Final Chapter
Setelah hampir dua minggu pacar gue rutin bolak balik terapi, akhirnya hari ini dia nyoba buat jalan sendiri dengan bantuan kruk yang disarankan sama dokternya. Gak jauh, kita cuma jalan-jalan di sekitar taman rumah sakit, adegannya mirip lah sama sinetron yang sering kalian tonton di tv.
Tapi kalau kalian pikir bakal ada scene romantis di sini, kalian salah besar. Gue gak berhenti meringis liat langkah pacar gue yang keliatan berat banget, rasanya pengen gue gendong aja nih anak.
"Kalo masih sakit banget mending kita balik ke kamar aja, Doyie." Ucap gue pada akhirnya, pacar gue menggeleng untuk yang kesekian kali.
"Kamu tuh kalo gak mau nemenin yaudah mending pulang aja."
Galak banget kan, gak tau kenapa semenjak bangun dari tidur panjangnya, pacar gue galaknya nambah. Sedikit bersyukur karena kaki dia masih belum sembuh betul, kalo udah mah gue yakin pasti tulang kering gue udah retak karena dia tendang berkali-kali.
"Bukannya gak mau nemenin, tapi aku gak tega liat kamu begini." Balas gue, bukannya nurut dia malah mempercepat langkahnya.
Napas gue hampir berhenti liat dia tiba-tiba oleng, dengan cepat gue tarik pinggangnya supaya pacar gue gak jatuh ngebentur tanah. Bunyi besi yang beradu dengan aspal keras di bawah berhasil bikin sebagian orang noleh ke arah kita, masih dengan jantung yang berdegup cepat gue pandangi wajah pucat Doyie yang makin keliatan keselnya.
"Kan udah aku bilang, jangan dipaksa jalan, kamu tuh masih sakit." Ucap gue pelan, setelahnya gue selipkan sebelah tangan gue ke belakang lututnya, gue bawa tubuh kecilnya buat duduk di salah satu kursi taman. Terserah dia setelah ini mau marahin gue pake cara apa lagi tapi yang jelas gue gak tega liat pacar gue kesakitan tiap ngelangkah.
Setelah memungut kruk yang sempat terabaikan, gue lari ke tempat pacar gue duduk. Bibirnya masih maju kira-kira lima belas senti saking keselnya, makin lucu aja deh dia, beruntung banget nih orang yang jadi pacarnya.
"Aku sebel deh sama kamu." Ucapnya tiba-tiba, gue jelas bingung dong emangnya gue salah apa?
"Sebel kenapa, Doyie?" Tanya gue dengan sabar, emang gue harus banyak sabar menghadapi remaja labil yang sempet tidur sebulan ini.
"Gapapa, sebel aja liat mukamu bawaannya pengen nonjok."
Ini orang kalo abis koma emang selalu seaneh ini apa gimana ya?
Gue mencoba tenang dan tetep senyum di depan pacar gue yang manisnya ngalahin es tebu, mengusap rambutnya dengan lembut sambil gue pandangi wajah bulatnya.
"Yaudah aku minta maaf ya." Pacar gue cuma ngangguk tapi raut kesalnya gak berkurang sedikitpun. "Mau balik ke kamar?" Tanya gue, dan pacar gue kembali mengangguk.
Dengan cepat gue bawa kruk yang sebelumnya dia pakai untuk gue kembalikan ke kamar rawatnya, dan gak lupa gue balik lagi ke taman sambil dorong kursi roda buat dia naiki karena gak mungkin gue gendong dia, yang ada nanti gue digigit karena bikin dia malu.
Setelah memastikan bahwa pacar gue duduk dengan aman, gue mendorong kursi roda masuk ke dalam gedung rumah sakit, sambil sesekali ngajak pacar gue yang masih bete banget itu ngobrol supaya rasa kesal dia sedikit berkurang.
"Mau tidur?" Tanya gue tepat setelah bantu dia buat kembali berbaring di atas ranjangnya, dia menggeleng.
Gue akhirnya duduk di kursi yang ada di sebelah ranjangnya, tangan kanan gue bergerak buat bawa tangan dia masuk ke dalam genggaman, tanpa sadar gue senyam senyum sendiri karena liat kondisi pacar gue yang sekarang tuh berasa kayak mimpi.
Ya kejadian dia koma satu bulan penuh itu juga gak berasa nyata di gue, sebulan kemarin itu rasanya kayak mimpi yang berjalan lama banget. Bikin gue susah tidur, susah fokus karena di pikiran gue cuma ada Doyie dan kemungkinan buruk yang untungnya gak ada satupun yang jadi kenyataan.
"Haru."
"Mhm?"
"Pas aku koma waktu itu, aku mimpiin sesuatu, aneh banget."
***
Aku memandang wajah Haruto yang masih betah menemani bahkan hingga dua minggu aku menjalani terapi di rumah sakit, sebenarnya aku sedikit tidak suka saat dia terus memaksa untuk tetap tinggal padahal faktanya aku tahu kalau dia juga kelelahan karena harus bolak balik dari tempat kuliah.
Dan Haruto berkata kalau itu bukan masalah, aku kesal melihat dia yang menjadi sepenurut ini padahal sebelumnya kami sering bertengkar karena masalah-masalah kecil, dan dia juga tidak segan untuk menegurku jika tingkahku sudah kelewatan.
