Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bag. 3

Handiko masuk ke dalam kamarnya dengan hanya berbalutkan handuk di pinggang. Tubuhnya kini terasa segar setelah mandi. Meski begitu, pikirannya masih belum bisa menyingkirkan segala ucapan Zhu Chi padanya. Mengenai semuanya. Matanya lantas menyisir lima poster Taylor Swift yang memang terpasang di beberapa sudut kamar sesuai dengan apa yang Zhu Chi ungkapkan.

"Gila ya tuh cewek! Dia bener-bener hebat. Gimana mungkin dia bisa meramal dan mengetahui hal sampe sebegitu detilnya?" desis Handiko terheran-heran. Namun, ada satu hal yang masih sedikit membuat dirinya bimbang.

'...ada hujan, ada bangku hitam, lalu ada yang berteduh di bawah pepohonan dengan salah seorang yang menyerahkan jaket...'

Kata-kata Zhu Chi yang terngiang dalam pikirannya membuatnya benar-benar tak tenang. Handiko tadi kehujanan bersama Fabian, lantas berteduh di bawah pohon berdua, duduk di atas bangku besi warna hitam, kemudian jaket miliknya dipakaikan pada Fabian. Handiko bangun dari pembaringannya dan langsung menggeleng-gelengkan kepala, tidak ingin mempercayai kesimpulan konyol yang dirinya buat. Jadi ia memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal itu lantas berjalan ke arah lemari untuk memilih baju ganti.

Di luar gerbang kediaman Handiko, sebuah sepeda mengerem kencang dan kontan berhenti. Sang pengontel sepeda segera turun dari sadel, membiarkan kendaraan yang dibawanya jatuh begitu saja lantas berjalan ke rumah yang menjadi tempat tujuannya. Sesampainya di halaman depan, Fabian melihat motor Satria milik Handiko sudah terparkir di sana. Sesuai dugaan, sahabatnya ini telah sampai ke mari.

Begitu berdiri di depan pintu, Fabian mengetuk buru-buru. "Assalamu'alaikum!" dengan napas terengah menyerukan salam sambil mengetuk beberapa kali. Tak berselang lama pintu terbuka dari dalam, menampakkan sosok bocah yang tak asing di mata Fabian.

"Wa'alaikumsalam," ujar si bocah membalas salam dengan suara lucu.

Fabian menarik napas panjang lebih dulu. "Yusuf, kak Diko-nya ada?" tanyanya pada Yusuf, yang tidak lain merupakan adik Handiko satu-satunya.

Yusuf mengangguk dua kali lalu menjawab, "Kak Diko ada di dalam, Kak. Tadi sih Yusuf liat Kakak langsung masuk kamar."

Fabian hendak merespons ketika suara seorang wanita terdengar dari belakang punggungnya. "Lho, Fabian?"

Fabian refleks berbalik, mendapati sosok wanita anggun yang amat dikenalinya. "Tante Isna, assalamu'alaikum," sapanya yang langsung saja meraih tangan Mama sahabatnya ini dan menciumnya sopan. "Apa kabar, Tante?" tanya Fabian setelah ciuman salamnya berakhir.

Isna tersenyum, mengusap wajah Fabian yang sedikit berpeluh. "Alhamdulillah kabar Tante baik, Yan. Apa kamu yang naik sepeda itu?" Balasnya seraya menunjuk pada sepeda yang Fabian geletakkan begitu saja di depan gerbang rumahnya.

Fabian nyengir tak enak. "Maaf, Tan. Nanti saya pindahin. A-ada perlu penting sama Diko soalnya," jawabnya sedikit kikuk.

Isna mengangguk penuh pengertian. "Iya, udah. Masuk aja ke dalam kalo mau ketemu Diko, kayak di rumah siapa aja. Tante mau lanjut ngerapihin taman. Gara-gara hujan angin tadi banyak daun jatuh, sih. Ya, Bian. Sekalian ajak Diko makan, tadi dia belum makan."

Fabian hanya mampu mengangguk menanggapi penuturan itu. "Iya, Tan. Makasih. Masuk dulu." setelahnya ia berbalik, memasuki ruang utama yang pintunya masih dibiarkan terbuka oleh Yusuf yang entah sekarang berada di mana.

