Chapter VI
"Pak Kim lagi gak enak badan, katanya gak mau diganggu sampai keluar sendiri nanti."
Kedua alis Junghwan bertaut, tidak biasanya Doyoung bersikap seperti ini, dan suaminya adalah manusia paling rajin pergi ke tempat kerja, mustahil baginya libur begitu saja tanpa alasan jelas.
Setelah selesai sarapan, bukannya langsung berangkat Junghwan malah kembali naik ke lantai atas, mencoba mengetuk pintu kamar utama.
Karena tidak kunjung mendapat jawaban, ia akhirnya membuka pintu dari luar, masuk ke dalam dan menatap gundukan selimut di atas ranjang lalu berdiri di sampingnya.
"Doyoung." Panggil Junghwan, "Kim Doyoung." Panggilnya lagi.
Tetapi Doyoung tidak menanggapi, Junghwan yang tidak sabar lalu menarik selimutnya kuat-kuat dan menghela napas saat melihat suaminya pura-pura tidur dengan wajah disembunyikan di atas bantal.
"Minum obat kalau gak enak badan, jangan malah ngurung diri di kamar." Omel Junghwan sambil berusaha menarik tubuhnya agar dapat melihat wajahnya dengan jelas.
"Jangan pegang-pegang aku." Protes Doyoung, menyingkirkan tangan Junghwan yang terus mencengkram lengannya. "Sakit, lepas."
Tentu saja Junghwan tidak menurut, ia malah menambah tenaganya hingga berhasil membuat Doyoung berbalik ke arahnya.
Perasaan bersalah seketika menyelimuti begitu ia melihat wajah bengkak suaminya, Junghwan tahu bahwa kemarin Doyoung menangis sendirian, di tempat kerja serta di kamar tidurnya, ia juga ingin tahu apa alasannya. Tetapi dilihat dari kepribadiannya, Doyoung pasti enggan memberi penjelasan mau sekeras apapun Junghwan bertanya.
"Turun, kompres wajahmu pakai es batu di bawah."
Kalimat Junghwan membuat Doyoung langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, "Siapa suruh liat-liat wajahku?"
"Masa aku gak boleh liat muka suamiku sendiri?"
Doyoung berdecak, kakinya bergerak untuk menendang tubuh Junghwan. "Sana keluar, aku mau sendirian."
"Aku juga gak ada niat buat lama di sini? Aku cuma nyuruh kamu turun, sarapan, minum obat kalau sakit." Netra Junghwan menguar ke sekitar kamar, dan berhenti pada salah satu boneka berwarna merah muda yang Doyoung letakkan di sofa. "Kamu mirip dia." Lanjutnya.
Mau tidak mau, Doyoung menyingkirkan tangan yang menutupi wajahnya, mengikuti arah pandang Junghwan dan kembali menendang tubuh suaminya, tetapi lebih keras dibanding sebelumnya.
"Jaga ya mulutmu!" Protes Doyoung, tidak terima disamakan dengan karakter animasi bernama loopy yang sengaja ia taruh di sana agar tidak terlalu merasa kesepian.
"Harusnya kamu yang jaga kakimu!" Balas Junghwan sambil mengusap pinggangnya yang terasa nyeri, tenaga Doyoung ternyata jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan.
"Kamu gak kerja juga?" Tanya Doyoung pada Junghwan yang duduk di kursi seberang.
Suaminya berhasil menyeretnya untuk duduk di kursi meja makan, memaksanya untuk menelan apapun agar perutnya tidak kosong hingga siang nanti.
Junghwan menggeleng, "Pinggangku kayaknya dislokasi, kamu harus temenin aku ke rumah sakit." Ucapnya sambil mengusap pinggang yang memang masih terasa nyeri.
Doyoung sedikit merasa bersalah, ia menghabiskan susu cokelat hangat miliknya lalu kembali bergegas naik.
"Mau ke mana?" Tanya Junghwan.
"Mandi sama ganti baju, kamu mau ke rumah sakit kan?"
Pertanyaan Doyoung dijawab dengan anggukan semangat, baru kali ini Doyoung menuruti perintahnya tanpa harus dipaksa atau bertengkar lama.
