Chapter XIV
"My death would be your scariest nightmare."
Junghwan meremat kertas yang ada di tangan, Asahi menyempatkan diri untuk pergi ke apartemen Doyoung sebelum pergi bertemu Junghwan tadi pagi, menemukan guci berisi abu tubuh Sechan juga surat yang sempat ia tinggalkan.
Bagaimana bisa orang yang jelas-jelas bersalah dan mendapat hukuman malah menciptakan hukuman baru bagi korbannya sendiri, korban yang bahkan belum sembuh dari semua luka yang ia buat.
"Brengsek." Umpat Junghwan pelan, tapi suaranya sampai ke telinga Asahi yang berdiri di hadapan.
Pelecehan verbal dan non-verbal, bahkan hingga percobaan pembunuhan, harusnya Sechan bersyukur karena ia hanya mendapat hukuman lima tahun penjara. Tapi di tahun terakhir, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya karena dirinya tahu, ia tidak akan diterima di manapun saat keluar dari sana.
Orang tuanya tidak lagi menganggapnya sebagai anak, Sechan juga tidak kuliah dan tidak memiliki bekal apapun untuk tinggal sendirian.
Kematian Sechan berhasil menjadi mimpi buruk paling menyeramkan bagi Doyoung, karena kapanpun ia merasa bahagia, sosok Sechan yang sudah mati malah hadir dan menghantui.
Pertama adalah ketika Doyoung mendapatkan medali emas, apartemen Doyoung berada di lantai paling atas dan tidak mungkin semudah itu untuk dimasuki oleh mantan napi.
Kedua, hari di mana Doyoung menghabiskan waktu dengan Junghwan, ketika Doyoung salah tingkah saat Junghwan menciumnya untuk pertama kali.
Ketiga, panggilan Sechan datang saat pagi setelah Junghwan lagi-lagi menciumnya, menciptakan debaran yang Doyoung sendiri tahu apa artinya.
Sechan seakan menjadi penghalang dari semua kebahagiaan yang baru saja Doyoung rasakan, keinginan kriminal itu berhasil menjadi kenyataan, karena sejak kematiannya, hidup Doyoung makin tidak tenang dibuatnya.
"Terus sekarang gimana?" Tanya Asahi, ia tidak ingin menunda pengobatan Doyoung lagi, apapun alasannya.
Doyoung jelas harus cepat mendapat pertolongan, karena halusinasinya sudah berhasil mencelakai dirinya sendiri. Untungnya tadi siang kondisi jalanan tidak terlalu ramai, membuat Doyoung menjadi satu-satunya korban kecelakaan tunggal.
"Kita harus fokus sama kondisi fisiknya dulu, at least sampai luka di tubuhnya sembuh."
"Gak bisa dipercepat? Kondisinya bakal makin parah kalau ditunda terus." Ucap Asahi dengan suara sedikit tinggi, sembari menunjuk ke arah Doyoung yang terbaring di atas brankar.
"Asahi, percaya sama saya. Saya juga mau Doyoung sembuh, tapi kita gak bisa ambil langkah cepat, penyakit Doyoung bukan penyakit ringan yang bisa sembuh cuma dalam hitungan hari, it will take years, lebih lama dari sakitnya dulu."
"Emang harusnya dari awal saya gak setuju sama ide Doyoung buat rekrut kamu jadi dokternya, being unprofessional dengan malah pacarin pasiennya sendiri."
Junghwan menghela napas, enggan menanggapi kalimat Asahi yang sedikit banyak ada benarnya, karena seharusnya Junghwan fokus pada pengobatan Doyoung, bukan malah terang-terangan menyatakan perasaan dan justru memperparah keadaan.
Suara orang yang sedang berdebat menyapa telinga Doyoung begitu ia membuka mata, dan dirinya menemukan sosok Junghwan juga Asahi yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Tenggorokannya terasa kering, Doyoung berdehem pelan dan berhasil membuat atensi dua orang lain teralihkan. Junghwan berjalan ke arahnya, tidak memedulikan Asahi yang masih ingin melanjutkan kalimat.
"Haus ya?" Tanya Junghwan setelah berdiri di samping brankar, Doyoung mengangguk sebagai jawaban.
Perlahan Junghwan membantu kekasihnya agar duduk bersandar di atas ranjang, tidak lupa meraih gelas air dari atas nakas untuk Doyoung minum.
