Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

84. PENDALAMAN

Aku cuma minta satu aja, selalu, VOTE SAMA KOMENNYA TOLONG JANGAN PELIT, YA. PLEASE.
Aku ngetik sampe jempolku udah mati rasa, loh. Masa iya kalian komen beberapa kata di cerita ini aja nggak bisa? (⁠╥⁠﹏⁠╥⁠)

Tolong, beri aku suntikan semangatlah. Huhuhu. Suntikan dana sekalian juga dipersilakan. Hihi. /woi 🤣

SELAMAT MEMBACA. ❤️

___
__
_

Usai menyimak keseluruhan cerita dari Nando, sebagian dari kami menunjukkan reaksi yang berbeda-beda. Terutama Arima yang sangat jelas memperlihatkan kenggak-sukaannya. Tampak geram, dengan kedua alis lebatnya yang menekuk ke bawah. Menambah kesan dirinya yang tengah menelan kekesalan.

Cowok si Jofan ini menarik napas panjang lalu buka suara, "Selain suka anjing, ternyata Julian bisa jadi anjing juga, ya."

Komentar sinis itu langsung mendapat teguran. "Rima!" Dari Jofan yang bisa bereaksi lebih santai.

"Emang iya, kok. Salahku apa bilang begitu?" balas Arima sambil mendelik. "Kalo Ian Nando putus baik-baik, aku bisa maklum, Manda. Loh, yang ini? Dia selingkuh, terus seenaknya mutusin Nando setelah Nando udah jauh-jauh datang buat nemuin dia. DI SINGAPURA. Effort, tenaga, modal, risikonya. Seenggaknya kalo emang Julian mau ganti pacar, putusin Nando duluan 'kan bisa. Supaya Nando jadi gak perlu repot-repot datang ke sana. Buang uang, buang waktu, buang tenaga. Dibikin sakit hati berlipat-lipat kali!" sambungnya dengan nada menggebu-gebu. Membuat pacarnya nggak mampu menampik segala hal yang dirinya utarakan.

Sikap tegas seorang Arima mulai muncul. Dan asli, lumayan serem juga. Selama ini gue cuma melihat Arima sebagai cowok usil yang doyan cengengesan, sih. Nggak nyangka kalo dia lagi marah, ternyata satu-dua nakutinnya macam si Bangsat.

"Anjing!" maki Arima seraya meninju lantai sampe bikin Jofan sigap memegangi. "Gue jadi mau ngehajar itu cowok. HP mana, sih? Mau gue telepon dia--"

"Ar, please!" cegah Nando dibarengi gelengan kepala. "Jangan bikin gue nyesel karena akhirnya memutuskan untuk ceritain ini ke kalian. Gue cerita, biar kalian tau. Supaya kalian paham bahwa gue dan Ian udah gak bisa sama-sama. Gak berarti gue minta kalian untuk benci ke Ian. Gimana pun juga dia tetap temen kita, 'kan? AJAJA gak akan bertahan tanpa bakat dari Ian. Jangan lupain itu!" ungkapnya berusaha meredam amarah Arima yang terlihat mendecak nggak peduli. "Nih, ya. Elo dan Jofan, misalkan putus. Gak mungkin 'kan seterusnya malah kita musuhin?"

"Tergantung putusnya karena apa dulu!" Arima merespons dengan suara yang kian meninggi. "Masalahnya dia selingkuh dari elo, Arnando! Itu yang bikin gue gak bisa terima! Gue dulu udah pernah putus sama Manda, kan. Tapi akhirnya hubungan kami balik baik lagi. Karena problemnya emang dari diri kami sendiri. Nah, Julian ini? Dia mutusin elo tanpa mikirin perasaan elo! PADAHAL SADAR KALIAN UDAH SAMA-SAMA SELAMA 6 TAHUN! COBA PIKIRIN!"

Skakmat. Nando nggak mampu berkata lebih jauh untuk menanggapi kalimat Arima yang dilontarkan dengan ekspresi yang cukup menakutkan. Ini cowok sekalinya marah nggak main-main, ya. Pantesan aja dia yang ditunjuk menjadi leader AJAJA sebagai pengganti Saga--selaku ketua JAJAJA di masa SMP.

"Aku setuju." Zyas tiba-tiba nimbrung. "Like, kamu mau ngapain aja silakan, deh. Mutusin aku silakan. Nge-ghosting, ninggalin. Entah karena bosen, udah gak cinta, ya udah. Bilang aja, nggak apa-apa, kok. Tapi jangan coba-coba selingkuh, ya. Sumpah itu tindakan paling biadab dan sangat-sangat nggak bisa ditolerir," ujarnya diakhiri gerakkan telunjuk ke kanan dan kiri berkali-kali.

Nando mengembuskan napas lelah seraya mengangguk. "Gue paham hal itu juga, kok. Makanya, gue bilang ini semua pun supaya kalian tau bahwa gue nggak akan ngasih kesempatan kedua dalam hubungan kami. Semisal kemungkinannya masih ada. Suatu hari. Tapi nggak berarti gue minta kalian untuk musuhin dan ngejauhin Ian juga."

"Maksudnya, elo nggak akan mau balikan sama Julian?" tanya Jofan atas penjelasan barusan.

"Iya." Nando tersenyum penuh keyakinan.

"Bagus!" timpal gue setuju. "Emang harusnya begitu."

"Meski elo masih cinta?" Ajay turut bertanya, "Gimana kalo ternyata Julian cuma terbawa perasaan di lingkungan barunya, Nand? Dia nanti mungkin bakal menyesal lalu mencoba masuk kembali ke dalam kehidupan elo."

