Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XXII

Mobil yang Junghwan bawa bergerak cepat di jalanan, seharusnya ia tahu bahwa orang gila yang mengaku sebagai ayahnya itu tidak mungkin bertindak gegabah dengan menunjukkan diri di tempat yang diawasi oleh banyak polisi.

Saksi yang berkata bahwa ia melihatnya di daerah rumah adalah umpan yang memancing Junghwan untuk keluar rumah agar meninggalkan Doyoung—kelemahan terbesarnya— sendirian.

Gerbang yang terbuka memudahkan kendaraan melaju ke halaman, ban mobil berdecit ketika Junghwan menginjak rem dalam-dalam, ia keluar dari mobil dan bergegas masuk tetapi langkahnya seketika berhenti karena tidak jauh di depannya, berdiri sosok orang yang sedang ia cari.

"Junghwan!" Panggil Asahi dari balkon lantai dua, fokusnya beralih saat melihat Doyoung yang berdiri di sebelahnya dengan tangan berlumuran darah.

Jantung Junghwan berdegup kuat, ia harus mengambil keputusan cepat antara menghampiri suaminya yang kesakitan di atas, atau membantu para penjaga yang baru keluar dari rumah untuk mengejar ayahnya.

Dan pilihan Junghwan jatuh pada opsi pertama, ia berlari masuk sambil memberi tahu penjaga yang lewat ke mana arah ayahnya kabur. Dengan napas tidak beraturan serta peluh yang membanjiri tubuh, ia akhirnya sampai ke kamar utama.

Tangannya meraih handuk kecil dari dalam lemari, dijadikan alat untuk menekan luka di leher Doyoung yang terus mengeluarkan darah tanpa henti.

"Mobil gue masih di depan." Ucap Junghwan sambil menggendong tubuh Doyoung dengan kedua tangan. "Biar Hyunsuk yang bawa, dia ada di bawah." 

Asahi mengangguk setuju, mengekor atasannya yang kemudian berjalan menuju halaman.

Selama perjalanan, Doyoung tidak berhenti mengeluh kesakitan. Sebelah tangannya mencengkram kuat lengan Junghwan dan yang satu ia pakai untuk memegang perutnya yang terus kesakitan, kesadarannya juga nyaris hilang jika saja suaminya tidak terus mengajaknya bicara.

"Sebentar lagi sampai, jangan tidur dulu." Ujar Junghwan berusaha menenangkan.

Kepala Doyoung menggeleng kuat, air mata di pipinya sudah bercampur dengan darah yang tidak sengaja mengenai wajahnya. "Perutku sakit." 

Junghwan yang bingung mulai memeriksa perut suaminya, dan ia tidak menemukan satupun luka luar di sana.

"Sakit? Kamu dipukul di sini?" Tanyanya sambil mengusap perut Doyoung dari luar, dan Doyoung kembali menggeleng pelan.

"Nggak, tapi sakitnya dari bangun tidur tadi."

Mobil yang Hyunsuk bawa berhenti tepat di depan ruang gawat darurat, dengan cepat Junghwan turun dan membawa tubuh Doyoung masuk ke dalam, disambut oleh perawat dan dokter yang langsung menuntunnya ke salah satu bilik yang kosong.

Sementara Doyoung dipindahkan ke ruang operasi, Junghwan diminta untuk mengisi berbagai lembar data diri suaminya, ia terus mengikuti semua prosedur tanpa memedulikan pakaiannya yang masih berlumur darah.

Doyoung masih belum keluar ketika Junghwan akhirnya duduk di ruang tunggu, dengan Asahi juga Hyunsuk yang juga ada di sampingnya. Tidak lama kemudian, Haruto serta Jaehyuk datang dan bergabung dengan mereka.

"Bodyguard gak berhasil nemuin bokap lo." Ucap Haruto, Junghwan hanya mengangguk karena yang ada di pikirannya sekarang adalah Doyoung yang masih berada di dalam ruangan.

"Ganti baju dulu." Kali ini giliran Jaehyuk yang bicara sambil menyodorkan kaos dan jaket miliknya ke arah Junghwan.

Junghwan mengangguk, ia meraih pakaian tersebut dan berjalan menuju kamar mandi yang tidak jauh dari sana. Begitu selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, pintu ruang operasi akhirmya terbuka tidak lama setelahnya.

Dokter menjelaskan bahwa Doyoung hanya butuh beberapa jahitan untuk luka di lehernya, juga transfusi yang untungnya tidak terlalu sulit dilakukan sebab golongan darahnya cukup umum di Korea.

Tetapi ada satu berita yang sangat mengejutkan bagi orang-orang yang ada di sana.

"Hamil?" Tanya Junghwan dengan suara yang cukup keras, berhasil mengembalikan kesadaran semua pendengarnya.

"Masih tiga minggu, makanya gak ada tanda yang muncul. Untungnya janinnya gak kenapa-kenapa dan pasien juga udah bisa dipindah ke ruang rawat." 

Setelah berterima kasih pada dokter yang menangani, semuanya bergegas menuju tempat Doyoung berada, ruang rawat kelas naratama yang sudah dipesan Junghwan itu cukup untuk menampung mereka semua.