"Sechan, gimana kondisinya?" Tanya Doyoung tepat setelah ia mengosongkan isi gelas.
Asahi dan Junghwan saling bertukar pandang, Junghwan menggeleng samar sebelum kembali menatap Doyoung dengan senyum tipis di wajah.
"Kalau kamu, gimana? Pusing gak kepalanya? Badannya ada yang sakit?" Pertanyaan beruntun Junghwan hanya dibalas dengan gelengan.
"Aku gapapa, Sechan gimana? Tadi mobilku kan nabrak dia?"
"Dia udah ditanganin dan ada di ruangan lain."
Doyoung menghela napas lega saat mendengar jawaban Junghwan, ia lalu menyentuh kening yang terdapat perban. Ah, Doyoung juga ikut terluka saat kecelakaan tadi.
"Mau pulang." Ucap Doyoung sambil menatap Junghwan penuh harap. "Gak mau di sini lama-lama. Dokter, aku mau pulang." Lanjutnya lagi, kali ini diiringi dengan rengekan pelan.
Besok adalah hari ulang tahun Junghwan, Doyoung jelas enggan menghabiskan perayaan pertama mereka di rumah sakit.
"Kak Asa, aku boleh pulang kan? Aku udah gapapa kok." Doyoung kini menatap Asahi yang berdiri di samping Junghwan, sementara Asahi justru mengalihkan pandang.
Karena ia pasti akan menangis jika terus melihat Doyoung yang nampak baik-baik saja walau kenyataannya tidak sama sekali.
"Dokter..." Panggil Doyoung sambil meraih tangan Junghwan, "Sayang, aku mau pulang." Pintanya, diusapnya punggung tangan Junghwan dengan ibu jari.
Junghwan akhirnya mengangguk, "Infus kamu habis, kita pulang." Sebelah tangannya yang bebas terulur untuk mengusap pipi kekasihnya. "Tapi Asahi ikut ke rumah, sama Jaehyuk juga,"
Entah apa yang Junghwan rencanakan tapi kali ini Asahi tidak menolak, menganggap kalau ini mungkin adalah bagian dari sesi pengobatan atletnya yang selalu ia anggap sebagai adik kandungnya.
***
Awalnya Jaehyuk enggan menuruti perintah Junghwan, tapi setelah sepupunya menjelaskan, dirinya dengan cepat merapikan beberapa pakaian dan mengendarai mobilnya ke tempat yang sejujurnya sangat ia takuti.
Rumah Doyoung terlihat menyeramkan dari luar, bagai istana tidak terawat yang dipenuhi hantu.
Dan siapa yang menyangka kalau dirinya justru disambut dengan Asahi yang berdiri di depan pintu, dengan tangan terlipat di depan dada, laki-laki itu menatap Jaehyuk seakan ia adalah makhluk paling aneh yang pernah ada di depan mata.
"Kenapa?" Tanya Jaehyuk heran sebab Asahi tidak beranjak dari tempatnya sama sekali, padahal Jaehyuk cukup kesusahan dengan dua koper besar di tangan.
"Dibayar berapa sama Junghwan?"
"Maksudnya?"
"Lo kan penakut, emang berani tinggal di rumah angker ini?"
Sial, Junghwan pasti berkata banyak hal pada Asahi sebelum ia datang kemari.
"Gue ke sini demi rasa kemanusiaan, bukan karena materi." Balas Jaehyuk, berusaha membela diri.
Sedangkan Asahi hanya mengangguk beberapa kali, enggan menanggapi kalimat orang di depannya dan memilih untuk kembali ke dalam rumah.
"Gak jelas, dari dulu sikapnya masih aja gak jelas." Umpat Jaehyuk pelan.
"Gue denger ya!"
Dan Jaehyuk menepuk bibirnya sendiri, ingatkan ia untuk menjaga mulutnya lain kali.
"Kamar lo di belakang, yang jendelanya berhadapan sama kolam renang." Ucap Asahi setelah menuntun Jaehyuk ke ruang tengah.
"Kamar lo di mana?"
"Kenapa nanya nanya?"
"Ya supaya gue tau aja."
"Di lantai dua."
"Junghwan?"
"Di lantai dua juga, dia tidur sama Doyoung di kamar utama."
