17 | tenuto
1 7
t e n u t o
[It] Simpan, pegang, genggam; mempertahankan tanpa memutusnya.
AKU BERAKHIR menginap ketika demam Kaden berlanjut sepanjang malam, mereda tetapi kembali naik setiap beberapa jam. Malam semakin larut ketika aku masih mengganti-ganti kompresnya dengan handuk basah dan membantunya duduk tegak sehingga dia bisa minum obat.
Baru pukul empat pagi ketika demamnya menunjukkan tanda-tanda menghilang, dan aku mengatur alarm di ponselku pada pukul lima sehingga aku bisa memeriksanya lagi, sebelum berbaring di sofa karena kelelahan. Kantuk itu datang dengan cepat seperti yang selalu terjadi ketika aku kelelahan dan sepertinya aku ketiduran, karena ketika aku membuka mataku berikutnya, langit di luar sudah cerah dan sinar matahari masuk melalui jendela.
Aku segera tersentak bangun, agak terkejut ketika melihat selimut putih melingkupi tubuhku. Berkedip-kedip, aku melihat Kaden duduk di hadapan meja dapur dengan cangkir di tangan kanannya, mungkin berkirim pesan di ponselnya dengan seseorang. Beberapa kertas tersebar di depannya yang hanya bisa berarti satu hal—dia kembali bekerja lagi.
"Jam berapa ini?" Aku berseru, merasa untuk sesaat bingung.
Kaden melirikku sekilas sebelum mengembalikan perhatiannya ke ponselnya. "Tujuh lima belas."
"Tapi ponselku seharusnya–"
"Kau bahkan tidak bisa mendengarnya ketika itu berdering di sebelahmu. Aku harus bangun dari tempat tidur untuk mematikan benda sialan itu."
"Oh." Berdiri, aku mengambil selimut dan melipatnya dengan rapi, lantas meletakkannya kembali di sofa. Dia berhenti sejenak, memperhatikan dengan waspada ketika aku menuju ke arahnya. "Bagaimana perasaanmu?"
Dia merunduk ketika aku mengulurkan tangan. "Aku baik-baik saja."
"Apakah kau sudah mengukur suhu tubuhmu?"
Ketika dia tidak menjawab, aku menahan dorongan untuk memutar bola mataku dan pergi ke kamarnya. Seprai ranjangnya kusut dan sepertinya dia tertidur cukup nyenyak, tetapi aku terdiam ketika aku menyadari bahwa selimut dari tempat tidurnya menghilang. Aku kembali dengan termometer di tangan, menatapnya dengan curiga.
"Apakah kau yang memberiku selimutmu?"
Dia hanya diam, tetapi diam berarti iya, dan aku merasakan hatiku bergetar ketika melihat selimut putih yang kini tergeletak di sofa. Menahan senyum, aku mengulurkan termometer ke arahnya, menunggu sampai benda itu berhasil mengukur suhu tubuh Kaden. Saat selesai, Kaden melirik ke arah benda itu untuk sesaat, matanya sedikit menyipit yang artinya itu adalah pertanda akan sesuatu dan aku menarik termometer itu sebelum dia sempat bereaksi.
"Kau masih demam," kataku dengan datar, mengunci tatapannya tepat ketika dia memelototiku. "Kau tidak bisa bekerja sekarang, kau harus beristirahat lebih banyak."
"Aku tidak—"
Namun, kata-kata itu sepertinya membeku di lidahnya ketika aku menggamit lengannya dengan lembut, menariknya ke arah kamarnya. Aku dengan terang-terangan mengabaikan semua protesnya, seraya bergegas menarik selimut saat kami berjalan kembali menuju kamarnya. Dia terdiam ketika aku menepuk-nepuk bantal, meletakkannya kembali ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya.
"Setelah bencana yang kuciptakan di dapur kemarin, kurasa aku akan menelepon layanan kamar," kataku padanya, "Kembalilah tidur. Aku akan membangunkanmu ketika makanannya ada di sini." Aku berbalik untuk pergi tetapi berhenti ketika dia memanggil namaku dengan lembut.
