»5«
❝Mᴏɴsᴛᴇʀs ᴅᴏɴ'ᴛ sʟᴇᴇᴘ ᴜɴᴅᴇʀ ʏᴏᴜʀ ʙᴇᴅ, ᴛʜᴇʏ sʟᴇᴇᴘ ɪɴsɪᴅᴇ ʏᴏᴜʀ ʜᴇᴀᴅ.❞
❇⚜❇
"Aku tidak akan membiarkanmu membawanya."
"Dia adalah milikku dan kau tau itu, iblis!"
"Ini perintah Master dan kau mau membantah perintahnya?!"
Aku mendengar suara-suara percakapan dua orang yang sepertinya tengah bertengkar mengenai sesuatu. Mataku terasa berat untuk dibuka sehingga aku membiarkannya terpejam dan mencoba mendengarkan percakapan yang mulai memanas itu.
"Master boleh menyuruhmu menjaganya, Asmodeus, tapi kau tau betul dia adalah milikku. Aku tidak akan diam saja dan membiarkanmu membawanya ke Tartarus."
"DASAR KAU PENGHIANAT! KAU BERANI MENENTANG PERINTAH TUANMU?!" Disaat itulah aku membuka mataku lebar-lebar dan duduk secepat kilat. Aku mengenal suara itu, bukan suara Asmodeus melainkan suara yang lainnya.
Suara berat yang selalu hadir dalam mimpiku.
Aku mencari keberadaan Asmodeus dan menemukannya tengah berdiri menghadap pojok kiri ruangan kamarku, membelakangi pandanganku sehingga aku kesulitan melihat siapa pemilik suara yang satunya.
Aku dapat melihat juntaian kain hitam di lantai dan juga bayangannya yang terlihat 2 kali lipat lebih tinggi dari Asmodeus. Aku mencoba untuk melihat lebih baik namun tiba-tiba Asmodeus memutar badannya untuk menatapku dan aku hanya dapat membuka dan menutup mulutku tanpa ada suara yang keluar.
"Kau sudah bangun, princess?" Tanya Asmodeus dengan merubah ekspresi marah diwajahnya dengan senyum manis secepat aku mengedipkan mataku.
"Siapa itu?" Tanyaku tanpa menggubris pertanyaan yang dilontarkan oleh Asmodeus.
"Bukan siapa-siapa." Jawabnya dengan ketus.
Dalam kegelapan aku dapat melihat sosoknya yang masih berdiri di belakang tubuh Asmodeus, tak berkutik.
"Aku tidak bodoh, Asmodeus. Siapa itu dibelakangmu?" Tanyaku sekali lagi.
Aku dapat mendengar sosok misterius itu terkekeh di belakang Asmodeus. "Tentu saja kau tidak bodoh, princess. Tapi ini bukanlah urusan yang kau bisa campuri." Jawab Asmodeus dengan tenang tanpa bergerak sedikitpun dari tempat ia berdiri.
Aku menggeram sebal. "Aku mengenal suara itu, Asmodeus. Siapa dia?" Sosok misterius itu tiba-tiba terbang melewati tubuh Asmodeus dan berhenti di depan wajahku. Hanya jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya yang dapat kulihat bahkan dari jarak sedekat ini.
"Kau mengingat suaraku, little one?" Seluruh tubuhku mematung dan dadaku berdesir. Bagaimana aku bisa melupakan suara dari lelaki misterius di dalam mimpiku setiap malamnya?
Sebelum aku bisa menjawab pertanyaannya, Asmodeus menggeram dengan menakutkan dan menarik sosok tersebut jauh dari hadapanku. Dengan suara sangat pelan, Asmodeus mengatakan sesuatu ke sosok berjubah hitam itu yang hanya dibalas dengan kekehan olehnya.
Sosok tersebut pun menghilang tanpa jejak, meninggalkanku dengan pertanyaan baru yang tidak terjawab dan Asmodeus yang terlihat kesal.
"Tidurlah, princess." Aku pun terlelap kembali dengan terpaksa saat Asmodeus menatapku dengan mata hitamnya.
✳✴❇✳✴❇
Sudah seminggu berlalu sejak kedatangan sosok misterius berjubah hitam itu. Tak pernah kudengar lagi suaranya dalam mimpiku, tak pernah lagi ku lihat tubuhnya yang selalu berbalut jubah hitamnya itu.
