07 | legato
0 7
l e g a t o
[It] Memainkannya dengan lancar tanpa jeda.
ADELAIDE TAMPAKNYA CUKUP MEMPERCAYAIKU dengan membiarkanku membawa perangkatku sendiri setiap kali aku mengunjungi Kaden. Dia tidak lagi berada di rumah pantai ketika aku datang lagi, membawa dua kotak pizza besar yang kubeli di sebuah kedai makan, dua halte bus yang jauh dari sekolah. Millie memberiku pizza dengan harga diskon karena dia bekerja di sana.
Parker yang mengantarku ke rumah pantai, langsung pergi begitu dia menurunkanku karena dia harus kembali bekerja. Jadi rumah itu kosong kecuali Edwin dan Kaden—ruang kosong dan koridor kosong dan kamar kosong; semua itu tampak agak menyedihkan bagiku, tak peduli seberapa pun megahnya rumah itu.
Edwin menatapku geli ketika aku terhuyung-huyung melewati pintu, membawa kotak pizza, tasku, dan beberapa buku di lenganku. Dia segera mengambil alih kotak itu dari tanganku. "Tuan Bretton agak gelisah sepanjang hari," katanya ketika dia menuntunku menaiki tangga, "dia sudah meminta untuk bertemu denganmu selama beberapa hari sekarang."
Alisku naik karena terkejut. "Dia gelisah? Apakah dia menghabiskan sepanjang hari terkurung di rumah?"
"Berhari-hari," Edwin mengoreksi, dengan sedih. "Nyonya Bretton tidak mengizinkannya meninggalkan rumah sampai dia benar-benar mendapatkan penglihatannya kembali."
Aku merasakan sesuatu di dalam hatiku tertarik ketika aku mengingat Kaden duduk di dekat jendela, selalu melihat keluar dan tidak pernah ke bagian dalam. Mendorong pikiran itu ke samping, aku bersandar pada susuran di sepanjang tangga dan terus mengobrol dengan Edwin. Dalam beberapa menit, aku sudah belajar banyak tentangnya—bahwa dia memiliki seorang putra yang bekerja di perusahaan Nolan, seorang putri yang seperti diriku dan baru saja melahirkan seorang bayi beberapa minggu yang lalu.
Aku baru saja akan bertanya tentang jenis kelamin bayi itu ketika pintu di belakang kami terbuka dan Kaden melangkah keluar, melintasi ambang pintu dengan ekspresi tidak kesal di wajahnya, ponselnya di tangan kanannya.
"Evangeline," bibirnya datar menjadi garis yang ketat, "apa yang kau lakukan? Makan pizza dengan Edwin di luar kamarku?"
Alisku mengernyit kebingungan. "Bagaimana kau tahu—"
"Aku hanya buta—sistem pendengaran dan penciumananku berfungsi dengan sangat baik," dia kembali dengan sikapnya yang agak merajuk, dan aku menahan keinginan untuk tertawa karena dia terdengar sangat seperti anak kecil yang menginginkan makanan yang tidak bisa dimakannya. "Masuk. Dan Edwin," nada suaranya sekarang tampak hampir penuh hormat dan baik, "kau bisa pergi selama beberapa jam ke depan. Aku akan meneleponmu jika perlu."
"Terima kasih," kata Edwin, mengangguk padaku sebelum pergi. Dia menghilang ke sebuah ruangan kecil di sebelah kiri lantai pertama, yang aku duga adalah tempat dia tinggal karena dia tampaknya bekerja sepanjang waktu.
Mengumpulkan barang-barangku, aku mengikuti Kaden ke dalam ruangan, meletakkan kotak pizza di atas meja kopi. Kaden kembali berbincang di telepon yang kuduga sudah berlangsung sejak sebelum kehadiranku menginterupsinya, nadanya tajam dan profesional. Itu jelas merupakan panggilan bisnis dan terbukti sesaat kemudian ketika dia memberi tahu orang di seberang sambungan untuk mengirim laporan pada hari Senin sebelum mengakhiri panggilan tersebut.
"Aku tidak percaya kau masih bekerja," kataku dengan nada tak percaya, membuka tutup kotak pizza dan meletakkan serbet dengan benar. "Bukankah kau seharusnya mengistirahatkan diri?"
"Saham perusahaan akan jatuh jika aku tidak ada di sana untuk memantaunya," dia membalas dengan serius dan aku benar-benar memercayainya, karena sebagai pemimpin perusahaan, Kaden jelas memiliki banyak hal di pundaknya. Belum lagi bahwa Bretton adalah salah satu perusahaan terbesar di negara ini dan memegang pangsa pasar saham yang sangat besar. "Aku tidak sanggup istirahat; ayahku berpikir perusahaan akan hancur jika aku melakukannya."