Sejenak, Nando tercenung. Sebelum kemudian menggelengkan kepala tanpa keraguan. "Tetep nggak akan ada yang berubah, Jay. Apalagi gue udah mikirin ini berbulan-bulan. Mulai dari; bertanya-tanya kenapa, apa yang harus gue lakukan setelah putus, sampe mempertimbangkan kemungkinan jika sewaktu-waktu kami balikan. Dan gue nggak bisa. Karena gue pikir, satu kali--BARU SATU KALI--gue dikhianatin sama Ian aja sakitnya udah begini. Gimana jadinya kalo gue ngasih dia kesempatan yang cuma bakal bikin gue dapat sakitnya untuk kedua kali? Worse, mungkin berkali-kali?" Dia menerangkan yang semata-mata membuat kami semua mampu memahami.

"Once a cheater, always a cheater, huh." Benjo untuk pertama kalinya ikut bersuara.

Nando menggangguk-angguk, tersenyum getir ketika berkata, "Sedikit, gue paham kenapa Ian akhirnya mutusin hubungan kami, kok. Selingkuh dan memilih mengenalkan pacar barunya. Itu semua ... karena gue juga salah. Sebab gue nggak kunjung siap diajak coming out ke keluarga kami masing-masing. Sedangkan cowok baru Ian nggak punya kendala itu. Jadi yah, nggak heran kalo misalkan Ian lebih milih ngenalin cowok barunya. Keluarganya tau, keluarga pacarnya tau. Beres. Mana anaknya juga manis banget. Dia 'kan sempat ketemu gue untuk minta maaf sampe gue buat marah pun jadi gak bisa. Ian dan Chan--pacarnya, sama-sama minta maaf ke gue secara tulus dan bersungguh-sungguh. Bikin gue mikir cukup lama. Merasa bahwa mereka cocok dan mungkin ... mereka emang ditakdirkan untuk bertemu. Yang sekaligus menyadarkan gue bahwa mustahil gue bisa merebut Ian kembali ke dalam kehidupan gue. Menyakitkan. Tapi mau gimana lagi?

"Dibanding gue yang selama 6 tahun kami pacaran nggak juga punya keberanian, 'kan. Soalnya gue tau, keluarga gue orangnya kayak apa. Kalian juga perlu tau, alasan kenapa Mami dan Papi gue ngirim gue kuliah ke Yogyakarta. Mencar dari kalian semua. Itu karena mereka tau, bahwa dengan memisahkan gue dari kalian, mungkin aja ... gue bisa sembuh."

Penjelasan yang dituturkan Nando sukses mendatangkan kejutan bagi kami. Terutama Arima dan Jofan yang mendelik nggak percaya.

"Hah?" Arima terlihat terperangah.

"Maksudnya, Tante Nayla udah tau bahwa lo--"

"Sejak sebelum kita lulus SMA, Fan," potong Nando menjawab tanya yang belum usai Jofan katakan. "Sejak tahun lalu. Tapi, gue nggak berani cerita apa pun ke kalian karena takut kalian malah ngerasa bersalah atau malah benci ke gue."

"Itu juga alasan kenapa elo jadi jarang nimbrung di grup dan menghindari ketemuan sama kami meski ada waktu luang?" Ajay bertanya lagi.

Nando menunduk dengan dalam, menganggukkan kepala lemah. "Iya. Soalnya Mami ... ngelarang." Dia menarik napas panjang lalu mengungkapkan, "Puncaknya menuju pergantian tahun, akhirnya gue memutuskan untuk mengaku. That I'm gay and this is me. And it ain't some contagious disease which can be cured. I told them next about my relationship with Ian either. So, that's why ..."

"Elo datang ke Singapura untuk ngasih tau itu ke Julian."

Kesimpulan yang Dyas sampaikan membuat kami menatap penuh kaget. Beralih lagi pada Nando yang kembali menegakkan kepala, mengangguk sekali lagi dengan gerakan kian laun.

ANJRIT! BENERAN?

"Yes. But turns out, I'm already too late." Ada banyak penyesalan yang terpancar dari senyum di bibir Nando.

"Jadi, elo udah coming out?"

"Iya, udah."  Nando menjawab tanya Setya barusan. "Anehnya, mereka keliatan setuju dan nerima aja--lebih ke pasrah kali, ya. Apalagi setelah mereka tau Ian yang ternyata jadi pacar gue. Tapi sialannya, mereka juga malah seneng saat tau gue diputusin Ian sepulangnya dari Singapura. Katanya, gue jadi bisa fokus kuliah daripada galau gara-gara LDR-an terus," keluhnya diakhiri dengkusan pelan dengan ekspresi sok marah yang lucu.

"Dan Julian masih nggak tau bahwa elo udah coming out?" Ajay memastikan.

Nando mengangkat kedua bahunya. "Gue belum sempat bilang, Jay. Biarin aja. Dia gak perlu tau, kok. Gue juga udah gak ngebutuhin dia lagi. It's okay." Cengiran ceria dia muncul. Seolah ingin meyakinkan kami bahwa dia bersungguh-sungguh atas kalimatnya. "Gue cuma berharap, suatu hari gue bisa nemuin cowok baru. Walau yakin move on-nya bakal cukup susah, sih. Tapi gak ada salahnya berusaha mencari, 'kan. Gak perlu lebih dari Ian asalkan dia setia dan--"

"Nggak macam batu sungai!" Gue menimpali.

"Lebih ekspresif!" Setya ikutan.

"Jangan cuma bisanya keselek doang." Tambah gue lagi.

"Gak usah sok puitis kalo ujung-ujungnya selingkuh juga!" Ini dari Arima.

"Minimal lebih tinggi!" Dyas nimbrung juga.

"Lebih ganteng!" imbuh Jofan penuh semangat.

"Itunya juga harus lebih gede!" Zyas turut bersuara yang malah bikin fokus kami buyar seketika.

