ii
[REVISI]
Atha berulang kali menyumpah serapah pada hari ini. Pasalanya, ini merupakan hari pertama ia masuk SMA. Momen yang paling ia tunggu semenjak akil balig. Lalu, sekarang apa? Ban sepeda motornya bocor. Ia merasa seperti gembel sekarang. Luntang-lantung di trotoar tanpa tahu harus berbuat apa.
Permulaan hari yang tidak baik menurut Atha.
Sebenarnya, Atha bisa saja menelepon tukang tambal ban untuk kemari atau dia yang pergi menuju tambal ban. Namun, sayangnya pulsa milik Atha habis dan jarak tambal ban cukup jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Bisa-bisa ia terlambat masuk sekolah jika menuruti sepedanya untuk berobat.
Sekarang ini, dia hanya bisa menunggu angkot lewat atau mencari tebengan secepatnya agar tidak sampai telat. Atha tidak mau dicap sebagai murid yang berandalan atau begajulan oleh guru-guru di sekolah, apalagi dengan guru ketertiban dan kesiswaan. Oh tidak, terimakasih.
"Ck. Sialan."
Mungkin, jika dihitung dari awal sepeda motor Atha mogok, laki-laki itu sudah mengucapkan kalimat tersebut berulang kali, sekitar tiga puluh.
Setelah menunggu kendaraan yang sekiranya bisa ditumpangi dan Atha tidak menemukannya sama sekali, ia mencoba menelepon tukang tambal ban. Meskipun, dia sadar pulsanya tidak mencukupi, Atha tetap melakukan hal itu, berharap ada keajaiban muncul dan ia bisa segera melanjutkan perjalanan ke sekolah tanpa harus menunggu angkot.
Namun, nyatanya harapan selamanya akan menjadi harapan. Jika pulsamu habis, maka jangan menelpon, itu sama saja pembodohan!
Atha mengerang kesal. "Sumpah, ini Mbak Operatornya gak kasian sama gue apa?"
"CEPETAN LO NAIK DI SEPEDA GUE ATAU LO BAKAL TELAT!" Sebelum Atha benar-benar berada di titik emosi paling tinggi. Tiba-tiba terdengar suara yang sudah Atha hafal di luar kepala. Itu Nizar.
Atha tersenyum lebar, segera merapikan tampilannya, tidak lupa mengamankan sepedanya yang masih mogok itu. Lalu, ia melompat ke boncengan sepeda Nizar. "CEPETANNN!"
Setelah melewati aksi maut dan salip sana salip sini, sepasang sahabat yang sudah seperti lovebird itu tiba di sekolah dengan badan yang masih utuh dan lengkap. Tidak kurang apa pun, meskipun, Nizar mengendarai sepedanya dengan kecepatan di luar akal, Atha tetap bisa menyelamatkan jantungnya agar terus berdetak.
Walaupun saat perjalanan tadi jiwanya sedikit melayang.
"Makasih tebengannya. Tenang aja, jantung gue masih berdetak, kok," ujar Atha pada akhirnya. Ia mulai berlari menuju kelas, jujur, Atha takut telat, padahal jam juga belum menunjukkan pukul tujuh.
Saking takutnya untuk telat di hari pertamanya Atha melalaikan diri dari suasana koridor yang ramai. Laki-laki satu ini terus berlari seperti orang kesetanan. Hingga pada akhirnya, Atha menghentikan langkah mendadak karena menabrak seorang perempuan di hadapannya.
Atha mendecak, ada saja yang menghambat.
Sebelum Atha sempat mengulurkan tangannya untuk membantu perempuan di hadapannya ini, perempuan itu lebih duku mendongak. Lantas, setelah melihat wajah itu, Atha kaget, satu hal yang ia tau, perempuan ini tidak asing dan dugaannya benar. Atha shock saat melihat siapa yang ia tabrak. Sedangkan perempuan itu hanya meringis menahan sakit. Lima menit digunakannya untuk menatap perempuan yang sedang menggerutu di bawahnya ini, memastikan dengan benar bahwa perempuan di bawahnya ini adalah seseorang yang selama ini dia kenal.
Atha mengerjap pelan setelah mendengar tawa dari orang-orang sekitarnya. "Eh, sorry, ya."