Bukannya berbaring seperti pasien pada umumnya, mereka malah disambut dengan Doyoung yang duduk di atas brankar lengkap dengan wajahnya yang merengut.

"Junghwan..." Rengek Doyoung dengan kedua tangan terbuka lebar, Junghwan yang paham langsung berlari untuk memeluk erat tubuh suaminya.

"Kok sedih? Sakit ya lukanya? Mau aku mintain obat?" Tanya Junghwan sambil mengusap lembut kepala Doyoung.

Doyoung menggeleng, "Aku bingung." Ucap Doyoung jujur, "Masalah kita masih banyak tapi aku malah nambah masalah baru..."

"Masalah baru?" Tanya Junghwan bingung, dan kali ini Doyoung mengangguk lemah sambil mengusap perutnya.

Raut Junghwan berubah, ia menatap Doyoung dengan ekspresi marah yang dibuat-buat. "Kata siapa ini jadi masalah? Justru aku seneng karena sekarang aku punya dua orang yang harus aku lindungin." Jawabnya kemudian.

"Tuh kan tugas kamu jadi nambah. Padahal aku udah cukup nyusahin kamu, masalah kita juga gak ada habisnya gini." Rengek Doyoung lagi sambil kembali memeluk erat tubuh suaminya.

Empat orang lain memutuskan untuk keluar dari ruangan, berkata bahwa mereka akan membeli makanan untuk dikonsumsi bersama karena Doyoung memang harus menginap satu malam di rumah sakit.

Junghwan duduk di kursi sebelah ranjang sementara Doyoung masih merengut di depannya, di lehernya terdapat perban yang menutupi luka bekas jahitan, Junghwan juga dapat melihat memar di sisi leher satunya.

"Sayang," Panggil Junghwan sambil meraih tangan Doyoung yang bebas, digenggamnya lembut dan diusap pelan menggunakan ibu jari. "Aku seneng banget." Lanjutnya dengan suara bergetar.

"Kamu seneng aku masuk rumah sakit buat yang ke dua kali tahun ini?" Tanya Doyoung, dan berhasil membuat Junghwan terkekeh pelan.

"Aku seneng kamu hamil." Ralat Junghwan dengan senyum tipis di wajah juga netra berkaca-kaca.

Bibir Doyoung makin merengut, ia menggenggam erat jemari Junghwan. "Aku juga seneng, tapi aku takut." Balas Doyoung dengan raut sama sedihnya. 

"Jangan takut," Ucap Junghwan, tangannya yang lain mengusap wajah Doyoung yang basah. "Aku janji aku bakal terus lindungin kamu... dan anak kita."

Air mata Doyoung makin deras dibuatnya, Junghwan langsung berdiri dan kembali menarik tubuh suaminya ke dalam pelukan, mengucap rentetan kalimat menenangkan sekaligus pengakuan cinta yang makin besar tiap harinya.

***

"Kayaknya gue bakal nyerah dan relain semua aset gue buat dia." Ucap Junghwan pada empat orang di depannya yang langsung memasang raut kebingungan.

"Doyoung bakal cekek leher lo kalo dia denger omongan lo barusan." Jawab Asahi, sedikit berbisik karena tidak ingin orang yang sedang tertidur di atas brankar mendengar kalimatnya.

"Polisi udah bergerak buat cari bokap lo, tinggal nunggu waktu sampe dia ketangkep tapi lo mau nyerah?" Kali ini giliran Haruto yang bicara, "Semuanya bakal lebih extra buat jagain kalian setelah insiden ini."

"Tapi gue gak mungkin relain Doyoung—"

"Gak ada yang nyuruh lo buat relain Doyoung, kita semua juga gak mau dia kenapa-kenapa." Sanggah Haruto tidak terima.

"Gue pastiin dia gak akan bisa nerobos masuk area rumah kalian lagi." Jaehyuk akhirnya ikut menanggapi, "Karena gue tau Doyoung pasti gak akan mau kalau disuruh tinggal di tempat lain." 

Kalimat Jaehyuk benar, sebelumnya Junghwan sempat meminta Doyoung untuk tinggal sementara di rumah yang lain tetapi suaminya menolak keras. Karena menurutnya, tempat paling nyaman adalah rumah mereka.

"Di depan udah ada dua penjaga, dua lagi gue minta buat stay di bawah karena siapa tau bokap lo tiba-tiba muncul." Jelas Haruto setelah membaca pesan di ponselnya, "Gue balik dulu, besok siang tunggu kita kalau mau pulang." 

Junghwan mengangguk, ia mengantar teman-temannya keluar dari kamar untuk pulang sebelum kembali masuk dan duduk di kursi sebelah ranjang.

Doyoung terlelap beberapa jam lalu tidak lama setelah jam makan siang. Dokter berkata bahwa kemungkinan besar ia akan bangun tengah malam nanti karena nyeri pada lehernya, meminta Junghwan untuk siap siaga dan memanggil perawat untuk meminta obat pereda nyeri.