"Apanya yang gede?" tanya Nando dengan raut geli yang cuma dibalas senyuman penuh arti Zyas.

"Nyalinya! Maksud aku, Nand." Zyas memperjelas yang nggak semata-mata dapat dipercaya.

Dia pikir kami nggak mampu mengerti isi di dalam otak kotornya?

"Nyalinya di ranjang, 'kan?" Setya membetulkan.

Makin-makin aja si Zyas terkikik genit. "Yah, kalian paham maksud aku apalah, ya."

Berkat itu, tawa heboh Arnando terdengar memenuhi ruangan ini. "Thank you, guys. Really. Lagian jadi jomlo nggak terlalu menyedihkan juga kalo gue punya teman-teman yang asik kayak kalian. Makasih, ya." Dia mengedipkan mata yang sumpah asli manis abis.

HATI SI JULIAN PASTI TERLANJUR KOTOR KETUTUPAN TAIK KUCING SAMPE BISA-BISANYA MILIH UNTUK NINGGALIN COWOK SECAKEP INI.

"Andai aja kamu bukan bottom, Nand. Aku siap lahir batin menjadi pengganti Julian, kok." Masih dengan sifat genitnya, Zyas menggoda Nando.

Alhasil Nando jadi ngakak lagi. "Yang ada elo sama gue cuma bakal maskeran bareng, Zy."

"Hahaha!" Dan komentar itu bikin tawa dia menular ke kami.

"Atau rebutan lipstik," celetuk Setya masih sambil ketawa.

"Nyalon bareng juga bisa, tuh!" Jofan menyambungkan.

"Ih! Cucok, deh!" pekik Zyas girang seraya bertepuk tangan. "Nanti besok kita ke salon, yuk. Aku yang bayarin, deh. Hitung-hitung sebagai sambutan aku buat Nando ke dalam klub jomlo ngenes." Nando ditunjuk. "Kamu, aku, sama Ajay. Adam juga sekalian."

"Hah? Gue?" Adam terlonjak, nggak menyangka jika namanya akan ikut terseret. "No, thanks. Besok gue harus kerja," tolaknya secara halus disertai senyum yang keliatan nggak nyaman.

Ya, iyalah. Cowok macam dia mana mau diajak pergi ke salon. Kan tempat favorit dia Gym sama klub malam. Merayu cewek-cewek untuk diajak mesra-mesraan satu malam, terus ditinggal. Ini Saga yang bilang, ya. Makanya gue tau.

"Gue udah ada gebetan," desis Ajay mengingatkan.

"Baru gebetan, 'kan?" balas Zyas tampak meremehkan. "Jadiannya gak tau kapan."

"Emang suka nggak sadar diri ini bencong! Minimal ngaca!" Setya langsung menyindir yang sukses bikin Zyas mati kutu.

Gue dan Arima spontan menertawakan sambil menunjuk-nunjuk Zyas yang hanya bisa manyun.

"Emangnya elo masih jomlo, Zy?" Nando mempertanyakan selagi memandang Benjo dan Zyas bergantian. "Belum jadian juga kalian? Sampe sekarang?"

"Gak tau. Tanya aja sama dia." Sosok Benjo disenggol oleh Zyas. "Entah kapan dia mau mulai meresmikan hubungan kami."

"Mungkin itu tandanya elo harus mulai nyari gebetan baru. Daripada buang-buang waktu. Sekadar saran, sih." Dyas buka suara yang sontak membikin Benjo meliriknya kurang senang.

"Tuh, Benjo! Dengerin!" bisik Zyas sembari mengarahkan telunjuknya yang cantik pada hidung mancung Benjo yang masih aja diam. "Nanti aku bakal nyari gebetan baru aja, ya. Gimana?"

Benjo akhirnya mengerling Zyas dengan ekspresi nggak suka. "Janganlah. Seenaknya aja elo mau ganti gebetan!" larangnya yang serta-merta mendatangkan rona merah pada paras Zyas yang kontan menjatuhkan kepala ke pangkuannya. Meleleh ceritanya. Mana dikasih usapan lembut segala dari Benjo.

"Cieeeee!" Serempak kami pun menyoraki. Kecuali Dyas yang justru memutar bola mata.

"Alah, kelamaan!" protes Setya yang lanjut mengompori, "Buruan resmiin hubungan kalian, deh. Sebelum Zyas nanti ada yang ngerebut."

"Atau nanti si Zyas keburu dijadiin iblis bencong sama Muzan buat berburu para top tukang PHP kayak lo," sambung gue dibarengi ejekan.

Arima sontak bergerak-gerak sok gelisah. "Hii, maji kowai~ pasti bentuknya mengerikan banget wujud iblis si Zyas."

"Cocok, sih." Dyas pun setuju.

"Mana kebayang lagi." Ajay berkomentar sambil cekikikan.

Melihat itu, Zyas pun kembali menegakkan badan untuk lantas memelototi kami. "Kenapa, sih? Selalu aja aku yang kalian tindas? Mentang-mentang aku paling cantik. Iri terus kalian sama aku!"

"Najis!" Tuduhan itu secara gamblang gue tampik. Alhasil gue dan Zyas beradu pelototan kesumat. Berakhir dengan Benjo yang menarik lagi kepala Zyas ke pangkuannya.

HADEEEUH! SEGITU BELUM JADIAN, TAPI UDAH BIKIN GREGETAN!

"Coba sesekali elo ikut casting, Nand. Muka lo cocok buat jadi artis."

Usul dadakan dari Ajay membuat Nando terkekeh kikuk. "Gue nggak bisa akting, anjir."

