Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

04

•••

Beberapa hari kemudian selepas kejadian tak terduga di kantor yeonjun, hyunjin yang baru datang dari seoul tiba-tiba mengunjungi rumah yeji dengan membawa beberapa buah dan oleh-oleh dari seoul.

Ini adalah pertama kalinya hyunjin berkunjung dan masuk ke rumah yeji sejak ibu yeji menikah dengan yeonjun. Karena biasanya hyunjin hanya mengantar jemput yeji di depan gerbang rumah saja. Ada banyak alasan yang yeji berikan agar hyunjin tak masuk kedalam rumahnya dan bertemu dengan sang ayah.

Kebetulan hari ini adalah hari sabtu, hyunjin dan yeji tidak berangkat ke sekolah. Sehingga hyunjin dapat berkunjung ke rumah yeji dengan waktu yang lebih leluasa tanpa adanya bel sekolah yang memburu.

ting tong

Bunyi bel yang nyaring sebanyak tiga kali membuat yuri bergerak untuk membukakan pintu rumahnya. Di depan sana sudah ada hyunjin dengan sebuah parsel digenggamannya.

"Eh... hyunjin ya, sudah lama tidak mampir ke rumah tante."

Yuri tersenyum melihat pemuda tampan di depannya yang tersenyum sambil membungkuk hormat kepadanya.

"Hai tante, apakabar? aku mendengar kabar dari yeji katanya tante sedang sakit, jadi aku sengaja menjenguk."

"Oh ya ini ada buah-buahan dan makanan untuk tante." hyunjin memberikan parselnya kepada Yuri. Yuri pun segera menerimanya dengan tersenyum sumringah.

"Ah terimakasih banyak. Tante tidak papa kok, cuma sedikit kecapean saja. Ayo masuk."

Tanpa di sadari, tiba-tiba seseorang muncul dari belakang punggung yuri. Hyunjin seketika menatapnya, dia mengerutkan dahi. Wajah itu terlihat asing di matanya.

"Siapa?" Seru orang tersebut, bersandiwara seakan tak mengetahui siapa yang datang.

"Eh ini ada pacarnya yeji, hyunjin perkenalkan ini suami tante, choi yeonjun namanya."

"Yeji pasti belum mengenalkan daddy barunya ke kamu ya." Lanjut Yuri terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa berat.

‎Mata Hyunjin dan Yeonjun bertemu. Ada sesuatu di sana—sebuah benturan tak kasatmata, seolah dua dunia menolak untuk berbagi ruang yang sama.

Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah dengan sedikit perasaan canggung yang mulai terasa diantara hyunjin dan yeonjun. Sebelum melangkah ke dapur, yuri mempersilahkan hyunjin untuk duduk di sofa, sementara yeonjun lebih dulu mengambil tempat duduk di sofa seberang hyunjin. Tatapan yeonjun pada hyunjin tak pernah luput semenjak mereka beradu pandang di depan rumah tadi. Hal itu saja sudah cukup membuat hyunjin jadi kikuk.

"Em... yejinya mana tan?" Tanya hyunjin yang mulai membuka percakapan untuk melerai suasana canggung yang dia rasakan, suaranya lantang agar terdengar sampai ke dapur yang bersebelahan dengan ruang tamu itu.

"Yeji masih tidur, tadi saya habis dari kamarnya." Alih-alih dijawab oleh yuri, yeonjun dengan cepat langsung menimpali pertanyaan hyunjin tersebut dengan jawaban yang sedikit ambigu.

Wajar saja jika yeji masih terlelap karena hari ini adalah hari sabtu dimana yeji dan hyunjin libur sekolah. Mereka akan berangkat kembali di hari senin lusa.

Di lain sisi Yuri tampak sibuk menyiapkan teh hangat untuk hyunjin di dapur yang tak jauh dari ruang tamu.

Hyunjin mengeryit "dari kamarnya? ngapain jun eh maksud saya om." Hyunjin bingung juga apa panggilan yang pantas dia utarakan untuk bapak baru pacarnya tersebut. Karena hyunjin rasa usia mereka hampir sebaya.

