Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

xiv

Aroma kopi menyeruak masuk ke dalam indra penciumanku, cafe yang menyediakan semua jenis kopi ini sangat aku dan Atha gemari, tak jarang jika pulang sekolah kami berdua selalu menyempatkan datang ke mari.

Aroma kopi yang bercampur menjadi satu membuatku tenang. Banyak anak remaja seusiaku mulai berdatangan, mulai dari yang datang sedirian, berdua dengan pacarnya, ataupun bergerombolan.

Bunyi lonceng yang menandai adanya pelanggan baru saja datang terdengar, aku menoleh ke asal suara dan mendapati dua orang yang baru kukenali beberapa jam yang lalu. Dua orang itu celingukan mencari tempat yang kosong, suasana cafe sore ini memang sangat ramai. Sehingga, mendapatkan tempat duduk saja sangat sulit.

"Ehm, gue ajak Dikta sama Abel duduk di sini ya? Kasian kalo berdiri terus." Aku mengajak bicara Atha yang sedari tadi hanya diam dan berkutat dengan ponselnya. Aku tahu dia sedang bermain getrich. Aku mengetahuinya setelah mendengar bunyi 'tentukan urutan lempar dadu' dari benda kotak yang ia pegang.

Dia menengok kanan dan kiri, lalu pandangannya jatuh pada dua orang remaja yang menatap jengah cafe ini. "Ngapain, sih, ngajak mereka ke sini, salah siapa datengnya kesorean? Kan jadi gak kebagian tempat duduk, masih untung tadi aku ikhlas si Dikta duduk sebangku sama kamu. Jangan harap ya aku ikhlas lagi." Atha mengoceh dengan rahang mengeras.

Aku memutar kedua bola mataku bosan, sikap egoisnya muncul lagi. "Atha gak kasian sama mereka?" Aku berkata dengan halus berharap bisa meluluhkan hatinya.

"Gak," jawabnya singkat, jelas, padat, dan juga ketus.

Aku mendengus, bener-bener childish banget nih anak.

"Silahkan kamu ngatain aku childish, silahkan. Tapi harus kamu inget, aku gak mau lagi-lagi kehilangan orang yang aku sayang. Udah cukup satu kali aku kehilangan, kehilangan itu sakit Retta. Mana pernah sih kamu ngertiin aku."

Kita berdua seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Bahkan, Atha masih memakai panggilan aku-kamunya. "Gue tuh gak mak-"

"Permisi, Mbak, Mas, ini pesanannya." Pelayan yang manis itu tersenyum.

"Makasih, Mbak." Aku sekilas membalas senyum pelayan itu.

Aku menyeruput caramel machiatto yang aku pesan dengan sesekali melirik Atha yang terlihat kesal.

"Kenapa, Tha?" Aku tidak ingin hanya masalah kecil saja membuat aku dan Atha bermusuhan.

Atha mengacak rambutnya. "Ya udah, ajak aja mereka duduk di sini. Aku gak apa."

"Gue tanya, lo kenapa?" Aku tak menghiraukan keputusannya untuk mengajak Dikta dan Abel duduk dengan kita berdua.

"Aku baik-baik aja."

"Gue gak maksa kalo lo gak mau mereka duduk bareng kita. Jangan baperan kenapa, sih." Aku memutar kedua bola mataku jengah.

Dia hanya diam. Oh, ayolah, ini hanya masalah kecil. "Aku gak apa kalo mereka duduk di sini."

"Gue gak maksa lo, kalo lo gak mau, gak masalah."

"DIKTA! ABEL! DUDUK SINI AJA BARENG KITA!" Atha berteriak memanggil mereka.

Aku hanya memandangnya bingung. Siapa yang tadi berisikukuh tidak ingin Dikta dan Abel duduk di sini? Dan sekarang siapa yang ingin Dikta dan Abel duduk di sini? Siapa? Aku lelah dengan Atha.