"Belajar sama Setya aja," sambung gue menyarankan. "Dia paling jago akting, tuh. Sampe berhasil ngebodohin gue berbulan-bulan bareng si Vano."

Dyas terdengar menyemburkan tawa tertahan ke arah gue. "Bukannya elo emang udah bodoh dari sananya, ya?"

Ucapan kurang ajar itu terang aja menjadikan gue bahan tertawaan.

"Bangke!" sembur gue nggak terima sambil mengacungkan jari telunjuk pada Dyas.

Jari telunjuk. Soalnya kalo jari tengah pamali. Takut membatalkan puasa.

"Rasanya udah lama banget sejak terakhir kali gue ketawa begini lagi. Gue bener-bener bersyukur punya kalian sebagai sahabat gue," ungkap Nando usai reda dari tawa disertai senyum tulus yang melegakan untuk dilihat.

Rela deh gue dijadiin badut terus-terusan asalkan bisa menghibur dan bikin sahabat gue ketawa. Ketimbang ngeliat mereka sedih dan galau berkepanjangan 'kan.

"Di Yogya, emangnya elo gak ada temen?" Arima bertanya sesudah membaringkan kepalanya ke paha Jofan yang sigap memberi dia belaian.

ANJRIT, YA! PACAR GUE JAUH, WOI! Gue juga 'kan kangen membelai dan dibelai.

"Ada. Tapi mereka tetep nggak seasik kalian," jawab Nando lalu meringis. "Mana sebagian dari mereka juga begitu. Terlalu nunjukin terang-terangan kalo mereka suka ke gue. Jadi guenya risih."

"Justru lebih aneh kalo elo sampe gak ada yang suka," komentar Arima yang disetujui penuh oleh Jofan.

"Betul, tuh."

"Tapi jangan sampe elo kegoda sama bentukan yang mirip-mirip Julian lagi aja, deh." Setya mencetuskan.

"Jujur aja, kayaknya gue emang nggak bakal tertarik sama cowok pendiam lagi. Mendingan nyari yang sesifat sama gue sekalian. Jadi kami bisa-bisa sama-sama terbuka dan mengekspresikan apa aja yang kami rasakan di mana pun kami berada." Arnando nyengir. "Yang penting, dia harus udah coming out juga ke keluarganya. Biar lebih sedikit rintangannya."

"Dan elo nggak perlu jadi penerjemah lagi."

Celetukan gue bikin Nando terkekeh. "Sebetulnya, itu salah satu bagian paling asiknya, sih."

"Haduuh, bibit-bibit bucinnya masih nyisa, tuh. Buang habis buruan, Nand. Gak bagus buat elo. Bakal gagal move on elo nanti!" hardik Arima memerintahkan.

Secara spontan, Nando langsung membuat pose ala Budha. "Amitabha. Mohon doanya dari kalian semua." Nggak lupa membungkukkan badan pula.

Melihatnya, terang aja kami ngakak. Gemes banget ini cowok. Yakin, deh. Dia bisa menggaet siapa aja sosok cowok yang akan menjadi pengganti Julian nanti. Malahan mungkin, sosok itu bakalan datang dengan sendirinya.

"Kalo sampe tahun depan Nando masih belum bisa move on, berarti Julian make pelet, ya."

Tawa kami yang baru reda jadi membahana lagi gara-gara Zyas.

"Di Yogya banyak cowok cakep nggak, Nand?"

"Banyak, dong." Nando merespons tanya Zyas sambil menaik-turunkan alisnya. "Tapi gue nggak tertarik punya pacar orang sana. Kalo bisa, gue pengin nyari pacar di Jakarta aja."

Gue mengernyit. "Berarti kalian bakal LDR lagi dong, kalo elo nyari pacarnya di sini. Sedangkan elo bakalan lebih lama tinggal di Yogya selama kuliah, 'kan."

Penuturan gue dibalas cengiran. "Mulai semester tiga nanti, gue bakal pindah, kok. Kuliah di sini."

"Di mana?" Kompak Arima dan Jofan menanyakan. "IKJ?" tebak Jofan penuh harap.

"Yep. Buat nemenin elo."

"Yes!" Jawaban Nando membuat Jofan bersorak senang. "Yeeey, akhirnya aku bakal punya teman deket di kampus, Rima!" ujarnya pada sang kekasih yang ikut terlihat senang.

"Iya. Aku turut seneng buat kamu." Kepala Jofan diacak-acak dengan gemas oleh Arima.

"Biar gue juga bisa sering-sering main bareng kalian. Cari hiburan, nongkrong. Toh Mami dan Papi udah tau sekarang. Gak ada yang harus gue tutup-tutupin lagi," lanjut Nando menjelaskan.

"Dan kita bisa sering-sering ke salon bareng!" seru Zyas penuh semangat.

Salon melulu yang dipikirin. Heran gue. Kulit dan muka udah se-glowing itu, mau apa lagi yang dirawat coba.

"Postingan elo sama Julian udah dihapusin semua, ya? Di FB, IG."

Heh? Beneran? Pertanyaan Ajay yang tengah memainkan HP yang ditujukan untuk Nando serta-merta mengundang rasa kepo gue. Buru-buru menarik HP dari kantong celana untuk mengecek akun media sosial Nando. Diikuti oleh anak-anak lain--kecuali Dyas, Adam, Benjo dan Nando sendiri.

"Iya, udah." Nando menjawab dengan santai. "Buat apa dipajang terus. Udah gak ada artinya juga. Malah bikin membatin aja."

"Membatin gimana, tuh?"

"PADAHAL KUKIRA DIA JODOHKU, TERNYATA SELAMA INI AKU MENJAGA JODOH ORANG LAIN." Arima menjawab tanya Setya dengan nada dramatis yang cempreng.

"HAHAHA!" Lagi, membuat kami ngakak untuk ke sekian kali.