Begitu selesai berganti pakaian, Junghwan kembali menyeret suaminya agar masuk ke dalam kendaraan.
"Aku aja yang bawa, katanya pinggangmu sakit?" Tawar Doyoung, dan Junghwan tentu menolaknya.
Karena hari ini ia malah membawa Doyoung untuk pergi ke salah satu bar miliknya yang baru buka, datang ke grand opening yang dihadiri oleh banyak orang termasuk keluarganya.
"Kok ke sini?" Tanya Doyoung bingung, ia sangat ingin marah karena merasa dijebak oleh Junghwan.
"Mampir sebentar doang, cek sesuatu baru kita ke rumah sakit. Lagian ada Papaku, beliau yang handle acara hari ini."
Junghwan menangkap raut tidak nyaman yang sekuat tenaga Doyoung sembunyikan, tetapi ia tidak ingin membahasnya karena takut Doyoung langsung pergi tanpa sempat masuk ke dalam.
"Aku benci banget sama kamu." Umpat Doyoung sambil menggandeng sebelah lengan Junghwan, bertingkah bagaikan pasangan paling bahagia di depan semua orang yang datang.
"Aku juga." Jawab Junghwan seraya mengusap punggung tangannya, berusaha menyalurkan ketenangan karena Doyoung memang selalu gugup ketika berada di keramaian.
Semuanya berjalan lancar, keduanya bahkan berbincang dengan para investor yang datang juga beberapa tamu undangan.
Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat Ayah Junghwan berada.
Junghwan tahu sikap Doyoung kadang kurang ajar, namun ia hanya berani bertindak demikian di belakang, tidak di depan banyak orang.
Tetapi hari ini, Doyoung menunjukkan kelemahannya itu di depan Ayahnya sendiri.
"Mertuaku datang hari ini pasti karena banyak perempuan cantik yang bisa dijadiin gandengan, kan?"
"Doyoung!" Omel Junghwan, tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
Ayah Junghwan sedikit terkejut di awal, dan dengan cepat merubah ekspresi lalu ikut tersenyum ke arah menantu satu-satunya.
"Gapapa, suamimu pasti cuma bercanda." Balasnya ramah.
Doyoung melepas pegangannya pada Junghwan, melipat kedua tangan di depan dada dan tersenyum miring ke hadapan manusia paling memuakkan yang pernah ia lihat.
"Padahal aku serius, coba kita cari, di sini ada gak ya yang cocok buat jadi Ibu tiri suamiku?"
Habis sudah kesabaran Junghwan, ia menarik tangan suaminya keluar dari ruangan, mengundang rasa penasaran semua orang yang mereka lewati karena nampaknya Junghwan marah besar kali ini.
Langkah mereka berhenti di tempat parkir, tepat di sebelah kendaraan milik Junghwan.
"What the fuck are you doing?" Tanya Junghwan dengan suara keras, berhasil membuat jantung Doyoung berdegup kuat tetapi ia berusaha menyembunyikan.
"Ngobrol sama mertuaku?" Jawabnya santai, padahal sisi jari telunjuknya sudah berdarah karena terus digaruk oleh kuku jarinya yang lain.
"Ngobrol? You're insulting him!"
"Insult? Yang aku omongin tuh fakta. Papamu kan suka sama perempuan penghibur, makanya ada banyak di dalam sana."
Tangan Junghwan bergerak naik, hampir memukul laki-laki di depannya kalau saja ia tidak berpikir akan sejauh apa masalahnya jika hal itu benar-benar terjadi.
Meski pura-pura bodoh dan selalu menutup mata, tetapi Junghwan tahu bahwa Doyoung adalah manusia lemah paling sok kuat yang pernah ia temui seumur hidupnya.
Karena tidak ingin emosinya makin naik, Junghwan memilih untuk masuk ke dalam mobil, membawa kendaraan tersebut secepat mungkin dan pergi meninggalkan Doyoung yang hanya bisa menatapnya tanpa berkata apa-apa.
***
"Itu siapa?" Tanya Doyoung pada sosok yang berdiri di sebelahnya pada salah satu potret pernikahan mereka.
