Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

»2«

❝Hᴇ sᴇᴛ ғɪʀᴇ ᴛᴏ ᴛʜᴇ ᴡᴏʀʟᴅ ᴀʀᴏᴜɴᴅ ʜɪᴍ, ʙᴜᴛ ɴᴇᴠᴇʀ ʟᴇᴛ ᴀ ғʟᴀᴍᴇ ᴛᴏᴜᴄʜ ʜᴇʀ.❞
❇⚜❇

Genevieve's Point Of View

"Gen!"

Dia berteriak lantang dan mengguncang tubuhku dengan suaranya. Aku terhempas, terduduk dan memaksa diriku untuk tetap menatap kearah bayangan yang mendekat kearahku.

Rasanya tidak asing. Seolah ia merupakan orang yang telah ku kenal selama bertahun-tahun. Sayangnya, setiap kali sosok itu mendekat dan wajahnya mulai terlihat, aku selalu terbangun dari mimpi burukku ini.

Setiap kali ia menghampiriku di dalam dunia mimpi, aku selalu merasakan rasa sakit yang tiada bandingnya di bagian dadaku, layaknya seseorang membelah kulit di dadaku tanpa obat bius.

Entah sampai kapan aku harus memimpikan sosok ini tanpa tahu, siapa bayangan hitam yang terasa familiar ini, siapa sosok yang setiap hadir dalam malam-malamku hanya membawa rasa sakit yang amat hebat dan rasa penasaran yang semakin menggerogoti setiap harinya.

Siapa kamu?

Aku terbangun, terengah-engah. Detak jantungku tidak karuan. Rasanya ada yang menghimpit rusukku. Sekujur badanku basah kuyup. Keringatku mengucur deras dari dahi setiap aku berusaha keras untuk menenangkan diri.

Butuh beberapa detik sampai aku bisa kembali bernafas dengan normal, tapi aku sudah tidak bisa kembali tidur. Aku meraba meja di samping ranjang untuk mencari ponselku. Saat aku menemukan dan menyalakannya, cahaya layar ponsel itu menyilaukan mataku hingga berkaca-kaca.

Aku sempat kesulitan melihat jam sampai akhirnya aku tahu kalau aku masih punya waktu 2 jam lagi sebelum berangkat sekolah.

Aku menyibakkan selimutku, perlahan menuruni ranjang dan menginjakkan kakiku di lantai kamar yang dingin. Aku berjalan menuju pintu kamar, membuka gagang pintu, menutupnya perlahan, berjalan keluar dari kamar dan menapaki anak tangga di bawah koridor.

Satu per satu anak tangga berusaha kuinjak perlahan. Suara yang terdengar membelah kesunyian saat itu hanyalah anak tangga yang menahan beratku. Aku terhenyak saat mendengar suara keras dari anak tangga terakhir.

Kalau sampai aku membangunkan bibiku atau pamanku, mereka pasti tidak senang. Aku juga tidak punya alasan apapun untuk menjelaskan pada mereka kenapa aku berkeliaran di luar kamar dan membangunkan mereka dengan keributan yang aku buat sepagi ini.

Aku langsung melangkah ke dapur dan mengambil minum untuk meredakan hausku, mencuci muka dan berusaha melenyapkan bayangan mimpi buruk yang baru saja aku alami.

Sudah 2 tahun berlalu dan bayangan mimpi itu masih saja menghantuiku. Aku kembali menaiki anak tangga, menuju kamar tidur dan menyalakan lampu tidur. Lampu itu memendarkan cahaya menerangi ranjang milikku.

Aku berjalan menuju meja ranjang yang rapih di kanan ranjangku. Di atasnya tersusun beberapa pigura foto yang tak tersentuh.

Dengan sangat hati-hati aku mengambil salah satu pigura yang ada, merasakan dan mengingat kembali kenangan indah yang tersimpan dalam foto itu. Kenangan yang sangat berharga dalam kehidupanku, bahkan jauh lebih berharga daripada porselen China kuno termahal di dunia.

Aku memandangi foto seorang gadis cilik yang tengah dipeluk oleh sosok wanita cantik berambut pirang, dengan senyuman lebar, keduanya tampak sangat bahagia seolah tak ada apapun di dunia yang dapat menghapus kebahagiaan di wajah mereka.

Nyatanya, kini gadis cilik itu sudah menjadi sosok wanita dewasa yang masih menempuh pendidikan sarjananya dan hal yang ingin ia sampaikan hanyalah satu. Hal yang paling berharga untuknya kini sudah direnggut dari kehidupannya dan ia menolak untuk tersenyum dengan tulus seperti dulu kala.

Aku menghela nafas melihat foto di pigura kayu itu. Betapa aku merindukanmu, mum. Air mata membasahi mataku saat kuletakkan pigura itu dan kembali tercekat mengingat kenangan dan rasa kehilangan yang aku alami.