---

Handiko baru saja selesai memakai celana sewaktu mendengar suara pintu kamarnya diketuk dari luar. Sambil terus menggosok rambutnya yang basah dengan handuk dalam genggaman tangan kiri, pemuda berusia 18 tahun ini berjalan ke arah pintu. Lalu saat tangan kanannya membuka pintu, kemunculan sosok Fabian yang masih terlihat sama seperti saat mereka terakhir bertemu agak mengejutkannya. "Lho Yan, kok lo malah ada di sini?" tanyanya jelas terdengar heran.

Fabian mendengus, mendelik kesal pada Handiko yang didorongnya menjauhi pintu, setelah itu dirinya masuk dan langsung menutupnya kembali.

Tangan Fabian yang masih memegang kenop pintu mengepal, lalu tubuhnya perlahan berbalik menghadap Handiko yang masih kebingungan mempertanyakan kedatangannya. Ia menghela napas, mengumpulkan keberanian sebelum bertanya, "Lo gak ngerasa perlu ngejelasin sesuatu?"

Handiko mengernyit, matanya memelotot sedikit. "Jelasin apa emangnya?"

Perlahan-lahan Fabian mengeluarkan kertas dari kantung jaket yang setelah itu lipatannya dibuka di depan Handiko. Yang kontan saja menghilangkan kernyitan di wajah itu saat melihat kertas apa yang tengah dipegangi Fabian. Dengan cepat kertas itu berpindah tangan sebab segera direbut oleh sang pemilik sebenarnya.

"Da-dari mana lo dapet kertas ini?" tanya Handiko panik. Ia meneguk ludah, bertanya-tanya gelisah, bagaimana bisa Fabian malah menemukan kertas ini?

Mendapati reaksi itu, tubuh Fabian nyaris melemas. Degupan di dadanya kian bertalu. Namun berusaha tetap tenang, dirinya menjawab, "Gak penting gue dapet kertas itu dari mana, Ko. Tujuan gue datang ke sini cuma satu, apa maksud tulisan di kertas itu? Kenapa lo nulis nama gue di sana?" serbunya tanpa basa-basi.

Sekali lagi Handiko meneguk ludah, tak berani sekadar membalas tatapan menusuk yang ditujukan Fabian padanya. Apa yang harus dilakukannya? Bagaimana caranya menjelaskan ini semua? Apa jawaban yang bisa diberikannya di saat seperti ini? Dan segala jenis pertanyaan lain justru bermunculan di dalam kepala Handiko.

"Jawab gue, Ko!" bentak Fabian tak sabar, sekaligus merasa semakin resah.

Handiko membuka mulut, bibirnya gemetaran, masih tak mampu berkata-kata. Berakhir terdiam, sebab tidak sanggup menjawab sama sekali.

Fabian tersengih tak percaya. Ia mundur, bersandar pada pintu lalu menggelengkan kepala mencoba membuang kegilaan yang mengisi pikirannya. "Jadi isi di kertas itu bener? Bahwa orang lo suka itu a-adalah g-gue," ucapnya tergagap. Membahas hal ini sukses membuat sekujur tubuhnya meremang sendiri. "Tapi kenapa, Ko? Kenapa lo nggak jujur aja ke gua alih-alih ngedatangin Zhu Chi? Apa selama ini gue kelihatan segitu begonya di mata lo, sampe buat tau apakah gue suka juga atau nggak ke lo, lo sampe kudu mastiin dengan pergi ke peramal?" papar Fabian panjang lebar. Gugup, berdebar, pusing hingga kaget bercampur menjadi satu dalam dirinya sekarang.

Handiko hanya mampu menundukkan kepala mendengar semua hal itu. Kertas di tangannya dikepal erat. Mengapa semuanya malah menjadi seperti ini?

Fabian berdecak kesal. Ia memukul pintu di belakangnya seraya berkata, "Gue kecewa sama lo, Ko! Kecewa!" setelah itu segera berbalik, tangannya yang gemetaran memegangi kenop pintu. Namun belum saja sempat membukanya, suara Handiko yang selanjutnya terdengar ganti membuat bergeming.

