Last Chapter
"Gila, ini mah Doyoung beneran dapet berkahnya doang." Ucap Asahi tanpa sadar, dan semua orang yang ada di sana mengangguk setuju karena memang begitu faktanya.
Bayi yang sedang berbaring di ranjang kecil sebelah brankar yang Doyoung tempati mirip dengan Junghwan, nyaris identik jika bukan karena mata bulatnya.
"Lo pas hamil sebenci itu ya sama Junghwan?" Tebak Jaehyuk, Doyoung langsung menggeleng kuat.
"Nggak, jangan fitnah lo. Justru bagus dong kalau anak gue mirip ayahnya?" Protes Doyoung tidak terima, walau ucapan Jaehyuk memang ada benarnya.
"Udah jangan ngomong aneh-aneh, nanti anak gue bangun, baru tidur sebentar tuh."
Setelah mengucapkan selamat juga memberi hadiah yang dibawa, mereka akhirnya pamit pulang. Meninggalkan sepasang orang tua baru itu sendirian.
"Kata dokter, dua hari lagi kita udah boleh pulang." Ucap Junghwan yang kini duduk di kursi kosong sebelah ranjang, Doyoung mengangguk lalu mengulurkan sebelah tangan.
"Aku takut." Rengeknya tepat setelah Junghwan menggenggam jemarinya dengan kedua tangan serta menggosoknya pelan.
"Takut kenapa? Kamu takut tidur di rumah sakit dua hari?"
Doyoung menggeleng, "Aku takut gak bisa urus Daeho sendirian pas pulang nanti." Jawabnya.
Junghwan tersenyum tipis sebelum mengusap sisi wajah suaminya, "Gak sendirian, kan ada aku?"
"Bukan gitu..." Elak Doyoung lagi, "Orang tua kita kan gak ada, siapa yang bakal ngajarin kita tentang urusan anak nanti?"
Kali ini Junghwan tertawa, "Emang kamu mau Daeho diurus sama orang tuamu atau ayahku?" Tanyanya, berusaha menghibur Doyoung yang benar-benar terlihat frustasi saat ini.
Ketika Doyoung makin merengut, Junghwan akhirnya bangkit untuk memeluk tubuhnya yang masih setengah berbaring di atas ranjang, mengusap rambut dan mengecup ujung kepalanya berulang kali.
"Tinggal hire orang buat bantu urus Daeho, sayang. Lagian Asahi, Jaehyuk, sama Haruto juga setuju buat nemenin kita sementara. Kamu gak akan sendirian."
"Kalau aku gak ngerti cara ganti popok?" Tanya Doyoung tiba-tiba, suaranya tertahan karena ia sedang menenggelamkan wajah di depan dada Junghwan.
"Aku ngerti, aku udah belajar waktu itu sampai dapet sertifikatnya."
"Kalau aku gak bisa susuin Daeho?"
"Kan ada susu formula?"
"Kalau Daeho nangis malem-malem terus aku ikut nangis karena gak bisa nenangin dia?"
"Nanti kita nangis bertiga, aku temenin kamu nangis juga."
Seketika Junghwan mengaduh kesakitan karena Doyoung yang menepuk punggungnya lumayan kuat, "Jangan ngomong aneh-aneh dong!" Protesnya.
Senyum jahil terukir di bibir Junghwan tepat setelah ia melepas pelukan, netra cokelatnya fokus menatap wajah Doyoung yang lebih pucat dibanding biasanya.
"Aku tuh mau menghibur kamu tau," Ucap Junghwan sambil menggosok ujung hidungnya dengan hidung bulat Doyoung yang memerah, membuatnya langsung terkekeh kegelian.
Keduanya tertawa bersama, menikmati salah satu momen paling bahagia setelah menikah tiga tahun lamanya.
Netra Doyoung terpejam kala Junghwan mendaratkan kecupan ringan di keningnya, mengucap rentetan kata terima kasih karena telah memberinya anak yang melengkapi keluarga kecil mereka.
"I love you, makasih udah selalu ada di sisiku." Ucap Junghwan, Doyoung mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"I love you too, makasih Junghwan karena udah sayang sama aku."
"Sama kamu doang? Anak kita nggak?" Ledek Junghwan lagi.
"Anak kita juga dong, makasih ya ayah udah sayang sama Daeho juga."