Kabar bahwa Doyoung hamil seharusnya menjadi berita baik untuk semua orang, tetapi tidak bagi keluarga mereka. Junghwan tahu bahwa fakta ini akan dijadikan alat untuk mengancam keselamatan Doyoung, juga anak yang dikandungnya.

Orang tua Doyoung jelas akan murka, apalagi ayah Junghwan.

Tanpa sadar Junghwan tertawa, kalimat bahwa ia dan suaminya hanya memiliki figur satu sama lain ternyata benar adanya.

Jemari Junghwan bergerak di atas layar ponsel, ia sedang melihat potret pernikahannya dengan Doyoung dua tahun lalu yang tersimpan sebagian di sana.

Tidak ada senyum tulus di wajahnya, satu-satunya raut bahagia justru terukir pada wajah cantik Doyoung. 

Ucapan Haruto benar, sejak dulu, tiang paling kuat yang Doyoung punya adalah ia, suaminya.

Netranya melirik tangan Doyoung, di jari manisnya terdapat cincin perak yang hanya pernah terlepas ketika Doyoung kecelakaan beberapa bulan lalu.

Sedangkan jemari Junghwan kosong, ia tidak pernah memakai cincin kawin mereka, menganggap benda itu sebagai beban yang harus ia tanggung hingga rencana untuk menguasai seluruh harta Doyoung berhasil dicapainya.

Helaan napas berat keluar dari mulutnya, ia menyandarkan tubuh ke bagian belakang kursi lalu menatap Doyoung yang masih terlelap di atas ranjang. Ribuan kata maaf sepertinya tidak cukup untuk menghapus semua dosa yang pernah ia lakukan.

Meskipun ingatan Doyoung sudah kembali ketika mereka melakukan itu untuk pertama kali, tetapi Junghwan tetap brengsek karena memanfaatkan Doyoung demi kepentingannya sendiri, membuatnya hamil di saat yang tidak tepat seperti sekarang ini.

Ia merasa sangat bahagia karena kehadiran calon anak mereka, tetapi sedikit banyak Junghwan setuju dengan apa yang Doyoung katakan tadi, walau enggan mengakui.

"Junghwan?" Suara serak Doyoung menyadarkannya dari lamunan, ia meletakkan ponsel di atas nakas samping brankar sebelum bergerak mendekat ke sumber suara.

"Kok udah bangun? Sakit ya lukanya?" Tanya Junghwan saat melihat Doyoung berusaha memegang leher yang dibalut perban.

Doyoung mengangguk, dan dengan cepat Junghwan menekan tombol merah di belakang ranjang.

Tidak lama kemudian perawat datang lengkap dengan obat pereda nyeri yang langsung disuntikkan ke dalam kantong infus, Junghwan berterima kasih dan menunggu perawat itu keluar sebelum kembali duduk di kursi.

"Sini, temenin aku." Pinta Doyoung sambil menggeser tubuh, menyisakan ruang yang cukup untuk Junghwan tempati.

Untungnya ukuran ranjang lumayan besar, hingga Junghwan dapat berbaring menyamping sambil memeluk tubuh suaminya. 

"Maafin aku ya Junghwan," Ucap Doyoung tiba-tiba.

"Minta maaf kenapa?" Tanya Junghwan sambil menatap wajah pucat Doyoung di sebelahnya.

"Bukannya bantuin kamu, aku malah bikin runyam masalahmu."

"Stop bilang kamu itu masalah, gak ada yang anggap begitu." Protes Junghwan tidak terima.

Doyoung bergerak mendekat dan menyembunyikan wajah di depan dada suaminya, "Aku janji aku gak akan ngerepotin, semua masalah kamu juga bakal selesai sebelum anakku bikin ulah." 

"Anakmu aja? Bukannya itu anak kita?"

Pertanyaan Junghwan membuat Doyoung tertawa, ia menarik diri untuk kembali menatap yang lebih tinggi. "Iya iya, ini anak kita." Ralatnya dengan senyum manis di wajah.

Junghwan ikut tersenyum, mendaratkan kecupan ringan ke kening Doyoung sebelum menyelipkan tangan ke celah tubuh mereka untuk mengusap perutnya yang masih rata.

"Kamu denger kan apa kata ayah barusan, jangan bikin ulah sebelum semua masalah selesai." Ujar Junghwan, seolah sedang bicara dengan anak di perut Doyoung yang padahal belum ada wujudnya.

"Iya papa aku janji gak akan bikin masalah." Jawab Doyoung dengan suara yang dibuat-buat, membuat tawa Junghwan pecah lalu memeluk erat figur suaminya.

"I love you, Doyoung." Ucap Junghwan, Doyoung yang nyaris terlelap karena efek obat kembali membuka mata, tersenyum dan mengecup singkat bibir penuh orang yang merengkuhnya lalu menjawab dengan kalimat yang sama.

Kalimat yang seharusnya ia ucap sejak hari pertama pernikahan mereka.

"I love you too, suamiku."







...

kira kira doyo hamil coco atau candy

btw seperti biasa yah kalo weekend jangan ditungguin ok, pengangguran ini sibuknya weekend :<

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com