"Terus kenapa cuma gue yang di lantai satu?"
Asahi berjalan mendekat ke arah Jaehyuk, berdiri di sampingnya lalu membisikkan kalimat yang paling Jaehyuk takutkan.
"Supaya lo kenalan sama setan penghuni kolam."
***
Netra Doyoung seolah mengeluarkan binar paling terang saat ia memandang jejeran kue yang dipajang di etalase toko. "Kamu suka kue apa?" Tanyanya pada Junghwan yang berdiri di samping.
"Aku lebih suka donat." Jawabnya jujur.
Bibir Doyoung merengut maju, jawaban Junghwan tidak sesuai dengan yang ia harapkan.
"Pilih yang kamu suka aja, aku suka semuanya kok."
Doyoung tersenyum, itu adalah senyum paling lebar yang pernah Junghwan lihat. Seharusnya ia lebih sering membawa Doyoung ke tempat seperti ini, karena jika terus berada di rumah, suasana hati Doyoung mudah berubah.
Terlalu banyak kesedihan terpancar di wajahnya.
Setelah memilih kue cokelat yang menarik perhatian, Junghwan menuntun Doyoung keluar dari toko. "Mau beli apa lagi? Langsung pulang aja ya? Kamu harus istirahat." Ucap Junghwan, dengan sebelah tangan terus menggenggam jemari yang lebih muda.
"Mau beli hadiah. Besok kamu ulang tahun tau, aku mau kasih kejutan."
Junghwan tertawa, ia jelas tidak terkejut karena sudah tahu rencana Doyoung lebih dulu.
"Gak usah, nanti malam kita barbeque di halaman belakang aja, gimana?"
"Ih gak seru, kamu gak mau hadiah apa gitu dari aku?"
"Mau."
"Apa?" Tanya Doyoung semangat, ia memang sedikit kebingungan saat menentukan hadiah untuk Junghwan.
"Mau kamu cepet sembuh." Jawabnya sembari mencolek hidung kekasihnya.
Jelas Doyoung tersipu malu, sikap Junghwan terlalu manis beberapa hari belakangan, ia bahkan hampir lupa kalau tadi siang dirinya baru saja mengalami kecelakaan.
Junghwan juga berkata kalau Doyoung tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Sechan, kakaknya sendiri yang menabrakkan diri ke depan mobil, Doyoung tidak perlu bertanggung jawab atas itu semua.
Tapi dalam hati, Doyoung terus diliputi perasaan bersalah, namun Junghwan berhasil membuat atensinya teralihkan.
Doyoung terus memeluk sebelah lengan Junghwan, membiarkan kekasihnya memimpin langkah mereka menuju mobil yang diparkir di depan.
"Gapapa kan langsung pulang?" Tanya Junghwan setelah memasang sabuk pengaman di tubuh kekasihnya, dan Doyoung mengangguk.
Walau sebenarnya ia ingin membeli beberapa barang untuk keperluan kejutan, tapi tubuhnya pasti lelah jika harus dibawa berjalan terlalu lama.
Dirinya bahkan tertidur di sepanjang perjalanan menuju rumah, dan bangun beberapa jam kemudian karena suara berisik dari halaman belakang.
"Loh kok udah bangun? Dagingnya belum mateng semua." Ucap Junghwan yang berada di belakang panggangan, kekasihnya sibuk membolak-balik daging sapi yang terus mengeluarkan suara desisan.
Sementara Jaehyuk dan Asahi juga sibuk merapikan meja yang mereka bawa ke halaman. Doyoung tersenyum saat melihat kue yang ia beli tadi sore juga ada di sana.
"Kenapa kamu gak bangunin? Kan aku mau ikutan." Protes Doyoung, Junghwan langsung menarik tubuhnya untuk berdiri di sampingnya.
"Banyak asap, kamu tidur lagi aja, nanti aku bangunin."
Bibir Doyoung merengut maju, dan Junghwan tidak dapat menahan diri untuk mencuri kecupan di bibirnya.
"Apa sih!" Protesnya lagi tidak terima.
"Kisi-kisi hadiah ulang tahun." Jawabnya asal, yang dibalas dengan pukulan kuat di lengan.
"Gak malu apa cium-cium depan mereka?" Ucap Doyoung sambil menunjuk Jaehyuk dan Asahi yang terlihat akur di dekat pintu belakang.
