Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter VIII

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk. Kepalaku sakit bukan main, rasanya tubuhku berat seperti ditimpa sesuatu yang membuatku sulit bergerak. Pandanganku masih buram tapi aku dapat menemukan sosok Haruto yang duduk di kursi sebelah ranjang tempatku berbaring.

Tenggorokanku rasanya kering, sekuat apapun aku berusaha tidak ada satupun kata yang dapat keluar. Lagi-lagi mataku tertutup karena pening yang tiba-tiba menyerang, tapi saat aku kembali membuka mata, aku tidak dapat menemukan sosok Haruto yang aku yakini sebelumnya berada di sampingku.

"Dek?" Itu suara kak Junkyu, ia menatapku khawatir dari tempatnya berdiri. Ah, rumah sakit, aku benci bau obat yang tercium jelas sekarang.

"Ada yang sakit gak? Atau masih pusing banget?"

Aku menggeleng sebagai jawaban, lalu berusaha bangun dari posisi berbaring dan kak Junkyu ikut membantu saat melihat aku kesulitan karena jarum infus yang menancap di tangan kiri.

"Haruto mana kak?"

Bukannya menjawab, kak Junkyu justru meletakan telapak tangannya di kening dan leherku secara bergantian. "Masih ngigo kah?"

"Udah sadar aku, Haruto mana? Tadi aku liat ada dia di sini."

"Dek? ini kamu gak ngelindur kan? dari tadi pagi ngomongin Haruto terus?"

"Ngelindur gimana? Tadi pagi aku beneran ngobrol sama dia lewat telfon, terus barusan juga aku liat dia duduk di sini." Ucapku sambil menunjuk kursi kosong di sebelah.

Kak Junkyu memandangku dengan tatapan tidak percaya. "Kim Doyoung, Haruto udah gak ada, dia udah meninggal tahun lalu." Kali ini ucapannya tegas, tidak lagi dapat ku dengar nada menyenangkan yang selalu keluar dari mulutnya.

"Stop ngomong soal Haruto, Mama lagi jalan ke sini dan kalo sampe Mama tau kamu bahas dia, kakak yakin kamu pasti langsung diseret ke poli jiwa." Suara kak Junkyu meninggi, tidak berteriak tapi cukup membuatku terkesiap.

"Kakak anggap aku gila?" Tanyaku tidak percaya.

"Karena orang waras gak mungkin bisa ngobrol bahkan ketemu sama orang yang udah meninggal. Kita juga dateng ke pemakaman Haruto hari itu, dan sekarang kamu bilang kalo dia nelfon kamu? Dia ada di sini? It's been a year, dek. Bangun."

Bangun. Bangun. Bangun. Kata terakhir yang keluar dari mulut kak Junkyu menggema di telingaku, semua kalimatnya benar tapi siapa yang bisa menjelaskan soal bagaimana Haruto mengangkat telfonku hari itu? Dia juga dapat menghubungiku setelahnya, suara yang keluar dari ponsel terlalu nyata untuk aku anggap sebagai khayalan belaka.

Aku mengacak rambut frustasi, kak Junkyu kini mendekat lalu duduk tepat di sebelahku.

"Inget kata kakak, jangan sampe Mama tau soal ini."

Kali ini aku mengangguk pasrah, mungkin memang hanya aku yang dapat mendengar suara Haruto, mungkin sosok Haruto yang tadi sempat aku lihat hanya angan-anganku semata karena aku terlalu merindukannya.

***

Untungnya aku tidak perlu dirawat karena sakitku tidak terlalu parah, aku diam sepanjang perjalanan, enggan bicara dengan kak Junkyu yang rela bolos kerja demi mengantarku kesana kemari tadi pagi. Kedua orang tuaku langsung kembali ke tempat kerja setelah mengetahui bahwa sakitku tidak serius, kak Junkyu saja yang terlalu panik dan langsung membawaku ke rumah sakit.

Pandanganku fokus ke hujan yang mengguyur kota sejak siang, kak Junkyu mengendarai mobil dengan pelan dan hati-hati, ya meskipun pada dasarnya kakakku itu memang hampir tidak pernah ngebut seumur hidupnya.

"Hapeku mana ya kak?" Tanyaku setelah sadar kalau aku belum memegang benda itu sama sekali sejak di rumah sakit.

"Di belakang, di tas kakak."

Tanganku terulur meraih tas yang ada di seat belakang, sepertinya sial beruntun yang aku terima belum selesai karena ternyata ponselku mati kehabisan daya.

"Low ya? Charger di rumah aja, gak ada kabel di sini." Aku mengangguk dan kembali bersandar ke jendela yang dingin, berharap agar mobil yang aku naiki cepat sampai rumah karena aku tidak ingin Haruto khawatir denganku yang tidak dapat dihubungi sejak tadi.

