Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XIX

"Saya beneran gak sengaja..." 

Yoo Jaewon baru saja sampai ke tempat kejadian setelah menerima kabar bahwa atasannya, Cheon Wonbin berhasil menangkap tersangka kasus pembunuhan di Yongsan.

Namun apa yang ia lihat begitu membuka pintu sungguh di luar dugaan, terduga pembunuh yang Wonbin maksud justru tergeletak tak bernyawa dengan darah di sekitar tubuhya.

Padahal belum genap satu jam sejak ia menerima kabar bahwa Park Jihwan tertangkap kamera berada di dekat lokasi kejadian kasus pembunuhan pertama, ia adalah salah satu dari beberapa terduga tersangka yang tengah mereka awasi gerak-geriknya.

"Sunbae yang bunuh dia?"

Kata bunuh membuat Wonbin menggeleng kuat, ia bersumpah bahwa dirinya tidak sengaja membuat Park Jihwan jatuh, tapi naas bagian belakang kepalanya justru menghantam batu keras yang ada di bawah.

"Tadi dia sempet ngelak pas saya tangkap, dan dia juga hampir nyerang saya tapi tiba-tiba dia jatuh gitu aja."

Namun kalimat Wonbin tidak lantas membuat Jaewon percaya, ditambah tidak ada cctv yang merekam aktivitas keduanya. Cheon Wonbin amat sangat berpotensi dipenjara jika orang lain tahu bahwa ia satu-satunya orang yang ada di tempat kejadian perkara.

Dan hal yang mereka lakukan justru menambah masalah, Cheon Wonbin malah memberi tanda yang sama dengan apa yang Jihwan lakukan pada korban pertama.

Membuat tersangka pembunuhan Yongsan, justru menjadi korban kedua dan jejak kejahatan mereka menguap begitu saja.

Dan nampaknya, mereka terlalu menikmati tragedi yang mereka buat sendiri. Semua nampak baik-baik saja walau keduanya menghilangkan nyawa satu manusia, jika ditambah satu lagi maka tidak ada bedanya, kan?

Beberapa minggu setelah kasus Park Jihwan dinyatakan sebagai kasus pembunuhan berantai, ada satu wanita yang hendak melapor bahwa ia melihat dua orang yang tengah sibuk menyeret tubuh Jihwan masuk ke dalam gudang tidak terpakai.

Yoo Jaewon sebagai detektif yang bertugas tentu dengan senang hati menerima ajakannya, Shim Jiyeon juga tidak menyangka bahwa petugas yang menemuinya justru termasuk ke dalam orang yang ia lihat di malam yang sama.

Kali ini giliran Jaewon yang melapor pada Wonbin ketika korban ketiga sudah tidak bernyawa, meminta atasannya untuk membuat tanda yang sama agar pola tulisannya tidak berubah.

Cheon Wonbin tidak menyangka bahwa perbuatan bodohnya menuntun Jaewon untuk terus membunuh orang yang sama sekali tidak bersalah.

Dibanding bertanggung jawab dan berpotensi masuk penjara dalam kurun waktu yang lama, Wonbin memilih untuk keluar dari sana, meminta agar dipindahkan ke daerah yang lumayan jauh dari tempat kerja lamanya.

Namun sial sebab Jaewon seolah terus mengikutinya, memintanya agar membuat tanda pada calon korban keempat yang katanya tidak sengaja ia bunuh karena terus mengganggu atasan barunya.

Wonbin jelas enggan, ia memilih kabur untuk tinggal bersama orang tuanya di luar pulau, membuat Jaewon seakan bebas dengan semua tindak kriminalnya karena kini saksi yang ia takuti sudah pergi.

Korban keempat adalah anak dari tetangga Junghwan. 

Junghwan yang saat itu baru pindah ke Seoul, dikagetkan dengan tingkah penduduknya yang kadang terlalu barbar. 

Tetangganya kebanyakan adalah orang tua pensiunan anggota kepolisian, awalnya ia tenang dan merasa aman, hingga beberapa hari kemudian, ban mobilnya kempes di empat bagian. Jaewon masih ingat saat Junghwan bersungut-sungut menceritakan soal kesialan yang dirinya alami, dan ia yang jatuh hati pada atasannya sendiri langsung mengeksekusi. 

Jaewon yang memeriksa rekaman cctv, dan cukup terkejut saat melihat bahwa tersangkanya adalah cucu dari tetangga Junghwan sendiri. 

Ia mengikuti pola yang sama dari kasus-kasus sebelumnya, membuat anak itu menjadi korban ketiga yang Jaewon bunuh dengan tangannya sendiri, ia menghabisi nyawanya setelah meminta korban untuk menulis angka di perutnya menggunakan pisau kecil yang selalu Jaewon bawa kemana-mana.

Junghwan tidak sadar karena korban keempat tidak tinggal di daerah rumahnya, ditambah ia juga tidak berurusan dengan keluarga korban karena itu tugas Jaewon sepenuhnya. 

Korban kelima adalah petugas perhubungan yang menderek mobil Junghwan.

Korban keenam adalah orang yang merebut antrean Junghwan.

Korban ketujuh dan korban-korban selanjutnya adalah orang yang berhubungan dengan Junghwan, namun pria itu tidak sadar karena mereka hanya pernah bertemu satu kali.

Hingga sampai ke korban kelima belas, imigran dari Vietnam itu memergoki Jaewon yang nyaris berhasil menyergap Doyoung ketika ia hendak menemui Junghwan di lingkungan apartemennya.

