Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

»3«

❝Hᴇ ᴡᴀs ᴛʜᴇ ᴅᴀʀᴋ ʟᴏʀᴅ,
Wʜᴏ sᴛᴏʟᴇ ᴀᴡᴀʏ ᴛʜᴇ ʙʀɪᴅᴇ ᴏғ sᴘʀɪɴɢ.
Oғ sᴜᴍᴍᴇʀ,
Oғ ᴡᴀʀᴍᴛʜ,
Aɴᴅ ɪɴғᴜsᴇᴅ sᴛᴀʀʟɪɢʜᴛ ɪɴᴛᴏ ʜᴇʀ ᴠᴇɪɴs.❞
❇⚜❇

Kepalaku terasa berat dan mataku sulit untuk dibuka. Jam berapa sekarang? Aku pasti telat bangun untuk pergi ke kampus lagi.

Aku mengerang sambil berguling dari tempat tidur dan mencoba untuk berdiri. Kedua mataku masih tertutup rapat.

Saat mencoba berjalan dengan buta ke kamar mandiku, aku menabrak tembok. Tunggu.. tembok itu bersuara dan kini terkekeh.

What the...? Mataku dengan otomatis terbuka dengan lebar dan kini aku bertatap muka dengan lelaki gila di mimpiku!

Atau itu bukan mimpi? Oh Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi?!

"Selamat pagi, princess. Kau terlihat cantik pagi ini." Sapa lelaki itu. Aku hanya menatap wajahnya dengan sebal dan berjalan melewati dirinya untuk masuk ke kamar mandi. Aku mendengar dirinya terkekeh untuk kesekian kalinya.

Sepertinya aku memang sudah gila.

Lalu aku baru teringat bahwa kemarin aku pingsan saat berada di kampus dan tadi apa lelaki itu bilang selamat pagi? Ini sudah pagi lagi?! Aku keluar dari kamar mandi dengan secepat kilat dan menghampirinya dengan mata membelalak.

"Ini sudah pagi?! Tapi kemarin aku pingsan dan ya Tuhan, apa Tony, Karlie bahkan paman dan bibiku tau kau ada disini sekarang?! Siapa yang memindahkanku?!" Tanyaku dengan berapi-api.

"Tenang saja, princess. Yang mereka lihat adalah kau pulang sesuai jam pulangmu dengan wajah mengantuk dan kau segera masuk ke kamar untuk istirahat. Tentu saja mereka tidak dapat melihatku, aku seorang iblis, princess." Jawabnya dengan tenang. Aku masih tidak percaya dan berlari keluar kamar untuk mengetuk pintu kamar Tony.

"Tony! Buka pintumu!" Tony membuka pintu kamarnya dan menatapku dengan bosan. "Apa yang kau mau, Vi?" Aku hanya menatapnya, enggan bertanya. "Apa kau melihat hal-hal aneh kemarin? Oh aku tidak tau, mungkin aku pulang bersama lelaki?" Tony hanya menatapku dengan jengkel.

"Pulang dengan lelaki? Kau kemarin pulang sendiri dan mengoceh saat aku tanya apa kau mau makan malam, kau masuk ke kamar dan mengunci kamarmu sampai sekarang ini." Aku menatapnya dengan tidak percaya. Itu tidak mungkin. Dia tidak melihat Asmodeus?

Masih skeptis akan jawaban sepupuku itu, aku menarik lengannya dan membawanya ke kamarku dimana kini Asmodeus tengah duduk santai di atas kasur milikku dan tersenyum kearah ku.

"Kau melihat sesuatu yang aneh?" Tanya ku pada Tony yang kembali dijawab dengan, "Tidak ada yang aneh selain kamarmu yang sangat berantakan dan serba hitam itu." Aku mendecak sebal dan mengusirnya kembali ke kamarnya. Ia tidak membantu.

Aku pun berlari ke kamar Karlie namun Asmodeus menarik tanganku yang hampir mengetuk pintu kamar Karlie.

"Dia baru tertidur. Semalam suntuk dia mengerjakan tugas literasi, aku menemaninya semalam." Aku hanya menatap dia tak percaya dan membiarkan iblis itu menarikku kembali ke kamarku.