"Halah. Belum tentu sama pacar barunya juga bakal berjodoh!" sindir Arima.

"Iya. Siapa tau nanti dia selingkuh lagi. Atau gantian diselingkuhin," imbuh gue yang kontan diberi acungan jempol dari Arima.

Kayaknya kami berdua nih yang paling kentara masih kesalnya sama kelakuan Julian.

"Kalian julid banget, sih," desis Nando terlihat kurang setuju. "Gak baik loh ngasih harapan jelek-jelek begitu. Nanti berbalik ke kalian sendiri."

"Dih, amit-amit!" Refleks aja gue bergidik nggak nyaman usai mendengar nasehat dari Nando tadi.

Ampun, Ya Allah. Gue tarik semua perkataan jelek gue buat Julian, deh. Sebagai gantinya, gue doain semoga dia sama cowok barunya langgeng. Walau aslinya nggak ikhlas banget.

"Aduh, Feryan. Kamu mending jangan ngeliat, deh."

"Hah? Gimana?" Ucapan membingungkan yang mendadak Zyas sampaikan bikin gue mengernyit nggak paham. "Apa?"

Zyas menaruh HP miliknya lalu menunjuk HP yang gue pegang. "Coba cek story IG terbaru cowok kamu."

Nggak cuma gue yang menuruti titah dari Zyas, tetapi yang lain juga. Bahkan Nando. Beralih dari Facebook menuju Instagram. Mengklik akun pertama di jajaran daftar teman yang membuat story, yaitu akun juandasaga77. Cowok gue. Yang terlihat tengah menggendong Daniel di punggungnya sambil memegangi tembakan air di tangan mereka masing-masing. Ekspresinya tampak sangat girang pula.

NGESELIN BANGET, ANJIR!

"Dilihat-lihat, emang Saga sering banget barengan sama itu cowok. Namanya Daniel."

Penuturan Dyas membuat gue beralih menatapnya. "Elo tau sesuatu soal dia, Dy?"

"Nothing."

Hadeeeuh. Setara Dyas aja bisa-bisanya nggak tau apa-apa. Penasaran banget padahal gue sama si Daniel ini.

"Tapi dari yang aku lihat, si Daniel ini straight, deh," ungkap Zyas dan tersenyum. "Jadi kayaknya gak ada yang perlu kamu cemasin, Feryan. Radar aku gak pernah salah menilai kebelokan seseorang."

Hmmm. Apa iya? Masih nggak yakin gue. Soalnya gue dulu juga nggak sadar diri gue belok, tuh. Sampe kemudian hati dan otak ini menyadari sisi belok gue gara-gara pesona seorang Juanda Andromano Saga Fransiskus.

"Atau kalo emang elo segitunya gak suka ngeliat kedekatan mereka, elo tinggal bilang aja sama Juanda."

"Ya, terus habis itu mereka malah diam-diam makin lengket tanpa sepengetahuan Feryan." Usulan dari Setya segera didebat oleh Arima yang semata-mata membuat isi pikiran gue makin runyam.

"Guys, stop it. Kalian malah tambah bikin Feryan overthinking tau, gak!" Teguran dari Nando seketika menjadikan gue pusat perhatian.

"Gak usah terlalu dipikirin, Fer. Elo 'kan tau sendiri Saga sebucin apa ke elo selama ini," ujar Adam yang diikuti anggukkan setuju dari Jofan dan Ajay.

"Tapi Nando aja bahkan bisa diselingkuhin sama Julian," kata gue nggak bisa menahan diri lagi dari pemikiran gue mengenai hal itu. "Kalian juga tau sendiri selama ini Julian sebucin apa sama Nando."

Mendengarnya, Nando keliatan sedih. "Elo jangan nyamain Saga sama Ian, lah, Fer. Saga bisa aja sedih--atau malah marah--kalo tau elo malah menyamakan dia dengan Ian saat jelas-jelas Saga masih sangat setia ke elo," ungkapnya amat bijak sampe bikin gue malu sendiri. "Saga begitu sama cowok bernama Daniel juga toh hanya sebatas temen. Gue sama Jofan dan Ajay juga sering saling gendong, rangkulan. Karena kami temen, 'kan. Gak lebih."

Masuk akal emang, sih. Gue, Setya dan Zyas juga suka begitu.

Dyas berdeham untuk mulai turut menyampaikan pendapat. "Jangan pernah punya keraguan semacam itu terhadap Saga. Sebab alam bisa mendengar dan mengubah prasangka elo menjadi kenyataan. Saran gue, jangan terlalu dijadiin beban pikiran. Nanti malah elo yang stres sendiri. Lagi pula, gue dan yang lain sangat yakin bahwa Saga bukan tipe cowok macam itu."

Sekali lagi, anggukkan setuju diperlihatkan oleh beberapa orang atas kalimat tadi.

"Tapi sejak dulu Juanda udah terkenal sisi playboy-nya, 'kan. Bahkan di SMA. Kalo ujung-ujungnya dia bosan sama lo juga udah nggak aneh, sih."

"BENJO!" Setya refleks membentak dengan lantang setelah Benjo melontarkan komentar yang sangat mempengaruhi pikiran jelek gue itu. "Jaga mulut elo, ya! Atau elo mau gue hajar lagi kayak dulu?" ancamnya seraya menunjuk Benjo penuh sorot murka.

Gue lihat yang lain pun jadi ikutan memandang Benjo kesal.

"Gak usah dengerin omongan bajingan itu, Fer!" Ini Dyas yang bicara.

"Iya!" Zyas menimpali dan mendorong dada Benjo cukup kasar. "Kamu kenapa jahat banget, sih! Aku gak suka ya kalo kamu kayak gini," omelnya pada Benjo yang seketika bikin gue merasa nggak enak.