"Isla," tatapannya terjaga tetapi menelisikku. "Kenapa kau melakukan ini?"
Mungkin tidur telah menjernihkan pikiranku. Dan jika aku tidak dapat berbohong di malam sebelumnya, aku yakin aku tidak dapat berbohong kali ini. Dan mungkin Ayah benar—mungkin Kaden Bretton sama takutnya seperti diriku, walaupun aku tidak tahu kenapa dia harus merasa begitu, dan salah satu dari kami harus mengambil langkah pertama.
Miliki sedikit keberanian, Isla.
Sambil tersenyum lembut, aku bergerak ke depan untuk memberikan ciuman ke pipinya, sudut-sudut bibirku tersungging dalam senyum yang lebih lebar ketika dia hanya membeku, napasnya seakan tersentak pada kontak tiba-tiba itu.
"Karena, ini ada artinya bagiku," kataku kepadanya, menangkap sekilas ingatan berkilat di matanya ketika dia mengingat kata-kata yang diucapkannya di malam sebelumnya. "Ini berarti segalanya bagiku."
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Kaden sudah cukup sehat untuk kembali bekerja keesokan harinya. Namun, ketidakhadiran kami berdua jelas tidak luput dari perhatian, dan aku menangkap ada lebih dari sekadar pandangan tertarik dari rekan kerjaku keesokan paginya. Bahkan Stella, yang biasanya tidak peduli dengan gosip kantor, tidak bisa tidak bertanya ke mana aku menghilang. Aku hanya mengangkat bahu dan memberi tahu dia bahwa ada keadaan darurat yang harus kutangani, tetapi kilat di matanya membuatku sadar bahwa dia tidak memercayai ceritaku. Tidak sedikit pun.
Kaden, di sisi lain, tampaknya tidak memperhatikan perubahan suasana. Yang pertama, dia hampir tidak pernah peduli pada gosip sepele atau bahkan berinteraksi dengan bawahannya. Dan untuk alasan yang lainnya, dia selalu menghabiskan harinya bersembunyi di ruang kerjanya, mengadakan meeting yang tampaknya selalu berlangsung berjam-jam.
Aku menghabiskan separuh pertama hari itu dengan menyelesaikan daftar penerima manfaat untuk acara makan malam, dan mengirimkan daftar itu kepadanya tepat sebelum dia memulai meeting berikutnya. Namun, tiba-tiba, dia melangkah keluar, langsung menuju mejaku dengan selembar kertas yang terlihat familier.
"Aku tidak ingat melihat ini di antara file-file itu," katanya, tidak membuang waktunya sedikit pun dengan berbasa-basi. Dia meletakkan kertas itu di atas mejaku, menunjuk dengan cepat ke yayasan terakhir yang kutambahkan sebagai bahan pertimbangannya.
Aku tersendat, melemparkan pandangan ragu-ragu ke pintu ruang kerjanya yang terbuka. "Apakah ini bagian dari meeting-mu?"
"Tentu saja tidak," dia membalas dengan nada kesal, sebelum mengetuk daftar itu dengan tidak sabar. "Jadi, kenapa panti asuhan ini termasuk dalam daftar?"
"Kupikir mereka mungkin membutuhkan bantuan."
Dia memutar bola matanya. "Ya, setiap yayasan membutuhkannya, tetapi kenapa ini?" Dia berkeras, mengamatiku dengan cermat dengan mata hijau cemerlangnya. "Kau tahu kita akan melampaui anggaran jika kita memasukkan panti asuhan ini, karena ini adalah panti asuhan publik dan mereka tidak pernah mendapatkan sokongan dana swasta?"
