Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter III

Doyoung tertawa keras melihat Haruto yang duduk di salah satu sisi jungkat-jungkit, kaki panjangnya terus naik turun karena tidak ada orang yang mengisi sisi lainnya, membuat laki-laki yang masih berpakaian sama seperti hari sebelumnya itu harus berusaha agar dapat menggerakkan permainan yang sebenarnya tidak dapat dimainkan sendirian.

Seakan lupa dengan apa yang terjadi sebelumnya, Doyoung mengisi sisi yang ada di hadapan Haruto, dan jungkat-jungkit pun mulai bergerak tanpa Haruto harus susah payah duduk dan berdiri dari tempatnya.

"Gak takut masuk angin?" Tanya Haruto.

Doyoung menggeleng, meskipun malam ini ia hanya memakai kaos tanpa flanel yang biasa ia kenakan jika kuliah. "Lo ngapain di sini?" Kali ini giliran Doyoung bertanya.

"Bete aja di rumah, terus siapa tau kan gue ketemu doorprize kayak kemarin."

"Doorprize?"

Haruto mengangguk, tangan kanannya terangkat dan ia pun menunjuk Doyoung yang ada di hadapannya. "Lo doorprize nya."

"Ngaco." Balas Doyoung singkat, sedangkan Haruto kini tertawa di tempat.

Bukannya membalas, Haruto justru memandang Doyoung dalam diam, seolah sedang meneliti tentang apa yang ada di kepala laki-laki manis itu tanpa harus repot bertanya.

"Kenapa? Lo bisa gak sih berhenti ngeliatin gue segitunya." Protes Doyoung, tapi kegiatan Haruto masih belum berhenti, laki-laki jangkung itu malah bangkit dari tempatnya lalu berjalan menghampiri Doyoung.

Doyoung yang heran dengan tingkah Haruto kini memandanginya penuh curiga, sedikit waspada karena mau bagaimanapun Haruto adalah orang asing yang baru ia kenal.

"Kenapa sih?" Tanya Doyoung lagi, tapi gerak-gerik mencurigakan Haruto masih belum berhenti, dan laki-laki itu justru bergerak makin dekat, membuat Doyoung yang masih duduk di tempat mulai mundur ke belakang.

"Lo abis nangis?"

"Nggak?"

"Mata lo merah, nyabu?"

Dengan cepat Doyoung bangkit dari tempatnya, membuat jungkat-jungkit yang sebelumnya Haruto duduki kini berdentum keras menghantam tanah.

"Lo bisa gak sih jangan ngomong sembarangan?" Protes Doyoung.

"Lah gue kan nanya?"

"Bukan nanya itu namanya nuduh!"

Dari jarak sedekat ini dan cahaya remang lampu taman yang menyinari, raut Doyoung terlihat lucu. Alis yang saling bertaut juga bibir yang merengut, membuat Haruto tertawa sebab wajah Doyoung yang merah padam karena menahan emosi.

Tangan besar Haruto bergerak ke atas kepala Doyoung, mengusap surai kemerahan yang terasa lembut mengenai telapaknya.

"Sabar, jangan marah-marah." Ucapan Haruto diikuti dengan senyum ramah, berusaha membuat Doyoung menekan emosi yang sepertinya akan meledak sebentar lagi.

Doyoung hanya menarik napas panjang sebelum akhirnya mundur dan berjalan menjauh, ia lalu duduk di salah satu kursi panjang yang ada di sudut taman, dengan Haruto yang mengekor di belakang.

"Lo ngapain di sini?" Suara berat Haruto memecah keheningan di antara keduanya.

"Bukannya harusnya gue yang nanya? Lo ngapain di sini?"

"Gak sopan tau gak jawab pertanyaan orang dan malah balik nanya."

Haruto terus memandangi Doyoung yang kini menyandarkan tubuhnya ke bagian belakang kursi, kepalanya mendongak ke atas, membuat Haruto ikut memandang langit yang terlihat terang karena dipenuhi ratusan bintang.

"Gue gak tau harus ke mana." Jawab Doyoung pada akhirnya.

"Emang lo gak punya temen? Maksud gue ya kalo lo ada masalah di rumah bukannya lebih enak lari ke temen dan ngelakuin hal yang bikin lo terdistraksi?"

Kim Doyoung kini menegakkan tubuh dan menatap Haruto penuh tanya. "Kenapa lo yakin banget kalo gue punya masalah di rumah?"

Yang lebih tinggi tertawa, netranya ikut memandang wajah Doyoung yang kini sudah tidak lagi semerah sebelumnya. "I can read people like a book, and the first time I saw you, gue yakin banget lo tipe orang yang gak akan punya masalah sama orang lain, kecuali keluarga lo sendiri."

"Bisa berhenti sotoy gak?"

"Kalimat gue emang salah? Nggak kan?" Entah kenapa Doyoung dapat merasakan aura mengintimidasi yang kuat dari lawan bicaranya, membuat dirinya mau tidak mau mengalihkan pandangan karena jujur ia sedikit takut sekarang.

"Lo gak ada baju lain apa?" Tanya Doyoung berusaha mengalihkan pembicaraan, lagi-lagi Haruto tertawa karena mendengar kalimat laki-laki manis di sebelahnya.