Hadeeeuh. Masa iya cuma demi membela gue, mereka malah ribut, sih? Padahal ini terjadi murni disebabkan oleh diri gue yang emang lemah. Gampang terbawa perasaan dan pikiran buruk sendiri.

"I'm sorry, okay? Gue nggak ada maksud--"

"UDAH! DIEM KALIAN SEMUA!" gertak gue memotong ucapan Benjo sambil mulai berdiri dari sofa lalu berkacak pinggang. "Ngapain juga kita malah mikirin si Bangsat. Kan kita di sini tujuannya buat menghibur Nando dan buka bareng." Gue nyengir lebih dulu pada Nando sebelum meneruskan, "Udah. Lupain aja. Maaf udah bikin kalian ribut gara-gara overthinking gue yang nggak penting. Mendingan kita buruan masak. Atau kalian yang lagi gak puasa bisa makan duluan. Masak Indomie Goreng yang Arima bawa. Habis itu, baru kita lanjut masak. Sana, sana, sana!"

Gagasan itu membuat seseorang langsung bersemangat. "Nah, gue setuju, tuh! Ayo, Manda. Kita masak Indomie."

Ajakan itu ditolak secara halus. "Kan aku puasa, Rima." Jofan tersenyum kikuk.

"Oh iya, lupa." Arima tertunduk lemas. "Ya udah. Karena Manda puasa, gue juga bakalan ikut puasa," katanya yang bikin gue menggerutu sebal.

"Halah, bacot! Gue yakin tadi pagi elo udah makan banyak!"

"Diam-diam elo memantau gue ya, Fer."

"Gak perlu dipantau juga udah keliatan jelas dari muka lo!" balas gue sengit atas tuduhan nggak berbobot Arima.

Sekarang, mereka semua jadi sibuk masak Indomie sama-sama di dapur rumah ini. Kecuali Dyas yang sekadar duduk menunggu di meja makan sembari menitah Zyas untuk nggak lupa membuatkan dia mie goreng juga. Menjadikan kakak kembarnya itu misuh-misuh gara-gara berebut giliran memasak duluan bareng Arima dan Adam. Dengan Adam yang untungnya dibantu oleh Nando kemudian. Akhirnya Adam memasukkan Indomie miliknya ke wajan yang Nando pakai. Masak bersama sambil saling mengobrol entah apa. Sementara Arima dan Zyas masih aja beradu bacot entah meributkan apa lagi.

"Yang puasa berlima, yang nggak puasa berlima juga," gumam gue lesu lantas melihat jam pada layar HP. Udah hampir jam 3.

Selepasnya, gue mengedarkan pandangan. Pada Ajay, Setya, Jofan dan Benjo selaku sesama tim muslim. Menyadari pula Benjo yang sedari tadi terus melihat kemari.

"Apa?" todong gue bertanya dengan nggak santai pada mantan ketua kelas gue ini. "Ada lagi yang mau elo bilang ke gue?"

Arbenjo menghela napas. "Sorry. Gue akui kata-kata gue ke elo tadi cukup keterlaluan. Gue bilang begitu karena sedikit masih punya dendam ke cowok lo. Ke Juanda. Karena elo selaku gebetan gue dulu, suka ke dia. Dan Zyas juga ... pernah suka ke dia. Nggak ada maksud lain," jelasnya berterus terang sekaligus meminta maaf. "Gue nggak mau sampe Zyas marah dan benci ke gue karena udah nyakitin hati sahabat yang dia sayang. Elo."

Mendapati penjelasannya, mau nggak mau gue tersenyum. Begitu juga Setya dan yang lain.

"Selama elo sadar salah elo di mana, nggak ada yang perlu dipermasalahkan kok, Ben," ujar gue memberinya cengiran.

Setya berpura-pura batuk seraya menatap Benjo dengan sorot geli. "Ternyata dia minta maaf cuma supaya nggak dibenci, dong. Hmmm. Bau-bau apa ya ini?" selorohnya mengolok-olok Benjo yang sontak terlihat jengah.

"Bau bibit-bibit bucin. Kalo kata Rima!" Jofan menimpali, lalu cekikikan dengan Setya.

Ajay yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sedangkan gue lebih dari puas ngetawain mereka.

.

"Alhamdulillah kenyang."

Gue mendelik malas pada Arima. Yang buka puasa siapa, yang bilang alhamdulillah siapa. Dasar kampret. Meski yang dia katakan emang ada benarnya, sih. Gue juga udah kenyang nih sesudah menghabiskan jatah berbuka gue.

Oh, iya. Menu berbuka puasa kami; tahu, tempe dan telur dadar goreng, ayam bumbu kecap, tumis labu dan buncis, ikan goreng pedas, udang asam manis campur jamur enoki dan brokoli, perkedel kentang, sambal hijau, sayur sop isi daging sapi. Nggak ketinggalan oseng Indomie goreng sawinya juga. Minumnya ada beberapa botol Teh Pucuk, minuman bersoda di kaleng, hingga es buah yang rasanya asli mantul banget. Masih sisa banyak pula, tuh. Nanti rencananya mau gue bawa pulang buat dikasihin ke Mamah.

"Masakan elo ternyata lumayan juga, Set," komentar Arima seraya mencomot udang yang tersisa di piringnya.

"Kan aku bilang juga apa," ucap Jofan yang masih belum selesai makan.

Dia kalo makan emang yang paling lama. Kebalikan sama cowoknya.

"Kak Adam juga." Nando nggak ketinggalan memuji Adam yang kebetulan duduk di sebelahnya.

Bikin kakak sepupu pacar gue itu tersenyum bangga. "Gue belajar banyak dari Mas Jimmy dan Saga selama di sini. Karena seperti apa kata mereka, sebenarnya masak itu nggak susah."

