Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Uno

"Pemilik asrama bilang kalau dia salah satu kerabatnya, dan gak ada pilihan lain karena cuma kamar kamu yang masih kosong."

Doyoung mengacak rambutnya frustasi, selama ini ia selalu menjadikan kamar tidurnya sebagai tempat paling aman, tempat di mana ia bebas bersikap tanpa harus menutupi jati diri yang sebenarnya bukan bagian dari manusia.

Masih ada waktu enam bulan hingga kontraknya di rumah sakit selesai, dalam jangka waktu selama itu, ia tidak mungkin terus-terusan berada dalam ruangan yang sama dengan manusia sebau Junghwan.

Kim Junkyu―Kakak yang masih tinggal satu kota dengannya― berkata bahwa ia juga tidak tahu bau apa yang keluar dari tubuh Junghwan. Indra penciuman mereka memang sensitif, tapi bukan berarti ia dapat mengendus bau darah manusia hingga menembus kulit, ditambah Doyoung adalah vampire yang masih muda, kemampuannya belum sehebat itu.

Ia berjanji akan bertanya pada orang tua mereka jika bertemu nanti, tapi sepasang suami istri itu tengah bekerja di antah berantah, kota yang mereka juga tidak tahu namanya. Keluarga Doyoung adalah vampire yang juga berprofesi sebagai dokter, tempat paling dekat dengan sumber makanan, darah manusia.

Darah hewan sama sekali tidak menggugah selera, mereka meminumnya hanya dalam keadaan terdesak. Tapi mereka juga tidak segila itu untuk mencari mangsa dan mengorbankan orang yang tidak bersalah, jalan terbaik yang mereka ambil adalah memanfaatkan stok di bank darah.

"Tahan, jangan napas kalau ada di dekat dia."

Adalah solusi satu-satunya yang Junkyu sarankan, terdengar bodoh karena ayolah, Doyoung bahkan tidak bernapas dan bau Junghwan seakan menusuk langsung ke dalam paru-parunya.

Persetan dengan snelli yang jatuh entah di mana, ia tinggal membuat alasan lupa membuang sampah atau semacamnya. Doyoung tidak pernah bertingkah aneh selama tinggal di asrama, dan bertemu Junghwan seolah menjadi pemicu dari masalah yang kelak bermunculan.

Tangannya bergerak merogoh kantong kemeja, dan lagi-lagi ia mengerang frustasi karena rokoknya juga ikut tertinggal di jas putihnya. Lengkap sudah penderitaannya, mau tidak mau Doyoung harus kembali ke kamar asrama dan menghadapi musuh barunya.

Dengan langkah gontai ia berjalan menyusuri lorong, menaiki tangga menuju lantai dua dan kakinya berhenti tepat di depan pintu kamar.

Ia berusaha mengatur ekspresi sebelum memutar kenop pintu, dan Doyoung tidak percaya dengan pemandangan yang pertama kali dilihat begitu masuk ke dalam,

Apa yang Junghwan lakukan hingga dirinya harus melepas pakaian?

Netranya mengerjap berulang kali, harus Doyoung akui bahwa postur Junghwan luar biasa indahnya, tidak seperti pasien yang terus berdatangan dengan tubuh kurus atau justru sebaliknya, milik Junghwan terlihat begitu... sempurna?

"Oh my God."

Jangankan Junghwan, Doyoung pun tidak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya.

Mereka saling menatap dalam sepersekian detik dan Junghwan dengan cepat menarik handuk untuk menutupi tubuh bagian atasnya, dirinya sedikit bersyukur karena belum melepas celana abu-abu yang pasti kotor karena terkena banyak debu.

Bayangkan jika Doyoung melihatnya telanjang di pertemuan pertama mereka, bisa dipastikan Junghwan akan memilih tinggal di asrama yang lima kilometer jauhnya dari rumah sakit karena tidak lagi dapat menahan malu.

