Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter VIII




"Aduh!" Protes Junghwan ketika Doyoung lagi-lagi mendaratkan kaki tepat di tulang keringnya, "Kenapa sih? Saya kan cuma nawarin? Kalo gak mau ya gapapa." Lanjutnya kemudian.

Bukannya jawaban, Junghwan malah mendapat pukulan lain dari si pemilik rumah. "Stop talking shit." Omel Doyoung sembari memukul lengan Junghwan. "Udah sana ganti baju, saya mau tidur." Perintahnya.

"Beneran gak mau nemenin?" Tawar Junghwan, dan Doyoung juga hampir berhasil menendang kakinya lagi, namun usahanya gagal sebab laki-laki itu terlebih dulu bergeser, membuat tubuh Doyoung hampir jatuh kalau saja Junghwan tidak menangkapnya dengan kedua tangan.

Dalam posisi sedekat ini, telinga Doyoung terasa panas karena napas Junghwan yang berhembus di sana, telapak tangan yang berada di atas dada Junghwan juga dapat merasakan betapa kuat debar jantung laki-laki yang berdiri di depannya.

Perasaan aneh ini, Doyoung tidak mungkin jatuh cinta pada detektif bodoh yang sering kali memancing emosinya, kan?

Tangan kanan Doyoung bergerak naik untuk meraba punggung Junghwan, mengantarkan sensasi tersengat listrik karena jemarinya yang menari lembut di atas kaos yang Junghwan kenakan.

"Gak mau nemenin tapi maunya peluk saya, ya?" Ledek Junghwan, kepalanya bergerak menuju ceruk leher yang lebih kecil, mengendusnya lembut sebelum memandang Doyoung yang wajahnya merah menahan malu. "Pake shampoo apa deh? Wanginya enak." Ucapnya, masih dengan kedua tangan yang melingkar di sekitar pinggang Doyoung.

Siapa yang menyangka bahwa kejadian buruk beberapa jam lalu malah membawa Junghwan ke situasi menguntungkan seperti sekarang?

Namun kebahagiaan Junghwan tidak bertahan lama karena destinasi utama tangan Doyoung adalah untuk menjambak rambutnya kuat-kuat.

"Dasar detektif mesum!" Omelnya sambil terus menjambak rambut Junghwan.

Andai sejak awal Doyoung tahu kalau perilaku Junghwan akan semenyebalkan ini, ia tidak akan mengizinkan detektif mesum itu untuk menemaninya di rumah hingga pagi.

Pikir Doyoung pada awalnya, namun kini ia justru tengah duduk dengan gelisah di sofa ruang tamu, menunggu Junghwan yang tidak kunjung selesai dengan urusannya di kamar mandi.

Tidak mungkin kan ia tidur di dalam?

Atau jangan-jangan Junghwan pingsan?

Hampir satu jam Doyoung diam di sana, ia bahkan nyaris terlelap di tempatnya sampai tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka dari dalam, menampakkan sosok Junghwan yang terlihat lucu dengan kaos yang sangat pas membalut tubuh besarnya.

"Kok lama banget, sih?"

Jangankan Junghwan, Doyoung sendiri bingung dengan kalimat yang barusan keluar dari mulutnya.

"Saya ritual dulu sebentar, kenapa emang? Kangen ya? Kamu nungguin saya daritadi?" Ledek Junghwan, Doyoung tidak menjawab dan memilih untuk bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ruang tidur.

Junghwan mengekor di belakang, dalam hati merasa sangat bahagia karena dirinya akan tidur bersama Doyoung malam ini.

Namun kenyataan memang tidak seindah harapan, ia berdecak kesal ketika melihat kasur sorong di ujung ruangan.

"Kamu di bawah, gapapa kan?" Tanya Doyoung sambil menarik kasur bagian bawah.

"Sebenernya saya lebih suka di atas, tapi kalau kamu maunya saya di bawah ya gapapa. Asal sama kamu, posisi apapun saya rela."

"Berhenti gak! Ini hampir pagi dan kamu masih ngomong ngelantur kayak gitu." Protes Doyoung, ia naik ke ranjang atas lalu melempar satu bantal ke arah Junghwan yang malah tersenyum nakal di samping kasur.

"Justru topiknya lebih cocok dibahas di jam-jam segini." Balas Junghwan yang ikut naik ke ranjang satunya, senyumnya makin lebar ketika Doyoung melempar selimut tepat ke atas wajahnya.

"Whatever." Ucap Doyoung, malas menanggapi candaan mesum Junghwan.