"Saya kan juga daddynya, memang tak boleh masuk ke kamar anak saya?" tatapan yeonjun yang intim terasa menguliti hyunjin secara perlahan.

"Eh em... iya om" Jawab hyunjin tak enak hati.

"Hyunjiiin!" Sebuah seruan gembira memecahkan kecanggungan di udara yang dari awal telah diciptakan hyunjin dan yeonjun.

Dua pria tampan itu menengok secara bersamaan ke arah sumber suara yang tak lain adalah hwang yeji, sang topik utama yang tadi sempat diperbincangkan mereka berdua.

Dengan memakai setelan piyama tidur berwarna pink dan rambut sedikit berantakan yeji menghampiri hyunjin dan mencium pipi pria tersebut di hadapan daddynya. Hal tak terduga itu jelas membuat yeonjun sedikit kaget dan geram melihat tingkah anak tirinya yang seberani itu di hadapan dia, bahkan di dekat ibunya sendiri.

"Kapan kau datang ? kenapa tidak mengabari aku siii..." Rengek yeji bernada manja.

"Kemarin malam, maaf ya aku langsung tertidur soalnya ngantuk." Yeji mengangguk pelan untuk menanggapi jawaban hyunjin. Lalu sorot matanya berpaling ke arah yeonjun yang juga menatap kedua anak remaja itu dengan ekspresi yang tak biasa.

"Oh ya jin, perkenalkan ini suami baru mommy aku, maaf ya baru aku kenalkan sekarang." Yeonjun berusaha keras untuk memberikan tersenyum tipis setelah yeji memperkenalkan dirinya kepada hyunjin.

"Oh iya haha, tadinya ku kira om yeonjun selingkuhanmu karena aku kan tidak tahu tampang ayah barumu ini." Hyunjin tertawa kecil mencoba mencairkan suasana. "Lagi pula om yeonjun juga terlihat seumuran dengan ak-"

"Memangnya kalau saya jadi selingkuhan yeji kenapa, hm? masih cocok kan?" Belum sempat hyunjin menyelesaikan candaannya, yeonjun sudah lebih dulu memotong ucapan hyunjin dengan jawaban yang lagi-lagi tidak terduga. Sontak hal tersebut membuat yeji melotot kearahnya. 

"Choi yeonjun!" Bentakan yeji membuat mommy yuri yang tengah berada di dapur beralih menuju ruang tamu, tidak lupa ditangannya membawa nampan berisi tiga teh hangat.

"Sayang, jangan kebiasaan membentak-bentak daddymu! itu tidak baik, mommy tidak suka ya." Yuri menasihati anak gadisnya itu dengan lembut. Entah ini adalah nasihat yang keberapa kali dia lontarkan kepada anak semata wayangnya itu. "Lagi pula daddymu cuma bercanda." timpal Yuri menenangkan yeji dan hyunjin. 

Yeji hanya diam raut wajahnya masih cemberut seperti biasanya ketika dia diberi nasihat oleh mommy Yuri. Dan percakapan berlanjut sampai hyunjin mengutarakan niatnya untuk mengajak yeji jalan-jalan untuk sekedar menonton bioskop atau makan eskrim di kedai favorit mereka. Yeji merespon ajakan tersebut dengan antusias, dia bilang akan mandi dan berdandan terlebih dulu sebelum pergi hangout bersama kekasihnya itu. 

Sementara itu, yeonjun dan Yuri juga bersiap untuk pergi ke restoran yang kini menjadi milik mereka. Mengingat hari ini adalah weekend, jadi yeonjun tidak berangkat ke kantor advokatnya. dia akan kembali ke kantor dan menerima klien pada hari senin mendatang.

•••

Arloji ditangan yeonjun telah menunjukan pukul 17.20, dia baru saja memarkirkan mobil silvernya di garasi. Langkahnya terburu menuju halaman depan rumah dan pandangannya mengitari sekeliling, lalu pada menit selanjutnya dia masuk ke dalam rumah. Nampaknya yeonjun pulang mendahului Yuri karena ada beberapa berkas milik kliennya yang harus segera dia di urus pada hari itu juga. 