"Well, kau beristirahat kemarin, ingat? Ketika kau menonton Doctor Who bersamaku dan berbincang setelah itu," aku mengingatkannya, pergi ke arahnya dan meraih lengannya. Dia tampak santai di bawah sentuhanku dan aku membawanya ke sofa, menyelipkan serbet dan sepotong pizza ke tangannya. "Dan perusahaanmu masih berkembang. Makanlah selagi pizza masih panas."
Dia melakukan apa yang kuperintahkan, memakan pizza itu dalam gigitan besar dan seakan dia kelaparan. "Kau tidak harus membawakan aku ini," katanya padaku setelah beberapa saat, "aku bisa memesannya untuk kita."
"Jangan khawatir tentang itu. Itu kudapatkan saat di perjalanan dan aku baru saja menyelamatkanmu dari menghemat banyak biaya pengiriman."
"Biaya pengiriman?" Dia tampak terkejut. "Kau pikir aku benar-benar khawatir dengan biaya pengiriman?"
"Well, itu hal normal yang manusia biasa seperti kita pertimbangkan," aku menyindir, duduk di sebelahnya dan mengambil sepotong pizza untukku sendiri. "Selain itu, aku kadang-kadang melakukan pengiriman ketika aku tidak memiliki kelas untuk dihadiri. Semua dalam satu hari kerja. Sejujurnya tidak terlalu sulit–"
"Pengiriman seperti apa?" Dia bertanya tiba-tiba dan ada sesuatu yang berbeda dalam nadanya, sesuatu yang cerdik, jenis yang dimaksudkan untuk membujukku membocorkan informasi yang hampir terlambat kusadari dan seharusnya tidak kuberikan. Beberapa pertemuan lagi dan waktuku dengan Kaden akan berakhir. Aku tidak bisa mengatakan kepadanya informasi apa pun tentang diriku.
"Makanan," aku membalasnya dengan asal. Itu bohong—aku biasanya mengirimkan tanaman dan tanah ke pusat kebun ketika Ayah terlalu sibuk untuk melakukan pengantarannya sendiri. Kaden tampaknya mempercayai jawabanku dan aku menghela napas lega. "Apakah kau ingin menonton film?" Aku bertanya kepadanya, meletakkan pizza ke meja dan menyeka jariku di serbet. Mengambil tasku, aku membuka ritsletingnya dan mencari-cari koleksi film yang kupinjam dari Millie, karena yang kumiliki di rumah hanyalah film-film romantis dan aku ragu Kaden akan menyukainya. "Aku membawa beberapa keping. Aku memiliki The Matrix, Silence of the Lambs, Memento, The Dark Knight, Lord of the—"
"Pilihlah. Aku oke dengan film apa pun, asalkan kau menceritakannya kepadaku," tambahnya langsung, dengan cara yang nyaris menggoda yang membuatku tersenyum kaget.
Memilih Memento dari koleksi itu, aku memasukkannya ke dalam pemutar CD yang diajarkan Kaden kepadaku cara pengoperasiannya tempo hari, sebelum kembali ke arahnya di sofa dan menyalakan televisi. "Kau akan menyesal memintanya," aku memberi tahu Kaden, ketika film mulai diputar. "Aku mungkin akan memberikan semua spoiler-nya di lima menit pertama."
Dia bergeser lebih dekat ke arahku sampai bahunya menyentuh bahuku. "Tidak masalah. Rasanya selalu sunyi ketika aku menonton film karena aku biasanya sendirian. Ini adalah perubahan kecepatan yang baik sesekali."
Aku meliriknya. Dia sedang mengunyah pizza-nya sambil melamun dan aku merasakan kepedihan di hatiku membayangkan dia begitu sering sendirian. Parker pernah mengatakan kepadaku bahwa Kaden tidak suka tempat yang ramai sehingga pergi ke bioskop tidak pernah benar-benar menjadi pilihan baginya, terutama karena ia mudah dikenali. Bukan hanya bioskop; pesta dan pub, dan segala macam acara sosial, karena pers biasanya membuat banyak berita tentang hal itu ketika Kaden hadir.
Mencondongkan tubuhku ke depan, aku mengambil sepotong pizza lagi dan meletakkannya di tangan Kaden setelah dia selesai makan yang pertama. Lalu aku bersandar, pundakku menyentuh pundaknya sekali lagi, sentuhan itu terasa kuat tetapi berlalu cepat. "Memento adalah film thriller yang dibintangi oleh Guy Pearce, yang hebat di bidang itu, omong-omong. Film ini mengikuti struktur naratif non-linear. Jadi Pearce memerankan Leonard Shelby, seorang pria yang menderita amnesia anterograde..."