Asmodeus kini terasa seperti bagian dari keluargaku karena kehadirannya yang tidak mau meninggalkanku kemanapun aku bepergian. Bahkan saat aku harus menghadiri kelas pun ia akan mengikutiku dan duduk di pojok ruangan, menatapku dalam diam.
Hal itu tentu sempat menggangguku namun aku mulai terbiasa dengan kehadirannya yang hanya aku seorang yang dapat melihatnya. Aneh? Tentu saja.
Di hari yang dingin ini, aku tengah berjalan dengan santai menyusuri taman dan tersenyum saat aku melihat salju yang dengan perlahan mulai turun. Sore ini aku memutuskan untuk membeli kopi hangat favoritku di kedai dekat kampus, tempat pertama kali aku bertemu dengan Asmodeus.
Dimana Asmodeus saat ini, kau tanya, jawabannya adalah ia tengah pergi dengan alasan ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan dan meninggalkanku dengan Caim si burung gagak gila yang terus menerus terbang terlalu dekat denganku.
Aku mengacuhkannya dan berjalan masuk kedalam kedai, meninggalkan burung gagak itu diluar kedai dan langsung berdiri di belakang antrian untuk memesan kopi.
"You look ravishing today, little one." Aku melompat terkejut saat mendengar suara di sebelah telingaku dan aku menoleh dengan cepat untuk melihat siapa pemilik suara itu.
Berdiri tepat di hadapanku kini adalah seorang lelaki bertubuh tinggi. Rambutnya pirang dengan mata sebiru laut dan bibir merah merona. Kulitnya coklat sunkissed dan ia memakai kaus abu-abu yang menunjukkan otot pektoralnya dengan indah.
Mulutku menganga akan ketampanan lelaki yang ada di hadapanku saat ini. Terukir senyuman manis di wajahnya seakan menunggu jawaban dariku. Aku hanya dapat menatapnya dengan kagum dan menelan ludah berkali-kali.
Lalu aku teringat suara itu. Suara sosok berjubah hitam yang hadir di kamar tidurku dan menyapaku malam itu.
"Kau..?" Ia hanya tersenyum dengan manis dan menunjuk kebelakang ku.
"Sekarang giliranmu untuk memesan, cantik." Aku dengan kikuk memutar tubuhku untuk memesan dan dengan cepat menyelesaikan pesananku untuk menghindar dari lelaki di belakangku.
Aku dapat merasakan matanya yang mengikutiku bahkan sampai saat aku duduk di tempat favoritku dan mencoba untuk membaca majalah yang disediakan di atas meja.
"Permisi. Boleh aku duduk disini?" Suara itu mengagetkanku lagi dan saat aku menurunkan majalah yang aku taruh di depan wajahku, aku bertatap mata sekali lagi dengan lelaki berambut pirang itu. Senyumnya menunjukkan deretan gigi putih dan rapih miliknya yang terlihat sangat menawan. Aku mengangguk tanpa suara.
Dalam diam aku terus berpikir akan kemungkinan lelaki ini adalah pemilik suara di malam itu. Suara yang juga selalu menghantuiku di dalam mimpi yang tiada hentinya. Aku merasa ragu bahwa ia adalah orang yang sama, namun keraguanku itu hilang saat ia berkata, "Aku menemukanmu, little one."
Aku membelalakkan mataku akan pernyataannya. "Apa maksudmu?" Tanyaku dengan tangan gemetar dan kembalilah jantungku berdebar tak karuan saat ia tersenyum kearahku.
"Tidakkah kau mengenal ku? Ini bukan kali pertama kita bertemu, little one." Aku menggelengkan kepalaku mencoba mengingat namun tak dapat menemukan apapun.
"Tentu kau tidak mengingatnya. Saat itu adalah hari terburuk di hidupmu." Lelaki itu memajukan wajahnya lebih dekat ke wajahku dan tertawa dengan lembut seolah dia tidak percaya akan sesuatu.
Aku mencoba mengingat kapan hari terburuk di hidupku dan satu-satunya hari terburuk dalam sejarah hidupku adalah hari kematian ibuku.
Lalu aku teringat akan semuanya.
Hujan deras. Buket bunga favorit ibu. Sosok berjubah hitam yang kutemui di tengah hujan.
Dia Sang Kematian.
Dan dia telah datang untuk menemuiku sesuai janjinya.
✳✴❇✳✴❇
Don't forget to comment and vote on Hades<3
~Gen
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com