengangguk.

"Gapapa, sorry gue cengeng banget ya."

"Loh kok tiba-tiba pake gue? Tadi tuh ngomongnya aku kamu perasaan."

"Refleks, gue inget pas dulu diajarin abang. Dia juga maksa kaya lo gini, bilang katanya kok cowok gak bisa naik sepeda, gimana mau bisa naik motor lah apa lah."

"Jadi kejadian itu bikin lo trauma?"

"Gak trauma juga, cuma takut aja."

"Yaudah sekarang lanjut dong pake aku kamunya." Aku melepas helm yang masih terpasang di kepala lalu memukul bahu Haruto dengan helm kuning menyala itu.

"Rese, jangan ngeledek."

"Jangan dilepas dong, pake aja. Lo lucu banget kaya minion."

"Tuh kan ngeledek lagi!"

Haruto menarik helm yang ada di tanganku kemudian memakaikan benda itu lagi ke kepalaku, "Kalo dibonceng, gak takut kan?"

Aku menggeleng, ia kemudian beranjak dan menarik tanganku untuk berdiri di sebelahnya. Haruto naik ke atas sepeda dan memberiku kode untuk duduk di boncengan yang ada di sisi belakang. "Ayo, kita jalan-jalan."

Tanpa sadar aku tersenyum dan menurut untuk duduk di jok kecil yang ada di belakangnya, "Ayo." Ucapku kemudian.

"Bentar masih ada yang ketinggalan ini." Aku menoleh ke arah kursi yang barusan kami duduki, tidak ada benda apapun yang tertinggal di sana.

"Apa?" Tanyaku heran.

Haruto lalu menarik kedua tanganku untuk ia lingkarkan di pinggangnya. "Ini, kalo belom pegangan pangeran gak mau jalan."

Siang itu kami berdua habiskan untuk menyusuri jalanan pinggir sungai dengan sepeda yang Haruto sewa, ia tidak berhenti bicara soal berbagai pengalaman lucu saat masih menjabat sebagai ketua osis dulu, sedangkan aku hanya mendengarkan dan menanggapi sebisanya. Selain karena minim pengalaman, entah kenapa aku hanya ingin mendengar suara berat Haruto dengan jelas.

"Ini kita lagi pdkt, lo sadar kan?"

"Hah?"

"Ini gue lagi berusaha deketin lo, lo sadar gak?" Kali ini Haruto sedikit berteriak, untung saja sepeda tidak memiliki spion karena kalau ada mungkin Haruto akan menyadari dan meledek wajahku yang sudah memerah sekarang.

"Sadar..." Jawabku pelan, setengah berbisik.

Dan tiba-tiba Haruto menghentikan laju sepeda. "Mau nyoba duduk di depan gak?"

"Nggak ih norak!"















...

fluff kak fluff kak ini aku kasih fluff ya adik adik.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com