"Sorry, gue pikir lo masih lama di luar." Ucap Junghwan penuh kecanggungan, Doyoung menelan ludah sebelum mengangguk.

"Gapapa, gue yang salah karena langsung buka pintu gitu aja."

Hening.

Tidak ada satu pun dari mereka yang kembali bicara, Junghwan perlahan masuk ke kamar mandi yang ada di ujung ruangan, dan Doyoung pun duduk di atas ranjang miliknya.

Sial, itu bahkan lebih memalukan daripada yang Doyoung kira.

Doyoung masih sibuk berkelut dengan pikirannya sendiri, sampai tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu dari luar. Doyoung tidak sejahat itu untuk tidak membukakan pintu.

Ah ternyata kurir pengantar makanan.

"Atas nama So Junghwan?" Doyoung mengangguk, tangannya menggapai plastik berisi berbagai macam makanan dari pria paruh baya yang kemudian berjalan menjauh dari kamarnya.

Berantakan. Kamar Doyoung sangat berantakan sekarang.

Bukankah tadi cukup lama ia di luar? Dirinya berbicara dengan Junkyu selama hampir dua jam, tapi barang milik Junghwan masih berserakan di mana-mana, ia bahkan tidak tahu di mana harus meletakan makanan karena meja miliknya juga ikut dipenuhi barang.

Dengan sangat terpaksa Doyoung menaruh plastik itu di atas kasur miliknya, kedua tangannya ia lipat di depan dada begitu melihat Junghwan keluar dari kamar mandi.

Demi Tuhan, Doyoung bersumpah ia sudah siap mengomeli Junghwan perihal barangnya yang berserakan, tapi dirinya justru hampir tersedak ketika melihat penampilan laki-laki di depannya yang begitu menggoda.

Meski hanya menggunakan kaos putih polos dan celana longgar selutut, Junghwan nampak sangat memesona, dan jangan lupakan rambut panjangnya yang setengah basah, jika Junkyu berkata bahwa makhluk di depannya ini adalah vampire, Doyoung juga pasti percaya.

Kulitnya putih, hampir seputih miliknya meski tidak terlalu pucat. Urat-uratnya terlihat jelas, tanpa sadar Doyoung menelan air liurnya sendiri, apa ia baru saja membayangkan bagaimana kalau taringnya menusuk kulit tipis di leher Junghwan, dan menelan darah langsung dari nadinya?

Doyoung menggeleng pelan, membuat Junghwan makin heran dengan tingkah aneh teman sekamarnya sejak tadi.

"Kenapa?" Tanya Junghwan.

"Barang-barang lo berantakan banget."

"Sorry, gue kebanyakan bawa barang dan gak tau harus ditaruh di mana lagi, Bahkan lemari gue udah penuh."

"Ditaruh di bawah ranjang dulu, besok baru lo masukin kardus dan pindahin ke gudang. Yang di kamar cukup barang yang lo rasa penting aja." Jelas Doyoung, sedikit memerintah karena kamar mereka memang cukup kecil, banyak barang hanya akan membuat ruangan makin terlihat sesak.

Junghwan menimbang sebentar sebelum menarik kardus besar yang ada di dekat pintu dan mulai meletakkan barang-barang ke dalamnya, sedangkan Doyoung hanya duduk di atas ranjang, sama sekali tidak berniat membantu karena tidak ingin berada terlalu dekat dengan Junghwan.

"Di mana?" Tanya Junghwan begitu selesai membereskan barangnya.

"Hah? Apa?"

"Gudangnya, di mana?"

"Oh!"

Dengan cepat Doyoung berdiri, dan tangannya tidak sengaja menyenggol plastik milik Junghwan, membuat makanan yang tidak tertutup sempurna itu jatuh berantakan di kasurnya.

Doyoung hampir menangis, keberuntungan benar-benar tidak berpihak padanya hari ini.


