Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter V

Doyoung meraih sebelah tangan Junghwan, menggenggamnya erat-erat sementara ia masih berusaha bicara dengan gerombolan orang yang berdiri di hadapan.

"Berapa hutangnya?" Tanyanya, salah satu dari mereka lalu menyodorkan kertas yang mereka bawa.

"Lima puluh juta, tapi kalau kamu bayarnya telat, kita bakal terus tambah bunganya."

Helaan napas berat keluar dari mulutnya, hanya dalam waktu dua minggu dan hutang ayahnya sudah sebanyak ini, memang tidak seharusnya Junghwan melunasi hutangnya tempo hari.

"Besok saya—"

"Nggak, kamu gak harus bayar hutang yang bahkan bukan kamu sendiri yang pinjam uangnya." Protes Junghwan, Doyoung memberi tanda agar Junghwan diam namun laki-laki itu malah kembali bicara.

"Kalau kalian mau tagih hutang, datang ke rumah saya." Perintah Junghwan pada para debt collector di depan, ia lalu menyodorkan kartu nama yang dilengkapi dengan alamat restorannya. "Jangan lupa bawa bukti kalau karyawan saya yang pinjam uangnya, karena mulai sekarang, dia tanggung jawab saya."

Kepala Doyoung mendadak pening mendengar ucapan Junghwan, kenapa atasannya itu malah memperparah keadaan? Karena Doyoung yakin bahwa gerombolan preman yang kini ada di rumahnya tidak segan-segan untuk berkunjung juga ke tempat Junghwan.

"Dan kalau gak ada buktinya, saya bakal laporin kalian ke polisi atas kasus pemerasan." Final Junghwan, dan berhasil membuat orang-orang di depan mereka pergi dari sana.

Doyoung melepas pegangannya di tangan Junghwan, berdiri di hadapan laki-laki itu dengan kedua tangan di sisi pinggang. "Kamu gak seharusnya bilang gitu ke mereka." Protesnya kemudian. "Mereka itu gak lebih baik dari mafia yang dengan mudahnya bunuh orang." 

"Terus? Saya harus takut?"

"So Junghwan-ssi. Let my problem being my problem, that's not yours.

"Tapi kamu karyawan saya, kamu ada di bawah kendali saya meskipun gak sepenuhnya. Saya berhak buat bantu kamu, Kim Doyoung."

Di bawah lampu jalan yang temaram, Doyoung dapat melihat netra cokelat terang milik Junghwan. Meskipun auranya gelap, namun tatapan Junghwan selalu berhasil membuatnya tersihir dengan mudah.

Berbanding terbalik dengan tatapan yang selalu ia lemparkan, Junghwan selalu mendapati kesedihan yang bersarang lama di sana.

Hidup yang Doyoung jalani tidak mudah, tidak pernah mudah sejak ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri puluhan tahun lalu.

"Let me help you, Kim Doyoung. Saya gak akan minta balasan apapun dari kamu."

Awalnya Doyoung ragu karena ia tahu tidak ada hal yang cuma-cuma di dunia, bahkan Ayahnya sendiri masih meminta balasan hingga saat ini karena sudah mengurusnya sejak kecil.

"Lagian saya juga gak punya apa-apa buat dikasih ke kamu." Jawab Doyoung jujur, ia lalu berjalan masuk ke dalam rumah yang hampir tidak berbentuk karena sudah diacak-acak oleh para preman yang datang.

"Bahkan tempat istirahat saya satu-satunya udah gak bisa lagi ditempatin." Ucap Doyoung pada Junghwan yang mengekor di belakang.

"Kan saya udah minta kamu buat tinggal di rumah saya." 

"Nggak. Deposito saya masih ada di pemilik rumah ini dan saya gak mau uang hasil kerja keras selama berbulan-bulan hilang gitu aja." Tolak Doyoung.

Masalahnya, Doyoung bahkan harus rela menahan lapar agar dapat memiliki uang yang cukup untuk menyewa tempat kecil ini. Ia masih ingat perjuangan kerasnya bekerja siang malam hanya untuk mendapat gaji tidak seberapa yang kemudian dipakai sebagai uang jaminan.

"Kim Doyoung, dengerin saya." Ucap Junghwan sambil memegang kedua bahu Doyoung, menuntun yang lebih kecil agar menatap ke arahnya. Junghwan sedikit menunduk untuk menyamakan tinggi mereka. 

"Kamu gak akan aman kalau terus tinggal sendirian, meskipun nanti saya bayar hutang kamu ke mereka, tapi gak menutup kemungkinan kalau mereka bakal balik lagi dan tagih hutang yang gak kamu pinjam karena mereka tau di mana kamu tinggal." 

Ingin rasanya Junghwan pasang lampu di depan wajah Doyoung agar laki-laki itu tidak terus memasang raut muram. Tangan yang semula ada di bahu perlahan bergerak, berhenti di wajah Doyoung untuk menarik naik kedua sisi bibirnya menggunakan jemari.