Aku meringkuk kembali ke atas ranjang, membenamkan diri ke dalam selimut yang sudah pudar warnanya, berlubang dan sobek tapi tetap kusimpan. Aku menangis terisak-isak mengenangnya, merasa kehilangan yang sangat menyakitkan.

Aku memeluk erat selimut kecil kumal itu, seolah-olah hidupku bergantung padanya. Jemariku mencengkeram selimut itu, yang sudah basah karena tangisku.

Setelah itu aku baru mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, kecewa karena bau parfum mum yang khas mulai memudar seiring waktu dan lenyap.

Jemariku memainkan uraian benang dari selimut kumal itu, benda terakhir yang ditinggalkan ibuku.

✳✴❇✳✴❇

Aku membiarkan rambutku terurai, membalut diriku dengan sweater pudar di atas kaos dan jeans kesukaanku. Kuambil tas ransel di sudut kamar, turun tangga menuju dapur untuk mengambil waffle dan berpamitan ke bibi dan pamanku sebelum pergi ke kampus.

Setelah menatap wajah ku yang terilhat seperti zombie di cermin ruang tamu, aku pun bergegas keluar dari rumah.

Dengan earphones terpasang di kedua telinga, aku meng-click tombol play di iPod ku dan mendengarkan lantunan-lantunan melodi indah yang selalu membuatku merasa berada di dunia lain, berjalan menyusuri heningnya pagi.

Wajah ku terasa kaku karena angin dingin yang terus menerus berhembus mengenai wajahku dan aku yakin kini pipiku semerah tomat. Saat aku melewati taman, aku memutuskan untuk berhenti dan membeli kopi.

Kedai kopi yang berlokasi di dekat kampusku ini memang terkenal karena kopinya yang enak dan bertempat strategis yaitu tepat di sebelah kanan pintu masuk. Selain mahasiswa/i yang menjadi pelanggan setia kedai ini, para dosen pun tidak kalah memenuhi kedai ini.

Sambil menunggu kopi pesananku, aku berjalan menuju tempat duduk favoritku yaitu tepat di pojok kanan kedai, sepi dan jauh dari keramaian di tengah kedai. Saat aku hendak duduk, aku baru menyadari bahwa tempat duduk favoritku kini telah diisi oleh seorang lelaki yang tengah mengamati ku lekat-lekat.

Dengan mata setajam mata elang, ia terus menatapku dengan dahinya yang berkerut dan alis hitam nya bertaut. Karena kurangnya fokus, aku berani bersumpah warna mata nya berubah menghitam semakin lama aku menatapnya. Bibir merah nya mencolok dengan kontras warna kulitnya yang putih pucat seolah ia tidak pernah terkena paparan sinar matahari.

Dari perawakannya, lelaki ini terlihat menyeramkan karena tatapannya yang seolah dapat menusuk jiwa dan mengetahui rahasia terbesarmu yang kau pendam namun entah kenapa, bahkan setelah 5 menit berlalu, aku tidak dapat mengalihkan pandanganku dari lelaki itu.

Setelah mengambil nafas dalam-dalam, aku mencoba mengidarkan pandanganku ke tempat lain namun sebelum aku dapat melakukan itu, lelaki itu berdiri dan menghampiri ku yang tengah berdiri tidak jauh dari bangku yang ia duduki.

Tubuh nya yang tinggi dan kekar membuatku merasa seperti tikus saat ia berhenti tepat dihadapanku. Aku hanya menatap matanya lekat-lekat dan menaikkan satu alis ku, bertanya dengan diam.

Ia hanya diam berdiri di depan ku.

"Um, maaf ada yang bisa saya bantu?"

Lelaki itu membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun kembali menutupnya. "Dengar, kalau kau menghampiriku untuk menyanyakan sesuatu, tolong cepatlah karena aku ingin duduk dan menikmati kopi ku yang sampai sekarang belum juga selesai." Rengekku. Ia hanya memutar kepalanya untuk melihat sekeliling kedai dan disitulah aku baru menyadari bahwa orang-orang tengah menatapku dengan aneh.

Bukan kali pertama, tentunya.

Aku mengacuhkan tatapan seisi kedai dan kembali menatap lelaki misterius di hadapanku namun ia hanya menarik tanganku perlahan untuk duduk di bangku yang sempat ia duduki tadi.

"Aku bersumpah kalau ka-"

"Kau bisa melihatku?" Apa yang lelaki itu katakan selanjutnya memutus makian ku dan darah yang mengalir di dalam tubuhku seolah berhenti dan membeku. Mata ku terbelalak dan tenggorokanku terasa kering.

"Kau bisa melihatku dan mendengarku?" Ia menekan di bagian akhir pertanyaannya sambil duduk di ujung kursi, menandakan betapa ia ingin mendengar jawabanku dari pertanyaannya.

"Kau gila? Tentu saja aku bisa melihat dan mendengarmu memangnya kau ini setan?" Jawabku dengan ketus. Lelaki itu justru terkekeh mendengar jawabanku dan menopang wajahnya dengan tangan kanannya sambil menatapku lekat-lekat.

