Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

10. Pernah Tau.0

Sepuluh menit kemudian, mobil Ares sudah terparkir di lahan parkir gerai Mekdi terdekat.

Kami berdua segera masuk ke dalam restoran dan mengambil posisi di belakang antrian untuk memesan makanan. Ada empat antrian di depan kami.

"Kok bisa kenal banget sama Om Ivan?" tanyaku.

"Sering kerja bareng," jawabnya singkat.

"Om Ivan punya perusahaan kontraktor, kan?" tanyaku dan Ares mengangguk. "Ares kerja apa?"

"Interior sama Acoustic designer."

'Wow,' batinku.

Antrian di depan kami selesai dengan pesanan mereka dan tiba giliran kami untuk memesan.

"Apple pie 6, big mac paket large 1 pakai cola float, paket panas 1. Mariska mau apa?" Ares memesan sebelum si mbak bertanya.

"Tripple cheese burger sama es milo," jawabku.

"Itu aja?" tanyanya dan aku mengangguk. "Yakin?"

"Iya, Areees," sahutku lalu tersenyum padanya, yang sebenernya adalah usahaku untuk menahan tawa melihat pesanannya yang bisa buat makan orang se-RT itu.

"Senyumnya manis banget, jadi pengen cium," gumamnya.

'Ares malu-maluin', batinku. Si Mbak customer service senyum-senyum melihat kami.

Kami membawa nampan masing-masing dan kubiarkan Ares memilih tempat duduk. Dia berjalan ke arah sudut restoran dan memilih tempat duduk di meja sudut dengan sofa siku, dan aku mengikutinya.

"Emang kenyang makan segitu?" tanyanya sambil melihat ke arah nampanku dengan heran.

"Kenyang. Aku normal," jawabku sambil menusukkan sedotan ke cup minumanku. Giliranku bertanya. "Emang cukup perutnya diisi segitu?"

"Hmm ... masih bisa nambah sih, ini," gumamnya sambil mencocol kentang goreng ke es krim dan memakannya. Aku melongo tak percaya atas jawabannya.

"Aku laper, Mariska," lanjutnya sambil mengunyah kentang.

Pria ini 7 tahun lebih tua dariku, dan brewokan. Tapi entah kenapa, bagiku tingkah lakunya menggemaskan sekali.

"Kenapa tadi gak sarapan?" tanyaku.

"Aku nggak biasa sarapan berat, biasanya cuma apel sama susu."

"Jadi tadi pagi nggak sarapan, karena apelnya dikasih ke aku?" tanyaku dan dia mengangguk. "Kalau sakit, gimana?"

"Aku nggak gampang sakit, kok." Jawabannya membuatku mendengus kesal.

"Oke-oke, mulai besok kita sarapan bareng," janjinya.

"Better," komentarku.

Kami fokus pada makanan masing-masing selama beberapa saat, walau pikiranku gak berhenti memunculkan pertanyaan baru tentang Ares. Dan karena dia sudah mengutarakan niatnya untuk mendekatiku, maka aku gak akan menahan diri untuk bertanya padanya. He better be ready.

"Boleh aku tanya?"

Ares mengangguk sambil menyeruput minumannya.

"Ares tinggal sendiri, keluarga di mana?" tanyaku.

"Aku belum berkeluarga, Mariska," jawabnya.

Aku memutar bola mataku. "Ya tau. Kalo kamu udah berkeluarga, ogah aku berduaan begini sama kamu, bisa-bisa dibilang pelakor," kataku sewot.

Ares tertawa kecil, lalu menghela napas panjang. Sejenak terpampang kesedihan di matanya.

"Gak punya," jawabnya, yang membuatku terdiam seketika.

"Aku nggak paham," gumamku, masa dia dari panti asuhan?

"Papa, Mama, dan adikku, Armilla, meninggal dalam kecelakaan mobil 7 tahun yang lalu," katanya, matanya tak lepas dari cup minumannya.

Rasanya kayak disambar petir, dan aku menelan ludah. "Astaga. Maaf, Ares ... sungguh aku nggak tau, maaf ...," kataku merasa bersalah sambil memegang tangannya.

"Gakpapa, cepat atau lambat kamu akan tau. I'm over it (aku sudah move on)," jawabnya sambil tersenyum, lalu melihat ke arah tangan kami dan senyuman jahil kembali menghiasi wajahnya. "Aku nggak keberatan kasih tau kamu, seneng malah kalau tangan kamu ada di situ," imbuhnya menggodaku, lalu tertawa.

Aku menarik tanganku, tapi dia lebih sigap menahannya, "I need this (Biarin di situ)," ucapnya, wajahku panas rasanya.

"Kalau keluarga Mariska?" tanyanya balik.

"Bapak dan Ibu di Banyuwangi. Mereka sudah sepuh. Aku punya kakak kembar, yang cewek meninggal saat umurnya satu tahun, dan yang cowok meninggal saat umurnya 17 tahun. Sebenernya orang tuaku nggak pengen punya anak lagi, tapi karena kedua kakakku meninggal, bapak dan ibuku merencanakan kehamilan lagi, lalu ada aku. Aku lahir saat ibu berusia 42 tahun. Kehamilan dan persalinan beresiko yang bikin ibu selalu sakit-sakitan sampai sekarang."

"I'm sorry," ucapnya. "Tapi aku yakin mereka nggak akan nyesel, anaknya cantik begini." Aku memutar bola mata dan dia tertawa.

"Ares kok tau aku temennya Renata?"