Dikta dan Abel celingukan mencari asal suara, setelah melihat lambaian tangan Atha, cengiran lebar tercetak di bibir keduanya. Dengan langkah lebar, keduanya menghampiri kami. "Untung ada kalian," ucap Abel gembira sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Hai Rett, Tha," sapa Dikta.

Atha mengangguk sambil tersenyum lebar. Gue gak ngerti lagi Atha mau gimana.

Atha yang sedang menatap Dikta langsung beralih begitu saja mengalihkan tatapan matanya kepadaku.

"Gue ke toilet dulu, ya, kebelet bangetc nih," pamit Abel sambil berlari terbirit-birit.

All need' s a little love in my life. All need's a little love in the dark. A little but i'am hopping might kick start. Me and my broken heart.

Nada sambung dari ponsel milik Dikta terdengar. "Gue angkat telepon bentar, ya."

Setelah kepergian Dikta, aku dan Atha tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Aku benci momen canggung kayak gini, aku benci sama suasana berhawa canggung macam tai ini. Ini diem, itu telepon, ono toile. Nah, aku harus apa? Mulut aku pengen banget ngoceh sekarang. Aku, tuh, gak suka kalo suasana kayak gini. Aku, tuh, gak bisa kalo diem terus. Aku, tuh, gak kuat liat muka ganteng di depan aku. Rasanya tuh pengen bawa pulang terus kurungin di kamar, mukanya ganteng banget astaga, kayak Cameron Dallas. Lupakan.

"Atha! Woi! Cewe cantik terpampang nyata gini dicuekin?" Aku ingin sekali menggampar wajah gantengnya itu.

Dengan wajah datar ia mendongak menatapku. Lalu, kembali menunduk, menatap ponselnya. Apakah cewek seksi di getrich itu mengalahkan keseksianku? Sampe-sampe Atha lebih suka liatin hpnya daripada aku.

"Atha, jawab kek, bosen nih gue." Aku merengek. Kayak bocah banget.

"Hm."

"Yaelah pelit banget jawabnya."

"Bisa diem, gak? Mulut apa petasan lebaran, nyerocos mulu. Untung bumi gak gonjang-ganjing gara-gara suara cempreng lo." Dan, akhirnya, dia membalas perkataanku dengan nyelekit.

Aku mencibir. "Sekalinya jawab nyelekit banget, kenapa, sih, diem mulu?"

"TAI!" Tiba-tiba Atha berteriak frustasi. Otomatis semua pengunjung cafe menatap Atha bingung. Pasti pada ngira kalo Atha ggs (ganteng-ganteng sarap).

Aku menatap semua pengunjung cafe dengan tatapan meminta maaf. "Apaan, sih, lo?"

Atha menatapku dengan muka melasnya. "Gue gak jadi tourism monopoli." Bahunya merosot.

Aku melongo mendengarnya. "Are you kidding me?"

"No."

Dikta datang dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa Dik?" Pertanyaanku membuatnya menarik napas.

"TADI ADA KUCING KETABRAK DI LUAR!" Dikta berkata heboh. Pengunjung cafe lagi-lagi menoleh mendengar pekikan Dikta.

Bener-bener ggs. Aku berada di antara lelaki ggs.

"Warna apa kucingnya?" Atha menyahut.

"Putih ada bentol item di matanya. Unyu banget astaga." Dikta menunjukkan ekspresi gemasnya.

Atha melotot. "Astaghfirullah."

"Ada apa, Tha?" Aku bertanya karena dia terlihat kaget dan sedih.

"Itu, tuh, anak kucing yang waktu itu emaknya aku tolongin lahirin dia. Inget, gak, pas kelas sepuluh itu?" Aku mengerutkan kening.

"Yang waktu itu gue dateng telat." Dia menatapku gemas.

Aku mengangguk. "Yo, gue inget."

