2. HERAN
Anna membelalakkan matanya. 'Demi apa? Kenapa dia beranggapan kalau ini adalah alam baka?' batinnya heran. "Oh, I'm worst than a grim reaper, Sebastian," ucapnya geram. [Oh, aku lebih menakutkan daripada malaikat pencabut nyawa, Sebastian.]
Sebelum Anna memutar keran shower, Nobel menunduk dan menangis tersedu-sedu, membuat Anna benar-benar tak habis pikir. "I love you, Laura. More than life itself. I don't think I could wait longer, I'm gonna be crazy ...." [Aku mencintaimu lebih daripada hidupku. Aku gak bisa menunggu lebih lama, mau gila rasanya.]
Rengekan Nobel membuat Anna iba, bagaimanapun perasaan yang tumbuh untuk pria itu tak bisa dipungkirinya. Dia meletakkan gagang shower di lantai dan berlutut di hadapan Nobel, lalu meraih pipinya dengan kedua tangan. "Hang on there, Sebastian. If we are fated to be together, love will find a way-" [Sabar, Sebastian. Jodoh gak akan ke mana-]
Ucapannya terpotong saat Nobel memajukan wajahnya dan mengunci bibir Anna dalam sebuah ciuman panas. Anna terlena, memejamkan matanya, menikmati dan membalas ciuman tersebut tanpa menyadari bahwa Monik menyaksikan adegan tersebut.
Hati Monik seolah diiris kemudian dilumuri perasan lemon. Walaupun dia tahu cepat atau lambat ini pasti terjadi, dia tak akan pernah siap. Anna telah membuatnya nyaman, menjadi rumah baginya selama dua tahun ini. Kini, dia terpaksa memantapkan hatinya untuk mengakhiri hubungannya dengan Anna.
Berusaha tak membuat suara sama sekali, juga menahan air matannya supaya tak jatuh. Dia keluar dari kamar tersebut dan berjalan ke arah halaman, kemudian duduk di salah satu kursi plastik berhias kain putih di area resepsi yang masih sepi. Bagaimanapun, hari ini dia harus terlihat ceria, demi Ares dan Mariska.
Dia berusaha menenangkan dirinya dan menggunakan segala kepalsuan untuk menyambut kedatangan tim katering. Tanpa dia sadari, sedari tadi Catur memperhatikan gerak-geriknya. Catur tahu gadis itu sedang sangat sedih, tapi tetap memaksakan senyuman dan sikap ceria.
___Hexa_Liem___
Setelah prosesi akad nikah telah selesai dilaksanakan, semua orang sedang menikmati lezatnya makanan dan minuman dari jasa katering yang dipilih oleh Harlo. Kehilangan napsu makan, Monik malah melipir ke sisi lain dari rumah tersebut dan berusaha mendapat sedikit kedamaian dari zat penenang yang terkandung dalam rokok yang dihisapnya.
Catur duduk di sampingnya. Monik terbatuk sebentar dan hendak mematikan rokoknya, saat Catur berkata, "Bagi satu, dong."
Gerakan Monik terhenti di udara sebelum alisnya terangkat. "Gak usah."
Catur memutar bola matanya. "Mulutku asem, nih."
"Makan sana, atau minum," seloroh Monik kemudian mengisap rokoknya lagi. Di batinnya, dia tak ingin disalahkan kalau sampai Catur sampai kenapa-kenapa setelah mengisap rokok pemberiannya.
Dia tersentak saat rokok di sela jemarinya diambil oleh Catur, kemudian dihisap oleh pria itu. Mata Monik melotot tak percaya, wajahnya terasa panas mendapati ciuman tak langsung tersebut, sementara Catur hanya menatap wajahnya dengan ekspresi datar sembari mengembuskan asap putih itu ke atas.
Sungguh, segalanya akan terasa lebih mudah seandainya dia bisa menganggap Catur ayahnya sendiri, seperti Anna atau Mishka. Apa kata Ares dan Mariska nanti jika mereka mengetahui apa yang ada di pikirannya tentang Catur saat ini?
"Tell me, what took your smile away?" tanya Catur. [Cerita dong, kenapa murung?]
Monik mengambil kembali rokok di tangan Catur dan melempar kotak rokok beserta korek api ke hadapan Catur. Dia mengisapnya dan membiarkan kepulan asap putih keluar dengan berantakan dari mulutnya kala dia menjawab, "That obvious, huh?" [Kelihatan sejelas itu, ya?]
