xxii
"Selamat malam!" Seru Tere riang. "Nah, kalian tau sendiri kan kalo camping itu gak akan lengkap kalo nggak ada yang namanya api unggun dan panggung hiburan? Makanya, malam ini, kita bakal adain api unggun dan juga panggung hiburan tepat jam dua belas malam nanti, oke?" Tere menjelaskan. "Beruhubung sekarang masih jam sepuluh, kalian diberi waktu dua jam untuk main, makan, main game, pacaran, tidur, mojok, terserah pokoknya. Tapi, kalian punya kewajiban, untuk mempersiapkan mental diri kalian masing-masing, untuk panggung hiburan nanti."
Perkatan Tere membuat suasana yang tadinya hening menjadi gaduh. Banyak remaja yang mulai bercekcok dengan teman satu kelompoknya untuk merundingkan, lebih tepatnya berdebat tentang apa yang akan ditampilkan di panggung hiburan nanti.
"Attention please guys! Listen to me!" Tere memperingatkan. Seketika suasana hening, dan hal itu membuat Tere tersenyum.
"Jadi, kenapa Kak Tere tadi ngomong mental bukan penampilan?" Tanya Tere yang hanya dijawab hembusan angin serta suara nyaring jangkrik. "Ini rules untuk panggung hiburan nanti," lanjutnya sembari tersenyum misterius.
Ia membuka satu kertas dan membacanya. "Satu, setiap kelompok harus memiliki lebih dari satu orang untuk mewakili kelompoknya. Dua, permainan ini dilakukan oleh peserta saja, pembina dan pantia hanya diperbolehkan menjadi penonton. Tiga, permainan ini dilakukan dengan cara tunjuk menunjuk. Em-"
"HAH? MAKSUDNYA TUNJUK MENUNJUK APAAN, KAK?"
Tere menghela napas mendengar pertanyaan yang menurut Tere, penyampaiannya kurang sopan. "Jadi gini, kelompok yang maju pertama kali itu di tunjuk oleh panitia. Contohnya, gue kasih tantangan ke kelompok satu, dan tantangan itu terserah gue, mau nyanyi, nari, drama, ngelucu, main musik, itu terserah yang nunjuk, paham?"
Semua menjawab dengan anggukan. "Misal, ya, gue kan nunjuk kelompok satu buat main drama tentang Cinderella, jadi kelompok satu harus tampilin drama itu. Setelah kelomopok satu udah tampil, kelompok satu bebas buat nunjuk dan ngasih tantangan ke kelompok mana pun." Tere teresenyum. "Oh ya, permainan ini juga bisa buat ajang balas dendam, hehe. Gakdeng becanda gue," lanjutnya sambil terkekeh.
"Rules keempat, gak boleh protes sama tantangan yang dikasih. Lima, harus melaksanakan tantangan dengan benar, gak boleh out of topic. Enam, udah abis."
Suara grasak-grusuk para peserta terdengar sangat bising. "OH YA, LAKUIN SEBAIK MUNGKIN TANTANGANNYA NANTI, PERMAINAN INI ADA HADIAHNYA." Rengga berteriak dari kejauhan.
Tere terekeh."Jadi, nanti kalian semua bakal dikasih tantangan yang gak disangka sama kalian sebelumnya."
"Oke, kalian siap-siap aja sekarang. Gue mau pergi."
Retta yang baru pulih hanya bisa memandang kerumunan di sekitarnya dengan malas. Ia tidak suka hal seperti ini. Sekarang, keinginan Retta hanya tidur, itu saja. Tapi apa daya, itu tidak bisa Retta lakukan dengan seenaknya. "Jadi, lo semua sekarang mau giamana? Gue takut dikasih tantangan yang tijel tau," Retta mendengus malas.
"Gue juga, image gue nanti jatuh di depan umum. Gue gak mau ya, big no!" Azri menjawab alay.
"Oh ayolah, Azri my babe lo pikir gue mau. Helo, fans gue nanti kabur semua." Rendi mengibaskan tangannya. "Demi cintaku padamu, gue gak sanggup lagi," lanjutnya dramatis.
"Kalo lo semua gak mau gimana, tai." Bagas mendengus keras.
"Lo aja, lo kan Pak Ketua."
"Lo aja, lo kan Pak Ketua, dua."
"Lo aja, lo kan Pak Ketua, tiga."
"Lo aja, lo kan Pak Ketua, empat."
"Lo aja, lo kan Pak Ketua, lima."
"Jo, gue gak kuat lagi, Jo." Bagas memasang wajah putus aja.
"Lo semua." Jo menatap teman satu kelompoknya tajam. "Tai, alay, drama. Udah, tiga kata itu cukup buat ngedeskripsiin kalian."
"Oh my god, Jo! Kita tuh cuma remaja biasa." Rendi berseru.
"Istighfar banyak-banyak gue ngadepin kalian." Jo mendengus jengah. "Jujur, gue capek sama ketidakpastian kayak gini," lanjut, Jo.
"Dasar drama!" Ucap mereka serentak kepada Jo.
"Sudahlah, Nak. Jangan kalian seperti ini, ini membuat Ibu resah dengan kesehatan jiwa kalian." Keisha berkata miris.
Rendi tersenyum geli, lalu menjawab. "Kumohon, Ibu. Berilah kami kesempatan."
"Tapi bagaimana dengan Ayahmu? Ibu tidak bisa melakukan semua ini." Keisha menyahuti.
Azri terkekeh. "Tidak, Sayang. Aku di sini baik-baik saja. Tolong jaga dia, selagi suamimu ini merantau."
Rendi semakin menggila. "Tapi, Ayah, anakmu ini menginginkan seorang Adik baru, bisakah kau membuatkannya dulu bersama Ibu sebelum kau pergi? Aku berjanji akan merawatnya."
Setelah itu, Retta tak kuasa lagi menahan tawanya. Ia terbahak keras sampai sudut matanya mengelurkan cairan bening. "Kalian kapan warasnya sih, hahaha."
Untuk Rendi, melihat tawa lebar Retta adalah secuil kebahagiaan yang ia dapat dari banyaknya siksaan yang ia dapat di dunia.
"Apa sih? Kok Ayu gak ngerti sama yang kalian omongin." Ayu menggaruk lehernya gugup.
Bagas terekekeh, lalu ia beringsut mendekati Ayu. "Ay."
Ayu menoleh dengan wajah polosnya. "Apa, Gas?"
"Ayu mau jadi pacar Bagas?"
◀▶◀▶
A
n//
Kurang baik apa aku apdet cepet gini.
Question for you.
1. Jadi, kalian semua maunya Retta sama siapa?
2. Jadi, nanti kira2 Ayu nerima Bagas apa nggak?
3. Jadi, yang nyelametin Retta siapa?
4. Jadi, kenapa Atha gak ikut nyariin Retta?
5. Jadi, kenapa Abel sama Dikta benci Retta?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com