"Ini orang tuamu,kalau ini Dohyun hyung, yang tadi siang dateng ke sini." Jelas Junghwan dengan suara pelan.
Karena posisi Doyoung memang terlalu dekat dengan tubuhnya, hidungnya bahkan dapat mencium jelas harum shampoo yang ia pakai.
Doyoung menarik diri, sedikit menjauh untuk mengalihkan pandang dari album foto di tangan Junghwan ke wajah suaminya.
"Junghwan," Panggilnya, dengan nada lucu seperti biasa.
"Mhm?"
"Dulu tuh aku jahat ya ke mereka? Sebelum hilang ingatan, sikapku emang selalu kurang ajar ya?" Tanyanya.
Netra bulat dengan iris gelap itu memandang Junghwan penuh tanya, Doyoung memasang raut polos bagaikan anak berumur enam tahun yang ingin tahu bagaimana cara dunia bekerja.
Junghwan menggeleng sebelum mengusap lembut surai kecokelatan suaminya, "Nggak, kamu gak jahat." Jawabnya.
"Kalau aku gak jahat, terus kenapa mereka jahatin aku?"
Tangan Junghwan bergerak turun, membelai pipi Doyoung dengan ibu jari dan sedikit menunduk untuk menatap wajah yang lebih kecil.
"Yang jahat itu mereka, bukan kamu." Jelas Junghwan lagi, "Aku gak mungkin mau nikah sama orang jahat dan bertahan sampai hari ini."
"Tapi kemarin kamu juga jahatin aku..." Keluh Doyoung, sedikit menunduk karena tidak ingin terus bertatapan dengan Junghwan dan membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
"Kan aku udah minta maaf."
Ucapan Junghwan benar, ia sudah meminta maaf dan mengubah sikapnya menjadi lebih baik, itu cukup bagi Doyoung yang sepertinya hanya membutuhkan Junghwan dalam hidupnya.
Telunjuk Doyoung mengetuk album foto, memberi tanda agar Junghwan kembali membukanya karena ia ingin melihat wajah yang lain juga.
"Kalau ini Papaku." Ucap Junghwan sambil menunjukkan potret ia dengan Ayahnya di hari pernikahan.
Kepala Doyoung seketika terasa nyeri begitu Junghwan selesai bicara, ia berjengit sambil meremat rambutnya sendiri.
Junghwan melempar album foto di tangan, berbalik untuk menatap Doyoung yang terus mengeluh kesakitan di sebelah.
"Doyoung... Doyoung!" Panggil Junghwan sambil menahan tubuhnya yang hampir jatuh ke bawah.
Saat Doyoung menangis dan merengek karena rasa nyeri tanpa henti, Junghwan menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan. Mengusap serta memijit kepalanya pelan, berusaha meredakan sakit yang suaminya rasakan.
"Ke rumah sakit ya?" Tanya Junghwan, masih sambil merengkuh tubuh Doyoung.
Doyoung menggeleng, membalas pelukan Junghwan dengan sama eratnya, menangis dengan suara keras di sana dan berhenti karena terlalu lelah.
Junghwan membaringkan Doyoung di atas ranjang kamar utama, menutup sebagian tubuhnya dengan selimut karena Doyoung memang mudah kedinginan di malam hari.
Ia meraih ponselnya, menghubungi dokter keluarga dan meminta dikirimkan obat pereda nyeri setelah menjelaskan kondisi suaminya.
Karena tidak mungkin Junghwan meninggalkan Doyoung sendirian di kondisi seperti ini.
Sambil duduk di pinggir ranjang, Junghwan mengusap sisi wajah suaminya yang terasa lembab karena air mata.
Entah apa yang terjadi dengannya sebelum kecelakaan, tetapi Junghwan yakin bahwa itu pasti ada hubungannya dengan Ayahnya.
Tetapi Junghwan belum ingin mencari tahu karena keadaan Doyoung masih seburuk ini, ia tidak ingin sesuatu yang lebih buruk justru terjadi pada suaminya.
Pada Doyoung yang hanya memiliki Junghwan di hidupnya.
...
pegangan kawan kawan
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com