"Kasian. Lucu tau. Matanya ada bulet-bulet itemnya." Atha menarik-narik cardigan yang kupakai.

"Ya, udahlah, Tha, ikhlasin aja. Doain tuh meong, kali aja dia idup lagi, kucing kan punya sembilan nyawa." Aku menunjukkan cengiranku.

Dia mengangguk, lalu kembali duduk. "Rett, jangan duduk depan gue dong, sebelah gue aja sini."

"Males ah, udah pewe."

Atha diam, Dikta diam, Abel gak balik-balik. Nih anak nyetor ke kamar mandi aja lama bener.

"Iya deh, gue pindah." Aku merubah posisi tempat dudukku. Gimana gak pindah? Atha liatin aku tajem banget, serem tai.

Atha tersenyum puas. "Gitu, dong."

"Aduh maaf, gue lama. Abisnya perut gue mules banget." Abel nyengir lebar.

Atha dengan santainya menaruh kepalanya di bahuku. Gak tau apa, kalo jantungku ini udah dangdutan.

"Rambut lo wangi jeruk, bikin ngantuk." Atha menggerak-gerakkan kepalanya di tengkukku. Oh man! Ini geli banget, sumpah.

"Berenti gerak, atau gue pindah tempat duduk." Perkataan mujarab dari mulutku, mampu membuatnya terdiam dalam seketika.

"Jahat." Atha bersidekap.

"Pacaran mulu, ya kalian berdua," celetuk Dikta.

"Sirik aja." Atha menyahut.

"Udah diem, rame bener." Aku menimpali.

"Ck, tadi gue diem salah, sekarang gue rame salah, repot ya lo." Atha mencubit pipiku gemas.

"Apa, sih." Aku melepaskan cubitannya.

"Pulang, yuk, Rett?" ajak Atha.

Aku mengangguk, lagipula aku udah pengen banget ketemu kasur bintang-bintangku yang unyu. "Dik, Bel, duluan, ya."

"Masa gue baru dateng ditinggalin?" Abel mendengus.

"Siapa suruh nyetor kelamaan." Dikta menjitak kepala Abel.

"Rambut gue berantakan." Abel merapikan rambutnya.

"Gue sama Retta cabut dulu, ya." Atha menggandengku keluar dari ruangan berbau kopi ini.

Aku keluar dari cafe ini, membelah kepadatan ibukota Indonesia ini.

Lampu-lampu jalanan yang mulai dinyalakan, para pegawai kantor yang duduk berjajajar di halte untuk menunggu bus. Pengendara kendaraan bermotor yang kesal karena kemacetan lalu lintas seperti ini. Klakson berngaung di mana-mana, pedagang asongan yang menawarkan dagangannya, pengamen yang mengais receh dengan gitar kecil dan suara sumbangnya. Semua menjadi hal yang menarik untuk diriku.

Kemacetan yang menjadi hal menyebalkan untuk para pengendara, justru menjadi hal yang aku sukai. Dengan kemacetan, aku bisa memeluk pinggannya dengan lama, mencium parfumnya yang selalu aku rindukan, menatap punggung tegapnya dengan lama, melihat wajah tampannya yang sedang serius mengendarai dari kaca spion. Dia tampan.

Dia laki-laki yang aku kagumi dalam diam, aku perhatikan dalam diam, aku ucap dalam bait doaku, aku harap untuk masa depanku, aku impikan dalam mimpiku, aku selalu menyanyanginya, walau nanti aku harus menerima kepahitan yang aku rasakan karenanya. Meski perlahan-lahan rasa ini tergantikan, meski nanti aku harus melupakannya. Tapi percayalah, hatiku masih tetap untuknya. Masih tetap sama.

"Lo gak turun?" Pertanyaan Atha membuatku terlonjak dari boncengannya.

"Eh?"

"Bengong mulu, sih." Dia melepas helm yang kupakai.

"Eh?" Aku kaget dengan gerakannya yang tiba-tiba melepas helm yang kupakai.

