Chapter V
Ujian sekolah hampir selesai, tapi tidak dengan hubunganku dengan Haruto. Jika kalian bertanya apa sudah ada status di antara kami, jawabannya belum. Kami sepakat untuk meresmikannya nanti karena tidak ingin mengganggu jalannya ujian yang terasa seperti penentuan hidup dan mati.
Di hari terakhir, aku meminta Haruto untuk tidak menjemputku di rumah karena ia memilih membawa mobil hari ini. Katanya dia akan membawaku ke suatu tempat saat pulang sekolah, ia akhirnya setuju juga dengan alasan tidak ingin terlambat karena jarak tempuh yang lumayan jauh jika harus bolak balik nantinya.
Kami berbincang sebentar di depan kelas sebelum bel masuk berbunyi, berulang kali aku bertanya soal rencananya setelah pulang sekolah nanti tapi ia tidak ingin memberi tahu. Entah rahasia apa yang ia sembunyikan tapi yang jelas aku sangat penasaran.
Untungnya hari ini ujian kami hanya satu mata pelajaran, tepat pukul sepuluh semua murid diperbolehkan pulang. Aku tersenyum saat melihat Haruto di depan pintu kelas, ia lebih dulu keluar dari ruangannya dan menjemputku untuk turun ke parkiran bersama. Haruto selalu seperti ini, selalu berhasil membuatku senang hanya dengan hal-hal kecil yang ia lakukan.
Kini kami duduk berdampingan di dalam mobil, setelah memasang sabuk pengaman di tubuh masing-masing, Haruto memandang lurus ke arahku.
"Udah laper belum? Mau makan dulu?" Pertanyaan tersebut keluar dari mulutnya, aku kemudian menggeleng.
"Masih kenyang, tadi kan di rumah udah sempet sarapan. Kamu mau makan?"
"Nggak, aku juga masih kenyang."
"Yaudah, terus kita mau ke mana?"
"Kamu bawa baju ganti kan? Bukan baju ganti buat itu maksudnya, tapi buat ganti seragam aja takutnya kamu gak nyaman atau gimana. Aku udah jelasin juga semalem, kamu paham kan maksudku apa?"
Aku tertawa mendengar ucapan Haruto yang bertele-tele, tentu aku sangat paham maksud dari kalimatnya. "Bawa, Haru. Kamu mau bawa aku ke mana sih emangnya? Pantai yang paling deket setau aku hampir dua jam dari sini."
"Gapapa, nanti pas sampe sana kan masih siang. Pulangnya jangan sore-sore biar gak sampe rumah kemaleman, aku udah bilang ke Mama kamu juga."
Tanpa sadar aku tersenyum melihat Haruto yang banyak bicara di hadapanku sekarang, aku baru menyadari kalau cara bicaranya lucu, suaranya berat tapi bibirnya selalu mengerucut maju di akhir kalimat.
"Heh kenapa senyum senyum gitu?" Pertanyaan Haruto membuatku tersadar dari lamunan, buru-buru aku menghadap ke arah jalanan dan memintanya untuk cepat berangkat agar hari tidak semakin siang. Dan untungnya ia menurut, padahal kalau tahu alasannya dia pasti akan meledekku habis-habisan.
"Misalnya ngantuk nanti tidur aja, di belakang udah ada selimut, kalo dingin bilang ya? Biar bisa aku peluk."
"Ngaco."
Siang itu Haruto mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju pantai yang ada di pinggir kota, aku masih belum tahu apa maksud dan tujuannya ia mengajakku ke sana, tapi semoga Haruto menyiapkan hal baik karena jujur tubuhku sudah kelelahan karena dikejar oleh banyak ujian.
***
Entah aku tertidur berapa lama, tapi saat bangun aku merasa mobil tidak lagi bergerak. Setelah mengucek mata, aku menoleh ke arah Haruto yang juga menatap lurus ke arahku.