"Karena selama ini lo emang bego, Yan."

Fabian berbalik cepat, memandangi Handiko dengan ekspresi terperangah.

Handiko tersenyum masam. "Lo itu bego. Bego banget malah. Buktinya lo gak pernah sadar kalo gue punya rasa sama lo. Sebanyak apapun gue ngasih kode dan perhatian berlebihan sama lo, sesering apapun gue sengaja ngalah dan ngajak lo jalan berdua, lo gak pernah sadar. Iya, kan?" dirinya melangkah mendekati Fabian yang tersudut. "Lo mau gue jujur? Oke, gue akan jujur sekarang. Lo tau, udah sejak kelas dua gue mulai sayang sama lo, Yan. Mau tau alasannya juga? Karena cuma lo yang tahan ada di dekat gue selama gue down setelah diputusin Yudiya dulu. Lo ngehibur gue meski gue cuekin, lo ngajak gue main padahal gue sering ngebentak lo, lo gak pernah capek berusaha ngembaliin semangat hidup gue walau gue sering bikin lo ngambek. Ngebuat gue lama-lama sadar bahwa gue ngebutuhin lo. Keceriaan dan warna yang lo kasih ke gue bener-bener indah, Yan.

"Dan saat gue udah mulai ngerasa bahwa lo special, lo malahan tetep jadi diri lo yang suka gonta-ganti pacar, selalu minta bantuan gue buat nyampein perasaan lo ke cewek lain, minta gue comblangin lo sama cewek-cewek yang gue kenal, ngajak double date, bayarin tagihan belanjaannya satu-dua kali. Apa lo pikir, dari sana gue bisa jujur sedangkan lo aja gak pernah tau gimana posisi gue saat itu?"

Fabian yang kali ini tak sanggup berkata-kata. Ia menggigit bibir, dirundungi perasaan bersalah setelah mendengar seluruh penjelasan itu, memahami betul apa yang barusan Handiko tuturkan. Karena semuanya memang benar. Bermula semenjak Handiko diputuskan oleh kekasihnya yang bernama Yudiya dulu, sahabatnya itu benar-benar menjadi sangat terpuruk. Fabian tentu tahu betapa besar rasa cinta Handiko pada Yudiya yang telah dipacari sohibnya selama lebih dari tujuh bulan itu. Oleh sebab itu Fabian tidak pernah menyerah untuk menghibur sang sahabat demi mengembalikan senyuman dan hari-hari ceria Handiko meskipun berubah status sebagai seorang jomblo. Jika dipikir-pikir lagi, sepengetahuannya semenjak putus dari Yudiya, Handiko memang hampir tidak pernah lagi dekat dengan cewek manapun. Kecuali para cewek yang Fabian mintai untuk Handiko dekati selaku mak comblangnya. Meski Fabian sadar bahwa Handiko selalu merasa tak senang, tetapi sahabatnya itu tidak pernah mengeluh. Justru perhatian cowok itu sepenuhnya memang ditujukan untuk Fabian seorang. Sayangnya, dirinya tidak sadar sama sekali bahwa ternyata selama itu Handiko sudah jatuh suka terhadapnya. Mengira bahwa setiap perhatian manis itu ditujukan sekadar karena keduanya bersahabat dekat. Namun Fabian salah. Yang salah adalah dirinya.

Fabian mengembuskan napas dengan berat, kemudian memberanikan diri menatap tatapan lembut Handiko padanya. "Sorry, Ko," ucapnya parau. Dadanya serasa dihimpit, menciptakan sesak yang membuatnya sakit sendiri.

Bagaimana tidak? Orang yang selama ini berada di sampingnya, menemaninya, memboncengnya pulang-pergi kuliah, sampai rela jatuh-bangun membantunya ternyata mencintainya. Bodohnya, Fabian tidak menyadari hal itu. Membuatnya merutuki kebodohannya yang nyata adanya. Padahal sisi lain dirinya selalu merasa nyaman ketika perhatian itu didapatkannya, tetapi mengapa itu pun belum cukup menyadarkannya?