"Okay? Setuju kan? Saya gak minta balasan, cukup dibayar dengan senyum kamu kayak gini dan semua hutang kamu udah saya anggap lunas." 

Doyoung memutar mata, ia menyingkirkan tangan Junghwan dari wajahnya lalu mendorong tubuhnya agar menjauh. Serta sekuat tenaga menahan diri untuk tidak tersenyum karena ucapan konyol Junghwan barusan.

"Anggap aja rumah saya itu mess yang udah disediain sama tempat kerja, saya juga bakal kasih kamu pekerjaan tambahan selama kamu tinggal di sana, saya gak sedermawan yang kamu kira." 

"Okay, asal gak disuruh masak saya setuju." Ucap Doyoung, ia meraih koper kecil yang ada di ujung ruangan, barang yang dijadikan lemari portable karena jumlah pakaiannya yang sedikit. "Let's go." Lanjutnya, kali ini diiringi dengan memegang sebelah tangan Junghwan untuk keluar dari tempat yang memang sangat ingin ia tinggalkan.

Junghwan tersenyum, menatap pergelangan tangannya yang ditarik oleh Doyoung, mengekori yang lebih kecil menuju mobil yang mereka parkir di depan jalan besar. Satu langkah lagi Junghwan lewati, kini ia makin dekat dengan akhir yang sudah lama dirinya nanti. 

***

Rumah Junghwan ternyata lebih gelap dari yang Doyoung kira. Meski temboknya bernuansa putih, namun lampu yang terpasang di langit-langit seakan sengaja dibuat remang, entah apa tujuannya.

"Wow, ternyata kamu suka koleksi barang antik gini?" Ucap Doyoung, mengomentari lemari kaca besar yang langsung ia lihat begitu menginjakkan kaki di ruang tengah.

Di dalamnya terdapat berbagai benda, kebanyakan barang pecah belah seperti piring dan mangkuk keramik, serta gelas kaca yang luarnya diukir indah.

Dan Doyoung terkejut saat menemukan guci abu di sana, yang meskipun tanpa nama, namun ia tahu apa gunanya.

Kepalanya mulai memikirkan hal-hal aneh, apa Junghwan adalah seorang pembunuh berencana? Yang sengaja memancing korbannya untuk tinggal bersama, lalu membunuh dan membakar jasadnya, serta menyimpan sisa abunya?

"Itu cuma properti, gak ada isinya." Jelas Junghwan, seakan dapat membaca apa yang sedang Doyoung pikirkan.

Doyoung bernapas lega, lagipula mengapa ia takut dibunuh oleh Junghwan? Ia berulang kali mencoba membunuh dirinya sendiri sebelum ini.

"Ini kamar kamu." Ucap Junghwan sambil menuntun Doyoung menuju salah satu kamar yang pintunya terbuka. "Kamar saya ada di sebelah, kalau ada apa-apa kamu panggil saya aja." Lanjutnya.

Netra Doyoung memindai seluruh isi ruangan, hanya terdapat satu kasur berukuran besar juga lemari pakaian, namun di sini terdapat jendela yang mengarah langsung ke luar. 

Sebelumnya Doyoung tidak pernah tinggal di rumah dengan jendela, ia tidak memiliki uang untuk menyewa rumah dengan sirkulasi udara, dirinya harus puas tinggal di tempat kumuh dan pengap dengan fasilitas seadanya.

"Makasih, Junghwan." Ucap Doyoung tiba-tiba, ia baru menyadari kalau dirinya belum pernah berterima kasih pada atasannya yang sudah menawarkan berbagai bantuan.

Junghwan menoleh ke arah Doyoung yang juga menatapnya, melempar senyum ramah lalu mengangguk pelan. "Sama-sama, saya juga senang karena diizinin buat bantu kamu." 

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Doyoung akhirnya berbaring di atas ranjang. Netranya menatap lurus ke langit-langit kamar. Di umur yang belum genap dua puluh delapan, ia sudah mengalami banyak hal.

Menjalani puluhan pekerjaan paruh waktu, bertemu banyak orang dengan berbagai macam kepribadian, dan akhirnya ia bertemu dengan Junghwan yang kini memberinya banyak bantuan.

Selama hampir tiga puluh tahun disiksa oleh orang tua yang tidak pernah mengurusnya, kini Doyoung berhasil kabur tanpa perlu takut ketahuan.

Belasan tahun lalu ketika nenek yang mengurusnya masih hidup, beliau pernah berkata bahwa suatu hari akan datang orang yang bersedia menariknya dari kesulitan.

Doyoung tidak pernah percaya karena ia tahu bahwa dirinya tidak memiliki siapapun kecuali nenek dan orang tua yang entah kemana.

Namun saat melihat Junghwan di pinggir sungai Han, ia langsung teringat dengan pesan yang sudah bertahun-tahun dirinya lupakan.

Meski tidak memiliki sayap di belakang punggung seperti yang Doyoung kira, tetapi Junghwan berhasil membantunya. Secara perlahan, laki-laki itu berusaha menarik Doyoung dari semua penderitaan.