"Emang nggak susah, kok," celetuk Arima belagu yang spontan gue sahuti.

"Iya. Soalnya elo cuma bisa masak Indomie!"

"Tau aja lo!" balasnya santai dibarengi cengiran.

Melihatnya, gue ngakak. "Ada cabe nyangkut tuh di gigi elo!" tunjuk gue ke Arima yang langsung aja mingkem.

Sementara kami semua kompak menertawakan dia. Termasuk Jofan yang sampe hampir terjengkang. Untung aja Arima sigap menahan badannya.

"Di sini ada gitar nggak, ya?" Nando bertanya setelah selesai menumpuk piring kotor di ujung meja dibantu oleh Adam. "Kayaknya asik kalo kita nyanyi-nyanyi. Sekalian nunggu waktu Isya. Kalian mau pada taraweh, 'kan?"

"Gue kayaknya nggak, deh. Capek. Kalian mau taraweh?" tanya gue alihkan pada teman sesama muslim yang lain, yang juga menggeleng-gelengkan kepala.

"Gue malah mesti balik sekarang." Kecuali Ajay yang kini berdiri seraya memperlihatkan layar HP-nya. "Ayah udah nge-WA. Nyuruh gue pulang buat pergi taraweh bareng. Takut macet nanti di jalan, jadi gue mau pulang sekarang aja."

"Terus, Nando nanti gimana pulangnya?" Jofan menunjuk Nando yang sedang mengisi gelasnya dengan es buah. "Kan gak mungkin dia bonceng bertiga sama gue dan Rima. Jok Scoopy sempit."

"Dia bisa pulang bareng gue."

Tawaran Dyas membikin Nando urung meminum air es buahnya. "Tapi rumah kita 'kan nggak searah, Dy. Ditambah elo juga nanti harus ngantar Feryan sama Setya dulu."

Bener juga. "Sama Zyas Benjo? Kalian pake mobil, 'kan?" cetus gue yang bikin Zyas dan Benjo berpandangan sebentar.

"Aku sama Benjo rencananya mau jalan habis dari sini. Sorry," ucap Zyas dengan raut menyesal.

Waduh. Gimana, dong?

"Sama gue juga bisa, 'kan?" Adam tiba-tiba bersuara lalu menatap Nando yang tengah mengunyah buah. "Itu juga kalo elo mau."

Nando lebih dulu menelan buah di mulutnya sebelum merespons, "Oh, iya. Kak Adam pulangnya ke rumah Saga, ya?" Dia menggangguk-angguk, setuju atas ajakan itu. "Bolehlah nanti gue nebeng. Kebetulan kalo jalannya ke rumah Saga, masih searah."

"Udah beres, ya. Berarti gue udah boleh pulang." Ajay berpamitan. "Dah."

"Elo nggak mau bawa apaan gitu dari sini? Masih banyak, nih!"

"Nggak usah, Fer. Udah kenyang gue!"

"Ya udah. Hati-hati di jalan, Jay!" Gue melambaikan tangan ke arah Ajay.

"Jay, bentar. Ini, ada yang ketinggalan!" seru Arima usil sembari menunjuk ke tumpukan piring kotor.

"Apa? Piringnya? Gak peduli gue! Elo habisin aja sendiri," balas Ajay yang membalikkan badan sebentar lantas kembali melanjutkan langkahnya.

"Hahaha!" Arima ketawa puas lantaran keisengannya udah dihapal di luar kepala oleh satu-satunya teman straight dia itu.

"Tadi ada yang nanyain gitar 'kan, ya?" Gue mengelap tangan ke celana lantas berdiri.

"Elo ada, Fer?" tanya Jofan, tampak antusias.

"Ada. Saga yang nyimpan. Bentar, gue ambil."

Buru-buru gue melangkah ke rumah. Masuk ke dalam ruang hobi milik Saga yang dipenuhi oleh berbagai macam barang kesukaannya. Termasuk gitar akustik. Yang segera gue ambil dan bawa keluar.

"Nih!"

Jofan bertepuk tangan senang. Sementara Nando secara nggak sabar merentangkan tangan.

"Sini, Fer. Gue duluan. Soalnya gue mau mempersembahkan sebuah lagu."

"Lagu apa, tuh?" tanya Setya sesudah Arnando memangku gitar berwarna cokelat susu di pegangannya.

Selagi membetulkan senar gitar, Nando menjawab, "Gue mau membawakan lagu dari salah satu band favorit gue. Yang akan gue persembahkan untuk ... diri gue sendiri." Dia nyengir. Memainkan senar gitar dari atas ke bawah berkali-kali sebagai percobaan, kemudian mengangguk puas. "Jofan, Setya, dan siapa pun yang bisa nyanyiin lagu ini, tolong bantu temenin gue, ya. Soalnya kalo urusan nyanyi, suara gue nggak begitu bagus," pintanya disertai senyum kikuk.

"Elo nggak diajak ya, Fer!" Arima mengingatkan yang refleks gue hadiahi tendangan.

"Diem lo! Kayak elo sendiri becus aja!"

Petikan gitar mulai dimainkan. Mengalunkan nada dari lagu yang terdengar nggak asing, tapi gue nggak terlalu mengenali. Berbeda dengan yang lain yang tampak mengetahui. Terutama Adam yang sampai keliatan terkesima.

"Come up to meet you, tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are..."

Bait pertama Nando nyanyikan dengan penuh kesungguhan sembari dia memejamkan kedua mata.

"I had to find you, tell you I need you
Tell you I set you apart..."

Selesai dengan bait kedua, Nando membuka mata.

"Tell me your secrets and ask me your questions
Oh, let's go back to the start..."