Sembari mengambil sebatang rokok dari kotaknya, Catur mencebik sejenak. "Well, you were good when checking me out earlier," godanya sebelum menyalakan rokoknya. Diamnya Monik membuat Catur tahu bahwa tuduhannya benar. Dia pun terkekeh. [Kamu tadi baik-baik saja pas ngelihatin aku.]
"Gak mau cerita juga gakpapa, kok," tukas Catur sambil mengisap habis rokoknya, kemudian mematikannya di atas sebuah daun yang telah gugur dan mengering di atas paving.
"Aku ... belajar merelakan Anna, biar bahagia sama orang lain yang dia cintai." Monik kaget sendiri dengan gampangnya menyebut dirinya 'aku' di hadapan Catur, biasanya dia tak nyaman menggunakan istilah itu dan lebih memilih 'gue'.
"Oh, nanti akan terbiasa. Udah jadian berapa lama?"
"Dua tahun."
"Masih muda, cantik, pinter, calon dokter. You'll get over her." [Kamu pasti akan move on.]
"Masalahnya aku lesbi, dan picky," gumamnya.
Catur tertawa kecil. "Aku laki-laki tulen, tapi kamu tertarik."
"Hah?!"
"Iya, apa iya?"
Monik mengatupkan mulutnya, tak dapat menyangkal, tapi merasa ini tak pantas dibicarakan. Dia tak mengatakan apapun dan berdiri, lalu meninggalkan Catur sendirian. Dalam hatinya, Catur tahu ini belum saatnya menggoda perempuan lain, biarpun mencari penggantinya adalah hal yang Edna harapkan.
Sepeninggalnya Monik, Catur menghela napas panjang. Dipandanginya kotak rokok dan korek api antik milik Monik yang tertinggal. Pikiran di kepalanya berkecamuk, pasalnya dia tak tahu mengapa Monik begitu menarik perhatiannya, gadis itu mungkin seusia putrinya, dan istrinya yang tengah sekarat membutuhkannya, terlebih Edna menganggap Monik sebagai putrinya sendiri.
___HEXA_LIEM___
Cukup lega karena uneg-unegnya lumayan tersalurkan, sambil berjalan Monik menggelengkan kepalanya. Dia berusaha membangun mood baik dan berjalan menghampiri Mariska yang sedang duduk sendirian di salah satu meja resepsi.
Mata pengantin wanita itu terpaku pada Ares, yang sedang nenyanyikan sebuah lagu cinta sambil menatapnya lekat-lekat dengan penuh cinta dan kekaguman. "God, he turned me on so bad ...," gumamnya, membuat Monik terpingkal gemas. [Astaga, dia bikin aku pengen ....]
Acara pernikahan Ares dan Mariska ditutup dengan melempar buket pengantin wanita, yang ditangkap oleh Mishka, yang saat berbalik badan menemukan Ivan yang sedang berlutut melamarnya. Sungguh, Monik turut bahagia dengan apa yang dialami keluarganya, walaupun hatinya sendiri sedang kacau.
Berikutnya, semua orang melepas keberangkatan Ares dan Mariska untuk berbulan madu. Kendatipun mereka tak mengatakan kemana akan pergi, dalam benaknya dia tahu, Mariska tak suka bepergian jauh dan mereka pasti hanya berbelan madu di sekitaran kota Surabaya.
Saat itulah Monik masuk ke rumah yang berada dalam kondisi sepi, dan menyelinap masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian, kemudian mengambil kunci Scooter milik Ares. Saat semua orang masih lengah, dia menuntun motor Ares keluar dari pintu pagar.
Namun, sebelum dirinya menaiki Vespa kuning tersebut, sebuah tangan yang mencekal lengannya cukup membuatnya kaget.
Monik sontak menoleh dan mendapati Catur yang kini telah mengganti pakaiannya ke sebuah ripped jeans dan sweater. Biarpun telah berubah warna menjadi abu-abu karena dimakan usia, gaya rambut kekinian yang sengaja dibiarkan memiliki messy look, ditunjang dengan postur tinggi dan berotot, juga wajahnya yang tampan, semua wanita pasti setuju jika pria berusia 62 tahun itu sangat menarik.
Catur mengenakan helm di tangannya dan memberikan helm lain pada Monik sambil duduk di jok motor. "Aku anter. Mau ke mana?"
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com