Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

xxix

[REVISI]

Dan ya, perpisahan paling menyakitkan adalah kematian. Karena seberapa besar aku merindukannya, seberapa besar rinduku berteriak memaksa pertemuan, nyatanya kau tak ada. Kau telah tinggal di tempat paling sulit kugapai. Terpisah sekat abadi yang tak bisa kutembus, walau aku memaksa.

Akhir,
untuk kamu.

◀▶◀▶

"Ma, aku berangkat dulu ya!"

Retta menolehkan kepalanya ke sana kemari, guna mencari Mamanya yang tak kunjung melihatkan batang hidung. Gadis yang sudah siap dengan seragam serta atributnya itu mendengus masam, ia melirik jam dinding yang terdapat di ruang keluarga.

06.25

"Kak, Mama mana?"

Retta menoleh mendengar pertanyaan dari Azka. Tak lama ia mengembuskan napas jengah. "Gue juga nyariin Mama, gak ketemu tapi."

Terdengar helaan napas malas, Retta melangkahkan kaki menuju kamar Mamanya yang tertutup rapat. Sedari pagi, rumah Retta terlihat sepi. "Ka, lo mau ikut gue ke kamar Mama, gak?"

"Ngapain? Mau ngintip?"

Retta mendelik, menatap Azka yang kini mengoleskan selai nanas di roti yang akan dimakannya dengan garang. "Cepet kek kalo makan. Ikut gak?" tanya Retta sekali lagi dengan nada kesal.

"Iya-iya. Dasar mak lampir," gerutu Azka seraya memakan roti miliknya dengan cepat, tak mau membuat Retta mendelik berkali-kali kepadanya.

Sepeninggal Retta dari ruang makan, Azka segera menghabiskan sarapan miliknya yang tinggal sedikit. Lalu tak lama setelah sarapannya habis, Azka mengikuti Retta menuju kamar ibunya. Ia lebih memilih menuruti keinginan kakaknya yang satu itu daripada membuat keributan lebih lanjut. Dengan langkah malas, satu-persatu lagkah Azka menapaki tangga menuju kamar orang tuanya.

"Kak?" panggil Azka pelan seraya menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mencari Retta.

Nihil. Hanya terdengar suara bising televisi menyala dari ruang tengah.

Cowok berseragam biru putih itu mendengus. Kenapa pagi ini rumahnya nampak sepi? Mama dan papanya tidak terlihat sama sekali. Rengga sendiri pun sudah tidak ada di rumah sejak pagi tadi, entah apa yang dilakukan kakak tertua dari tiga bersaudara keluarga ini. Begitu juga dengan Azki, si bungsu keluarga ini, ia sudah meninggalkan rumah sejak pukul enam, katanya ia memiliki urusan dengan tim ekstrakurikuler.

"Ini mak lampir kok ilang tiba-tiba gini, sih." Azka membuka pintu kamar mamanya dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara gaduh--siapa tau mamanya masih tertidur.

Dan ternyata tidak, kasur milik mamanya tertata rapi dan bersih. Berarti beliau sudah tidak di rumah. Entahlah, kenapa orang-orang rumah pergi sepagi itu hari ini. Azka tidak tau, hanya saja firasatnya berkata bahwa ini buruk.

Azka mencoba menemukan Retta di kamar mamanya, mencari perempuan yang tadi mengomel menyuruhnya menghabiskan makanan dengan cepat. "Mana sih, ini juga kamar gede amat! Kak Rett?"

DAK!

"Anjrit! Eh salah--astaghfirullah!"

Suara benturan yang terdengar cukup keras membuat Azka berjengit kaget. Sampai-sampai ia tak sadar jaraknya sudah cukup dekat dengan lemari milik ibunya. Satu atau dua langkah saja ia berjalan, pasti tubuh Azka akan membentur lemari. Dan sekarang hal itu sudah terjadi, kepalanya membentur lemari milik mamanya di kamar. Lalu, hal itu juga yang membuatnya kaget.

Konyol. Azka terkekeh sendiri.

Cowok itu mulai memutari kamar mamanya dan mencari Retta--satu-satunya orang yang ia lihat saat turun dari kamar tadi pagi. Namun, nihil tetap saja Retta tidak ada--bahkan suaranya sekali pun tidak terdengar.