"Pasti lo gak pernah diajarin buat menyelesaikan masalah ya di rumah?"

"Lo sadar gak sih kalo kalimat lo tuh gak sopan? Kita baru ketemu dua kali dan lo udah menilai gue dengan penuh rasa sok tau lo itu."

Tawa Haruto makin keras, ia masih memandang Doyoung yang terus menghindari tatapannya. "Then tell me, biar gue gak nebak-nebak terus, dan biar gue tau apakah tebakan gue salah atau tepat sasaran. Gue yakin sih jawabannya ada di opsi kedua."

Doyoung memutar mata, malas menanggapi pembicaraan Haruto yang terus memaksanya untuk bercerita.

"Kenapa? Lo gak percaya sama gue? Bukannya kalo urusan ginian lebih nyaman diceritain ke orang asing ya? I won't judge you and my opinion wouldn't be biased."

"Why should I? Kenapa gue harus cerita sama lo? Kita baru kenal dua puluh empat jam dan gue gak yakin apa lo adalah orang yang bisa gue percaya. Bahkan banyak orang bilang kalau manusia butuh waktu tujuh tahun buat percaya sepenuhnya sama orang lain."

"Lo percaya sama mereka yang gak pernah lo temuin tapi lo malah gak percaya sama gue?"

Doyoung menunduk lalu memijit keningnya frustasi, bicara dengan Haruto membuat ia memang sedikit melupakan tentang masalahnya yang ada di rumah, tapi justru menambah masalah baru dengan bagaimana harus mengalahkan kalimatnya.

Kalimat yang terdengar benar dan meyakinkan di telinga. Tapi ayolah, ini baru satu hari sejak pertemuan pertama mereka, umur Doyoung terlalu tua untuk semudah itu masuk ke dalam semua ucapan masuk akal yang keluar dari mulut Haruto.

"Jempol lo pasti berdarah karena sering lo gigit atau kopekin kan? Hal yang sama berlaku juga buat bibir lo, meskipun remang tapi gue bisa liat bekas darah di sana sini, lo tau gak tindakan itu gak ada bedanya sama self harm?"

Tangan Doyoung dengan sigap bergerak untuk mengusap bibirnya yang memang terasa perih, ia tahu kalau itu adalah kebiasaan buruk yang sering ia lakukan jika sedang berada di kondisi tidak nyaman, melihat pertengkaran kedua orang tuanya contohnya.

"Gak butuh tujuh tahun, di pertemuan pertama pun gue tau kalo di badan lo yang cuma segitu, banyak masalah besar yang lo tanggung tapi gak kunjung nemu solusi."

"Terus gimana? Lo mau ngasih gue bantuan? Lo mau nyelesain masalah gue? Gue bahkan belom percaya kalo lo manusia." Balas Doyoung pada akhirnya.

"Apa gue harus jadi manusia buat bisa bikin masalah lo selesai? Banyak orang di luar sana yang berlomba-lomba minta bantuan gaib buat bikin hidup mereka bahagia."

Bohong jika Doyoung tidak takut saat menatap manik hitam Haruto yang makin lama dipandang, justru semakin membuatnya seakan dihisap masuk lalu tenggelam di dalamnya.

***

Tangan Doyoung bergerak ke arah ponsel, menghentikan alarm yang entah kenapa terus berdering padahal dirinya tidak ada jadwal kuliah. Ia akhirnya bangun, meregangkan tubuh karena entah kenapa badannya mudah pegal beberapa hari ini.

Kepalanya bertumpu di sandaran ranjang luas yang ada di sudut kamar, tangannya bergerak menggulir layar melihat puluhan pesan yang teman-temannya kirimkan dan tidak sempat ia baca.

Netranya menatap malas ke ruang obrolan yang terlihat memuakkan karena berisi ocehan tidak penting, Doyoung menghembuskan napas berat sebelum akhirnya bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi.

Doyoung tidak memiliki rencana apapun hari ini, ia berniat untuk menghabiskan waktu di kamar seharian dan menghindari semua ajakan keluar dari teman-temannya. Ia rasa tubuhnya butuh istirahat karena jadwal kuliah yang makin padat beberapa hari belakangan.

Matanya kini fokus menatap layar tv yang ada di hadapan, memutar film lama membuat Doyoung semangat karena tidak harus menebak scene apa yang akan datang selanjutnya dan apakah akhir dari kisah akan bahagia atau justru sebaliknya.

Tanpa sadar Doyoung tertawa, ia mendadak teringat dengan obrolan aneh dengan Haruto tadi malam, membuat dirinya lagi-lagi harus tidur setelah pukul dua pagi.

Tapi tidak masalah, setidaknya saat Doyoung kembali ke rumah, pertengkaran kedua orang tuanya telah selesai. Hanya menyisakan beberapa barang yang berantakan di lantai.

Ah, Doyoung sedikit tidak sabar untuk menunggu malam datang, menepati janji yang telah ia buat bersama Haruto untuk kembali bertemu di taman perumahan yang kini terasa nyaman untuk dikunjungi.



































...

gomen kemarin gak bisa update :( sehat-sehat yaa kalian<3

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com