Tapi lihat sekarang, dia bahkan tidak protes saat aku bertingkah menyebalkan. Aku merasa seperti dikasihani...? dan aku tidak suka perasaan ini.
"Masa? Mimpinya kayak gitu?" Tanya Haruto tepat setelah aku selesai bercerita soal mimpi yang aku alami saat aku tidak sadarkan diri, aku mengangguk mengiyakan.
"Aneh kan?"
"Tapi nyambung gak sih, Doyie?"
"Nyambung gimana?"
"Ya yang kamu alamin itu kan sebenernya kisah aku sama kak Junkyu yang terus-terusan kita ceritain supaya kamu bangun, tapi justru malah bikin kamu betah di sana ya?"
"Betah apanya, aku hampir gila tau karena di sana kamu udah gak ada."
Haruto tertawa, tangannya bergerak untuk mengusap pipi kananku, mataku terpejam saat merasakan sensasi hangat dari tangan besarnya.
"Yang penting kan sekarang kamu udah bangun, dan aku gak akan kemana-mana kok Doyie." Balasnya dengan suara pelan.
"Janji ya gak akan ninggalin aku?"
"Janji."
"Beneran?"
"Iyaa, Doyie."
"Awas aja kalo bohong nanti aku tendang kaki kamu."
Kali ini Haruto tertawa lalu mencubit pipiku dengan tangan yang masih betah di sana. "Sembuh dulu, abis itu bebas terserah kamu mau nendang aku, mau mukul aku, mau cium aku juga boleh banget."
Aku memandang wajahnya dengan tatapan sinis. "Mesum ih." Balasku.
Haruto kini bersandar di belakang kursi, tangannya terlipat di depan dada dan memandangku dengan tatapan tidak suka. "Dulu tuh kamu ya yang sering nyium aku duluan!" Protesnya, aku menahan diri untuk tidak tertawa karena siapa yang menyangka kalau reaksi Haruto akan berlebihan begini?
"Aku? Kapan?" Balasku, sengaja karena ingin terus meledeknya.
"Ya dulu, tiap aku jemput kamu pasti cium pipi, tiap aku anter pulang kamu pasti nyium bibir aku meskipun cuma sekilas. Dan waktu itu, pas aku lagi sibuk banget urus acara kampus dan baru sempet ketemu kamu setelah hampir satu minggu, kamu nyium aku Doyie, mana semangat banget lagi nyiumnya sampe capek aku nanggepinnya."
Bisa aku yakini seratus persen kalau wajahku pasti sudah memerah karena malu sekarang, aku mengusap pipi yang terasa panas lalu berbalik karena enggan melihat wajah Haruto yang baru saja mengumbar semua aibku, meski tidak ada satu orang pun di sini tapi tetap saja aku malu.
"Tuh, giliran diingetin aja langsung ngambek." Lanjut Haruto lagi, aku tidak menjawab dan justru menutup seluruh tubuh dengan selimut.
"Doyie..." Ucap Haruto sambil menarik-narik selimutku, dengan kuat aku tahan agar dia tidak dapat membuka benteng perlindungan diri yang sangat sederhana ini tapi tenaga Haruto jauh lebih kuat dibanding aku, hanya dalam dua kali percobaan dan dia berhasil menarik selimut yang aku gunakan.
"Jangan ngambek dong, sayang." Ucapnya lagi sambil mencium pergelangan tanganku yang menutup seluruh bagian wajah, aku terkekeh karena sensasi geli di sana.
Sebelah tangannya mencengkram kedua pergelangan tanganku, dan dengan mudah Haruto menyingkirkannya dari depan wajah, membuatku mau tidak mau menatap Haruto yang kini memandangku dengan ekspresi meledek.
"Kalo ngambek terus nanti aku pulang nih."
"Pulang aja." Balasku ketus.
"Gak mau, kan aku udah janji buat gak ninggalin kamu."
Ah, aku benar-benar merindukan ini, sensasi geli di perut karena berhadapan dengan Haruto yang tidak berhenti bertingkah lucu di hadapanku, perasaan dipenuhi cinta karena Haruto yang terus memperlakukan aku dengan baik meskipun sikapku sedikit menyebalkan. Tanpa sadar kepalaku bergerak maju untuk mengecup bibir Haruto yang ada di hadapanku.
"Tuh kan kamu yang demen nyosor duluan." Dan aku menyesali perbuatanku barusan karena kini Haruto membalas kecupan singkatku dengan ciuman menuntut yang membuatku sulit bernapas.
"Sabar dikit kan bisa, Haruuuu." Protesku tepat setelah dia menarik diri, Haruto malah tertawa lalu mengusap bibir basahku dengan ibu jarinya.
"Nggak bisa, soalnya udah kangen banget." Ucap Haruto sebelum menyelipkan tangannya ke belakang kepalaku dan kembali melanjutkan aktivitas yang sempat terhenti sebelumnya.
...
it's a wrap guysss thank youuu for reading Imaji sampai selesai.
makasiiii banget yang udah vote dan komen di setiap chapter yaa<3 next aku mau buat jeongbby hihi tungguin okeiii♡
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com