Perempuan itu menatap Atha dengan wajah sebalnya. "Kalo jalan liat-liat, dong!"
Atha gugup. Sangat. Perempuan ini sangat memberi efek besar baginya. Entah itu efek bagi kinerja hati atau otak, perempuan itu selalu tau bagaimana cara membuat dunia Atha jungkir balik hanya karena tingkahnya. Atha sendiri juga tidak bisa mengelak bahwa dalam hatinya ia merindukan perempuan itu, tapi Atha tidak mau lagi membuat perempuan itu sakit atau terluka. Cukup ia saja.
Akhirnya, Atha hanya diam saat perempuan itu memasang wajah judesnya. Namun, satu kesadaran membuatnya sadar. Atha sudah benar-benar telat!
"Iya, iya, maaf. Gue cabut duluan!"
◀▶◀▶
Atha bisa bernapas lega setelah mengetahui ia tidak telat untuk masuk kelas. Sekarang ini, dia hanya sendirian di bawah pohon untuk beristirahat sebentar setelah melakoni beberapa kegiatan MPLS di sekolahnya, termasuk mencari lima puluh tanda tangan. Semuanya sudah beres.
Laki-laki yang memiliki name tag Fairel Atharizz C itu menghirup oksigen banyak-banyak. Membiarkan terpaan angin menampar wajahnya yang sangat kusut kejadian tadi pagi. Hanya karena satu perempuan dan sepeda motor, Atha merasa harinya sangat kacau.
Sebenarnya, apa maksud keluarga perempuan itu menyekolahkan putrinya di tempat sama dengan tempat ia bersekolah? Atha takut hal-hal buruk terjadi.
Sekali lagi, Atha menghirup oksigen dengan ganas. Dadanya terasa sesak, Atha berpikir jika menghirup oksigen banyak-banyak, dadanya akan terasa lega kembali. Nyatanya, keresahan dalam dirinya bukan kerena itu. Namun, karena perempuan tadi.
"Hai, gue minta tanda tangan lo, dong."
Atha menggeleng pelan, itu halusinasi. Jangan lagi dengan suara itu.
"Hei." Pupus sudah, itu bukan halusinasi lagi saat Atha merasakan sebuah tangan hangat menyentuh pundaknya.
Mau tidak mau, Atha menoleh, mencoba bersikap biasa saja, tapi gagal. Lalu, setelah itu Atha tidak tahu apa yang harus ia lakukan. "Gue cabut dulu."
"Tunggu! Gue cuma mau minta tanda tangan doang, kok! Gue gak minta pertanggung jawaban lo atas perbuatan lo yang udah menyakiti pantat gue!"
Atha menyerang frustrasi dalam langkahnya, ia mengacak rambutnya. Kemudian, dia berbalik, menghampiri perempuan yang sedang menunggu di belakangnya seraya membawa buku biru donker. "Sini buku lo," ucap Atha tandas sambil menatap dalam-dalam mata legam yang sudah lama tidak ia selami.
"Nih," jawab perempuan itu sambil tersenyum tipis.
Selesai. Atha langsung mengembalikan buku biru donker milik perempuan itu dan segera berbalik untuk menghindar. Namun, sebuah cekalan hangat dan erat mampir di lengan Atha. Oh cukup, jantung Atha terus berdetak cepat sejak tadi.
"Makasih, Fairel Atharizz."
◀▶◀▶
"Kenapa, sih, Tha?"
Nizar yang sedang memantulkan bola basket sontak berhenti saat melihat kawan sepermainannya itu membisu sejak tadi. Padahal, yang mengajak bermain basket di lapangan komplek adalah Atha, tapi sekarang, laki-laki ini justru diam seribu bahasa sejak tadi.
Atha mendengus, mengacak rambutnya, lalu menyenderkan punggung ke sandaran kursi. "Retta, Zar."
Dua kata itu cukup untuk Nizar mengerti tentang hal yang sedang dialami oleh Atha. Bukan hal buruk menurut Nizar. Namun, saat melihat betapa kacaunya Atha saat ini membuat Nizar yakin bahwa Atha tidak baik-baik saja saat Retta kembali.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com