Bonus Chapter
"Kalau ketemu Papa tiap kamu ke klinik, kamu harus bilang apa?"
"Selamat siang Papa, Kiho dan Dada yang cantik datang."
Doyoung tersenyum bangga, ia menuntun anaknya berjalan menuju ruangan yang ada di ujung lorong. Hari ini anaknya pulang sekolah lebih awal dan menurut informasi yang ia dapat dari Jaehyuk, suaminya juga sedang tidak memiliki pasien hingga jam makan siang berakhir.
"Masuk." Ucap Junghwan dari dalam begitu Doyoung selesai mengetuk pintu.
Doyoung mendorong pintu berbahan kaca nyaris transparan itu dan mempersilakan anaknya untuk berjalan terlebih dulu.
"Selamat siang Papa! Kiho yang cantik dan Dada datang." Suara nyaring Kiho menggema di ruangan, Junghwan langsung berdiri lalu menyambut anak laki-laki berumur lima tahun yang berlari cepat ke arahnya.
Seharusnya Doyoung tahu kalau Kiho tidak begitu pintar untuk mengingat belasan kata berurutan.
"Anak Papa udah pulang sekolah?" Tanya Junghwan dengan suara lembut, Kiho mengangguk sebelum memeluk leher Ayahnya.
"Hari ini pulang cepat, terus Dada ngajak ke tempat Papa karena katanya Papa mau beliin Kiho mainan."
Junghwan melirik Doyoung yang tengah duduk di sofa panjang ujung ruangan, hari ini lagi-lagi ia mengajarkan hal yang kurang baik untuk anak mereka satu-satunya.
"Kiho capek gak? Mau beli es krim dulu sama Om Jaehyuk?" Tawar Junghwan, Kiho seketika mengangguk kuat.
"Mau!"
Setelah mengorbankan kartu kredit pada sepupunya dan meminta Jaehyuk untuk tidak membelikan Kiho apapun selain makanan, Junghwan kembali masuk ke dalam ruangan.
Ia duduk di sebelah Doyoung, suaminya itu sangat jarang berkunjung kecuali ada hal penting yang ingin dibicarakan, maka dari itu Junghwan sedikit memaksa anaknya untuk keluar karena tidak ingin percakapan mereka didengar.
"Kamu hamil lagi?" Tanya Junghwan, dan langsung mendapat sambutan pukulan keras di lengan.
"Jangan ngomong sembarangan!"
"Aduh, terus ada apa?" Ucap Junghwan sambil mengusap lengan yang terasa nyeri.
"Gapapa, aku capek aja." Jawab Doyoung pada akhirnya, ia memeluk sebelah lengan Junghwan dan bersandar di bahunya.
"Tuh kan, kayaknya kamu hamil lagi? Pas hamil Kiho waktu itu kamu capek terus, lebih suka nempel sama aku juga." Jawab Junghwan sambil mengusap tangan Doyoung yang ada di sampingnya.
Sekuat tenaga Doyoung menahan amarah, padahal suaminya ini Dokter spesialis jiwa, tapi entah kenapa Doyoung justru hampir gila ketika bicara empat mata dengannya.
"Gak ada yang hamil, suamiku. Aku capek karena tadi di sekolah, aku ditegur sama gurunya Kiho."
"Ditegur? Ditegur kenapa? Anak kita buat masalah?"
Doyoung menggeleng, "Bukan itu."
"Terus apa?"
"Kiho cerita ke temen-temennya kalau aku atlet renang." Jelas Doyoung.
Junghwan sedikit menoleh untuk menatap wajah Doyoung, "Loh, bagus dong? Terus masalahnya di mana?"
"Ya temen-temennya bingung, kan aku atlet terus kenapa pas renang kemarin Kiho malah ditemenin sama Jaehyuk."
"Terus? Kiho jawab apa? Dia bilang kamu lagi sakit?"
Dan Doyoung kembali menggeleng, "Kiho bilang kalau Dada kena air nanti rusak, makanya Dada sering mandi bareng Papa supaya lebih hati-hati."
Junghwan tertawa keras mendengar kalimat Doyoung, ia bahkan tidak lagi mengindahkan cubitan yang suaminya beri berulang kali di perutnya.
"Berhenti ketawa!" Protes Doyoung, ia menjauh dari Junghwan dan duduk di ujung sofa. "Aku sampai ditegur sama gurunya Kiho karena itu. Katanya kita harus saring apa yang boleh diobrolin depan anak."
Walau faktanya, Doyoung yang lebih sering membicarakan hal mesum dengan istilah aneh di depan Kiho, Junghwan hanya bertugas menanggapi atau memberi jawaban konyol jika Kiho bertanya apa maksudnya.
"Kan kamu yang sering ngomong aneh depan Kiho." Goda Junghwan sambil mencolek dagu suaminya.