Lampu kamar sudah lebih dulu dimatikan, menyisakan satu lampu tidur di dekat pintu yang cahayanya remang. Hanya butuh waktu beberapa menit hingga Doyoung terlelap, sedangkan Junghwan masih sibuk dengan ponselnya untuk mengurus beberapa pekerjaan yang sebelumnya ia tinggalkan.

Netra Junghwan masih fokus menatap layar ponselnya, namun telinganya tiba-tiba mendengar suara rintihan pelan dari atas, tempat Doyoung berbaring. Dan ketika dirinya menoleh, ia disambut dengan sosok Doyoung yang terus merintih kesakitan dengan mata terpejam.

Junghwan menghela napas, padahal sebelum tidur tadi laki-laki itu bersikap sok kuat dan berkata bahwa luka kecil di tangannya tidak memberi pengaruh apa-apa.

Setelah meletakkan ponsel, Junghwan kini duduk di atas ranjang bawah dengan posisi menghadap ke tempat Doyoung. "Doyoung." Panggil Junghwan pelan, ia meraih tangan kiri Doyoung yang pergelangannya dibalut perban dan mulai mengusapnya pelan.

Mata Doyoung terbuka ketika merasakan usapan Junghwan di kulitnya, "Sakit..." Keluhnya dengan bibir merengut maju, "Padahal aku udah ngantuk banget, tapi tangannya sakit." Lanjutnya lalu menggeser tubuh agar lebih dekat dengan pinggir kasur.

Junghwan tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum, ia tahu bahwa Doyoung sedang kesakitan sekarang, namun rautnya begitu menggemaskan.

Sebelah tangannya yang bebas bergerak menuju kepala yang lebih kecil dan mulai membelai surainya dengan lembut. "Iya, ini aku usap-usap biar sakitnya hilang." Balas Junghwan,

Doyoung meraih tangan Junghwan yang ada di kepala lalu menggesernya ke sisi wajah. Ibu jari Junghwan kini bergerak di atas pipi bulatnya, membuat Doyoung ikut tersenyum karena perasaan nyaman yang ia berikan.

"Jangan tidur sebelum aku tidur." Ucap Doyoung ketika melihat Junghwan menguap di depannya.

"Iya aku gak tidur."

Dan Junghwan menepati janjinya, ia terus membalas ocehan Doyoung. Mulutnya bergerak aktif walau netranya terpejam, bertanya soal banyak hal pada Junghwan, dari topik penting hingga pertanyaan aneh yang Junghwan sendiri bingung apa jawabannya.

"Kenapa kamu milih buat jadi detektif?"

"Karena pas kecil aku suka nonton Detektif Conan."

"Kenapa rambutmu panjang?"

"Karena aku males ke tukang cukur."

"Kenapa mobil kamu gede banget? Kayak tank, serem."

"Serem? Itu justru mobil keren!"

Doyoung menggeleng tidak setuju, "Perasaan takutku makin kuat kalau naik mobil kamu, rasanya aku bisa hancur di dalam kalau mobilmu nabrak sesuatu."

"Aku jago nyetir, kita gak akan nabrak." Jawab Junghwan sekenanya, netranya melirik jam digital yang ada di sudut kamar, hari hampir pagi namun Doyoung nampak enggan terlelap malam ini.

"Kamu ngantuk ya?" Tanya Doyoung, dan Junghwan jawab dengan gelengan. "Bohong, sini tidur." Ucapnya sambil menggeser tubuh ke sisi pojok kasur.

Tangan Doyoung otomatis melingkar di atas perut Junghwan begitu laki-laki itu berbaring di sampingnya, "Jangan salah paham, aku pegang kamu gini supaya kamu gak kabur."

Junghwan tertawa, entah apa yang Doyoung rasakan malam ini namun sepertinya efek obat yang ia konsumsi membuatnya berubah menjadi pribadi yang sangat Junghwan sukai.


***

"What the hell."

Suara perempuan menyapa telinga Junghwan, lampu kamar masih belum menyala, tangan Doyoung juga masih betah di atas perutnya, sebelah lengannya terasa kebas karena kepala Doyoung yang entah sejak kapan ada di atasnya.

Dan ketika Junghwan menoleh ke arah pintu, netranya disambut dengan sosok gadis muda berambut panjang, lengkap dengan tas besar di tangannya.

"Ssst." Ucap Junghwan dengan telunjuk di depan mulut, Doyoung baru terlelap beberapa jam dan ia tidak ingin mengganggu tidurnya.

Dengan hati-hati Junghwan melepas tangan Doyoung dari tubuhnya sebelum turun dan berjalan ke luar ruangan.

"Om siapanya Kak Doyoung? Pacar?" Tanyanya setelah mereka duduk berhadapan di sofa ruang tamu.

I wish, jawab Junghwan dalam hati.