Kebahagiaan itu nampak terlalu indah untuk dipandang, hingga Daeho yang berbaring tidak jauh dari mereka memutuskan untuk menangis keras, membuat Junghwan buru-buru berlari ke arahnya bahkan hingga sebelah sandalnya terlepas.
"Ututu, anak ayah kenapa?" Tanya Junghwan yang jelas tidak akan mendapat jawaban.
Tangisan Daeho makin keras, Junghwan mengangkat tubuh kecilnya dengan telaten, ia tidak bohong saat berkata bahwa dirinya sudah belajar ilmu parenting ketika Doyoung hamil besar.
Ia ditemani Haruto, tentu saja. Sahabat terbaiknya itu memang tidak pernah tega menolak permintaannya, apalagi setelah Doyoung memutuskan untuk investasi besar-besaran pada bisnisnya.
Tangis Daeho reda ketika Junghwan mengayunkan tubuhnya sambil bersenandung pelan, tetapi bayinya masih terjaga, menatap ayahnya dengan mata bulat persis dengan apa yang Doyoung punya.
"Papa, Daeho mau susu katanya." Ucap Junghwan sambil menyerahkan anak mereka ke arah Doyoung, Doyoung membuka dua kancing baju teratasnya sebelum memposisikan Daeho di depan dada.
"Aku boleh coba gak sih?" Tanya Junghwan yang kembali duduk di atas kursi.
"Coba apa? Susuin Daeho?"
"Bukan. Coba susunya Daeho."
Karena kedua tangannya sedang sibuk, kali ini kaki Doyoung yang bergerak untuk menendang Junghwan hingga ia nyaris tersungkur ke belakang.
***
"Ayah, Daeho mau ketemu papa Ruto."
Junghwan menarik napas dalam-dalam, ini bahkan belum jam tujuh pagi, mereka belum mandi dan sarapan juga belum tersedia di meja makan.
Namun anak sulungnya sudah berhasil memancing emosi.
"Ayah, ayah udah janji buat anter Daeho ketemu papa Ruto hari ini. Kan hari ini sekolah Daeho libur?"
Belum sempat Junghwan menjawab, sosok Doyoung yang berjalan menuruni tangga mengalihkan fokus mereka. Keduanya berlari menghampiri, menuntunnya yang sedang hamil menuju ruang tengah.
"Papa harusnya panggil Daeho kalau mau turun." Protes anak laki-laki itu sambil menggenggam sebelah tangan Doyoung.
"Daeho kan lagi ngobrol sama ayah? Papa gak mau ganggu." Jawab Doyoung sambil tersenyum ke arah anaknya. "Kamu gak ke kantor hari ini?" Kali ini ia bertanya pada Junghwan.
Junghwan menggeleng pelan, "Ini tanggal merah, sayang."
"Astaga aku lupa, pantesan Daeho belum rapi-rapi buat sekolah."
Saat ketiganya akhirnya duduk di atas sofa, Daeho menatap wajah Doyoung dengan raut memohon. "Papa, Daeho mau ketemu papa Ruto hari ini."
"Bukannya minggu lalu Daeho abis nginep di tempat papa Ruto? Takutnya ganggu, kan om Junkyu juga baru sembuh dari sakit kemarin?"
Rasanya Junghwan muak saat mendengar anaknya memanggil Haruto dengan sebutan papa, dari keempat orang yang selalu ada di sekitarnya, Daeho seolah memiliki tempat sendiri bagi Haruto di hatinya.
"Tapi kata ayah, Daeho boleh ketemu papa Ruto kalau lagi libur sekolah." Protes anak berumur lima tahun itu sambil merengut, wajahnya memang identik dengan Junghwan, namun tingkahnya lebih mirip Doyoung yang suka merajuk.
"Emang Daeho gak mau temenin papa di rumah?" Tanya Doyoung sambil mengusap wajah anaknya, "Kalau diajak ngomong jangan nunduk terus dong?"
Junghwan yang tadinya ada di sebelah Doyoung akhirnya pindah, duduk di samping anak laki-lakinya dan langsung menarik tubuhnya agar duduk di pangkuan.
"Jagoan ayah mau jalan-jalan?" Tanya Junghwan sambil menunduk, menyamakan posisi agar dapat menatap wajah Daeho.
Daeho mengangguk, "Mau jalan-jalan, tapi sama papa Ruto."
"Kok gitu? Gak mau sama ayah sama papa juga?"