Tak berselang lama setelah kepulangan yeonjun, giliran hyunjin yang tiba di rumah untuk mengantarkan yeji pulang setelah mereka berdua puas menghabiskan waktu berdua. Yeji mengajak hyunjin untuk mampir sebentar ke rumahnya sebelum benar-benar  pulang, namun hyunjin hanya menggelengkan kepalanya. Agak sungkan untuk bertemu muka dengan ayah baru sang kekasihnya itu mengingat percakapan mereka di pagi hari tadi yang cukup membuat hyunjin kesal.

"Baby, aku hanya ingin berpesan agar kamu hati-hati pada suami mommy mu itu, sepertinya dia menganggapmu lebih dari seorang anak." Tuturnya kepada yeji sambil menggenggam yeji erat.

Yeji pun membalas dengan senyuman kecil, "Kau tenang saja, mungkin dia hanya kesal karena aku belum bisa menerimanya sebagai daddy baru ku." Jawab yeji untuk sekedar menenangkan hyunjin.

cup

Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir hyujin, "I love you." Bisik yeji pelan.

"I love you too." Jawab hyunjin tersenyum manis hingga matanya kian menyipit. Kemudian yeji melangkah keluar dari dalam mobil hyunjin dibarengi dengan lambaian tangan sang kekasih. Seperkian detik kemudian hyunjin menancapkan gas dan mulai menjauhi rumah berlantai 2 itu.

Sampai di beranda rumah, yeji melihat sepatu hitam milik yeonjun sudah bertengger di barisan paling atas rak sepatu. 'Sudah pulang rupanya.' gumam yeji di dalam hati.

Ucapan kekhawatiran yang hyunjin lontarkan padanya beberapa menit lalu membuat yeji terpicu untuk meluapkan lagi kekesalannya pada yeonjun. Yeji ingin memberi yeonjun sebuah peringatan agar pemuda itu tidak lagi bersikap menyebalkan kepada dirinya maupun hyunjin, kekasihnya. 

Hentakan kaki yeji yang kasar menggema ketika dia memasuki rumah, yeonjun yang tengah berada di dalam ruangan kerja seketika menghentikan gerakan jarinya di atas papan ketik saat mendengar suara gaduh tersebut. Belum sempat dirinya memberikan reaksi, pintu kamarnya sudah lebih dulu di buka oleh seseorang dengan keras.

brak

Yeji muncul dari balik pintu, pandangannya langsung tertuju pada yeonjun yang masih bertengger di tempat duduknya lengkap dengan laptop yang masih menyala di atas meja. Mereka saling beradu tatap hingga seperkian detik kemudian yeji melangkah mendekatinya.

Tanpa diduga yeji mendudukan dirinya diatas meja hingga posisinya kini berhadapan dengan yeonjun, dan sedikit lebih tinggi darinya. Yeonjun masih terdiam menunggu apapun yang akan yeji lakukan setelah ini. Wajahnya mendongak keatas menatap yeji yang belum mengeluarkan sepatah kata apapun.

Yeonjun mengeryit, lalu mengalihkan pandangannya ke arah laptop hendak melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. "jika ingin berdebat denganku nanti saja, aku sedang ada kerjaan mendadak." Ucap yeonjun membuka yang suara lebih dulu.

Yeji hanya berdecak mendengar penuturan yeonjun. Matanya masih setia menatap ke arah yeonjun, menunggu pria itu agar fokus kepadanya juga.

"Turunlah jangan duduk meja." Lanjut yeonjun yang melihat yeji masih asik duduk disamping laptopnya.

"Lalu aku duduk dimana? kan tidak ada kursi lagi!" jawab yeji ketus sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.

"Hey, kan bisa disini." yeonjun menepuk pahanya, raut wajahnya seolah ingin menggoda sang lawan bicara yang berada di hadapannya. Memangku yeji bukankah suatu hal yang bagus? pikir yeonjun.

"Kau sudah gila ya?" Sahut yeji melotot kearah yeonjun, dan yeonjun hanya membalasnya dengan kekehan pelan.

Yeji pun turun segara menurunkan dirinya dari meja. Alih-alih mengikuti tawaran untuk duduk di pangkuan yeonjun, dia memilih berdiri dengan tangan menyilang di dada.