Dua jam berlalu tapi Haruto belum menghubungiku sama sekali. Aku mulai menyerah dan menerima kenyataan kalau ucapan kak Junkyu itu benar, semua mungkin hanya halusinasi. Haruto tidak pernah menghubungiku, selama ini aku bicara dengan diriku sendiri, bukan dengan Haruto.

Baru aku ingin berbaring tapi tiba-tiba ponselku bergetar.

Haruto is calling.

Dengan cepat aku menekan tombol hijau dan mengarahkan ponsel ke telinga, "Haru?"

"Doyie? Ah akhirnya nyambung juga."

"Hah?"

"Dari tadi pagi yang terakhir kita ngobrol terus sambungannya tiba-tiba mati, aku gak bisa nelfon kamu sama sekali, kayanya aku coba ratusan kali tapi tetep gak bisa, gak ada suara apa-apa yang keluar."

Suara Haruto terdengar sangat jelas untuk aku anggap sebagai khayalan, aku menatap layar ponsel yang menunjukan kalau kami memang sedang berada di dalam panggilan yang saling terhubung, aku berdecak kesal karena tidak dapat menemukan kesimpulan dari kejadian saat ini.

"Halo? Doyie? Kamu denger aku kan?"

Aku kembali meletakkan ponsel di telinga. "Denger, dan aku gak tau Haru. Tadi pagi pas kamu telfon ada kak Junkyu di sampingku, tapi dia gak bisa denger suara kamu sama sekali. Terus tadi siang di rumah sakit, aku liat kamu duduk di sebelahku, tapi ternyata kamu gak ada di situ."

"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Kamu?"

"Kecapekan aja, tapi aku beneran liat kamu di sana."

"Kok bisa sakit? Doyie kamu gak aneh-aneh kan?"

"Nggak Haruuu cuma kecapekan sama kurang tidur, setelah infusnya habis aku langsung boleh pulang kok."

"Kurang tidur? Pasti karena kita ngobrol nonstop dari kemarin kan? Udah berapa kali aku bilang, Doyie. Aku pasti bakal hubungin kamu lagi, kamu gak perlu nahan diri buat bangun terus-terusan dan relain jam istirahat kamu. Apalagi sekarang kamu udah mulai magang, jadwal kamu pasti padat. Istirahat, Doyie. Jangan bikin aku ngerasa bersalah karena gak bisa ngelakuin apa-apa sekarang."

Nada khawatir dapat aku dengar dengan jelas di tiap kata yang keluar dari mulut Haruto, aku bersandar ke pinggir kasur lalu menarik napas panjang hendak membalas argumennya.

"Kamu pasti bakal hubungin aku lagi? Gimana kalo gak bisa, Haru? Semalem kamu bahkan gak nelfonku sama sekali, aku kurang tidur karena nungguin kabar kamu. Aku takut, Haru. Setiap kamu bilang mau putus sambungan telfon kita, aku takut itu kali terakhir aku bisa ngobrol sama kamu." Suaraku bergetar karena air mata yang tanpa kusadari terus mengalir, dadaku sesak memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi setelah ini.

Suara petir yang bersahutan terdengar sangat menyeramkan, entah kenapa air mataku juga enggan berhenti seperti derasnya air hujan di luar sana.

"Bukannya gak mau, aku gak bisa hubungin kamu semalem. Aku juga bingung karena ada saat di mana aku gak bisa nelfon kamu sama sekali, Doyie."

Suara Haruto terdengar samar karena isakanku yang makin menjadi, sesak di dadaku juga tidak berkurang sama sekali.

"Take a breathe, Doyie. Jangan nangis terus, maafin aku, maaf karena aku gak bisa ngelakuin apa-apa."

Aku mengusap wajah dengan kasar, menghapus air mata yang terasa mengganggu di pipi. "Maaf Haru, maaf aku egois dan gak mikirin perasaan kamu."

"Gapapa, aku mungkin bakal bersikap sama kalo ada di posisi kamu, aku gak bisa bayangin bakal seberantakan apa kalo kamu tinggal."

Rasanya hancur, Haru. Meskipun berbulan-bulan sudah berlalu tapi sakit yang ada masih sama, lukanya tidak berkurang sama sekali. Harapan yang aku tulis lengkap dengan nama kamu di dalamnya langsung hancur begitu saja. Semua skenario indah yang tidak akan pernah menjadi kenyataan masih membekas di ingatanku hingga hari ini.

"Haru, aku sayang kamu. Setiap hari yang kita habisin bareng-bareng akan terus aku inget, meskipun gak lama, tapi kehadiran kamu berarti banget buat aku." Kalimat yang sangat ingin aku ucapkan di hari terakhir Haruto akhirnya sampai, aku tersenyum getir saat menyadari kalau hari ini mungkin adalah hari terakhir kami yang lainnya, tapi aku bersyukur karena tidak ada lagi penyesalan setelahnya.

"Aku juga sayang kamu Doyie, aku"

Dan panggilan kami kembali terputus.








...

sedih udah lebih dari setengah jalan hiks, kalo aku bilang bentar lagi end diomelin gak :(

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com