Chapter I
Mobil milik Junghwan yang tadinya berada di belakang ambulans mulai menjauh untuk menepi di salah satu restoran yang masih buka hingga tengah malam, setelah memesan beberapa menu yang ia yakini pasti Doyoung sukai, dirinya kembali melajukan kendaraan menuju rumah sakit besar yang terlampau sering dikunjungi akhir-akhir ini.
Selama beberapa bulan terakhir, kasus pembunuhan berantai yang ada di pinggiran Seoul tidak berhenti menghantui penduduk, semua diimbau untuk berada di dalam rumah sebelum tengah malam, bahkan kedai pinggir jalan banyak yang memutuskan untuk tutup lebih awal.
Pola pembunuh terlalu acak, membuat tidak ada yang dapat menebak siapa korban selanjutnya. Tiga belas korban tidak ada satupun yang berhubungan, mereka hanya orang asing yang kebetulan berada di luar rumah saat pukul dua. Hanya satu tanda yang membuat polisi serta detektif menerka bahwa tersangkanya adalah orang yang sama.
Ukiran berbentuk angka di bawah perut, berurutan dari satu hingga empat belas yang baru Junghwan temui malam ini.
Junghwan tidak langsung terjun ke dalam kasus begitu pembunuh berantai ini menghabisi nyawa korban pertamanya, ia ditunjuk oleh kepala polisi ketika detektif yang bertugas mendadak dipindah ke luar kota.
Sembilan bulan lalu, ketika ia menangani korban keempat, sekaligus kali pertama dirinya bertemu dengan Dokter Forensik yang terus membuat pekerjaannya terusik.
"Kim Doyoung." Ucap laki-laki yang sedikit lebih pendek darinya sambil mengulurkan tangan, "Kita seumuran jadi kamu bisa panggil saya Doyoung." Lanjutnya, masih dengan tangan yang tidak kunjung mendapat sambutan.
"So Junghwan. I guess you already know who I am." Jawab Junghwan dengan angkuhnya.
"Of course, detektif gak sabaran yang selalu nuntut forensik supaya kerja cepat tanpa tau apa yang mereka lakuin di ruang autopsi."
Sudut bibir Junghwan terangkat mendengar jawaban Doyoung, pandangannya turun untuk menatap laki-laki yang juga bertindak serupa. Binar mata bulatnya seakan siap menelan Junghwan hidup-hidup, entah apa yang ia dengar dari orang lain tapi Junghwan tahu bahwa itu jelas bukan hal baik.
Namun Junghwan tidak protes, ia justru senang berhadapan dengan orang yang tidak menyukainya. "I think it's gonna be fun, Dokter Doyoung?"
"Just call me Doyoung, saya gak mau dipanggil dokter di sini."
"Oke Dokter."
Doyoung menutup mata rapat-rapat ketika Junghwan berlalu dengan cepat, tanpa membalas uluran tangannya, tanpa menuruti permintaannya, masuk ke dalam ruang autopsi yang ada di belakang tempatnya berdiri.
"You shouldn't be here." Ucap Doyoung, setengah berteriak pada Junghwan yang kini berdiri di samping brankar.
"Penyebab kematian?"
"Kekurangan oksigen."
"Disekap sampai mati?"
Yang lebih kecil menggeleng sebelum ikut berdiri di samping Junghwan, tangannya bergerak menuju tenggorokan mayat yang terbaring di atas ranjang.
"Alergi." Jawabnya singkat.
"Alergi?"
Kali ini Doyoung mengangguk, "Alergi parah yang bikin tenggorokannya bengkak."
"Saya gak tau kalau alergi bisa bikin orang meninggal?" Tanya Junghwan heran.
"Alergi gak semudah itu bikin orang meninggal, tapi reaksi dari alergi yang bikin organ mereka gak berfungsi."
Junghwan mengangguk paham, walau belum paham sepenuhnya, ia hanya tidak ingin diberi kuliah soal organ tubuh manusia di tempat yang bukan seharusnya.
"Ada jejak dari tersangka?" Tanya Junghwan, dan Doyoung jawab dengan gelengan pelan.
"All clean, bahkan gak ada sidik jari di pakaian korban."
"Shit." Umpat Junghwan setelah berdecak keras.
Netra Doyoung mendelik, ia menatap Junghwan dengan pandangan tidak suka. "Dilarang mengumpat di sini." Omelnya.