***

Hampir jam sembilan malam, laundry sudah tutup sejak pukul tujuh tadi, sprei yang dipenuhi saus jjajangmyeon itu terpaksa Doyoung letakkan di ujung kamar mandi. Junghwan jelas merasa bersalah, ia bahkan sempat menawarkan diri untuk mencuci sprei itu dengan tangannya sendiri, tapi Doyoung menolak karena hanya akan membuat dirinya ikut kerepotan.

"Di deket sini ada restoran?" Tanya Junghwan tiba-tiba, Doyoung yang baru saja mengganti sprei kasurnya menoleh, berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan teman sekamarnya.

"Di deket pintu keluar parkir ada restoran yang buka dua puluh empat jam."

Junghwan mengangguk, ia meraih jaket dari dalam lemari juga dompet yang ada di tasnya.

"Ayo." Ucap Junghwan lagi.

"Kemana?"

"Makan, lo belum makan kan? Udah jam segini, kurir gak akan mau anter makanan ke asrama yang deket sama rumah sakit."

Doyoung belum sempat menolak, tapi Junghwan terlebih dulu menyambar tangan kanannya, membuatnya terpaksa ikut berjalan menuju pintu keluar.

Tapi belum sempat ia meraih kenop, Junghwan malah menoleh dan memandangnya dengan tatapan heran.

"Lagi gak enak badan? Tangan lo dingin banget."

Doyoung siap menangis sekarang juga, ia benar-benar tidak bisa berada dalam situasi secanggung ini, kenapa dirinya selalu nampak tidak berkutik dengan semua sikap Junghwan? Belum genap dua jam mereka bersama dan rasanya Doyoung ingin pindah secepat yang ia bisa.

Dengan cepat Doyoung menarik tangannya dari pegangan Junghwan, ia perlahan mundur dan duduk di atas ranjang, memandang Junghwan dengan tatapan paling menyedihkan yang ia punya.

"Iya." Cicit Doyoung pelan. "Lo makan sendiri aja, gapapa kan? Di bawah masih rame kok." Lanjutnya lagi.

Junghwan mengangguk lalu tersenyum tipis, "Gue bungkus aja biar bisa makan di sini sama lo." Ucapnya sebelum berjalan keluar kamar.

Doyoung terdiam beberapa saat sebelum teriak di tempat, disertai umpatan kecil karena setelah ini Junghwan pasti akan memaksanya untuk makan, menelan makanan manusia sama saja bunuh diri bagi makhluk sepertinya.

Haruskah ia menghubungi Junkyu agar kakaknya itu membawanya pergi dari asrama sekarang juga? Atau sempatkah baginya untuk kabur? Tapi lewat mana? Ia pasti akan bertemu Junghwan di pintu keluar.

Doyoung meraih ponsel, berniat menelepon Junkyu, tapi kesialan memang sedang berpihak padanya, nomor Junkyu tidak dapat dihubungi.

Sepertinya Doyoung akan menjadi vampire pertama yang mati dalam usia muda karena harus menelan makanan manusia.

Tolong sampaikan salamnya kepada Ibu dan Ayah, Doyoung menyayangi mereka. Dan untuk Junkyu, bilang pada vampire tua itu untuk menjual ponselnya, jika Doyoung benar-benar mati hari ini, itu karena ulahnya.

Doyoung berbaring di atas ranjang, menarik selimut hingga batas leher dan mulai memejamkan mata, semoga Junghwan tidak membangunkannya nanti, ia berniat pura-pura tidur untuk menunda kematiannya malam ini.








...

hshshshs gimana... di sini karakter doyo lumayan bego meskipun pinter ya wkwkwk. oh iya cerita ini sedikit banyak terinspirasi dari manhwa Mignon, dikit doang kok, plotnya gak akan sesingkat itu.

aku juga ganti percakapan mereka jadi non-formal karena kayaknya lebih cocok begini. maaf juga kalo kedepannya gak bisa update tiap hari yaa, aku udah tua hiks gak bisa duduk lama depan laptop.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com