Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter VI

"Halo, Doyie?"

"Haru? Kenapa baru telfon sekarang? Kata kamu cuma mau pergi sebentar, aku nunggu telfon kamu dari semalem tapi gak ada panggilan masuk sampe pagi tadi. Dan sekarang, kenapa kamu hubungin aku jam segini? Aku gak bisa ngobrol banyak sama kamu karena bentar lagi jam istirahat magangku habis, harusnya kamu kasih aku kabarㅡ"

"Sayang, pelan-pelan ngomongnya ya, take a breathe please kamu ngomong gak ada jedanya daritadi."

"Jangan mengalihkan pembicaraan, sekarang jawab kamu kemana aja dari semalem?"

"Gak kemana-mana, sorry aku ketiduran habis review tugas berjam-jam. Dan sekarang, aku baru pulang kuliah, makanya baru sempet hubungin kamu. Maafin aku ya?"

Napasku terengah-engah karena emosi yang meninggi, semalaman aku menunggu kabar dari Haruto tapi dia tidak menghubungiku sama sekali.

"Doyie?"

"Apa?"

Dapat aku dengar tawa menyebalkan Haruto di ujung sana, "Jangan ngambek dong, kamu pasti sekarang lagi manyun kan? Sayang banget aku lagi gak ada di sana buat unyel bibirmu itu."

"Haru! Jangan bercanda ih aku serius ya."

"Iya iyaa, maafin aku ya sayang. Oh iya kamu lagi di tempat magang? Istirahat selesai jam satu berarti ya? Gapapa gak usah dimatiin telfonnya, aku temenin sampe malem kaya kemarin."

"Janji?"

"Janji, Doyie."

Tugasku di tempat magang sebenarnya tidak terlalu banyak, tapi karena aku memiliki atasan yang cukup menyebalkan membuat pekerjaan di sini terasa lebih berat. Entah sudah berapa kali ia berteriak karena tugas karyawan lain yang kurang memuaskan, membuatku sedikit bergetar ketakutan karena takut terkena imbasnya juga.

"Anak magang, dipanggil bos."

Aku terkesiap mendengar ucapan salah satu pembimbingku, dengan langkah ragu aku berjalan menuju ruangan atasanku yang terpisah dari tempat karyawan biasa. Setelah mengetuk pintu aku akhirnya masuk ke dalam dan langsung disambut dengan tatapan marah beliau.

"Kamu tuh kerjanya apa sih di sini." Tanyanya langsung, Pak botak ini bahkan tidak memintaku duduk dan langsung menyerangku dengan kalimatnya.

"Bantu karyawan operasional, Pak." Jawabku yakin, karena memang itu yang aku lakukan selama kurang lebih dua bulan bekerja paruh waktu di sini.

"Tiap hari apa kamu di kantor?"

"Cuma tiap senin sama rabu, Pak." Ucapku lagi, kali ini ia mengangguk-angguk dengan mata terfokus di layar monitor yang ada di atas meja.

"Kamis bisa ikut bantu juga? Biar tiga hari kerjanya." Aku meneguk ludah karena hari kamis biasanya aku pakai untuk istirahat, tapi mau tidak mau aku mengangguk mengiyakan. Pria paruh baya itu akhirnya memintaku untuk keluar ruangan karena memang hanya itu yang ingin ia bicarakan.

Aku kembali ke mejaku dengan tubuh yang entah kenapa mulai terasa berat, jadwal magang dan kuliahku sengaja aku atur agar tidak bertabrakan dan membuat tubuhku kelelahan, tapi atasanku justru memintaku untuk tinggal di kantor lebih lama setelah ini.

Tanganku terulur mengambil salah satu earphone di atas meja, dapat aku dengar suara musik klasik yang sengaja Haruto putar karena ia sedang belajar saat ini. Aku menyandarkan tubuh ke bagian belakang kursi dan mulai menutup mata, berharap waktu berjalan dengan cepat karena aku ingin cepat pulang dari tempat ini.

"Kamu gak protes?"

"Kalo bisa juga aku protes, Haru."

Saat ini aku lagi-lagi berada di dalam bus menuju rumah, suasana di dalam bus tidak terlalu ramai karena memang sudah lewat jam sibuk, tadi aku terpaksa membantu salah satu karyawan dan menyebabkan aku terlambat pulang selama hampir dua jam, untungnya Haruto terus menemaniku bicara lewat telfon.

"Harusnya kamu omelin aja, tendang kakinya, kamu kan sering nendang kaki orang tuh."

"Gak sering, cuma kamu ya korban tendanganku."

"Kayanya kalo di rontgen ya, kaki aku banyak retaknya deh karena sering kamu tendang."

Aku tertawa mendengar omong kosongnya, "Gak usah lebay, aku nendang juga gak sekenceng itu."

"Tapi aku kangen deh kamu tendang, tendang aku dong Doyie."

"Aneh banget masa kangen ditendang?"

"Soalnya aku ditendang tiap abis nyium kamu."