Terlalu banyak memikirkan Junghwan msembuatnya mengantuk dan netranya perlahan menutup. Malam ini, Doyoung berhasil untuk masuk ke alam mimpi tanpa beban berat di kepalanya untuk yang pertama kali.

***

Tepat pukul tujuh pagi, Doyoung terbangun karena suara alarm dari ponselnya sendiri. Setelah meregangkan tubuh, ia beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu. 

Tenggorokannya terasa kering karena menahan haus semalaman, ia tidak berani pergi ke dapur sendirian, apalagi ketika pemilik rumah sudah terlelap di kamarnya.

Dengan perlahan, tangannya memutar kenop, berusaha tidak menimbulkan suara karena takut Junghwan masih tertidur dan ia tidak sengaja mengganggunya.

Namun ketakutannya sirna saat melihat sosok Junghwan yang berdiri di depan kompor, indra penciumannya disambut dengan harum masakan begitu kakinya menginjak dapur.

"Good morning, maaf tadi malam saya lupa kasih kamu makan. Kamu gapapa kan kalau sarapan makanan berat? Saya gak mungkin cuma kasih kamu sandwich dan biarin kamu kelaparan sampai siang." Ucap Junghwan tanpa berbalik.

Doyoung hanya dapat mengangguk sambil menenggak satu gelas penuh air mineral. Sejujurnya ia bingung harus menjawab apa.

"Ada alergi?" Tanya Junghwan yang kini menatapnya, netra Doyoung memindai sosok Junghwan yang nampak lucu dengan spatula di tangan juga apron yang membalut pakaian tidurnya.

"Saya cuma alergi buah." Ucap Doyoung.

"Kiwi, apel, sama stroberi?" Tebak Junghwan, dan Doyoung kembali mengangguk.

Tunggu, Junghwan tahu dari mana?

"Saya cuma nebak, itu alergi umum orang Korea." Lanjutnya sebelum berbalik, kembali sibuk dengan masakan entah apa di atas kompor.

"Duduk, sebentar lagi sarapannya matang."

Dengan canggung Doyoung akhirnya duduk di salah satu kursi meja makan, dan Junghwan menghampirinya tidak lama kemudian dengan dua piring nasi goreng di tangan.

Sesi sarapan dimulai, Doyoung baru menyadari bahwa ia kelaparan saat tenggorokannya mulai menelan masakan Junghwan.

Suapan demi suapan masuk ke mulutnya, nasi gorengnya memang tidak seenak masakan koki di restoran, namun entah kenapa ia merasa familiar dengan rasanya.

"Enak?" Tanya Junghwan, dan Doyoung mengangguk dengan mulut penuhnya.

Tidak butuh waktu lama hingga makanan di atas piringnya habis, Doyoung mengusap perutnya sendiri karena kekenyangan, sementara Junghwan justru tertawa di kursi seberang.

"Harganya sepuluh ribu won." Canda Junghwan, dan berhasil membuat Doyoung tertawa.

"Saya serius, harganya sepuluh ribu won." Lanjut Junghwan.

"Tapi saya gak punya uang, gaji saya bahkan belum turun karena baru seminggu kerja di restoran." Balas Doyoung, menanggapi candaan Junghwan.

"Kamu bisa bayar pakai cara lain." Jawab Junghwan, kali ini sambil menatap tubuh Doyoung dari kepala hingga kaki.

Kedua tangan Doyoung refleks, bergerak untuk menutupi tubuh bagian atasnya. "Jangan macem-macem ya." Protesnya.

Junghwan tertawa, ia lalu berdiri dari tempatnya dan meraih piring kotor milik Doyoung yang masih ada di atas meja.

"Temenin saya belanja, banyak bahan makanan yang habis dan kita gak mungkin ambil bahan dari restoran." Ucapnya sambil berjalan menuju dapur.

Doyoung mengikuti langkahnya, ia memang tidak dapat memasak, namun masih bisa membersihkan peralatan makan yang kini menumpuk di atas wastafel.

Junghwan tidak menghentikannya, ia malah berdiri sambil bersandar pada kitchen counter lalu menatap Doyoung yang mulai sibuk mencuci piring.

"Kim Doyoung." Panggil Junghwan.

"Mhm?" Jawab Doyoung tanpa menoleh.

"Has anyone ever told you that you are beautiful? You're so pretty, way too pretty for a boy."

Gerak tangan Doyoung seketika berhenti, ia menoleh ke arah Junghwan yang masih menatapnya dari samping.

"Kenapa?" Tanya Junghwan lagi, dan Doyoung menggeleng lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.

"Belum pernah? Gak mungkin, pasti ada yang pernah ngomong gitu ke kamu sebelumnya."

Doyoung sangat ingin membuat Junghwan berhenti bicara, namun ia masih sibuk mengendalikan diri karena kini detak jantungnya malah ikut tidak bisa diam.








...

pelan pelan masuk ke inti cerita yah kawan kawan,,, BTW DAH PADA LIAT HWANBI PACARAN BELOM MUEHEHEHE HWANBI MANIA FULL SENYUM SAMPE BULAN DEPAN

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com