Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

xx

Second day camp.
.
.
.
.
.
.

Mereka semua tersenyum puas melihat mentari yang baru saja terbit dari puncak gunung. Awan-awan putih nan lembut memutari mereka. Wajah lelah, puas, bahagia, sekaligus sedih terpahat di wajah mereka.

"Kita bisa, guys." Jo tersenyum lebar di samping bendera.

Rendi tersenyum kecut di balik wajah lelahnya. "Tapi, kita cuma bersembilan di sini, bukan bersepuluh. Kita gak lengkap, sama aja kita gagal," ucap Rendi ketus sembari melirik Abel yang tengah tersenyum puas.

"Iya, aku padamu, Ren," ucap Keisha dan Azriel bebarengan.

"Udahlah, meskipun kita cuma bersembilan. Retta di sana pasti bahagia liat kita di sini. Dia pasti bahagia liat kita berhasil." Bagas tersenyum memperlihatkan gingsul yang terpatri dalam giginya.

Keisha tersenyum tipis. "Ya, gue tau. Retta pasti seneng liat kelompoknya berhasil," ucapnya getir sambil menatap langit yang berawan.

"Sekarang mending kita selfie." Abel mengeluarkan kamera dari tasnya.

Rahang Rendi mengeras. "Selfie lo bilang? Lo punya otak gak sih hah? Gue males sama lo semua. Apalagi lo berdua, bitch." Rendi menatap tajam Abel dan Dikta.

Jo melihat hal tidak beres. "Sebenernya, kalian ada masalah apa?"

"Emang kalo gue jelasin, kalian nantinya percaya sama gue?" Rendi menaikkan satu alisnya menantang.

"Tergantung sih." Bagas meringis kecil.

"Halah, percuma aja." Azri bergumam.

"Ya udahlah, kita nikmatin aja dulu." Ayu merentankan kedua tangannya, menghirup udara pagi dari puncak gunung.

◀▶◀▶

Retta mengerjapkan matanya perlahan. Sinar matahari menyorot langsung dari celah pepohonan. Matanya yang sayu mencoba membuka meskipun terasa berat. Badannya serasa remuk. Retta memegangi punggungnya yang terasa nyeri, matanya terbelalak lebar ketika ia mengetahui dirinya sedang berada di tengah-tengah hutan belantara.

"Ya Tuhan, bantu hambamu ini," lirihnya sambil mencoba berdiri.

Celananya robek di bagian lutut sikunya berlumuran darah. Rambutnya acak-acakan tidak terbentuk. Kaki kanannya tidak bisa digerakkan. Retta meringis menahan rasa sakit. Sekelebat bayangan senja tiba-tiba muncul di ingatannya. Senja, tawa, jurang, dan teman.

"Atha, bantuin gue."

Dengan tenaga yang ia punya, Retta berjalan tertatih-tatih mencari sesuatu yang dapat di makan. Kepalanya serasa di tusuk ribuan jarum secara berturut-turut.

Sekelebat bayangan laki-laki kecil terlintas di pikirannya. Ia kembali terjatuh.

"KEPALA GUE!" Retta mencengkram erat kepalanya. Memukul-mukul bayangan laki-laki kecil itu. Rambut yang tadinya tidak terbentuk, kini telah rontok beberapa helai.

Retta menggigiti bibir bawahnya. Isakan kecil mulai terdengar, ia semakin erat mencengkram kepalanya. "Siapa lo, Irel? Gue sendiri di sini, jangan ganggu gue."

Kilasan-kilasan kejadian berputar seperti film di kepalanya. "Sakit," lirih Retta. Ia meringkuk di bawah sinar mentari pagi. Senja kemarin, adalah senja terburuk di hidupnya. Tapi, jangan salahkan senja.

◀▶◀▶

"Bang! Adek lo!"

Teriakan itu membuat Rengga menoleh, ia mendapati Liye terengah-engah di hadapannya. "Maksud lo, Li?"

"Ta―ta."

"Tata apaan, sih?" Tanya Rengga tak sabaran.

"Bentar anjir, napas dulu kali."

Liye menatap Rengga iba. "Retta, Adek lo masuk jurang."

Sepersekian detik, tubuh Rengga menegang. "Haha, gak lucu."

"Gue serius, Bang."

Rengga menyadari tatapan Liye. Liye sedang serius sekarang. "Kerahin semua pembina, panitia, peserta buat nyari adek gue," ucapnya tajam. "Kalo perlu, Polisi juga."

Rengga melangkah menjauhi Liye. "Bang! Mau ke mana?!"

Rengga berhenti melangkah. "Ya nyari Adek guelah, bego!"

"Kita bisa nyari bareng-bareng Bang." Liye menutup mulutnya.

"Setelah Adek gue, gue gak mau lo kenapa-napa, Liye! Lo di sini, tungguin gue balik!" Ucap Rengga. Liye yang mendengar itu hanya tersenyum lebar.

"Gue selalu nungguin lo."

Rengga menyambar senter terdekat darinya. Lalu ia berjalan cepat menuju hutan yang ada di sekitar. "Jangan. Cukup, cukup satu kali aja gue hampir kehilangan lo, Dek."

Sekarang, Rengga mengerti, apa yang membuat perasaannya tidak tenang sejak tadi. Adikya, berada dalam bahaya.

◀▶◀▶

An//

Pendek ya ....

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com