Sayangnya kala itu, Jaewon tidak membawa pisau yang selalu ada di sakunya karena ia hendak membuat Doyoung seolah mati bunuh diri dengan menenggak cairan keras yang sudah dirinya siapkan.

Satu lagi nyawa berhasil Jaewon lenyapkan, namun kali ini penyebabnya bukan karena Junghwan.

Jaewon tentu tidak mudah menyerah, ia kembali berniat membunuh Doyoung ketika laki-laki itu keluar dari supermarket di dekat rumahnya. Namun kali ini, rencananya kembali gagal karena ada orang yang juga mengikuti langkah incarannya.

Tadinya Jaewon pikir, orang asing itu mempunyai tujuan yang sama dengannya yaitu membunuh Doyoung. Dan imajinasi liarnya ternyata salah, pria itu justru ingin melindunginya, membuatnya menjadi korban keenam belas yang ia bunuh menggunakan pisau yang Doyoung beli.

Tapi Jaewon masih ingin menghabisi nyawa Doyoung, namun karena Junghwan terus ada di sampingnya, misinya selalu gagal. 

Bahkan sandwich yang sengaja ia beli tidak pernah Doyoung konsumsi, padahal ia sengaja menaruh banyak stroberi agar Doyoung mati karena alergi.

Dan akhirnya Jaewon memutuskan untuk juga membunuh Junghwan. Karena jika ia tidak dapat menyingkirkan Doyoung dari hidupnya, maka lebih baik mereka berdua sama-sama pergi ke neraka.

Sayangnya kali ini, jejaknya berhasil tertangkap kamera. Ia ditangkap di rumahnya ketika Junghwan dan Doyoung dirawat di rumah sakit Incheon. Di detik terakhir Jaewon memegang ponselnya, ia menghubungi Wonbin untuk membantu menjalankan aksinya.

***

"Cuma ini yang berhasil kamu dapetin setelah berbulan-bulan usut kasus yang sama?" Tanya Cheon Wonbin, ia sibuk membaca laporan yang Doyoung dan Junghwan tulis beberapa hari lalu.

Doyoung memejamkan mata, kepalanya terasa berputar sebab darah yang terus keluar dari keningnya. Ia benar-benar tidak percaya bahwa detektif yang sempat menjadi partner kerjanya, sekarang justru menculiknya.

Tidak lama setelah Doyoung masuk ke dalam mobil yang Wonbin bawa, pria itu malah menepikan kendaraan lalu memukul keras kepala Doyoung dengan tongkat baseball yang ada di kursi belakang.

Bukan tanpa alasan, Yoo Jaewon mengancam akan melaporkan kejahatan yang pernah Wonbin buat jika ia tidak berhasil menghentikan investigasi illegal yang Junghwan dan Doyoung lakukan.

"Kayaknya Jaewon punya orang dalam yang dia suruh buat manipulasi hasil autopsi, ah Haewon? Bukannya mereka adik kakak?"

Sial. Sial. Sial. Umpat Doyoung dalam hati, pantas saja hasil autopsi yang ada pada Junghwan kebanyakan berubah, seakan ada lembar yang sengaja Haewon hilangkan sebelum memberikannya kepada para detektif dan anggota kepolisian.

"Tapi gapapa, kerja keras kamu juga sia-sia karena sekarang kamu bakal jadi korban ketujuh belas." 

Jantung Doyoung berdegup kuat, dalam hati ia berdoa agar Junghwan menerima pesannya dan langsung sampai ke lokasi yang titiknya sudah dirinya kirim sejak belasan menit lalu.

"Kenapa? Kamu cari detektif So, ya? Dia sengaja saya suruh pergi jauh sebelum bawa kamu ke sini. Saya gak nyangka ternyata dia sebodoh itu buat dateng ke tempat tanpa diperiksa dulu."

Seringai yang muncul di wajah Wonbin membuat bulu kuduk Doyoung meremang. Ia tidak tahu mengapa semua orang seakan terlibat dalam kasus yang sama, dari Wonbin, Jaewon bahkan Haewon.

Apa yang mereka lewatkan? Apa motif di balik pembunuhan? Mengapa mereka seakan ketagihan dan terus menerus menambah korban?

"Awalnya saya gak mau nyakitin kamu, Dokter Kim. Tapi kata Jaewon, kamu terlanjur tau banyak hal. Kenapa kamu malah ikut campur sama kasus ini? Karena mau bantu pacarmu? Kasian Jaewon, padahal udah lama dia naruh hati sama atasan barunya."

Doyoung rasanya ingin lari, tapi kaki dan tangan yang terikat kuat membuat geraknya amat terbatas. Ditambah mulutnya yang tertutup lakban besar, situasinya sekarang persis seperti di film aksi yang dulu gemar ia saksikan.

Ia berteriak dalam hati ketika Wonbin menarik kaos yang Doyoung gunakan, "Mau tulis sendiri, atau saya tulisin?" Tanya Wonbin sambil menggores kulit perutnya dengan pisau tajam.

Wonbin nyaris selesai mengukir angka 17 di perut Doyoung, sampai tiba-tiba pintu berkarat yang ada di belakangnya dibuka paksa dari luar.

Itu Junghwan, ia datang bersama beberapa anggota polisi lain yang siap meringkus dengan pistol di tangan. Dan apa yang terjadi selanjutnya tidak lagi Doyoung ingat, ia hanya mendengar suara tembakan keras sebelum kehilangan kesadaran.






...

akhirnya... sebelum junghwan, kalian dulu yang tau siapa pembunuhnya. maklum detektif so kebanyakan ngebucin dibanding ngurus kasus

see you di last chapter yah! kita nyelawat bareng

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com