Ya, tentu saja aku tahu itu. Itulah alasan kenapa ibuku dulu membantu mereka. Untuk sesaat, aku bisa membayangkan semuanya—kenangan samar tentang seorang wanita berambut pirang yang membaca dongeng kepada anak-anak yatim piatu itu di setiap hari Sabtu, dengan putrinya yang berusia lima tahun bertengger dengan nyaman di pangkuannya, mendengarkan setiap katanya dengan perhatian penuh.
"Kau tidak harus memasukkan Breckenridge. Itu hanya masukan," kataku akhirnya, sebelum menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Apakah kau membaca daftar itu selama meeting-mu yang sangat penting dengan orang-orang yang sangat penting itu?"
Dia memelototiku dengan dingin, tetapi aku hanya mengamatinya dengan rasa puas ketika rona merah muda mewarnai pipinya. Sial, aku sungguh menikmati ini. Ekspresi kesal bercampur dengan rasa malu samar di wajah Kaden terlalu indah untuk menjadi nyata.
"Aku multi-tasking," dia membalasnya dengan membela diri.
"Dan berpikir itu ide yang bagus untuk keluar di tengah-tengah meeting untuk melakukan diskusi yang kurang produktif denganku?"
Kaden menatapku dengan tatapan dingin sebelum mengambil daftar itu dan berjalan kembali ke ruang kerjanya, membanting pintu hingga tertutup di belakangnya. Aku menatap pintu tertutup itu dan membiarkan senyum kecil mengembang di wajahku. Mendapatkan reaksi dari seorang Kaden Bretton yang selalu acuh tak acuh adalah salah satu pencapaian terbesar dalam hidup.
Dengan enggan, aku kembali mengirim email massal mengenai laporan keuangan yang akan jatuh tempo pada kuartal pertama bulan itu. Di tengah-tengah kegiatanku mengirim email, interkom berdengung dari petugas keamanan di lantai pertama dan aku buru-buru mengangkatnya sebelum suara deringnya mengganggu orang-orang di ruang kerja Kaden.
"Kantor Tuan Bretton, ada yang bisa kubantu?"
Suara dari ujung seberang sama sekali tidak terdengar seperti milik Dylan, tetapi salah satu pekerja yang lebih tua di meja resepsionis. "Tuan Lawrence Bretton ada di sini untuk menemui putranya. Dapatkah aku membiarkannya masuk?"
Aku membeku. Seakan jantungku berhenti berdetak untuk sejenak. Darah mengalir deras ke telingaku dan aku tiba-tiba memikirkan konsekuensi yang dapat terjadi karena keberadaanku di sini. Apakah ayah Kaden benar-benar tahu aku ada di sini?
Tampaknya sangat tidak mungkin, mengingat fakta bahwa dia dan istrinya bersikukuh untuk memisahkan kami sejak awal.
Menelan ludah dengan susah payah, aku menggenggam telepon itu lebih erat di telingaku. "Tuan Kaden Bretton sedang meeting sekarang. Mungkinkah ayahnya menunggu?"
"Sepertinya tidak. Tuan Lawrence Bretton sudah dalam perjalanan."
Sambungan itu terputus, dan aku mendengarkan dengungan dari suara interkom sejenak sebelum menarik napas dalam-dalam dan menekan tombol lain pada interkom untuk menelepon ruangan Kaden.
Sesaat kemudian, dia mengangkat telepon, terdengar sangat kesal. "Apa?"
"Maaf membuatmu kesal," aku cepat-cepat mengatakannya, hampir tidak peduli dengan formalitas pada saat ini, "tetapi ayahmu sedang dalam perjalanan untuk menemuimu."
"Dia tidak—"
Namun, sebelum Kaden dapat menyelesaikan kalimatnya, aku mendengar denting suara lift dan dengan cepat membanting telepon. Bergegas bangkit, aku meraih ponselku dan dengan cepat menuju toilet yang, sayangnya, berdekatan dengan lobi lift tetapi tidak ada tempat lain untuk melarikan diri, selain bersembunyi di bawah mejaku.
