2. Pecah
Zen's Troopers
_____
Dewa Cinta
| Ha! Iri sama penulis newbie? Lucu.
06.22 pm
_____
Rindukanmu
| Kak Queen gak pernah jahat sama orang, lho. Gini banget yang udah nulis lama tapi gak pernah best seller 🤣
06.24 pm
_____
Raindroplet
| Yang gini ini bisa bikin orang macem @Silver Queen jadi nutup diri n gak mau bagi ilmu lagi
07.21 pm
_____
Dewa Cinta
| Kalian ini sibuk banget bela dia, sementara orangnya sendiri gak menyanggah semua tuduhanku. Ya jelas makin terbukti lah kecurigaanku.
08.01 pm
Kubaca beberapa pesan terakhir karena malas membaca pesan-pesan yang banyak itu satu-persatu. Si sableng ini kalau dibiarkan akan makin ngelunjak.
Kudial kontak si dewa, tak mempedulikan saat ini masih pukul tiga pagi. Kekesalan yang kutahan sejak beberapa bulan terakhir tak bisa ditahan lagi.
Nada sambung berdering belasan kali dan telepon tak diangkat. Ingin segera meluapkan kekesalanku, kudial kembali kontaknya. Kali ini telepon diangkat setelah nada sambung ke-3, dan terdengar lenguhan seorang pria. Hampir saja aku mengatainya mirip suara sapi.
Pria itu menguap sebelum bicara. "Selamat pagi ... Arjun Argarval di sini. Ada yang bisa dibantu?" tanyanya dengan suara serak dan nada menyeret, pertanda aku baru saja mengganggu tidurnya. Kukira Dewa itu nama aslinya, tak kusangka nama aslinya lebih indah. Tapi siapa tahu itu hanya nama penanya yang lain.
"Arjun?" tanpa sadar emosiku mereda sejenak, hanya untuk mengkonfirmasi namanya.
"Ya?" balasnya.
"Jadi, namamu benar-benar Arjun?"
"Yes. Who is this?" tanyanya, kini nada malas sudah tak lagi terdengar. Selama sedetik, suara bergemerisik menganggu pendengaranku, sebelum dia mulai bicara lagi. "For God's sake, choco bar. What are you doing calling a man in this hour?!"
"I, uh-" Iya juga, aku ngapain, ya? Oh iya, tadi kan aku mau ngamuk. "What's your problem, ngefitnah aku macem-macem di grup chat penulis?!" desisku.
"Really? Cuma karena itu?" balasnya, nada malas kembali terdengar di ucapannya.
"Cuma itu, katamu? Aku gak pernah jahat sama kamu! Aku pengen tau kenapa."
Dia menghela napas panjang. "Aku cuma gak suka ada bocil yang baru aja belajar nulis, bisa seenaknya dapat penghargaan hanya karena punya banyak koneksi."
"Bocil, my ass! I'm 27!" desisku.
"Ah. Sorry, then," jawabnya enteng.
"Dan aku gak pake koneksi apa pun buat bikin karyaku laris. Asal tuduh aja, laki kok ember!"
Dia malah terkekeh. "Lalu kenapa kamu gak bela diri di group chat, malah ngilang, hmm?"
"For your information, Arjun Argarval. I have so many things to take care for, gak kayak anda yang nganggur dan bisa pelototin hape seharian."
"Pedes amat mulutnya, padahal choco bar biasanya manis," jawabnya santai.
Choco bar?! Kalau saat ini dia berada di hadapanku, sudah kucekek lehernya. Air mataku menetes, aku sungguh kesal padanya.
"Why me? Kenapa kamu ngeselin banget?" tanyaku sambil terisak.
Sejujurnya masalah ini sungguh sepele, hanya saja sudah terlalu lama aku memendam emosiku. Aku lelah mengurus semuanya sendirian sementara harus terlihat baik-baik saja di hadapan Marco dan Kai.
"Whoa, there. Are you okay?" tanyanya.
"I'm not, Asshole!" bentakku sebelum menutup telepon dan memblokir nomornya.
Pagi itu, aku mengalami breakdown. Kukunci pintu ruang kerjaku dan menangis sejadinya. Aku sungguh marah pada kenyataan, ketakutan akan hidup tanpa Marco dan membesarkan Kai seorang diri, walaupun keuangan bukanlah masalah besar bagiku. Kai kecilku butuh ayahnya.