"Dua setengah tahunan yang lalu aku masih sering main sama Gibran. Tau Gibran kan, pasti?" tanya Ares.

Aku mengangguk, "Kakak sepupunya Renata."

"Iya. Gibran itu sayang banget sama Renata, kalau bukan sepupunya, mungkin bakal terang-terangan dipacarin sama dia," katanya lalu tertawa. "Dulu kan, Renata tinggal di rumah yang di jalan Bulus sama kamu, dan Gibran sering ajak aku ke sana-"

"Pas Ares bilang pernah ketemu aku tadi, maksudnya pas ke sana sama Mas Gibran?" potongku.

Ares menggeleng. "Bahkan saat itu pun, aku sudah ngerasain hal yang sama. Tapi kamu masih polos banget dan kalau aku deketin kamu saat itu, aku kuatir kamu menjauh, secara umur kita beda jauh."

"Tapi aku gak inget Mas Gibran punya temen yang kayak gini," gumamku.

"Yang seganteng ini, maksudnya?" godanya.

Aku memicingkan mata. "That facial hair is quite eye-catching (brewokan kamu itu mencolok), Ares."

Ares tertawa. "Dulu aku gak brewokan begini, Mariska!" celetuknya lalu kembali tertawa.

Malu aku, bodohnyaaaaaa!

"Tapi lebih baik kamu make a move sejak dulu, kalau kamu lakuin itu, aku gak perlu punya kenangan buruk sama si brengsek Marvin," dengusku kesal.

"Mantan?" tanyanya dan aku mengangguk.

"Dulu awal-awal kuliah, semua mau berteman sama aku, sampai aku ketemu Marvin. Kami cuma pacaran 4 bulan dan aku ngegep dia tidur sama cewek lain, kami bertengkar hebat, dia beralasan berbuat begitu karena nggak mau ajak aku aneh-aneh. Aku putusin dia dan dia malah nyebarin rumor buruk tentang aku di kampus. Dia senior dan populer, semua percaya. Jadilah temenku tinggal Renata."

"Sorry," katanya.

"For what (Maaf buat apa)?"

"Aku bodoh banget, kalau tau kamu oke sama selisih usia kita, aku bakal deketin kamu dari dulu. Dulu aku mikir, kalau jodoh aku pasti ketemu kamu lagi. Aku gak nyangka kamu tetap tinggal di situ setelah Renata pindah, salahku juga nggak cari tau. Seandainya kita udah di level ini saat itu, sekarang mungkin kita udah nikah dan punya 2 anak," katanya berandai-andai.

Aku speechless.

Setelah bilang begitu, tanpa menyadari perasaanku yang kacau balau saat ini, dia memakan ayam gorengnya yang terakhir dengan lahap.

"Dengan porsi makan segitu, kok bisa sih kamu nggak gendut?" tanyaku heran. Dia menggedikkan bahunya, mengunyah dan menelan makanannya, lalu menghabiskan minumannya.

"I born this way (takdir), badanku udah begini dari aku SMP," katanya tak acuh.

"Wow, lucky you (Beruntung banget)," kubilang, dan dia senyum manis banget.

"I know you like it (Aku tau kamu suka)," katanya lalu mengedipkan mata.

"Like what (Suka apa)?" tanyaku, bingung dengan maksud ucapannya.

Senyuman hilang dari wajahnya yang berubah menjadi serius dalam sekejap, mata hijaunya menatap mataku dalam-dalam dan dia mencondongkan tubuhnya. "My body," ucapnya.

Oh my God!!
Aku melongo saking syoknya.

"Ngaku gak, kemarin pertama kali lihat aku yang kamu perhatiin duluan apa?" godanya, saat ini gak mungkin cuma mukaku yang merah, tapi pasti sudah menjalar sampai telinga dan leherku.

Aku gak punya nyali buat jawab pertanyaannya. Ares tega!

"Kamu mesum, aku suka." Ya ampun, masih diterusin juga! Bumi, tolong telan akuuu!

Karena nggak kuat saking malunya, kututup wajah dengan kedua tanganku dan mengintip dari sela jari-jariku.

Masih dengan menatapku lekat-lekat Ares merogoh saku celananya, perhatiannya kini teralih ke ponsel di tangannya. Dia melirik ke arahku sebelum menerima telepon.

"Iya, Om? ... Oke, ketemuan di sana aja, kami meluncur," katanya sebelum memasukkan kembali ponsel ke sakunya.

"Yuk, cabut," ajakku sebelum dia ingat apa yang barusan kami bahas.

Dia mengangguk. Kubawa cup es Miloku dan berdiri, aku memilih jalan duluan ke arah parkiran.

Ares membuka kunci mobil dengan remote dan kubuka pintu depan. Sebelum pintu mobil terbuka, Ares yang tanpa kusadari sudah berada di belakangku mendorongnya untuk menutup kembali. Bagian depan tubuhnya bersentuhan dengan punggungku dan dia mencondongkan wajahnya ke samping wajahku.

"You won't get away from this topic (Bahasan ini belum selesai)," bisiknya di telingaku. "Mesum."

Aku pengen nangis.

.

𝕁𝕒𝕟𝕘𝕒𝕟 𝕝𝕦𝕡𝕒

🇰 🇱 🇮 🇰⭐ 🇻 🇴 🇹 🇪 
𝔻𝕒𝕟 𝕥𝕚𝕟𝕘𝕘𝕒𝕝𝕜𝕒𝕟 𝕜𝕠𝕞𝕖𝕟𝕥𝕒𝕣

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com