Tepat ketika aku berbelok di tikungan, aku menangkap keberadaan Lawrence Bretton dari sudut mataku. Tinggi dan mengesankan, dia terlihat seperti malaikat pencabut nyawa dalam setelan jas hitamnya. Kemiringan hidungnya persis sama dengan Kaden, dengan garis rahang maskulin yang sama, dan ia tampak sama menakutkannya seperti yang selalu kubayangkan, meskipun helai abu-abu di rambut hitam legamnya menunjukkan dengan jelas usianya.
Aku cepat-cepat menyelinap melewati sudut ruangan, langsung menuju kamar mandi. Saat aku akhirnya merasa cukup aman di dalam, barulah aku membiarkan diriku untuk lebih tenang. Memegang pinggiran wastafel, aku menatap bayanganku di cermin dan mencoba untuk menghilangkan rasa takut di mataku.
Bernapaslah, Isla.
Bernapaslah.
Namun, retakan itu telah muncul dan aku merasa ketenangan yang telah berusaha kusatukan kembali setelah sekian lama kembali runtuh. Yang bisa kupikirkan hanyalah Adelaide yang memaksaku meninggalkan Kaden dan mengancam keluargaku. Lawrence, meskipun aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya, mungkin sangat menyadari semua yang terjadi juga. Aku merasa muak sekaligus takut kepada mereka berdua, dan tidak bisa mengerti bagaimana dua orang yang menggunakan cara licik seperti itu dapat menghadirkan orang baik seperti Kaden.
Hanya memikirkannya saja, membuat rasa sakit mendera seluruh tubuhku dan aku menutup mata.
Bernapaslah, Isla.
Bernapaslah.
Namun, di mana oksigen ketika aku sangat membutuhkannya?
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Aku membutuhkan waktu satu jam atau mungkin lebih sebelum aku akhirnya menguatkan diri dan memberanikan diri kembali ke mejaku. Dan tentu saja setelah aku melihat Lawrence Bretton meninggalkan ruang kerja Kaden dan menuju lift. Sebenarnya, bukan hanya Lawrence yang pergi, tetapi juga para klien dari meeting sebelumnya.
Yang mengejutkanku, Kaden sudah menunggu dengan tidak sabar di mejaku ketika aku kembali, alisnya menegang karena kerutan lelah dan jengkel yang semakin dalam ketika dia melihatku. "Dari mana kau?"
"Sakit perut," aku mengucapkannya dengan santai, dengan hati-hati menghindari tatapannya dan duduk kembali di kursiku. "Apakah kau perlu aku melakukan sesuatu?"
Dia mengabaikan pertanyaanku dan malah menatapku tajam. "Apa kau sakit?" Akhirnya dia bertanya, dan aku mengangkat mataku untuk memandangnya, merasa agak terkejut.
"Apa—"
Dia berdiri tegak dan menjauh dari mejaku, ekspresi aneh dan frustrasi di wajahnya diarahkan kepadaku. "Lihat, aku benar-benar tahu. Aku sudah bilang untuk tidak mendekatiku," dia mengoceh, terdengar sangat dan benar-benar kesal, "Aku bilang kau akan terkena virus bodoh atau apa pun itu yang ada di sistem tubuhku dan kau akan jatuh sakit juga—"
Aku memperhatikannya, senyum kecil bermain di bibirku. "Kaden–"
"–tapi tidak, kau sangat keras kepala kau bahkan tidak mendengarkan–"
"Kaden."
"–aku bersumpah, jika saja kau mau mendengarkanku sekali saja dan berhenti melibatkan dirimu dalam—"
"Kaden." Dia berhenti mengoceh dan menatapku. Aku tersenyum padanya. "Aku tidak sakit."
Dia berkedip, tampak bingung sejenak. "Apa?"
"Aku baik-baik saja," aku menjelaskan, sudut-sudut bibirku tersungging dalam senyum yang lebih lebar ketika aku melihat kilat kesadaran muncul di matanya. "Kau tidak seharusnya mengkhawatirkanku selama semenit tadi. Rasanya senang melihatmu masih peduli," aku tidak bisa tidak menambahkan kalimat terakhir itu, suaraku terdengar ceria dan begitu usil.