Saat Fabian menunduk lesu, tangan Handiko mengusap puncak kepala cowok itu yang langsung membuat sosok yang disukainya mendongak. Bibir Handiko menyunggikan senyum tulus penuh pengertian, yang semata-mata menciptakan perasaan haru bagi Fabian.

"Ma-maafin gue, Ko!" suara Fabian nyaris mencicit.

Handiko menggumam samar lalu menarik Fabian ke dalam pelukannya. "Gue beneran suka sama lo, Yan. Mau seberapa sering lo buat salah, lo bakalan tetap gue maafin. Jadi berhenti ya nangisnya," bisiknya.

Bahkan meski telah mengetahui perasaan Handiko yang sesungguhnya, pelukan ini tak semata-mata menimbulkan perasaan risih atau pun jijik. Fabian berpikir keras, apakah sejak awal semua ini tak benar-benar mengganggunya? Mengapa sisi lain hatinya menganggap bahwa pelukan ini begitu nyaman? Ditambah belaian tangan itu di belakang kepalanya. Ia harus menyudahi ini sebelum isi pikirannya bertambah tak keruan.

Fabian melepaskan diri dari pelukan Handiko seraya mengusap wajah cengengnya. Dengan gugup, dirinya bertanya, "Lagian kenapa sih lo bisa suka ke gue?" berlagak seolah penjelasan yang sudah sangat dipahami tadi masih belum memuaskan keingintahuannya.

Wajah Handiko terlihat malu-malu ketika menjawab, "Karena lo gak bisa hilang dari pikiran gue, Yan. Gue ngerasa keganggu sama keberadaan lo, tapi anehnya gue ngebutuhin berisiknya lo. Pas kita gak ketemu, gue selalu gak tenang keinget lo. Pas kita duaan, gue deg-degan. Saat ngeliat lo jalan sama gebetan cewek lo, gue selalu gak suka. Sewaktu lo ketawa, gue punya keinginan buat meluk lo. Gue sebenarnya... Euh, gue selalu mau bilang semua itu sejak lama tapi...,"

"Lo takut?" tebak Fabian ragu-ragu. Semua penuturan itu tetap tidak membuatnya merasakan hal-hal tak mengenakkan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Handiko mengangguk samar. Ia menghela napas panjang sebelum meneruskan, "Gimana gue nggak takut? Gue hidup selama 16 tahun dengan macarin para cewek dan suka ke mereka. Lalu mendadak gue suka ke cowok? Apa gue masih bisa mikirin ini dengan cara biasa?" wajahnya diusap dengan kalut. "Gue tadinya gak percaya. Tapi makin gue sadar bahwa gue ngebutuhin lo, gue tau gak ada gunanya nyangkal. Gue suka... Ah, bukan sih. Gue cinta sama lo, Yan," ungkapnya lebih berani. Meski rona merah sedikit tampak di kedua pipi pemuda tampan ini.

Fabian terpaku. Mengerjap dan mendadak merasa canggung. "Gue gak nyangka. Gue... gue bisa disukai sama sesama jenis. Gue harus nganggap ini kutukan apa berkah?" responsnya saking bingung pada situasi yang dialami saat ini.

Air muka Handiko berubah kesal. Dengan gemas pipi Fabian yang tembam dicubitnya. "Lo minta dihajar, ya? Orang udah susah-susah sok puitis lo ancurin gitu aja pake respons yang kampret itu," komentarnya sok sebal.

Fabian mengaduh, menggosok-gosok pipinya yang agak perih karena cubitan ringan tadi. "Terus gue mesti gimana?" tanyanya polos, sedikit tersenyum geli.

Handiko memegangi kedua belah pundak Fabian, menatap lekat mata bulat itu kemudian menyuarakan pertanyaan, "Jawab jujur. Gimana perasaan lo sebenarnya ke gue?"

Fabian menahan napas seperkian detik mendapati pertanyaan itu, bersamaan dengan detak jantungnya yang barusan ikut berhenti juga. Selanjutnya, detakan itu berpacu lebih cepat dari biasanya. Mendatangkan keringat mendadak di badan, mencipatakan sensasi mulas yang aneh, hingga menjalarkan rasa panas ke kedua pipinya. Matanya bergerak-gerak gelisah tidak mampu membalas tatapan intens Handiko padanya "G-gue..." suaranya nyaris tak terdengar, wajahnya menunjukkan raut konyol yang membuat Handiko tertawa.