Setelah puas menangis, kuusap wajahku dengan tisu basah dan membereskan sampah tisu yang berserakan di lantai dan meja. Kucolokkan ponselku pada pengisi daya dan keluar dari sana.
Kai kecil yang berlarian di lorong menghambur memeluk kakiku sambil tertawa lepas. Di belakangnya, Marco yang sedang berpura-pura menjadi dinosaurus mengejarnya. Dia terdiam saat melihatku, kemudian memeluk kami berdua dan mengecup keningku.
"Mila, tolong mandiin dan kasih sarapan buat Kai." Mila berjalan tergopoh ke arah kami dan menggendong Kai menjauh.
Ditariknya tanganku ke ruang keluarga, duduk di atas sofa dan menarikku ke dalam pangkuannya. "Kalau nangis, cantiknya berkurang," ucapnya.
Memandangi mata birunya membuatku mengingat kembali ketakutanku, dan aku mulai menangis lagi. Dia tak menanyakan apa pun, hanya memeluk dan menenangkanku. Entah bagaimana hidupku tanpanya.
***
Aku terbangun di tempat tidur. Pasti Marco mengangkatku kemari saat aku ketiduran setelah menangis.
Sinar matahari siang terblokade dan terlihat samar di balik gordyn tebal yang menutupi jendela kamar. Tak ada orang lain di kamar ini. Aku duduk dan melihat sebuah tudung saji di atas meja. Kuhampiri dan kubuka penutup berbentuk setengah bola berbahan besi stainless dan menemukan sepotong lasagna dan segelas jus semangka di atas nampan.
Secarik kertas ada di samping piring, bertuliskan : Eat well, Love. I brought Kai to your mum's.
Aku tak akan bisa hidup tanpa Marco. Dia adalah duniaku.
Sambil makan, pikiranku kembali terkenang saat pertama kali bertemu dengan Marco.
Aku yang saat itu sedang bimbingan tugas akhir, sedang merutuki nasip duduk sendirian di koridor kampus yang sepi. Dosen pembimbing yang sudah kutunggu hampir dua jam tiba-tiba saja membatalkan pertemuan dengan alasan sakit.
Sebagai salah satu mahasiswi dengan nilai cemerlang, aku cukup dekat dengan Pak Ivan. Tanpa sungkan, aku pun menyampaikan keluhanmu yang telah datang pagi ke kampus di hari Sabtu dan sudah lama menunggu.
"Maaf ya, Rey. Sungguh aku gak maksud gini juga," sesal Pak Ivan melalui sambungan telepon.
"Ya gimana, Bapak emang sakit. Reyna balik pulang aja kalau gitu," balasku.
"Tunggu. Kalau kamu dateng ke sini, gimana?"
"Ke mana, Pak?" tanyaku ragu, masa iya aku disuruh datang ke rumah seseorang pria lajang?
"Ke rumahku." Waduh.
"Gak ah, Pak. Menimbulkan fitnah nanti."
Dia tertawa. "Gakpapa Rey, di sini rame. Kan, aku buka kos-kosan putri. Ada temenku juga di rumah."
"Oh, okaly kalau gitu. Saya meluncur
sekarang, Pak." Tanpa ba bi bu, segera aku berdiri dan memasuki mobilku di parkiran, kemudian menuju ke alamat yang telah dikirim oleh Pak Ivan.
Kuparkir mobilku di halaman luas sebuah rumah tua tapi terawat dan asri. Aku yang bingung bagaimana harus memberi tahu Pak Ivan kalau sudah ada di depan karena tak ada bell tersedia, terkejut karena teriakan seekor burung beo yang ada di dalam sangkar yang tadinya luput dari perhatianku karena tertutup sebuah tanaman besar dalam pot. Beo tersebut berulang-ulang meneriakkan : "Ada tamu! Buka pintu!"
Tanpa sadar, kedua telapak tanganku kuletakkan di dada. Beberapa detik kemudian, pintu depan dibuka.
"Iya, iya, bawel!" sungut Pak Ivan yang mengenakan piyama dan terlihat agak pucat. "Sorry, Rey. Kaget, pasti. Aku lupa ingetin kalo di depan ada burung gila. Emang sengaja taroh situ buat gantinya bell.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com