v
[REVISI]
Bel istirahat berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah, Retta yang mendengar itu segera membereskan barang-barangnya yang tergeletak di meja. Ia sudah merasa sangat lapar, padahal tadi pagi, Retta tidak merasa makan sedikit. Setelah semua barangnya sudah masuk di dalam tas, Retta menolehkan kepalanya ke samping. "Kantin, yok!" ajak Retta kepada Atha dengan semangat.
Atha menggumam pelan menggapi Retta. Namun, tak urung laki-laki itu juga bangkit. Perilaku Atha membuat seulas senyum tersungging di bibir Retta.
Setelah sampai, suasana kantin benar-benar ramai, Retta sampai engap berada di sini. "Rame amat, sih."
Laki-laki di sebelah Retta itu hanya tersenyum geli melihat wajah Retta yang sudah masam karena keadaan kantin yang benar-benar ramai dengan para siswa kelaparan. Belum lagi ditambah dengan suara dentingan piring atau gelas yang digunakan siswa untuk makan dan minum itu. Atha tau, Retta tidak suka suasana bising seperti ini.
"Makan sama temen gue mau, gak?"
Retta mendongak, lalu menganggukkan kepalanya cepat saat Atha menawarkan hal tersebut. Ayolah, tidak ada tempat kosong terlihat sejauh mata memandang. Jadi, lebih baik Retta menerima saja, kan tawaran Atha untuknya. Lagipula, kesempatan itu tidak datang dua kali.
Segera saja Retta mengekori Atha yang sedang berjalan dengan hati-hati di depannya. Langkah kaki laki-laki itu terus menapak sampai di ujung kantin, lalu kedua bola mata Retta menangkap dua orang yang sedang berebut bakso di hadapannya.
"Ngapain, sih lo pada? Homoan kalian udah di ambang batas," Atha berceletuk, kemudian duduk dengan tenang di samping laki-laki yang Retta ketahui bernama Nizar.
"Nizar ngambil bakso gue!" tuding laki-laki di hadapan Nizar dengan bibir mencebik kesal. Oh, dia terlihat lucu.
Nizar mendelik tak terima. "Ngambil lo bilang? Orang jelas-jelas ini punya gue!"
Atha menepuk dahi melihat kelakuan kedua temannya yang kelewat ajaib. Lalu, pandangan Atha beralih ke arah Retta yang sedang memasang cengiran saat melihat Rendi dan Nizar beradu mulut. "Kocak ya mereka?" Atha melontarkan pertanyaan tidak penting tersebut kepada Retta. Sudah jelas-jelas pertanyaan itu tidak perlu dijawab, semua orang tahu akan jawabannya!
"Iya kocak. Gak jelas banget. Oh ya, mau makan apa? Biar gue pesenin." Retta mengalihkan pandangan ke arah Atha.
"Bakso tiga," jawab Atha tenang, berkebalikan dengan Retta yang melongo.
Apa? Tiga?
"Satu buat gue, satu buat Nizar, satu buat Rendi. Nggak usah minum, kita bertiga selalu bawa minum ke sekolah." Atha mengakhiri penjelasannya dengan senyum tipis.
Sedangkan Nizar dan Rendi langsung berhenti dari aksi berebut bakso. "BENERAN?!" tanya mereka kompak. Benar-benar seperti homoan. "LOH, RETTA?!"
Dasar toa masjid.
Retta yang melihat kelakukan kedua teman Atha itu hanya terkekeh. "Hai, gue pesen makan dulu, ya. Laper."
Sepeninggal Retta dari bangku ketiga laki-laki itu, Nizar dan Rendi menatap Atha tajam―meminta penjelasan. Sedangkan Atha yang ditatap seperti itu hanya menunjukkan wajah santai. "Apaan? Gak usah kepo, ah."