"Udah sampe?"
Haruto mengangguk, kepalanya ia letakkan di atas setir dan matanya menatap penuh arti ke tempat aku duduk. "Masih ngantuk gak?" Tanyanya.
"Nggak, kenapa gak bangunin aku kalo udah sampe?"
"Mana tega aku bangunin kelinci, nyenyak banget pula tidurnya."
Aku berdecak lalu memukul bahunya dengan pelan, "Jangan rese." Ucapku kemudian. Ia lalu melepas sabuk pengaman dan mengambil tas yang diletakkan di seat belakang.
"Kamu ganti baju dulu di belakang, aku di luar aja. Takutnya kita disangka bolos kalau masih pake seragam." Aku mengangguk lalu pindah ke seat belakang sesuai dengan instruksinya. Setelah selesai, aku keluar dari mobil dan menemukan Haruto juga sudah berganti pakaian di balik mobil.
"Duh lucunya." Tangannya bergerak untuk mengacak rambutku pelan, mati-matian aku menahan degup jantung yang sudah tidak karuan.
"Kamu mirip kelinci yang di Zootopia, siapa tuh namanya? Dodi?"
"Judy!!!!!"
Aku tarik lagi kata-kataku barusan, berdebar apanya aku justru kesal karena Haruto yang masih terus berusaha untuk meledek dan tertawa puas di hadapanku sekarang.
"Oh udah ganti?"
"Jelek banget lawakannya jelek."
"Gapapa yang penting mukanya ganteng kan?"
Aku tidak menjawab dan memilih untuk pergi ke arah pantai dengan langkah cepat, Haruto lantas menyusul dan langsung menarik tanganku untuk ia bawa ke dalam genggaman.
"Anak kecil gak boleh jalan sendirian, nanti diculik orang." Bibirku masih merengut, aku bahkan enggan untuk sekedar menoleh, tapi aku ikut mengeratkan genggaman tangannya yang terasa hangat.
Pantai tidak terlalu ramai, terhitung sangat sepi malah karena aku tidak dapat menemukan orang selain kami berdua. Selain karena ini bukan akhir pekan, cuaca juga masih terlalu dingin untuk bermain air. Kami hanya berjalan di pinggir tanpa alas kaki, tentu dengan tautan tangan yang masih enggan terlepas.
"Doyie."
"Mhm?"
"Kamu tau gak kenapa aku tiba-tiba ajak kamu pdkt hari itu?"
Aku menggeleng. "Nggak tau." Jawabku singkat, itu jawaban jujur karena aku benar-benar tidak tahu apa alasannya.
"Jauh sebelum hari di mana kita duduk sebelahan di aula, aku berulang kali mau deketin kamu, tapi rasanya susah banget."
Kali ini aku mengernyit dan menatapnya dengan heran. "Susah kenapa?"
"Gak ada satupun orang yang tau informasi kamu selain soal sekolah, aku terus-terusan nanya ke temen satu kelasmu tapi ya gak ada yang tau. Aku sempet mikir apa kamu anak mafia ya jadinya tertutup banget?"
Kaki kananku bergerak untuk menendang air ke arahnya. "Kamu bisa gak sih kalo ngomong tuh jangan aneh-aneh Haruuu." Ucapku kesal, Haruto lagi-lagi mengeluarkan tawa khasnya.
"Ya habisnya, aku tau kamu tertutup tapi gak nyangka aja sampe se-tertutup itu. Gak salah dong aku ngira kamu anak juragan narkoba?"
Aku benar-benar sudah tidak sanggup untuk menahan diri, kali ini aku cubit lengannya dengan keras. "Papaku cuma jualan obat biasa!"
"Ya iya kan aku baru tau itu pas udah deket sama kamu, dulu mah apa. Aku juga sempet ngira kalau yang anter kamu tiap pagi tuh sugar mommy tau gak."