Tangan Doyoung terulur untuk meraih cokelat yang tersedia di atas meja, membuka toplesnya dan mulai mengunyah isinya. Sama sekali tidak berniat menjawab kalimat Junghwan yang malah terkesan menyalahkannya.
Junghwan menahan gemas melihat bagaimana pipi Doyoung menggembung tiap ia mengunyah makanan, bagaimana bisa laki-laki itu masih nampak cantik seperti remaja padahal sudah memiliki satu anak yang mulai masuk sekolah?
"Jangan marah-marah terus dong, nanti aku makin yakin kalau kamu lagi hamil." Goda Junghwan lagi, kali ini seraya memposisikan diri untuk berbaring dengan kepala di atas paha yang lebih kecil.
Mereka mendadak dibawa ke adegan beberapa tahun lalu, ketika Junghwan menemani Doyoung untuk tinggal di rumah peninggalan Ibunya yang jaraknya puluhan kilometer di dalam hutan.
Doyoung hanya menghela napas lalu menatap Junghwan yang juga tengah memandangnya dari bawah. Ia tersenyum lebar, senyum yang tidak pernah gagal membuat amarah Doyoung menguap entah kemana.
Jemari Doyoung mulai bergerak di atas kening Junghwan, menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah tampan suaminya.
"Nanti aku bilang Kiho supaya gak ngomong aneh ke temen-temennya." Ucap Junghwan, dan Doyoung mengangguk karena dirinya pasti tidak sanggup kalau harus memberi pelajaran pada anak pertama mereka.
Tidak seperti Junghwan yang memiliki banyak ilmu sebagai orang tua, Doyoung berada jauh dari orang tuanya sejak belia, dirinya tidak tahu hal mana yang harus diterapkan karena ia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berenang saat masih muda.
Bahkan ketika Kiho baru lahir, ia lebih banyak menangis dibanding mengurus anaknya. Untungnya ada Ibu mertua dan Asahi yang selalu berada dekat dengannya, Doyoung sangat merasa bersalah pada Junghwan yang setiap hari harus begadang untuk menjaga anak mereka.
Junghwan jelas khawatir dengan kondisi mental Doyoung yang nampak tidak stabil, namun dirinya juga tidak mungkin memaksanya meminum obat yang memberi banyak efek samping.
Kondisi Doyoung membaik setelah Junghwan mendadak jatuh sakit, terjaga semalaman menjaga anak dan harus pergi kerja dari pagi hingga sore membuat daya tahan tubuhnya melemah. Doyoung terus menangis saat melihat jarum infus tertancap di atas punggung tangannya.
Sejak saat itu, Doyoung mulai mengubah diri, berusaha untuk terbiasa bersama anak yang baru saja datang di tengah mereka. Membantu Junghwan, belajar untuk menjadi orang tua yang baik melalui mertuanya yang hampir tiap minggu datang ke rumah.
"Jangan mikir aneh-aneh, you already did your best." Ucap Junghwan saat melihat raut Doyoung yang menggelap. "Kiho cuma bercanda sama temen-temennya, nanti aku yang marahin gurunya karena udah negur kamu."
Kalimat Junghwan akhirnya berhasil membuat Doyoung tertawa, ia lalu menunduk untuk mengecup ujung hidung bangir suaminya. "Makasih suamiku." Ucap Doyoung sambil menahan geli.
"Kamu romantis kalau di saat kayak gini aja ya." Protes Junghwan, "Harusnya kamu cium aku di sini." Ucapnya sambil menunjuk bibirnya sendiri.
"Nanti kalau Kiho dateng, gimana? Sama Jaehyuk juga, yang ada dia makin aneh ngomongnya." Ucap Doyoung berusaha memberi alasan.
"Kan ciumnya cuma sebentar, ayo cepet." Perintah Junghwan sambil menutup mata.
Doyoung terkekeh pelan lalu tetap menuruti perintah suaminya, kepalanya bergerak untuk mengecup bibir Junghwan, posisi yang aneh tapi siapa peduli, mereka nyaris tidak memiliki waktu untuk bermesraan karena Kiho yang merengek setiap malam karena ingin tidur di ranjang yang sama.
Ciuman yang ternyata tidak sebentar itu mendadak berhenti karena deringan telepon yang ada di atas meja Junghwan, ia berlari ke sumber suara dan langsung mengangkat gagangnya lalu ditempelkan ke telinga.
"Adegan mesum lo kerekam di cctv, gue simpen terus gue tunjukkin ke anak lo nanti ya?"
Yoon Jaehyuk ternyata masih menjadi sepupu paling tidak berguna yang pernah Junghwan kenal.
...
jujur aku bingung kalau bikin bonchap tuh ngapain selain adegan dewasa (karena dulu pas nulis ini hwan masih minor jd gak mungkin) makanya aku stop di sini aja dan kalau kalian mau... adegan... proses pembuatan kiho... boleh... komen...
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com