"Aku tidak mau banyak bicara denganmu. Aku hanya ingin memberi peringatan agar kau jangan sekali-kali ikut campur dalam kehidupanku!" Seru yeji dengan lantang. Yeonjun lagi-lagi hanya terkekeh pelan, mulutnya masih bungkam dan belum mengeluarkan sepatah katapun.

"Jaga ucapanmu ketika bicara dengan orang lain, aku tak mau ada kesalahan pahaman yang membuat orang-orang curiga kepada kita. Karena pada kenyataannya kita tidaklah begitu." Timpal yeji dengan napas yang mulai memburu.

"Apalagi orang itu hyunjin...." Lanjutnya.

Mendengar kata hyunjin, seketika Yeonjun melepaskan kacamatanya dengan sembarang. Dia bangkit dari duduknya dan mulai berdiri hingga tingginya melebihi yeji. Dengan cepat yeonjun menarik pergelangan yeji hingga jarak diantara mereka kian menipis.

"Kan sudah ku bilang, putuskan pacarmu jika dia tidak lebih tampan dariku." yeonjun berbisik pelan namun penuh penekananan di telinga yeji hingga membuat yeji seketika menegang.

"Lepas!" yeji memberontak kecil untuk melepaskan cengkraman yeonjun.

"Kau gila ya? aku tidak mau, aku dan hyunjin saling mencintai. Kita tidak akan berpisah hanya karena di pinta olehmu, orang yang tak penting dalam hidupku."

Rasanya yeji ingin menangis menghadapi orang seperti yeonjun yang tiba-tiba hadir dan mengacaukan hidupnya. Padahal yeji merasa tak pernah sedikitpun punya dosa padanya.

Yeonjun tertawa kecil, "Aku bahkan bisa memberimu uang 10 kali lipat lebih banyak dari pada 'atm berjalan' mu itu." Ucap yeonjun yang kembali teringat pada hari dimana dia membuka ponsel yeji dan mengetahui kontak hyunjin diberi nama 'atm berjalan' oleh yeji.

"Hah apa maksudmu?"

Yeji pun menyadari bahwa yeonjun baru saja menyebut hyunjin sesuai dengan nama kontak yang tersimpan di hpnya. Yang yeji herankan, bagaimana bisa yeonjun tahu nama kontak tersebut jika dia tidak membuka ponsel yeji? namun disini yeji berusaha untuk bersikap bodoh dan tak mengerti apapun.

"Ibu mu pasti akan sangat kecewa ketika tahu apa yang kau dan hyujin lakukan. Begitu juga aku."

"Kau bicara apa sih, memangnya apa yang telah aku dan hyunjin lakukan? jangan kau mengarang cerita yang tidak-tidak pada mommy!" Yeji semakin kesal mendengar penuturan yeonjun yang semakin jauh menelisik kehidupan percintaannya.

"Aku tidak mengarang. Aku tak bicara apapun pada Yuri bahkan ketika aku punya bukti kenakalanmu." Ucap yeonjun yang mulai mengambil ponsel dari saku celananya. Jarinya mulai menggulir diatas layar ponselnya mencari sesuatu yang dapat dia tunjukkan kepada yeji.

"B-bukti apa... ya?"

Yeji kembali menegang ketika dia melihat yeonjun tengah mencari sesuatu di ponselnya. Seringai yeonjun terpampang jelas di depan kedua mata yeji. Posisi mereka masih sama, berdiri berhadapan dengan jarak kian menipis. Jantung yeji berdegup semakin kencang, pikirannya mulai tidak karuan. Rasa takut pun seketika menyelinap di dalam hatinya, menebak-nebak apa yang akan yeonjun tunjukan padanya.

Dan boom!

Benar saja hal menakutkan sekaligus memalukan itu terjadi, ketika yeonjun benar-benar menunjukkan salah satu foto yeji yang seingatnya telah dia kirimkan kepada hyunjin beberapa hari yang lalu.

"Aku punya ini."