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Aku kira aku pasti tertidur di tengah-tengah film, karena hal terakhir yang kuingat adalah mengunjungi toilet setelah aku selesai makan dan kemudian kembali duduk di samping Kaden. Tapi dia tidak lagi di sampingku ketika aku bangun; alih-alih, dia duduk di dekat jendela sekali lagi, wajahnya mengarah ke arah cahaya.
Sambil menahan kuap, aku bergeser dan duduk, terlambat menyadari bahwa ada selimut biru yang menyelimutiku. Jari-jariku menariknya ke samping tetapi kemudian terhenti ketika meresapi kain lembut selama satu atau dua jenak. Ini adalah kebaikan yang kutahu akan kuingat dalam beberapa minggu mendatang. Kaden mungkin kesulitan untuk menemukan selimut dan menyebarkannya di atas tubuhku, tetapi dia melakukan semuanya dan itu sangat berarti untukku.
"Kau seharusnya membangunkanku," aku memecah kesunyian dan menghampirinya, berhenti ketika aku berada di dekat langkannya. Beberapa bagian dari diriku menyadari bahwa ini adalah tempat favoritnya dan mungkin sebaiknya aku tidak mengganggunya. Jadi aku hanya duduk di lantai dan menatapnya. "Aku di sini untuk menemanimu, tidak menghabiskan sepanjang sore untuk tidur."
"Tidak apa-apa," dia kembali dengan tenang. Wajahnya sekarang menghadap ke arahku, ekspresi wajahnya santai ketika dia bersandar di sisi dinding. "Kau tampak kelelahan karena kau tidur cukup cepat."
"Aku harus begadang beberapa malam untuk menyelesaikan sebuah esai berkat profesorku yang sangat menuntut–"
Kata-kata itu sudah keluar dari bibirku ketika aku tersadar, membuatku sedikit ketakutan, rasanya bukan ide yang bijak untuk mengungkapkan fakta bahwa aku masih di universitas. Sambil menyilangkan jari di belakang, aku berharap Kaden tidak mendengarnya.
Tapi sudah terlambat.
"Kau di universitas?" Dia bertanya hampir seketika, seolah-olah dia tengah menunggu aku mengungkapkan informasi lainnya, dan langsung menerkamnya.
"Ya," gumamku acuh tak acuh, "kehidupan rata-rata seorang mahasiswa, kau tahu—esai dan sebagainya. Apa yang kau pelajari di universitas?"
Kalaulah dia menyadari pergantian topikku yang tiba-tiba, dia tidak mempertanyakannya. "Bisnis," jawabnya, sebelum berhenti, ada kernyitan di wajahnya. "Bukan pilihan idealku, tapi itu yang diinginkan orang tuaku."
Bagiku itu tidak terlalu mengejutkan. Dari apa yang kuketahui tentang Kaden sejauh ini, sepertinya orang tuanya telah memetakan sebagian besar hidupnya untuknya. "Apa yang akan kau pelajari jika kau memiliki pilihan?" Aku bertanya dengan rasa ingin tahu, "jika kau bisa hidup lagi, tanpa keputusan yang dibuat untukmu saat ini, apa yang akan kau pilih?"
Dia menghela napas. "Aku tidak tahu. Aku biasanya tidak suka memikirkan hal-hal yang bisa kulakukan karena itu hanya akan menimbulkan penyesalan." Bersandar, dia meregangkan tangannya, sementara kakinya diluruskan di langkan. Salah satu jari kakinya menabrak pundakku secara tidak sengaja dan dia cepat-cepat menariknya mundur. "Apakah kau sedang duduk di lantai?"
Aku hampir tersentak mendengar betapa terkejutnya dia terdengar. "Well—"
"Apa yang kau lakukan di lantai?" Dia tergagap tak percaya sebelum bergeser ke samping dan menyediakan tempat untukku di kursi dekat jendela. "Kemarilah."
Dengan hati-hati, aku duduk, memastikan bahwa aku tidak mengambil lebih banyak ruang daripada yang diperlukan. Itu tempat yang bagus. Aku bisa merasakan matahari mengalir masuk dari jendela dan memandikan ruangan ini dalam kehangatannya. Pemandangan dari jendela di sini sangat menakjubkan dan pantai di luar tampak membentang jauh, membentang lebih jauh dari yang bisa kulihat.
Itu pemandangan yang indah, tapi aku masih tidak mengerti kenapa Kaden terpaku pada pemandangan di luar ketika dia tidak bisa melihat apa-apa. Beralih menatap Kaden, aku membiarkan pertanyaan itu melewati bibirku dengan hati-hati. "Kenapa kau terus melihat keluar?"