"Kau menemaninya?" Ia mengangguk sambil mengambil kursi belajarku dan mendudukinya. "Dia anak yang baik, terlalu polos. Boleh kubawa?" Aku tersedak saliva ku dan memelototi Asmodeus.

"Kau GILA?! Dia adik sepupuku! Tentu saja tidak!" Protesku. Asmodeus hanya memberikanku cengiran bodohnya.

"Apa yang kau pikirkan sekarang, princess?" Aku mengalihkan pandanganku dan menghela nafasku.

"Aku tidak tau harus berpikir apa dan bukankah kau bisa membaca pikiranku?"

"Oh itu benar, tapi entah kenapa aku tidak bisa mendengar apa yang kau pikirkan saat ini, princess." Jawabnya dengan angkuh.

"Aku masih belum mengerti dengan semua ini. Hanya aku yang bisa melihatmu? Apa yang sebenarnya kau mau? Siapa Master yang kau sebut-sebut kemarin?" Asmodeus tersenyum lebar.

"Aku menunggu kapan kau mau bertanya soal hal itu, princess."

"Aku serius, Asmodeus." Iblis itu semakin senang ketika aku menyebut namanya untuk pertama kali sejak kita bertemu kemarin dan matanya seolah berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja diberikan hadiah oleh orang tuanya.

"Untuk saat ini, hanya kau yang bisa melihatku. Akan ada manusia-manusia lain diluar sana yang dapat melihatku, kalau aku membiarkan mereka.

Dan untuk pertanyaanmu tentang apa yang aku mau, aku tidak menginginkan apapun darimu, hanya jangan mencoba untuk berlari dariku. Aku akan menemukanmu dan kalau aku tidak bisa menemukanmu sekalipun, tentu ke-6 pangeran Tartarus lainnya akan menemukanmu." Jawabnya dengan panjang lebar sambil berdiri menghampiriku.

"Kau belum menjawab satu pertanyaan lagi."

"Ya, aku menyimpan jawaban itu untuk Master sendiri yang menjawabnya, princess." Aku memutar bola mataku dan menyerah. Dengan informasi yang baru saja ia berikan, aku semakin merasa terbebani dan juga bingung.

Aku masih tidak mengerti mengapa aku bisa melihatnya, mengapa aku menerima bahwa dia memang seorang iblis dan tidak berpikir bahwa aku gila, dan yang paling membuatku merasa telah kehilangan akal sehatku adalah mengapa aku merasa aman bersama sosok iblis.

Asmodeus menatapku dengan mata tajamnya dan aku menghela nafasku untuk ke sekian kalinya. Aku bingung.

Apa aku harus mengatakan sesuatu ke Tony tentang semua hal gila ini, apa aku harus mengatakan sesuatu ke Karlie, atau paman dan bibi, apa aku harus pergi ke seorang psikiater dan berkonsultasi, semua pertanyaan itu terus berputar di otakku sampai aku mendengus sebal dan berdiri dari kasurku.

Aku berjalan ke meja belajar ku dan mengambil laptop milkku yang sedang bertengger diatasnya, melewati Asmodeus yang terhibur melihat gerak-gerikku. Aku menaikki kasurku dan membuka laptopku.

Aku mencoba menemukan jawaban lewat internet dan saat aku sedang berkonsentrasi membaca, aku mendengar Asmodeus terkekeh dibelakangku yang membuatku memutar badanku dengan cepat dan memelototi nya.

"Kau bisa tidak memberiku sedikit ruang untuk bernafas?!" Asmodeus kembali memberiku cengirannya dan menggangguk.

"Maaf, aku hanya penasaran apa yang manusia lakukan dengan benda kotak bercahaya ini. Kau mencari jawaban? Kotak itu dari penyihir mana?" Tanya Asmodeus dengan semangat.

Aku tertawa.

"Penyihir? Ini namanya laptop dan dengan benda ini, kau bisa mengakses dunia, mencari jawaban dari pertanyaan apapun yang kau miliki. Benda ini adalah penemuan terbaik manusia, kau tau?" Jawab aku dengan geli.

Asmodeus hanya menatapku dengan bingung, tidak mengerti apa yang baru saja aku jelaskan padanya. Aku tertawa kecil sambil menggelengkan kepalaku.