Yeonjun menggenggam ponselnya erat, dia seketika melemparkan tatapannya tajam ke arah yeji. Napasnya yang tadi tenang berubah menjadi tak beraturan. Begitu pun dengan yeji yang kini hanya terdiam, mematung kaku melihat sosok dirinya di ponsel yeonjun, wajahnya mulai memerah menahan malu sekaligus amarah. Tak tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini.

Pada detik itu juga Yeji merasa lemas, untuk sekedar merebut ponsel dari yeonjun dan menghapus fotonya pun rasanya tak mampu dia lakukan.

"Kau... me-mencurinya dari ponsel ku?"

"Apa yang telah hyunjin lakukan kepadamu sehingga kau berlaku seperti seorang gadis murahan kepadanya?" Alih-alih menjawab pertanyaan yeji, yeonjun memilih untuk balik bertanya. Yeji terdiam tanpa suara, terlarut dalam ketegangan yang kini menyelimuti dirinya.

Yeonjun kembali menutup ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam saku, dia terus menelanjangi yeji dengan pertanyaan yang terdengar amat mengerikan di telinga yeji.

"Apa kau bisa bayangkan bagaimana reaksi ibumu jika aku memberi tahunya, choi yeji?" lanjutnya menekan kata ketika memanggil nama gadis itu.

Yeji masih tetap terdiam tanpa suara, dia menggeleng pelan. Ini adalah sesuatu yang paling memalukan di dalam hidupnya, pikirannya melayang entah kemana, ia seketika linglung. Kedatangannya yang semula berlagak galak kepada yeonjun kini menciut, nyalinya tak sama seperti semula. Dia ketahuan, tak bisa bergerak apalagi berontak.

Tanpa diduga, dan ini pertama kali di dalam hidupnya, yeji yang semula berdiri kini mulai berlutut di hadapan yeonjun. Ini adalah hal yang tak pernah yeonjun bayangkan sebelumnya, dimana seorang yeji berlutut dihadapan ayah tirinya yang amat dia benci.

Yeonjun perlahan menatap kebawah melihat yeji yang masih gusar atas masalah besar yang tengah dia hadapi saat ini.

"Aku.. aku mohon jangan beri tahu siapapun tentang foto ini, terutama mommy." Ucap yeji terbata-bata, kedua tangannya nemegang betis yeonjun yang dilapisi jeans berwarna hitam.

Yeonjun memiringkan kepalanya, ia membiarkan yeji untuk terus berlutut kepadanya. Lagipula situasi seperti ini adalah kejadian langka yang bisa jadi tak akan terulang untuk kedua kali dalam hidup yeonjun.

"Aku akan beri tahu."

"JANGAN!!"

Yeonjun menghembuskan napasnya berat, merancang kata yang akan dia keluarkan dari bibirnya. "Memangnya apa yang akan aku dapatkan jika aku menuruti permohonanmu itu?" Tanya yeonjun yang mulai mencoba memanfaatkan situasi ini untuk dirinya.

Yeji mendongakkan kepalanya menatap yeonjun dengan mata penuh harap. Dia terdiam sejenak, "Apapun... apapun yang kau mau choi yeonjun!" Seru yeji tanpa ragu-ragu, entah dia mengatakan ini dengan penuh kesadaran atau tidak, mengingat pikirannya tengah kacau dan tak bisa diandalkan.

Mendengar pernyataan yeji, seringai  Yeonjun mengembang kembali. Dia merasa menang ketika berhasil membuat gadis pembangkang itu bertekuk lutut di hadapannya dan hendak menuruti segala kemauan serta perintahnya. Seperti mendapat jackpot besar dalam hidupnya, yeonjun girang bukan kepalang.

Saat itu, ia tahu—Yeji telah masuk ke dalam permainan berbahaya yang tak sengaja dia ciptakan sendiri. Permainan yang kelak akan menjerat mereka berdua dalam lingkaran perasaan terlarang yang tak pernah ada jalan pulang.

•••

Next?










Halo semuanya, aku kembali lagi 🖤. Setelah sekian lama hiatus karena sibuk dengan real life, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan cerita ini. Jika kalian lupa dengan alur ceritanya, silahkan dibaca kembali dari awal yaa. Terimakasih 🖤.
Aku usahakan akan update secepat mungkin,  tolong di support yaa 🖤.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com