Tawaku makin keras saat mulai paham apa maksud dari kalimatnya, tiba-tiba aku terpikir satu hal yang seharusnya mungkin aku lakukan saat pertama kali aku dapat menghubungi ponsel Haruto.

"Haru."

"Mhm?"

"Kalau aku ke Jepang sekarang, kira-kira aku bisa gak ya ketemu kamu?"

Terdapat jeda cukup lama sebelum Haruto akhirnya menjawab pertanyaanku di ujung sana.

"Doyie, aku berulang kali berusaha pulang sebelum kamu ngomong gini, dan gak bisa. Selalu ada halangannya seolah aku emang gak boleh pergi kemana-mana dan harus ngikutin takdir yang ada."

Baru aku hendak menjawab kalimat Haruto, tapi tiba-tiba panggilan terputus, ponselku mati karena kehabisan daya.

***

"Aku kangen banget."

"Aku juga Haru."

"Doyie, jangan tinggalin aku."

"Kalau ada pilihan, aku pasti bakal milih buat gak pergi, tapi gak bisa."

Aku terbangun dari tidur singkat pukul tiga pagi, mengecek ponsel dan ternyata Haruto masih belum menghubungiku sama sekali, apa dia tidak lagi bisa menelfonku? Apa tadi malam adalah kesempatan terakhir kami untuk bicara?

Aku menangis pagi itu, mengesampingkan fakta bahwa kepalaku hampir pecah karena kurang tidur dan terlalu banyak mengeluarkan air mata. Padahal aku harus pergi magang hari ini tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin bicara dengan Haruto sekali lagi.

Sampai akhirnya setelah hampir tiga jam berlalu, kak Junkyu masuk kamar untuk membangunkanku tapi ia justru menemukan adiknya sedang terduduk di pojok kasur sambil menangis tanpa suara, tadinya ia ingin memarahiku, tapi melihat wajahku yang pucat ditambah suhu tubuh yang lumayan tinggi, dirinya memutuskan untuk menyeretku ke klinik yang ada di dekat rumah.

Setelah diberi resep obat, kami pergi ke apotek yang ada di sebelah klinik. Hanya kak Junkyu karena aku memilih tinggal di mobil untuk istirahat. Setelah hampir tiga puluh menit akhirnya ia kembali lalu duduk di kursi belakang kemudi.

"Kamu sakit dari semalem tapi gak ngasih tau orang rumah sama sekali, untung kakak ngecek keadaan kamu tadi pagi, kalo nggak gimana? Kamu mau pingsan sendirian di kamar gitu aja?"

Aku tidak menjawab, di pikiranku hanya ada Haruto saat ini, ponselku belum berdering sejak semalam yang artinya ia belum menghubungiku sama sekali. Ditambah fakta bahwa aku juga tidak dapat menghubunginya terlebih dahulu membuat sakit di kepalaku semakin menjadi.

"Jangan lupa kabarin atasanmu di tempat magang."

Kali ini aku mengangguk, merogoh ponsel yang ada di kantong celana lalu mengirim pesan formal kepada salah satu pembimbing magangku. Aku hendak meletakkan ponselku kembali tapi tiba-tiba benda itu bergetar, satu nama yang aku harapkan muncul di layar utama.

Haruto is calling

Dengan cepat aku tekan tombol hijau lalu mengarahkan ponsel ke telinga, "Halo, Haru?"

"Doyie? Maaf ya aku baru sempatㅡ"

Belum selesai Haruto bicara, tiba-tiba ponselku direbut oleh kak Junkyu,

"Halo? Siapa ya?"

"Halo?"

Kak Junkyu mengernyit heran lalu menatap layar ponsel yang jelas masih terhubung dengan Haruto di ujung sana.

"Dek? Gak ada yang nelfon kamu daritadi, kamu ngomong apa sih? Haru? Haruto? Haruto yang kakak kenal? Pacarmu yang udah meninggal itu?"

Aku hendak merebut kembali ponsel yang masih ada di tangannya tapi ia justru menarik benda itu menjauh, "Sini kak." Ucapku dengan suara parau. Dari sini aku dapat mendengar suara Haruto yang memanggil namaku dengan samar dari benda yang masih ada di tangan kak Junkyu.

"Doyie? Halo? Kamu kenapa?"

"Sini kak, itu Haruto masih mau ngomong sama aku." Rengekku sambil terus berusaha merebut ponsel yang ada di tangannya.

"Kim Doyoung, kamu gila ya? Gak ada yang nelfon kamu, liat ini."

Dan sialnya omongan kak Junkyu mulai terasa benar, panggilan yang ada di layar mendadak buram dan memudar, digantikan dengan layar utama di mana terdapat fotoku bersama Haruto yang sempat kami ambil di pinggir pantai saat ia pertama kali mengajakku untuk berkencan dengannya beberapa tahun lalu.

Lalu setelah itu rasa kantuk tiba-tiba menyerangku dengan kuat dan tidak dapat aku tahan, aku tidak mengingat apapun setelahnya kecuali teriakan khawatir kak Junkyu sebelum akhirnya aku terlelap.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com