Aku kembali membaca salah satu artikel di internet tentang iblis dan aku menemukan nama Asmodeus tertulis disana.

Tanpa berpikir panjang aku membuka artikel itu dan membaca satu-persatu nama-nama ketujuh pangeran neraka.

Saat aku menemukan namanya tertulis di artikel itu, dadaku bergemuruh. Takut akan apa yang akan aku baca mengenai sosok iblis yang kini sedang berada di belakang tubuhku, berkutat dengan bantal-bantal kecil milikku.

Sosok Asmodeus yang digambarkan dalam artikel itu menbuat bulu romaku berdiri dan seketika ruangan menjadi terasa dingin. Aku menoleh kearah Asmodeus dan ia sedang menatap layar laptopku yang tengah menunjukan gambar dari visualisasi sosok iblis Asmodeus yang orang kira.

Aku berdoa kepada siapapun diatas sana untuk menolongku karena kini mata Asmodeus berubah menjadi hitam seperti kali pertama kami bertemu. Warna putih di matanya seolah habis tertelan oleh warna hitam pekat dan rahangnya mengeras.

Dengan takut, aku mencoba untuk keluar dari artikel yang sedang kubuka itu namun Asmodeus mengerang dengan menyeramkan.

"Apa-apaan ini?! Aku terlihat sangat jelek! Serba merah? Oh, yang benar saja! Aku benci warna merah! Oh, dan lihat tanduk menjijikan itu... sungguh memalukan! Dan anjing peliharaanku jauh lebih manis dari anjing itu. Aku tak habis pikir dengan manusia.." Geram Asmodeus sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan dramatis, menunjuk-nunjuk layar laptop ku dengan wajah jengkel.

Di satu sisi, aku merasa lega karena ia hanya marah karena visualisasi yang menurutnya tidak sesuai itu. Tapi di sisi lain, aku masih takut akan reaksinya saat dia menyadari aku mencari tahu tentang dirinya di internet.

"Kau punya anjing?" Tanyaku untuk mengalihkan perhatiannya sambil menekan close dari artikel yang kubuka. Mencari hal lain yang bisa aku baca tanpa membuatnya tambah geram.

Asmodeus mengangguk dengan semangat ketika aku mengangkat anjing nya sebagai topik pembicaraan kita kali ini.

"Well, sebenarnya bukan anjing-ku juga, itu anjing bersama. Tapi dia jelas lebih manis dan penurut, tidak semenyeramkan anjing yang terpampang di kotak bercahaya itu tadi." Gumam dirinya sambil menarik bantalku untuk menyenderkan kepalanya, matanya tetap terpaku mengamati gerak-gerikku.

Aku memutar badanku sepenuhnya untuk menghadap kearahnya. "Anjing bersama?"

"Ya. Kau tau Cerberus? Anjing penjaga pintu Tartarus. Peliharaan pribadi Master yang semua penghuni neraka anggap sebagai anjing peliharaan mereka. Dia sangat manis, kau harus bertemu dengannya kapan-kapan."

Saat ia menyebutkan Master, telingaku langsung menangkap dengan sigap dan aku langsung berpikir. Siapa pemilik Cerberus? Aku langsung mengetik di search bar laptop milikku dan disaat itulah darah dari wajahku seolah menyurut meninggalkan warna pucat.

Tanganku bergetar semakin jauh aku membaca artikel tentang sang pemilik Cerberus, anjing berkepala tiga penjaga pintu Tartarus dari arwah-arwah yang ingin melarikan diri dari siksaan mereka.

Seorang dewa fiktif di mitologi Yunani, sang penguasa neraka Tartarus dan seisinya yang orang kenal dengan nama Hades-lah si pemilik anjing Cerberus yang disebut-sebut oleh Asmodeus.

Secara tidak langsung ia telah memberitahuku siapa Master yang terus ia bawa-bawa dalam topik pembicaraan kami.

Apa yang Hades inginkan dariku?

✴✳❇✴✳❇

THIS IS BY FAR MY FAVOURITE CHAPTER!

Jangan lupa vote and comment on this chapter!!❤

~Gen 

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com