"Kok bisa, sih? Lo udah move on emangnya?" tanya Rendi polos dengan binar penasaran di matanya. "Kalo gak jawab pertanyaan gue, kita tak temen lagi, ah. Males sama lau."
"Gue sekelas, sebangku."
Jawaban singkat dari Atha itu membuat kedua kawannya gregetan. "Yang jelas dikit kenapa, sih?" ujar Nizar kejam.
"Ya itu udah jelas anjir."
Rendi memanyunkan bibirnya. "Maksud gue kan gak gitu. Ih, kesel."
"Bodo am―"
"Hai!"
Sapaan serempak itu membuat Atha, Nizar dan Rendi menoleh. Kemudian, mereka bertiga mendapati Tista, Azriel, Keisha, dan Feeyla sedang berdiri di hadapan mereka. Ngomong-ngomong, mereka semua adalah another orang sinting di lingkup pertemanan Atha dan Retta. Jadi, tidak usah heran jika mereka bertingkah ajaib sepeti Nizar dan Rendi.
"Kagak ada kursi buat orang pacaran!" Rendi menyahuti sapaan itu dengan nada super nyolot.
Atha terkekeh geli menanggapi perkataan Rendi. "Duduk aja, jones iri ya biarin."
Azriel nyengir kuda, kemudian laki-laki itu mendudukkan pantatnya pada kursi. "Gue terserah dah makan apaan."
Setelah Keisha dan Feeyla pergi untuk memesan makanan, Retta justru kembali dengan empat nampan bakso dan satu es jeruk. Mata prempuan itu melebar saat melihat populasi laki-laki di bangkunya tadi bertambah banyak.
"Nih, baksonya," Retta berujar kikuk.
"Retta?" Kedua laki-laki yang baru saja menduduki bangku itu bertanya heran. "Lo sekolah di sini?" Lagi-lagi mereka berkata bersama-sama. Jodoh, eh?
Mendengar pertanyaan Tista dan Azriel, Retta justru menarik kedua sudut bibirnya ke atas. "Iya, nih."
Sebernarnya, Retta sudah mengenal mereka duluan dari Keisha, teman Retta yang satu itu memang selalu bersemangat menceritakan teman-temannya, termasuk mereka. Retta tidak perlu susah-susah mengerutkan kening karena tiba-tiba ada seseorang yang mengetahui namanya sebelum ia memperkenalkan diri. Pasti mereka diberi tahu namanya oleh Keisha.
Padahal, jika Retta tahu, bukan seperti itu. Mereka sudah mengenal Retta dari zaman di mana semua alat-alat elektronik belum secanggih sekarang.
◀▶◀▶
"Bang, geseran dikit."
Rengga menoleh dengan raut datar. "Apaan, sih? Tempat lo udah luas gitu masih aja geser-geser."
"Elah, dikit doang," gerutu Retta lagi seraya mendorong bahu Kakaknya. Namun, dorongan itu tak berefek sama sekali untuk Rengga.
"Kalo mau cerita ya cerita aja, kagak usah nyari posisi pw dulu."
Tepat sasaran, Retta nyengir lebar menanggapi perkataan Kakaknya yang selalu benar. "Gue sekelas sama Atha, sebangku lagi. Masih inget, kan Atha yang waktu itu gue ceritain pas sarapan sama Mama Papa?"
Rengga tersedak ludahnya sendiri saat mendengar nama Atha terucap dari mulut adiknya. Apa? Atha? Dia lagi? Rengga tersenyum sinis. "Ngapain deket-deket sama dia?"
"Lah, emang kenapa?" tanya Retta heran saat mendengar nada tidak suka dari Kakaknya. Memangnya Rengga sudah mengenal Atha sebelum ini?
"He's sucks."
Retta mengatupkan rapat-rapat bibirnya saat dua kata itu keluar dari mulut Kakaknya. Apa Retta salah mengambil keputusan untuk bercerita pada Rengga? Sebenarnya, ini ada apa? Apa Retta melewatkan sesutau?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com