Kali ini Daeho menggeleng, "Papa kemarin mual di dalam mobil, padahal cuma anter Daeho sampai sekolah. Daeho gak mau papa muntah-muntah lagi, kasian adik bayi."
Awalnya mereka pikir, jarak lebih dari lima tahun sudah cukup untuk memiliki anak ke dua. Tetapi sepertinya, mereka salah sangka.
Ingat impian Doyoung untuk punya belasan anak? Itu masih bertahan hingga sekarang.
"Papa udah gak mual kok," Jawab Doyoung jujur, morning sicknessnya memang sudah membaik sejak kehamilannya memasuk trimester ke dua. "Yuk jalan-jalan, kita ke taman safari liat kingkong, gimana?"
Kalimat Doyoung membuat Junghwan langsung menoleh ke arahnya, "Dari semua hewan yang ada, kamu milih kingkong, sayang?"
"Emang kenapa? Daeho kan belum pernah liat kingkong?"
Daeho yang masih duduk di pangkuan ayahnya seketika berjingkrak kegirangan, Junghwan bahkan harus memegangi tubuhnya agar tidak jatuh dari sofa.
"Ayah! Ayah! Daeho mau liat kingkong! Ayo kita liat kingkong!" Ucap anak laki-laki itu sambil terus bergerak, Junghwan nyaris kehilangan keseimbangan jika saja Doyoung tidak ikut memegang tubuhnya dari samping.
"Ayo ayah! Adik bayi juga mau liat kingkong!" Timpal Doyoung dengan suara yang tidak kalah keras.
Akhirnya Junghwan mengangguk, dan ia langsung terlempar ke belakang saat Daeho dan Doyoung memeluk tubuhnya bersamaan.
"Daeho cium ayah, bilang makasih juga ke ayah." Perintah Doyoung, tanpa menolak Daeho menghujani wajah Junghwan dengan ciuman.
"Makasih ayah! Daeho sayang ayah!"
Rumah yang enam tahun lalu sepi itu mendadak ramai hanya karena kehadiran satu anak di tengah mereka, rumah tangga yang awalnya hambar juga menjadi penuh warna karena dipenuhi cinta.
Candaan pagi hari terpaksa berhenti saat salah satu pekerja di sana berkata bahwa sarapan sudah siap, Daeho dengan cepat turun dari pangkuan Junghwan dan berlari menuju dapur.
Doyoung yang hendak menyusul malah terpaksa berhenti karena Junghwan yang menarik pergelangan tangannya agar tetap duduk di sofa.
"Kenapa?" Tanya Doyoung bingung, "Kamu gak mau sarapan?"
Junghwan menggeleng lalu membawa tubuh Doyoung agar duduk di pangkuan.
"Papa gak mau cium ayah juga?" Tanyanya dengan suara manja.
Dan Doyoung tertawa, ia menangkup wajah suaminya dengan kedua tangan dan mengecup bibirnya singkat.
"Udah."
"Lagi, yang banyak kayak Daeho tadi."
Doyoung tidak menolak, ia membubuhi wajah Junghwan dengan kecupan-kecupan ringan di berbagai sisi.
"Muka kamu, bau susu cokelat yang Daeho minum sebelum tidur." Ledek Doyoung, dan itu membuat Junghwan malah tersenyum lebar.
"Yaudah kalau gitu cium bibirku aja, biar baunya berubah jadi susu vanila yang kamu minum sebelum tidur."
Dan kali ini Junghwan yang bergerak maju, menyatukan bibir mereka sambil mengusap punggung sempit suaminya dengan sebelah tangan, karena tangan yang satu lagi ia letakkan di belakang kepala Doyoung agar tidak beranjak ke mana-mana.
"Papa! Ayah! Ayo sarapan!" Protes Daeho yang sudah duduk di kursi meja makan, membuat aktivitas menyenangkan mereka terpaksa berhenti di tengah jalan.
"Lanjut nanti malem ya?" Tawar Junghwan, dan Doyoung mengangguk pelan.
...
yeah tamat. aku hiatus dulu ok, gak tau bakal up buku baru kapan, doain aja pas comeback atau pas tour pulse on nanti hwanbby banyak moment.
sekarang di wattpad udah banyak kok cerita bagus, yang mirip sama punyaku aja ada, sementara baca itu dulu yah. tenang book yang lain gak akan aku unpub kok.
thank you yang udah nemenin space sampai tamat! see you when I see you.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com