Atha berdecak. "Ah-eh-ah-eh mulu."

"Gue masuk, ya, ati-ati lo."

"Siap, bos!"

"Langsung pulang, jangan kelayapan." Aku memperingatkannya.

"Iya." Dia menjawab dengan gemas.

Aku membuka pagar. Lalu, melambaikan tangan kepada Atha yang men-stater motornya. "Hati-hati!" Atha mengacungkan ibu jarinya.

Aku berjalan gontai memasuki rumah, meletakkan sepatuku di rak. Lalu, berjalan menuju kamar.

"AZKI! BALIKIN BUKU TUGAS GUE!"

"PINJEM TUGASNYA, BANG! PELIT BANGET!"

"JANGAN PANGGIL GUE ABANG! KITA CUMA BEDA SATU MENIT!"

Aku mendengus mendengar teriakan biadab yang cempreng campur nge-bass itu. Tiada hari tanpa teriakan.

Aku merebahkan diri ke kasur berbintangku, menatap langit dengan bintang yang bersinar. Rasa kantuk menyerangku, kenyamanan yang ada di kamar ini membuatku mengantuk, di tambah dengan AC yang membuatku semakin mengantuk. Aku memeluk gulingku, dan tak lama terlelap di alam mimpi.

◀▶◀▶

Author POV.

"Kamu gak latihan? Besok udah mau pentas loh." Lelaki bersegam merah putih itu duduk di samping perempuan berkepang dua yang cantik.

"Aku capek, tau."

"Terus, kalo besok kamu gak hapal dialognya gimana?"

Perempuan yang dalam masa beranjak remaja itu menjawab. "Kalo dramanya buat perpisahan itu, mending diganti aja pemeran perempuannya, jangan aku."

"Kenapa diganti? Kamu gak mau jadi juliet aku?" Laki-laki berparas tampan itu cemberut.

"Gak gitu, cuma waktu kamu pegang tangan aku pas adegannya itu, tangan aku kayak kesengat listrik. Aku kan takut."

Laki-laki itu mengkerut. "Tangan Irel, kan, gak ada listriknya."

"Ya gak tau, Irel. Tapi, kan, aku takut tangan Irel punya kekuatan ajaib." Sila gemas dengan muka lugu Irel.

"Ah, gak mau tau. Pokoknya juliet Irel harus Sila. Titik. Aku gak mau kalo bukan Sila." Irel melangkah lebar menuju luar ruangan kelas.

"Irel ngeselin banget, ya. Ini kan perpisahan. Udah tau bentar lagi SMP masih aja suka ngambek." Sila menggerutu kesal.

11.55

Retta terbangun dari tidur lelapnya. Nafas memburu yang keluar dari lubang pernapasan Retta. Dia melihat sekelilingnya, cuma mimpi. Batinnya. Cardigan biru donker yang masih melekat di tubuhnya, seragam tak berubah.

Dengan segera Retta menuju kamar mandi untuk membersihkan diri pada tengah malam seperti ini. Hal ini sudah biasa ia lakukan, kebiasaan buruk yang tak kunjung hilang. Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah Retta membuka balkon.

Irel. Irel. Irel. Nama laki-laki itu terus berngaung di benaknya. Setelah berulang-ulang bermimpi, baru sekarang Retta mengetahui namanya.

Gemerlap bintang yang biasanya terlihat, kini tak ada. Meskipun hanya beberapa bintang saja sudah membuatnya senang. Angin malam yang membuat rambut yang ia gerai bergerak-gerak mengikuti arah angin. Malam yang sunyi. Tanpa ada keramaian jalan raya. Hanya suara jangkrik yang terdengar.

Setelah cukup memandang malam, Retta menutup balkon dan menghempaskan diri ke kasur. Lalu, terlelap dalam alam mimpi. Lagi.

◀▶◀▶

An//

Gini aja gitu.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com