Dia terdiam terlalu lama dan ketika dia berbicara lagi, dia terdengar hampir defensif. "Apa?"
Aku mengetuk jendela, memastikan dia bisa mendengar suara kukuku di panel kaca. "Kau selalu di kursi ini dan kau selalu melihat keluar." Dia tidak menjawab dan aku mulai bertanya-tanya apakah terus mendorongnya akan menjadi ide yang baik. "Apakah kau rindu keluar?"
"Itu–salah satu alasannya," bibirnya datar dalam garis yang sempit, seolah mengakui fakta itu lebih mengganggunya daripada apa pun. Ketika aku tetap diam, dia menghela napas dan melanjutkan, "lebih seringnya, walau begitu, karena melakukan ini adalah satu-satunya indikator yang kumiliki untuk tahu apakah aku sudah mendapatkan kembali penglihatanku. Jika aku bisa melihat cahaya dari matahari di bawah kelopak mataku yang tertutup, aku pikir itu berarti bahwa penglihatanku kembali. "
"Kau selalu bisa membuka matamu untuk memastikannya," usulku, merasa agak bingung. Sepertinya itu indikator yang jauh lebih sederhana.
Dia tertawa rendah, tetapi bibirnya hampir tidak tersenyum dan dia terdengar hampir frustrasi. "Apakah kau tahu bagaimana rasanya membuka mata dan tidak melihat apa pun selain kegelapan?"
Itu adalah pertanyaan retoris dan aku tidak menjawabnya. Sebagai gantinya, aku memeluk lututku dan menunggu dia untuk melanjutkan.
Ketika dia berbicara, suaranya nyaris tidak terdengar. "Ini menakutkan saat pertama kali, membingungkan di kali kedua, membuat frustrasi di kali ketiga. Kemudian, akhirnya, ini menjadi menyedihkan karena rasanya seperti dunia direnggut darimu, meninggalkanmu sendirian kecuali suara dan bau yang melintas. Ketika para dokter melihat aku membuat diriku sendiri berkedip-kedip secara gila dan berusaha mendapatkan penglihatanku kembali, mereka meletakkan kain kasa di kepalaku untuk mencegahku memberikan tekanan yang tidak seharusnya pada mataku. Jadi jendela ini," tangannya meraih untuk mengetuk kaca itu dengan lembut, "sinar matahari di luar–itulah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras. Ini mengingatkanku bahwa ini hanya sementara dan aku akan dapat melihat lagi."
Aku meraih tangannya yang terkepal dan bersandar pada kisi jendela dan berusaha meregangkan jemarinya dari posisi itu. Namun, dia mengejutkanku ketika jemarinya terbuka dan secara otomatis terjalin dengan jariku.
"Bertahanlah," kataku lembut, mataku menatap tangan kami lekat-lekat. Dia tampak lebih besar dari milikku; rasanya sangat familier. Sepertinya baru kemarin dia memegang tanganku dan berdansa bersamaku. "Ini hanya untuk beberapa minggu lagi dan kau akan dapat melihatnya."
"Dan kau harus menonton Memento bersamaku lagi," katanya.
Aku menoleh padanya dengan heran, napasku tersentak ketika kulihat sudut bibirnya terangkat ragu-ragu dalam senyuman kecil yang sepertinya melembutkan sedikit struktur wajahnya. Ini yang pertama. Aku belum pernah melihatnya tersenyum dengan benar sebelumnya, tidak ketika kami bertatap muka.
"Aku tidak benar-benar mengerti bahkan dengan narasimu," godanya.
Harapan dan janji dalam kata-katanya membuat sesuatu dalam diriku tertarik dengan kuat, karena aku tahu betul bahwa ini tidak akan pernah menjadi kenyataan yang terpenuhi. Kaden akan membuka matanya dan aku tidak akan berada dalam hidupnya saat itu. Aku adalah hantu, datang ke dalam hidupnya dan meninggalkan interaksi singkat yang mungkin akan dia lupakan di waktu yang akan datang.
Sambil menarik napas dalam dan gemetar, aku mengusapkan ibu jariku dengan lembut ke tangannya. "Kau akan memahaminya ketika kau menontonnya lagi," kataku sebagai gantinya, memejamkan mata dan membayangkan ekspresi heran di wajah Kaden ketika dia akhirnya memahami film itu ketika menyaksikannya dengan matanya sendiri, tanpa aku bertindak sebagai alat bantu visualnya; saat ketika dia melihat bagaimana urutan hitam-putih berpadu sempurna dengan bidikan berwarna untuk membuat gambar yang rumit, namun indah. "Kau akan menyukainya ketika kau akhirnya bisa melihatnya."
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com