"Kalo lo gak bisa jawab, ya gak apa-apa," ujar Handiko begitu menangkap ketidaksiapan dalam diri sosok yang disukainya ini. "Gue gak akan maksa--"

"Gue nyaman sama lo, Ko," potong Fabian cepat. "T-tapi gue gak yakin apa ini cukup buat diartiin sebagai suka. Pas pertama tau ternyata lo suka gue aja dari kertas itu, gue langsung deg-degan. Gue kesel, tapi gue gak marah. G-gue... gue bingung. Belum pernah ngerasa kayak gini sebelumnya," terusnya mati-matian menahan malu.

Itu mengingatkan Handiko pada kertas yang masih dipegangnya. "Oh ya, dari mana lo dapatin kertas ini balik? Kan harusnya ini ada di Zhu Chi," tanyanya penasaran.

Fabian meringis. "Gue dapat itu dari kantong jaket lo ini, kok," jawabnya sembari menunduk melihat jaket pinjaman dari cowok di hadapannya.

Handiko mengernyit. "Kenapa jadi ada di situ?"

"Ya, mana gue tau," respons Fabian risih ditatap sebegitu lekatnya.

Kemudian semua hal yang sedari tadi terjadi, membawa Handiko untuk mengingat satu hal penting lain. Mengenai waktu yang tepat yang Zhu Chi bicarakan...

...Kapanpun boleh jadi waktu yang tepat. Tapi yang pasti sih, nanti akan ada hujan, ada bangku hitam, lalu ada yang berteduh di bawah pepohonan dengan salah seorang yang menyerahkan jaket. Dari sana, siapa yang tau apa yang nanti terjadi, kan?...

Tanpa sadar, Handiko tertawa. Ia melihat bergantian pada kertas di tangannya, beralih pada jaket miliknya, lalu pada Fabian yang tengah menatapnya bingung.

"Kenapa, Ko?" tanya Fabian sedikit cemas.

Handiko menggeleng lantas berkata, "Gue cuma nggak nyangka aja maksud Zhu Chi ternyata ini. Zhu Chi ternyata bener-bener tau apa yang udah dan yang akan terjadi dalam hidup gue. Ralat, antara lo dan gue. Kita berdua."

Fabian tercengang tak mengerti mendengar semua itu. "Maksud lo?"

Handiko tersenyum. "Sekarang ini waktu yang tepat, Yan," desisnya. "Lo tau gue suka sama lo, dan gue juga udah tau perasaan lo ke gue kan. Jadi, sekarang gimana?"

"Gimana apanya?" Fabian semakin dibuat gagal paham.

"Lo mau kan jadi cowok gue?"

Seolah baru tersambar petir, Fabian seketika berjengkit kaget mendengar pertanyaan itu. "A-apa?!"

Handiko mendekatkan wajahnya ke paras Fabian yang memerah. "Gue tanya, lo mau kan jadi cowok gue? Jadilah pacar gue mulai hari ini, Yan. Gue beneran udah ngeharapin ini sejak lama." setelah itu meneguk ludah, menahan diri supaya tidak melakukan tindakan tak senonoh terhadap sosok menggemaskan ini.

Fabian menarik napas dalam-dalam sesudah itu mengembuskannya perlahan. "Lo mau jadi cowok gue gitu?" tanyanya antara sadar dan tidak sadar.

Anggukan tanpa ragu ditunjukkan Handiko. "Iyalah, jelas. Lo sendiri?"

"Gue belum pernah pacaran sama cowok," respons Fabian linglung.

"Gue juga, kok. Kan lo cowok pertama dan satu-satunya yang pernah gue suka," gombal Handiko menggoda.

Mengetahui hal itu, Fabian tersenyum malu. "Makasih, Ko. Gue seneng bisa disukain sama lo. Tapi,..."

Kata 'tapi' itu seolah memupuskan seluruh harapan Handiko. Ditambah lagi mimik muka Fabian terlihat cemas dan risih. Membuatnya dirundung gelisah. Tidak siap menerima penolakan, tetapi dirinya juga tak berhak memaksa Fabian untuk menerima perasaannya. Namun jawaban yang terdengar setelah itu, berhasil mencerahkan kembali warna hatinya...