Matanya menyipit. "Jangan berdelusi dengan berpikir kalau aku khawatir karena aku tidak merasa begitu," dia menjawabnya dengan asal, kembali ke ruangannya dan membanting pintu tertutup di belakangnya untuk yang kedua kalinya hari ini.
Aku tersenyum dan mengambil penaku, menahan keinginan untuk menerobos masuk ke kantornya dan mengoreksi apa yang dimaksudnya.
Jangan berdelusi dengan berpikir kalau kau tidak khawatir karena mungkin kau benar khawatir.
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Hari-hari berlalu dengan cepat dan keadaan di kantor semakin sibuk dari hari ke hari ketika tanggal untuk acara perusahaan semakin dekat. Kaden tampak menjaga jarak dariku, dan bahkan menunjukkannya dengan jelas dengan pergi bersama klien yang berbeda-beda. Pada lebih dari satu kesempatan, dia menyuruhku mengatur makan siang atau makan malam dengan banyak wanita, yang paling sering adalah Diane Crossbow, yang tampaknya selalu memberiku tatapan tajam setiap kali dia melihatku di kantor. Ada dua nama lain yang kadang-kadang muncul—seperti perancang busana terkenal Lia Peyton dan Callen Sterling, salah satu sosialita terkaya dan paling terkenal di Amerika.
Sementara sebagian dari diriku memang berharap setidaknya aku bisa mengetahui apa yang terjadi dalam pikiran Kaden yang selalu sulit dipahami, bagian lain yang lebih rasional dari diriku tahu bahwa ini benar-benar bukan urusanku. Namun Nolan, bersikeras untuk meyakinkanku bahwa tidak ada yang terjadi di antara Kaden dan para wanita itu.
"Ada satu hal yang harus kau ketahui tentang Kaden—dia penggoda yang payah," kata Nolan suatu sore, ketika dia mampir empat puluh lima menit yang lalu sebelum dia bertemu dengan Kaden. Aku sangat terkejut dan bersyukur, dia membawa sekotak pizza, makanan yang sangat kubutuhkan karena aku terlalu sibuk untuk keluar untuk makan siang.
Nolan sekarang duduk di mejaku, dengan lapar mengunyah sepotong pizza seolah-olah dia tidak melihat makanan apa pun selama bertahun-tahun, dan bercerita tentang Kaden sambil mengunyah.
"Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu buruk dalam hal itu," lanjut Nolan, "mungkin itu karena perilaku antisosialnya, atau kurangnya keterampilan komunikasi pada umumnya. Tapi dia benar-benar tidak membuat gombalan bagus untuk menyelamatkan hidupnya. "
"Kaden memiliki kekurangan keterampilan komunikasi?" Aku berseru tak percaya. Tampaknya sulit membayangkannya, karena kedua teman Kaden adalah orang-orang yang sangat menarik yang pernah kukenal.
"Tentu saja," ejek Nolan, menatapku dengan tatapan tak percaya seolah-olah dia tak percaya kalau aku tidak mengetahui itu. "Ada satu kali di bar ini, dia pergi untuk berbicara dengan seorang gadis dan berkata, 'hai, uh-bukankah rasanya sangat panas di sini atau hanya aku saja? Tidak, tunggu, kaulah yang panas!'"
Aku langsung tersedak. Butuh sepuluh detik bagiku untuk pulih dan lima belas detik lagi untuk menenggak air yang dengan cepat diberikan Nolan kepadaku. Ketika makanan itu tidak mengganjal di saluran pernapasanku lagi, aku menoleh ke arah Nolan, aku tertawa. "Apakah kau serius?"
"Aku berharap tidak," jawab Nolan, menggelengkan kepalanya dan terlihat geli kala mengingatnya. "Dia sangat buruk dalam hal itu, baik Parker maupun aku akan pura-pura tidak mengenalinya tiap kali itu terjadi. Sebanyak apa pun pesona yang kami tebarkan, dia akan membuat para wanita itu menjauh darinya entah karena sikapnya yang menyebalkan atau gombalannya yang sangat aneh."