"Why? Gak ada orang juga? Gak ada yang denger selain saya sama kamu."
Tangan kanan Doyoung bergerak menunjuk mayat yang beberapa bagian tubuhnya terbuka hingga menampakkan daging yang mulai berubah menjadi kelabu.
"Meskipun dia udah meninggal, tapi dia masih bisa denger apa yang ada di sekitarnya, telinganya masih berfungsi, arwahnya juga mungkin masih ada di sini."
Junghwan mengulum senyum, perangai Doyoung sungguh sangat sulit untuk ditebak.
"Jadi, kita gak boleh ngomong aneh-aneh di depan mayat?"
"Kita gak boleh ngomong aneh di depan semua orang, baik yang masih hidup atau yang udah meninggal."
"Kamu selalu kayak gini?" Ucap Junghwan tiba-tiba, membuat Doyoung heran dengan pertanyaan mendadaknya.
"Gini gimana?"
Dibanding menjawab, Junghwan memilih untuk menggeleng lalu berjalan menuju pintu keluar. Namun langkahnya berhenti ketika lengannya ditarik paksa.
"Apa? Jawab dulu pertanyaan saya." Protes Doyoung.
Setelah melepas pegangan Doyoung di lengannya, Junghwan sedikit menunduk untuk menyamakan tinggi mereka, menatap laki-laki manis yang masih menunjukkan raut tidak suka.
Namun Junghwan belum sempat membuka mulut karena tiba-tiba pintu yang ada di belakang mereka menimbulkan bunyi keras karena didorong dari luar, Yoo Jaewon masuk ke dalam ruang autopsi dengan buru-buru hingga tubuhnya membentur salah satu sudut meja yang ada di depan brankar.
"Kamu ngapain?" Tanya Junghwan saat melihat personelnya berjalan ke arahnya sambil meringis pelan.
"Sunbae dipanggil kepala detektif, ada sesuatu yang mau dibahas."
"Kenapa gak hubungin saya?"
"Ponsel sunbae ditinggal di meja kerja."
Junghwan hendak keluar dari sana, namun netranya menangkap jejak darah yang ada di bawahnya, dan darah itu menetes dari tangan Jaewon yang sejak tadi ia tutupi.
"Sorry, kepentok meja." Ucap Jaewon sambil tersenyum canggung.
"Minta obatin sama dokter yang ada di belakang saya." Ucap Junghwan asal sebelum berjalan keluar ruangan.
"Di sini bahkan gak ada plester!" Protes Doyoung, diikuti dengan senyum lebar yang ada di wajah Junghwan karena malam ini ia berhasil membuat Doyoung kesal berulang kali.
***
"Makan malam, kamu belum makan kan?" Ucap Junghwan sambil menyodorkan plastik ke arah Doyoung, dan langsung diterima namun dengan pandangan penuh tanya.
"Tumben." Ucap Doyoung sambil melirik isi dari plastik yang Junghwan serahkan.
"The fuck?" Umpatnya setelah tahu bahwa makanan yang Junghwan bawa adalah sashimi. Doyoung melempar plastik itu ke brankar kosong yang ada di pojok ruangan.
"Heh, cursing dilarang di sini." Ledek Junghwan sembari berjalan menuju lemari yang berisi barang medis, meraih dua masker lalu menyerahkan salah satunya ke arah Doyoung.
"Mayatnya belum dateng." Jawab Doyoung asal.
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau kita gak boleh ngomong aneh di depan semua orang, baik yang masih hidup atau yang udah meninggal." Jelas Junghwan, ia mulai mengelilingi ruang autopsi, memerhatikan semua sudut tajam yang kini tertutupi oleh karet lunak sebagai proteksi.
Dirinya yang membantu Doyoung memasang benda itu setelah insiden berdarah Jaewon sembilan bulan lalu.
"Kamu pikir saya anggap kamu manusia?"
"Bukan? Terus apa? Dewa?" Ledek Junghwan lagi.
Junghwan meringis ketika tangan Doyoung bergerak untuk menarik keras rambut panjangnya dari belakang, "Detektif gak punya hati." Omelnya.
"Coba belah dada saya." Ucap Junghwan sambil menyodorkan pisau bedah, Doyoung berteriak agar Junghwan meletakkan benda tajam itu kembali ke tempatnya.
"Kamu gak boleh main-main sama pisau di sini!"