"Tapi gue kemungkinan nggak akan bisa jadi cowok yang baik buat sesama cowok, apalagi lo cowok yang lebih keren dan ca-cakep dari gue. Apa nggak apa-apa?"

Handiko merasa lega. Perlahan ia menggelengkan kepala lantas membalas, "Gue gak keberatan. Lo jadi sohib gue selama ini aja gak baik-baik amat kan?"

Fabian menarik handuk di leher sosok yang sudah resmi jadi pacar barunya ini lalu digunakan untuk mengusap kasar wajah tampan itu. "Dasar rese!"

"Tapi lo suka, kan?"

Fabian hanya mendengus menanggapinya. Dan Handiko tertawa gemas melihat itu. Sungguh, dirinya amat menyukai Fabian Hazronni. Nama yang tertulis di kertas ini, yang berkatnya, semua hal ini dapat terjadi.

Handiko mendekat, berniat mendaratkan kecupan di bibir Fabian. Tetapi sewaktu menangkap suara terkesiap dari cowok barunya ini, tindakan itu urung dilakukan. "Euh, gue boleh cium lo, kan?" tanyanya terlambat meminta izin.

Fabian meneguk ludah. Wajahnya memerah. "G-gue gak pernah dicium cowok," akunya malu-malu.

"Lo pikir kapan gue pernah nyium cowok emangnya?" pertanyaan itu mengingatkan Handiko pada bayangan di masa lalu. "Eh, pernah ding," ralatnya.

Fabian jelas tidak menyangka hal itu. Bukankah Handiko mengaku bahwa dirinya lah cowok pertama yang ia suka? "Pernah? Kapan? Siapa yang lo cium?" tanyanya menahan dongkol. Karena jelas berita ini tak membuatnya senang sama sekali.

Handiko nyengir. "Hehehe. Gue pernah nyium lo diem-diem beberapa kali, kok. Lo nya aja gak pernah ngeh." responsnya kalem.

"Anjir. Lo mainnya kok nyeremin gitu, sih," komentar Fabian merasa jengah sendiri.

"Masih untung nggak gue perkosa," celetuk Handiko tanpa dosa.

Fabian bergidik tak nyaman. "Dih. Lo nyium gue di mana emangnya?" tanyanya masih penasaran. Rasa ingin tahunya memang sangat besar.

"Bibir, pipi sama kening," jawab Handiko seraya menyentuh setiap bagian yang disebutkannya itu. "Oh, leher juga," tambahnya lalu mengedipkan mata.

Fabian tercengang tak percaya. Tidak sanggup memikirkan berapa banyak ciuman yang telah Handiko lakukan padanya selama ini. Jadi supaya cukup adil, dirinya menyuarakan respons sebagai pengganti rasa kesalnya. "Ya udah. Kalo gitu kapan-kapan lagi aja lo cium gue."

Gantian, Handiko yang tercengang. "Hah? Kok gitu, sih? Kan gue pengin sekarang," ucapnya sok nelangsa. Seakan apa yang disampaikan Fabian padanya merupakan kabar kematiannya sendiri.

Fabian mengangkat bahu tak acuh. "Bodo amat. Anggap aja itu hukuman buat lo," katanya. Kemudian baru menyadari sensasi gerah dan lembab yang menempeli badannya. "Eh Ko, gue numpang mandi di sini, ya."

Handiko tampak semakin kecewa. "Yah, tau gitu harusnya tadi kita mandi bareng aja sekalian."

"Lo tuh dasar omes, ya!" bentak Fabian kemudian membuka pintu, lalu segera berlari ke arah kamar mandi.

Handiko tertawa geli melihatnya. Ia menunduk, memperhatikan kertas dalam genggaman sambil terus tersenyum. "Makasih, Zhu Chi. Lo bener-bener berhasil ngebantu gue." setelah itu, senyumnya raib digantikan raut pucat. "Sekarang gimana caranya supaya gue bisa dapat duit sebanyak tiga juta itu?"

--Tersisa tiga bagian cerita bonus--

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com