Menahan tawa, aku bersandar di kursiku dan menggigit pizza lagi. Nolan dan aku makan dalam keheningan yang nyaman dan bersahabat untuk sementara waktu sebelum dia menarik serbetnya, menyeka minyak dengan hati-hati dari ujung-ujung jarinya.
"Ngomong-ngomong," katanya, "berbicara tentang bar, bantu aku dan kosongkan jadwal Kaden untuk Sabtu depan."
Aku melirik kalender di mejaku. "Karena itu hari ulang tahunnya?"
Nolan mengangguk. Ini bukanlah kejutan. Aku sudah menandai tanggal itu, tetapi aku tidak akan mengetahuinya jika itu bukan karena Diane Crossbow sendirilah yang telah mengatur jadwal makan siang ulang tahun dengan Kaden pada hari ulang tahunnya yang sebenarnya, yaitu Kamis ini.
"Apakah kau merencanakan pesta untuknya?" Mau tak mau aku bertanya, merasa agak penasaran.
Nolan mengangkat sebelah alisnya. "Kade mungkin orang paling antisosial yang pernah kutemui. Apakah kau benar-benar berpikir aku akan merayakan ulang tahun sahabatku dengan menempatkannya dalam situasi yang canggung, meskipun itu akan benar-benar lucu untuk ditonton?"
"Kau bertingkah seakan-akan dia sangat buruk saat berinteraksi dengan orang," aku menggelengkan kepalaku, "bukankah dia selalu berinteraksi dengan lusinan orang di acara makan malam perusahaan dan semacamnya? Atau selama meeting setiap hari?"
"Oh, itu bagian dari pekerjaannya. Dia pandai dalam hal itu. Tapi ketika itu adalah pertemuan sosial untuk tujuan tunggal, well, untuk bersosialisasi, dia sangat payah dalam hal itu. Tidak dapat melakukan percakapan yang layak untuk menyelamatkan hidupnya. "
Aku merasa agak geli dan tidak bisa menahan kekehan kecil. "Aku pikir kau lupa bahwa dialah yang menari bersamaku di hari ulang tahunku yang keenam belas, sedangkan kaulah yang sangat kuhindari."
Nolan menyeringai. "Oh, Sayang, kumohon. Tidakkah kau ingat—kita terikat erat di bawah fountain cokelat itu."
Senyum malas terukir di sudut bibirku. "Dulu itu adalah fountain cokelat yang indah."
"Akan ada satu di jamuan makan malam perusahaanmu di hotelku."
Kata-katanya membuat mataku menyala dan aku duduk tegak di kursiku. "Betulkah?"
Dia tertawa kecil karena kegembiraanku. "Spesial untukmu."
Dalam banyak hal, Nolan mengingatkan aku pada Parker—mereka berdua sangat murah hati dan bijaksana, meskipun melalui metode yang sangat berbeda. "Kau yang menyediakannya?"
"Well—aku menyarankannya. Itu adalah salah satu side dish pada menu makan malam, walaupun agak mahal. Aku menunjukkannya pada Kaden, dengan santai menyebutkan bahwa kau mungkin menyukai sesuatu yang kekanak-kanakan–"
"Fountain cokelat bukan sesuatu yang kekanak-kanakan!"
"—sangat kekanak-kanakan, dan dia setuju dengan mudahnya," jelas Nolan, dengan binar di matanya. "Biar kuberi tahu, Isla, Kaden Bretton sudah jatuh cinta padamu dan aku menantikan hari di mana aku menjadi ayah baptis untuk anak sulungmu."
Sulit untuk menghentikan rona merah menyebar di pipiku. "Kau berkhayal terlalu jauh, bung. Lagi pula, Parker-lah akan menjadi ayah baptisnya jika aku memiliki anak—dan dengan siapa pun pasanganku nanti."