Jofan menyambungkan. Membuat Nando serta-merta tersenyum.

"Running in circles, coming up tails
Heads on a science apart..."

Masih Jofan. Dan sekarang ...

"Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part..."

Giliran Setya dan suara emasnya yang ambil bagian.

"Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh, take me back to the start."

Bait itu dinyanyikan oleh Arima, Jofan dan Setya secara bersamaan. Membikin kami semua takjub menyaksikan kekompakan vokal merdu mereka. Dilanjutkan lagi oleh petikan gitar selama beberapa saat, sebelum kembali bernyanyi.

"I was just guessing at numbers and figures
Pulling the puzzles apart..."

Benjo turut buka suara, dong. Gak nyangka gue.

"Questions of science, science and progress
Do not speak as loud as my heart..."

Kali ini Zyas.

"But tell me you love me, come back and haunt me
Oh and I rush to the start..."

Nando mengambil bagian lagi, tapi dengan sedikit ekspresi terkejut lantaran Adam yang nggak diduga bergabung dalam bait yang dia nyanyikan.

"Running in circles, chasing our tails
Coming back as we are..."

Kemudian, mereka berdua bernyanyi sambil saling berpandangan.

"Nobody said it was easy
Oh, it's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be so hard
I'm going back to the start..."

Begitu seterusnya sampai petikan gitar Nando diakhiri. Mereka masih aja saling pandang penuh arti seolah nggak menyadari kehadiran kami yang menyaksikan mereka dipenuhi berbagai reaksi saking kami sendiri nggak bisa mengerti. Akan tetapi, gue sendiri pun nggak mampu memungkiri betapa Adam dan Nando memiliki chemistry.

Eh, bentar dulu! Tapi 'kan Adam bukan gay, woi! Yang ada Nando cuma dapat sakit hati jilid kedua kalo tertariknya ke cowok macam Adam, dong. Nggak bisa dibiarin! Sebisanya harus gue cegah, nih.

Masalahnya, emang apa yang bisa gue lakukan untuk mencegah ketertarikan yang dirasakan oleh mereka terhadap satu sama lain?

__see you again at ch. 85

NYAHAHAHAHA! Para pengharap Adam sebagai jodoh Arnando berbahagialah kalian. Soalnya emang Adam udah aku siapin sebagai jodoh Nando sejak awal munculnya. <⁠(⁠ ̄⁠︶⁠ ̄⁠)⁠>

Nggak beda seperti aku yang udah nyiapin Benjo sebagai jodoh Zyas. Pun, Nandran sebagai jodohnya Armetta. Hihihi.

Tenang aja. Semua udah terencana, kok. Gitu aja intinya.
Termasuk putusnya Julian dan Nando, ya. Yang mana, sengaja aku munculkan sebagai bentuk pemancing overthinking Feryan sekaligus bumbu dalam hubungan LDR dia dan Saga.

Terus, aku sempat mikir, 'kan. Kalo Julian sama Nando putus. Alasannya apa? Lalu Nando nanti bakalan sama siapa, dong?

Semula, aku kepengin bikin mereka balikan. Ian dan Nando ini. Tapi putus-nyambung tuh kek udah biasa banget, sih?

"Oh, iya. Hubungan mereka 'kan udah lama. Jadi wajar kalo akhirnya balikan!"

Aduh, basi. Mana Arima dan Jofan juga udah sempat balikan. Alhasil aku memutuskan untuk lebih dibikin nyelekit dan menengok realita di sekitaran lah, ya. Di luar sana, ada orang pacaran 4-9 tahun, ujung-ujungnya putus. Gak ada jodoh sama sekali. Jadinya, ya udah. Nasib Ian dan Nando aku begituin juga. Ueueue

Maaf ya, Julian, Nando. (⁠。⁠ノ⁠ω⁠\⁠。⁠) Dan para IaNando shipper di luar sana. Huhuhu

Habisnya gimana, ya. Menulis sosok Adam sebagai seme idaman seksi yang mustahil dibiarin jomlo kelamaan terlalu menggoda aku. (⁠≧⁠▽⁠≦⁠) /heh

Mana lucu banget 'kan setiap aku ingat kemunculan Adam pertama kali dulu dengan kalian yang mengira dia bakalan jadi orang ketiga. 🤣
Padahal peran Adam lebih dari itu. Pokoknya, ada banyak hal tentang Adam yang belum kalian ketahui. Tunggu aja kejutan lainnya yang akan muncul satu per satu di bab selanjutnya.

Cukup itu aja cuap-cuap dariku.

Dadah, Seyengku semua. (⁠ ⁠˘⁠ ⁠³⁠˘⁠)⁠♥

BONUS JEMPOL PENYOK AKU DEMI NGETIK 5000 KATA PADA BAB INI SEJAK JAM 5 SORE. EHEU. (⁠ ⁠ꈍ⁠ᴗ⁠ꈍ⁠)

Doakan aja semoga jempolku sehat dan kuat selalu. WKWKWKWK

*SEDIKIT TAMBAHAN:
JAJAJA: Juanda, Arima, Julian, Arnando, Jofan, Ajay (Band di masa SMP mereka)
AJAJA: Arima, Jofan, Arnando, Julian, Ajay (Band setelah ditinggal Juanda karena beda SMA)

Semoga bisa dipahami, ya. Meski gak penting-penting amat dan detilnya gak melulu konsisten. Ya udahlah, ya. Biarin. Eheu. (⁠ ⁠╹⁠▽⁠╹⁠ ⁠)

Good night! ❤️

INGAT, YA! VOTE SAMA KOMENTAR JANGAN LUPA! ┐⁠(⁠ ̄⁠ヘ⁠ ̄⁠)⁠┌

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com