"ITU MAMAKU HARUUUUUUU!!!" Teriakku sambil terus memukul tubuhnya, candaan Haruto terkadang memang di luar nalar manusia, bisa-bisanya dia mengira aku adalah simpanan ibu-ibu paruh baya.
"IYA IYA ADUH DOYIE AMPUN." Haruto berusaha menahan kedua tanganku dengan sebelah tangannya, entah karena aku yang terlalu kecil atau jari-jarinya yang kebesaran, tapi yang jelas ia berhasil membuat tanganku tidak lagi bisa bergerak untuk memukulnya.
Tanpa sadar kini sudah hampir tidak ada lagi jarak antara kami, hanya dipisah oleh tanganku yang ia letakkan di depan dada. Aku ingin mundur namun tangan Haruto yang satunya malah ia lingkarkan di pinggangku, dirinya lalu menarik tubuhku agar tidak pergi ke mana-mana.
"Doyie."
"Mhm?"
Haruto menunduk, menyejajarkan tingginya agar sama denganku. Kepalanya bergerak maju, aku tidak dapat berbuat apapun kecuali diam di tempat, dan tidak lama kemudian aku dapat merasakan hal asing menyentuh bibirku.
Rasanya aneh, in a good way. Sebelah tanganku yang sudah ia lepas bergerak untuk menutup mata Haruto yang ada di depanku. Dapat aku rasakan ia tersenyum di sela ciuman yang ia buat. Tangannya berusaha menggapai tanganku yang lain tapi aku justru menyembunyikannya di balik punggung.
"Kenapa?" Tanyanya tepat setelah menarik diri.
"Tanganku keringetan." Jawabku asal.
"Nggak, tadi kenapa mata aku ditutup?"
"Malu."
"Okay, now breathe Doyie."
Dapat aku rasakan wajahku memerah karena menahan napas cukup lama tadi, aku buru-buru menarik napas panjang karena dadaku mulai sesak efek kekurangan oksigen. Haruto mengusap punggungku berulang kali dengan raut wajah khawatir yang dibuat-buat. Setelah napasku terasa normal, aku menendang tulang keringnya dengan kuat.
"KENAPA AKU DITENDANG?" Protesnya tidak terima sambil memegang kaki kanannya yang aku yakin seratus persen pasti terasa sakit.
"KENAPA TADI KAMU CIUM AKU?" Kali ini aku juga ikut berteriak di sebelahnya.
"Emang gak boleh?"
"Y-ya.. boleh, tapi kenapa gak bilang? M-maksudku harusnya kamu izin dulu!!!" Ucapanku terbata-bata karena raut wajah Haruto yang mendadak berubah menjadi serius.
"Kalo nyium tuh gak perlu izin, kalo minta kamu buat jadi pacarku tuh baru perlu."
"Hah? Maksudnya?" Aku bertanya untuk memastikan bahwa aku tidak salah dengar, Haruto dengan cepat mengganti topik pembicaraan membuatku kurang paham dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Kamu mau gak jadi pacarku? Mau kan? Yaudah." Haruto berlari menjauh setelah mencuri satu lagi ciuman di bibirku.
Dan siang itu, di akhir Januari yang terasa dingin kami meresmikan hubungan dengan pantai indah yang menjadi saksi. Adegan kejar-kejaran berhenti karena aku mulai kelelahan dan jatuh terduduk di atas pasir, Haruto kembali lalu menatapku dengan khawatir.
"Kamu kenapa? Sakit? Pusing?" Tanyanya sambil ikut mendudukan diri di hadapanku.
Aku menggeleng, masih dengan napas yang terengah-engah aku melumurkan pasir ke pipinya. "Laper, lo belum ngasih gue makan daritadi."
...
nulisnya sambil ngereog soalnya pengen juga kejar-kejaran di pantai :( seperti biasa ya masih dikasih yang lucu-lucu sebelum badai menyerang.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com