"Ya itung-itung belajar, siapa tau nanti jasad saya berpotensi diautopsi sama kamu? Nobody knows."
Doyoung berdecak kesal, ingin rasanya ia mengusir Junghwan dari ruangan namun di sini Junghwan adalah detektif yang bertanggung jawab atas kasus korban yang sebentar lagi akan Doyoung tangani.
Suara roda yang bergerak di atas lantai membuat fokus Doyoung teralihkan, ia membuka pintu ruangan lebar-lebar dan mempersilakan Jaewon serta beberapa polisi untuk meletakkan mayat ke atas brankar kosong yang telah ia siapkan.
"Kamu diem aja, jangan ganggu saya selama kerja."
Dua jam, Junghwan hanya diam selama dua jam setelah mayat masuk ke ruangan.
Doyoung bahkan belum sempat membedah bagian dalam organ korban, namun yang lebih tinggi sudah lebih dulu berdiri di sampingnya, mengganggu semua proses autopsi yang Doyoung kerjakan sendirian.
"Penyebab kematian?"
"Belum tau."
"Identitas?"
"Udah saya tulis di situ." Jawab Doyoung sambil menunjuk kertas yang ada di atas meja.
Netra Junghwan yang tadinya fokus dengan data korban dan ponsel di tangan mulai melirik ke arah Doyoung setelah mendengar ringisan pelan dari mulutnya.
"Kenapa?" Tanyanya sambil berjalan mendekat.
"He lost too much blood." Ucap Doyoung setelah berhasil mengetahui penyebab kematian korban.
"Itu yang bikin dia meninggal?"
Doyoung menggeleng, "Kehilangan banyak darah bikin jantungnya bekerja keras, dia meninggal karena gagal jantung."
"Udah berapa hari dia meninggal?"
"Berapa lama perkiraan dokter yang dateng ke lokasi?"
"Empat hari."
"Tiga, pembunuh itu ngebiarin dia tersiksa seharian penuh sebelum meninggal."
"Gila."
"Gak ada orang waras yang bisa bunuh belasan orang dalam kurun waktu satu tahun. Keluarganya? Udah kamu hubungin?" Tanya Doyoung kemudian, Junghwan mengangguk.
"Saya udah kirimin datanya ke Jaewon. Ada info soal tersangka?"
"All clean, pembunuhnya sama sekali gak ninggalin jejak."
Tepat setelah Doyoung selesai bicara, suara pintu ruangan yang diketuk dari luar membuyarkan fokus mereka.
"Sunbae, ini saya."
Junghwan membuka pintu dan membiarkan Jaewon masuk, personelnya berkata bahwa keluarga korban akan datang sebentar lagi. Doyoung mulai menjahit bagian tubuh mayat yang terbuka dengan hati-hati setelah selesai menuliskan apa yang berhasil ia temukan dari jasad di depannya.
"Punya siapa?" Tanya Jaewon, ia mengangkat plastik berisi makanan yang sebelumnya Junghwan bawa.
"Makan aja." Jawab Doyoung sekenanya.
Dan apa yang Jaewon lakukan sungguh membuat Junghwan dan Doyoung tidak percaya, ia melahap sashimi itu dengan nikmat, sama sekali tidak terganggu dengan mayat berbau busuk yang ada di tengah mereka.
"Gak jijik?" Tanya Junghwan yang duduk di sampingnya dengan heran.
"Saya laper." Jawab Jaewon dengan mulut penuh makanan, sedangkan Doyoung berusaha keras menahan mual sambil terus menjahit tubuh korban.
Junghwan kembali berjalan ke arah lemari, meraih masker yang lebih tebal lalu memakaikannya ke wajah Doyoung yang masih sibuk dengan mayat yang terbaring di depan.
"Biasanya Haewon yang kerjain sisanya?" Tanya Junghwan sambil menaburkan bubuk kopi di sekitar Doyoung.
"Saya suruh dia ambil cuti, Ibunya sakit."
Jawaban Doyoung membuat Junghwan mengangguk samar. "Maaf soal sashimi tadi, nanti saya traktir makan di luar."
,,,
sumpah jir kenapa ya aku nulis ini, maaf kalo teori soal autopsi dan mayatnya kayak ngasal banget aku udah berusaha research sebisaku dan mengandalkan google doang huhuhu jangan diomelin ya.
kayaknya bakal update tiap hari, mari berdoa agar aku sehat sampe buku ini selesai wkwkwk.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com