"Kamu siapanya Doyoung? Pacar?" Junghwan balik bertanya.

Gadis itu menggeleng kuat, "Aku Dain, adiknya Kak Doyoung." Jelasnya singkat, "Aku disuruh Mama buat anter makanan ke sini, mumpung kampus lagi libur dan temenku banyak yang tinggal di Seoul." 

Junghwan mengangguk paham, pantas wajahnya terlihat tidak asing, banyak potret Dain di tiap figura yang menggantung di rumah Doyoung.

"Om beneran bukan pacar kakakku?" Tanya Dain lagi, dan Junghwan menggeleng. "Terus kenapa Om tidur berdua sama Kak Doyoung? Di ranjang yang sama pula."

"Kakak yang minta temenin, tadi malam mati lampu dan kakak takut tidur sendirian."

Itu suara Doyoung yang ternyata sudah berjalan ke arah mereka.

"Kamu ngapain ke sini?" Tanyanya pada Dain sambil duduk di sofa panjang sebelah Junghwan.

"Lagian siapa suruh sok tinggal sendirian padahal masih takut gelap, segala pindah ke Seoul padahal di Incheon juga banyak rumah sakit bagus." Omel Dain panjang lebar.

Umur Doyoung dan adiknya terpaut lumayan jauh, hampir delapan tahun. Namun fakta itu tidak lantas membuat Dain hormat dan tunduk pada kakaknya, karakter Dain jauh lebih kuat dibanding Doyoung yang lebih sering pasrah dengan keadaan.

"Tuh Mama nyuruh aku bawain makanan," Ucap Dain sambil menggeser tas besar yang ada di atas meja. "Tangan kakak kenapa?" Tanyanya saat melihat perban yang membalut pergelangan tangan Doyoung.

"Bengkak, kayaknya karena alergi." Jawab Doyoung, membuat Junghwan yang duduk di sebelahnya kini memandangnya heran, dan Doyoung memberi kode agar Junghwan diam.

"Kamu mau sarapan di sini?" Kali ini giliran Doyoung yang bertanya, dan ia bersyukur saat melihat adiknya menggeleng.

"Aku mau ketemu Ahyeon, lagian aku gak mau ganggu orang pacaran." Jawabnya sambil melirik Junghwan yang malah tersenyum kegirangan.

"Om, jagain kakakku ya. Meskipun kerjaannya bedah mayat, tapi aslinya dia penakut banget." Pesan Dain yang mulai bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu keluar.

"Om? Dia seumuran sama kakak." Tegur Doyoung.

"Eh? Tapi gak marah tuh pas aku panggil Om daritadi?" Jawabnya, "Yaudah, Kak aku titip kakakku ya! Dan kalian boleh lanjutin agenda peluk-pelukan di ranjangnya lagi habis ini, aku gak akan bilang Mama."

Doyoung menghela napas, ia memang ditakdirkan dengan hidup yang dikelilingi oleh orang aneh. Adik yang kurang ajar, serta rekan kerja yang menyebalkan seperti Junghwan.

Junghwan yang kini malah sibuk di dapur, mengeluarkan dan merapikan kotak makanan dari tas besar yang sebelumnya Dain bawa.

"Tidur lagi aja, nanti bangun lagi kalau makanannya udah selesai aku panasin."

Dan sekarang laki-laki itu bersikap seolah ia adalah kekasihnya.

Doyoung menghela napas, tadinya ia ingin protes dan berdebat dengan Junghwan soal tingkahnya pagi ini. Namun ia mengurungkan niat dan memilih untuk berjalan mendekat, berdiri di belakang Junghwan sebelum melingkarkan kedua tangannya di pinggang yang lebih tinggi.

Dirinya juga tidak tahu kenapa, Doyoung hanya ingin berterima kasih atas kebaikan yang Junghwan berikan sejak tadi malam.

"Thank you, Junghwan." Ucapnya, dengan kepala yang bersandar di punggung lebar Junghwan.




















...

moment banjir hwanbby kemarin tuh kayaknya berkat doa kalian dengan mengetik 1 di chapter sebelumnya dech

btw... aku kan udah lumayan lama gak ngetik ya... jadi sebenernya masih kurang pede huhuhu maaf ya kalo narasinya rada MEH gitu

terus,,, ini lama banget jir alurnya, kerasanya kayak udah berminggu minggu gitu padahal tetep di hari yang sama :( maaf ya... tapi kan emg lagi fokus sama romancenya dulu hahay sebelum dar dor meninggal (pembunuhnya)

BTW LAGI. Dain ini Rora Baemon yaa visualisasinya, aku jadiin adik Doyie karena mereka mirip hihi.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com