"Kamu aja cium aku di restoran? Tempat umum loh itu."
"Ih itu kan-"
"Itu kan apa?"
"Gak tau ah." Doyoung hendak berjalan menjauh, namun Junghwan menarik sebelah lengan dengan tangannya yang bebas.
"Yaudah di sini aja, temenin aku." Pinta Junghwan, tangannya ia selipkan ke belakang tubuh kekasihnya, mengusap pinggangnya pelan dan berhasil membuat tengkuk Doyoung meremang.
"Geli, ih." Protes Doyoung lagi.
"Tahan."
Doyoung hampir melayangkan pukulan kedua sampai tiba-tiba teriakan Asahi membuat fokusnya teralihkan.
"Kak Asa kenapa?" Tanya Doyoung pada Junghwan.
"Gapapa, paling bentar lagi jadian."
***
"Make a wish!" Ucap Doyoung semangat, tepat tengah malam mereka berkumpul di meja yang ada di halaman belakang untuk merayakan ulang tahun Junghwan.
Dengan kedua tangan yang terkepal di depan wajah, Junghwan mulai merapal doa. Entah ia sedang menginginkan apa karena doanya terasa sangat panjang, Doyoung bahkan hampir protes dibuatnya.
Setelah meniup lilin, Junghwan memasukkan kue ke dalam lemari pendingin, mereka harus menghabiskan hidangan utama sebelum menyantap makanan manis.
"Lo gak pernah jomblo ya tiap ulang tahun." Ucap Jaehyuk yang terdengar seperti sindirian, Junghwan menatapnya dengan raut marah, tapi Jaehyuk justru tertawa.
"Playboy." Cicit Doyoung pelan.
"Bener, kamu inget gak sih dia kan selalu ganjen ke resepsionis gedung apartemen kamu dulu? Padahal waktu itu dia punya pacar." Itu suara Asahi dan dibalas dengan anggukan dua orang selain Junghwan tentunya.
"Pas seminar aja dia sebar nomor telepon, katanya buat konsultasi gratis." Jaehyuk makin menambahi, membuat Junghwan heran sebenarnya ini hari ulang tahunnya atau bukan?
"Udah mending fokus makan." Junghwan berusaha mengalihkan pembicaraan, "Makan yang banyak sayang." Lanjutnya setelah meletakkan beberapa potong daging ke atas mangkuk kekasihnya.
"Makan yang banyak sayang." Itu suara Jaehyuk, yang langsung dibalas dengan pukulan sendok tepat di keningnya.
"Sejak kapan?" Tanya Doyoung sambil menatap manajernya dengan penuh tanda tanya.
"Mereka sempet pacaran dulu, tapi putus karena Asahi mau fokus karir." Jawab Junghwan, sebenarnya ia membawa Jaehyuk dan Asahi ke rumah Doyoung bukan hanya untuk membantunya dalam proses penyembuhan, Junghwan juga ingin memperbaiki hubungan dua orang yang dipenuhi salah paham.
"Karir apaan, kerjanya aja cuma jadi manajer atlet." Omel Jaehyuk.
"Ya lo coba deh urus atlet sebandel Doyoung, dua hari juga langsung resign."
"Kok aku?" Protes Doyoung tidak terima, Junghwan yang duduk di sebelahnya langsung menarik tubuh Doyoung yang hendak bangun dari duduknya.
"Ssst, udah. Makan dulu, kamu masih harus minum obat nanti."
Dengan bibir yang masih merengut, Doyoung mulai mengunyah daging yang sebelumnya Junghwan bakar. Lidahnya dapat merasakan pahit di sana sini, tapi karena ini hari ulang tahun Junghwan, Doyoung berusaha memaklumi.
Sesi makan tengah malam mereka dipenuhi banyak tawa, Doyoung tidak ingat kapan terakhir kali hunian peninggalan Ibunya seramai ini, tapi ia bersyukur sebab keputusan Junghwan untuk membawa serta dua orang terdekat ke dalam rumah ternyata membuahkan hasil baik.
Karena malam itu Doyoung merasa sangat bahagia, melupakan kehadiran kakaknya, juga luka yang masih ada di keningnya.
...
ini chapternya aku perpanjang karena because masih mau nulis scene lucu lucuan, semoga kalian gak bosen ya...
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com