"Kau lebih cantik dari yang mereka bicarakan." Wajah ku memerah dan aku hanya mendecak sebal. Sebenarnya siapa lelaki ini?

"Aku yang akan menjagamu sampai saat yang tepat untuk Master menjemputmu." Jawabnya seolah ia mendengar pertanyaan yang kukatakan lantang-lantang dalam hati. "Aku bisa mendengarmu, princess." Aku membelalakkan mataku dan kali ini ia memajukan wajahnya semakin dekat dan tersenyum dengan manis.

"Perkenalkan, namaku Asmodeus. Iblis nafsu birahi, salah satu dari ketujuh pangeran Tartarus, pelayan setia Master-ku, senang bertemu denganmu, princess."

Aku hanya menatap mata nya yang kini membuatku semakin lemas karena warna hitam matanya kini membesar hingga tidak ada lagi warna putih di kornea matanya. Hatiku berteriak untuk lari dari lelaki gila ini namun tubuhku seolah tidak memiliki tenaga untuk bergerak bahkan untuk memalingkan tatapanku saja aku tidak bisa.

Lelaki yang mengaku dirinya iblis itu kini duduk bersandar dan tersenyum dengan manis kearah ku, tak lama namaku dipanggil menandakan kopi pesananku telah selesai dibuat. Tanpa menoleh kearah iblis yang bernama Asmodeus itu aku segera berlari mengambil kopi ku dan keluar dari kedai secepat kilat.

Nafas ku terengah-engah saat aku sampai di depan kelas ku, aku pun meluruh ke tembok dan terduduk dengan lemas. Semua yang lelaki tadi katakan seolah menggerogoti hati dan pikiranku, entah kenapa mungkin aku sudah mulai kehilangan mur di otakku.

Master? Siapa Master yang ia katakan akan datang menjemputku? Apa aku harus menelpon polisi? Apa hidupku terancam? Semua pertanyaan-pertanyaan gila melintas di kepalaku membuatku semakin lemas dan sebal.

Merasa diperhatikan, mataku tak perlu mencari lama dan segera menatap kembali mata lelaki gila itu yang warnanya terlihat normal dari kejauhan ini. Ia sedang duduk dibawah salah satu pohon di halaman kampusku dengan segelas kopi yang sama denganku, mungkin miliknya yang ia pesan dari kedai tadi.

Senyum manis yang menurutku sangat tidak cocok dengannya masih menghiasi wajahnya.

"Ya tuhan. Aku benar-benar akan menelpon polisi." Gumamku sendiri sambil mencari-cari handphone milikku di kantong celana ku dan di tas ranselku. Anehnya handphone ku tidak kutemukan dan saat aku mengidarkan pandanganku ke sekeliling, mataku kembali berhenti di lelaki gila bernama Asmodeus itu dan melihat dirinya tengah melempar-lempar dengan santai handphone milikku di kedua tangannya bergantian.

Senyumnya tambah melebar dan tangan kanannya melambai-lambai ke arahku, kedua alisnya naik tanda meledek.

Sumpah aku akan membunuh lelaki gila itu.

Aku pun berdiri dengan sigap dan berjalan ke arah dengan cepat tanpa menggubris tatapan aneh dari teman-teman kampus ku yang ku tabrak karena sebal.

Asmodeus yang sedang menatapku lekat-lekat itu kini malah tertawa dan aku dapat mendengarnya dari jarak yang cukup jauh.

"APA MAU KAU HAH?! DASAR ORANG GILA, KAU MENGANGGAP DIRIMU IBLIS YANG TIDAK DAPAT DILIHAT?! KAU PIKIR AKU ANAK BOCAH YANG AKAN MENGANGGAPMU SERIUS BEGITU SAJA?! KEMBALIKAN HP KU!" Aku meneriakki dirinya dengan wajah yang sudah pasti memerah dan tangan yang mengepal dengan kuat.

Tanpa menghapus senyum menyebalkannya itu, ia hanya duduk lebih tegap dan berhenti melempat-lempar handhpone ku.

"Apa kau yakin aku yang gila disini, princess?" Dan benar saja, tak lama aku mendengar beberapa suara di belakangku yang tengah membicarakanku.

"Ada apa dengan anak itu hah? Dia sudah gila? Berbicara dengan angin, memang aneh."

"Dia memang seorang freak. Dari dulu enggan bergaul, taunya temannya hanya imajinasinya dia."

"Hahaha." Mataku berkaca-kaca dan aku menatap Asmodeus dengan tatapan tidak percaya.

Apa benar aku sudah menjadi gila?

Apa sosok Asmodeus ini hanya bagian dari imajinasi gilaku?

Mendengar percakapan perempuan-perempuan tadi, aku merasa lemas dan aku pun kehilangan kesadaran tanpa merasakan tubuhku menyentuh tanah.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com