Mulut Nolan ternganga ngeri. "Apa? Kenapa aku bukan ayah baptisnya?"
"Parker saudaraku."
"Jelas bukan yang pilihan yang bagus terlebih jika dia tidak mau menjadi ayah baptisnya."
Aku menyeringai dan menggelengkan kepala padanya. Mengambil penaku dengan tangan yang tidak memegang pizza, aku meraih kalender dan menandai 'X' secara di salah satu kotak sebagai pengingat untuk mengosongkan jadwal Kaden pada hari itu.
"Jadi, perayaan ulang tahun Kaden Sabtu depan," aku melirik Nolan untuk mengonfirmasi, dan dia mengedikkan bahunya.
"Mungkin. Hanya kami bertiga yang akan pergi untuk minum-minum. Kaden tidak suka perayaan apa pun."
"Jadi, hanya kau, Kaden dan Parker? Kenapa aku tidak diundang?" tanyaku, senyum kecil bermain di bibirku. Sejujurnya tidak masalah bagiku, apakah aku diundang atau tidak, tetapi aku memang ingin menggoda Nolan dan mendengar penjelasan apa pun yang harus ia tawarkan.
"Karena kau akan merusak bromance," adalah jawaban Nolan yang sangat membingungkan.
Aku menatapnya. "Bromance apa?"
"Percintaan tiga arah di antara Kaden, saudaramu dan aku. Terus terang, Isla, bromance kami sangat luar biasa sampai kau datang, dasar orang keempat bodoh."
"Aw, Sayang," kataku, memutuskan untuk ikut bermain. Bertopang dagu dengan telapak tanganku, aku menatap Nolan dengan penuh minat. "Apakah aku merusak prospek besar threesome yang mungkin kau bayangkan berulang kali di kepala kecilmu yang cantik?"
"Apakah kau tidak pernah membayangkannya?" Nolan mengedipkan mata, "Maksudku, kami bertiga pria yang memenuhi syarat melakukan hal-hal yang tak terkatakan satu sama lain di kamar tidur—"
"Nolan, demi neraka, berhenti merusak pikiran asistenku."
Suara familier yang terdengar tiba-tiba membuat Nolan langsung mengakhiri celotehannya dan kami serempak memutar kepala. Kaden berdiri agak jauh, terlihat agak malu dan jengkel. Seorang wanita berdiri di sampingnya, menatap kami dengan penuh kecurigaan yang sama sekali tak disembunyikannya. Aku segera mengenalinya sebagai teman kencan makan siang Kaden untuk hari ini, Delia Johnston dari perusahaan farmasi mapan yang berlokasi di Liverpool.
"Delia, ini Nolan Mortez," Kaden memperkenalkan mereka, mengabaikan kami dan beralih ke arah wanita itu, "dia pemilik Mortezion, pemilik bisnis hotel yang aku yakin kau ketahui karena kau tinggal di salah satu hotelnya selama kunjungan ini. Dan ini adalah Isla Moore, "dia mengalihkan pandangannya dengan hati-hati dari aku. "Dia asisten pribadiku."
Aku tidak menduga Kaden akan memperkenalkanku. Aku benar-benar terkejut, terutama karena aku masih di tengah-tengah memakan pizza kedua dan jemariku bernoda minyak. Dengan tergesa-gesa meletakkan pizza setengah dimakan itu ke atas serbet, aku cepat-cepat menyeka tanganku pada serbet bersih lainnya sebelum mengulurkan tangan padanya.
"Senang bertemu denganmu," kataku sopan, merasa agak geli ketika dia menatap tanganku dengan jijik dan mengabaikannya sepenuhnya.
Dia berpaling ke arah Kaden, mengabaikan aku dan Nolan, yang sama sekali tidak masalah, karena itu artinya aku bisa segera menikmati pizza-ku. Nolan sudah mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat, tapi aku tahu telinganya berusaha menguping dan dia mendengarkan setiap kata yang sedang mereka bicarakan. Sama sepertiku, dan aku mencoba berpura-pura seakan pizza-ku jauh lebih menarik daripada percakapan mereka.
"Terima kasih untuk makan siang yang menyenangkan," kata Delia, "aku harap kita bisa melakukan ini lagi segera."
"Aku akan mengantarmu—" Kaden memulai, tetapi berhenti kemudian ketika wanita itu meletakkan tangannya di dadanya untuk menghentikan ucapannya.
"Tidak perlu. Aku ada sopir yang menungguku di bawah. Selain itu, aku tahu betapa sibuknya dirimu."
Kaden sedikit mengernyit, mencoba untuk mendebat, tetapi wanita itu terkekeh dan bergerak untuk menekankan bibirnya ke pipi Kaden, cukup lama di sana melebihi dari apa yang diperlukan.
Aku melihat Nolan melirik diam-diam, khawatir padaku, tetapi aku mengabaikannya, meskipun ada amarah dan berbagai emosi yang saling bertentangan bergolak di dadaku. Kaden bukanlah milikku, dia tidak pernah menjadi milikku, jadi tidak ada alasan untuk merasa cemburu. Namun, ini tetap membuatku merasa tidak nyaman, dan membuatku cepat-cepat mengalihkan tatapanku ketika mata Kaden menatapku.
"Hubungi aku, kapan saja," Delia menambahkan dengan lembut, tetapi itu pasti terdengar oleh semua orang. Dia menoleh ke arah kami. "Senang bertemu denganmu, Tuan Mortez, Isla."
Senyum getir melengkungkan di bibirku saat aku melihatnya pergi. Lagi-lagi diingatkan tentang status sosialku dengan cara halus. Adelaide pernah melakukannya sebelumnya dan dengan jelas; Delia Johnston mengikuti jejak orang kaya dan sombong itu.
Dan tiba-tiba, aku merasa frustrasi. Bukan karena ketertarikan Delia pada Kaden, atau rayuannya yang mencolok. Bukan itu.
Hal-hal semacam ini adalah pengingat yang terus mendesak dan menyatakan bahwa aku akan selalu kalah dari Kaden Bretton. Aku bahkan tidak perlu berkencan dengannya untuk diingatkan akan hal itu. Status sosialku dan segala sesuatu tentangku begitu rendah sehingga, bagi beberapa orang, aku bahkan tidak pantas berada di ruangan yang sama dengannya, menghirup udara yang sama dengannya. Dan aku frustrasi, bukan pada Delia, tetapi pada diriku sendiri, karena begitu terpengaruh oleh apa yang orang pikirkan tentangku.
"Er," suara Nolan memotong ke dalam keheningan yang canggung. "Kurasa aku harus pergi ke kamar mandi." Dia dengan cepat berdiri dan melangkah pergi, tampak sangat lega karena terhindar dari ketegangan.
Begitu Nolan benar-benar tidak terlihat, Kaden menoleh padaku, meletakkan tangannya di atas mejaku, tatapan penuh perhitungan di matanya. "Apa kau baik baik saja?"
"Tentu saja," aku kembali dengan cepat, mungkin terlalu cepat. "Kenapa tidak?"
"Aku—"
"Kau seharusnya tidak berdelusi dengan berpikir bahwa itu akan memengaruhiku, karena itu sama sekali tidak memengaruhiku."
Kata-kata itu meluncur melewati bibirku sebelum aku bahkan bisa memikirkannya. Dengan sangat mudah, melemparkan kata-kata Kaden kembali padanya dan berbohong lagi.
Namun, begitu Kaden tersentak seolah ditampar, aku menyesalinya. Wajahnya mengeras, dan dia menjauhkan tubuhnya dari mejaku seolah itu menghanguskannya. "Mungkin aku salah," geramnya, dan masuk kembali ke ruang kerjanya tanpa menoleh ke belakang.
Kami tidak berbicara lagi selama sisa hari itu.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com