Sejenak, Azka menghela napas berat. Lebih baik ia berangkat menuju sekolah daripada mencari-cari seseorang yang bahkan keberadaannya pun tidak ia ketahui. Padahal, tadi jelas-jelas Retta bicara bahwa akan ke kamar mamanya. Namun sekarang? Siapa yang ada di sini? Tidak ada. Azka tidak tau apa semua orang di rumah ini mempermainkannya atau memiliki maksud dan hal lain.

Ia hanya bingung dan merasa cemas. Pagi ini benar-benar tidak beres.

Hari ini bukan waktunya untuk ulang tahun, tapi kenapa semua orang di rumah ini seperti menjahilinya? Menghilang tiba-tiba tanpa sebab.

"Ka?"

"Anjing! Eh, kok anjing?" ceplos Azka tak sengaja terhadap dirinya sendiri.

"Azka."

Kening Azka berkerut, kemudian ia berbalik badan dan menemukan seseorang yang dicari sejak tadi. Retta berdiri di hadapan Azka dengan tatapan datar. Perempuan yang menjabat sebagai kakak untuk kembar Azka Azki itu pun menghampiri dan mengamit tangan Azka untuk keluar dari kamar.

Retta menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Hari ini lo gak sekolah dulu gak apa, kan?" tanyanya seraya mengeratkan pegangan tangan terhadap Azka. Sorot matanya menunjukkan harapan. "Gue mohon. Plis ya?"

"Hah? Terus gue ngapain kalo gak sekolah? Bersih-bersih rumah gitu? Ya gue tau kalo Bibi lagi gak ada, tapi masa gue sih yang bersihin rumah? Apa masak juga? Ya kali. Kan ada lo, ngapa nyuruh gue? Lagian gue itu cowo, kalo bersih-bersih rumah takutnya gak bersih, nanti istri gua brewokan gimana? Gak lucu tau," cerocos Azka yang membuat wajah Retta tertekuk.

Setelah berkata seperti itu, Azka menunjukkan deretan gigi kepada Retta yang wajahnya terlihat kusut. "Dek, lo ke RS tempat Atha dirawat bisa, kan? Tapi sebelumnya anterin gue dulu ke sekolah, ada hal yang harus gue urus dan itu penting," jelas perempuan berseragam putih abu-abu itu. "Kalo lo nyari Mama sama Papa, mereka ada di RS, karena tadi pagi-pagi banget, Mama sama Papa dapet telepon dari keluarga Atha yang katanya, kondisi Atha memburuk."

"Lo barusan dari mana?"

"Taman belakang."

Azka bingung. "Ngapain, deh?"

"Ngangkat telepon, bego," ujar Retta gusar. Ia segera menarik tangan adiknya menuju motor yang sudah dipanaskan tadi pagi. "Sekarang lo anterin gue ke sekolah, terus lo cepet ke RS."

Azka menuruti keinginan kakaknya. Namun, banyak hal di kepalanya yang masih belum terjawab. Mengapa tidak terdengar suara sama sekali di taman belakang? Padahal, biasanya suara apa saja terdengar dalam suasana sepi seperti tadi pagi.

"Kak, lo gak bohongin gue, kan?"

Seketika pergerakan grasak-grusuk Retta di jok belakang motor berhenti. Perempuan itu menatap rambut adiknya dari belakang. Azka enggan menoleh, karena saat melihat wajah Retta ia selalu saja percaya, dan untuk sekarang, Azka tidak ingin percaya dulu. Tidak ingin percaya kepada Retta.

"Ka, anterin gue."

Cowok berseragam putih biru itu hanya menghela napasnya. Lalu, ia memakai helm dan segera pergi dari pelataran rumah menuju sekolah Retta. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Sudah pasti gerbang di sekolah sudah tertutup. Entah apa yang ada dipikiran Retta, perempuan itu hanya ingin pergi ke sekolah. Seperti hal terpentingnya ada di sekolah, tertinggal di sekolah.

Bahkan pada saat kondisi Atha memburuk, hatinya tetap ingin pergi bersekolah.

◀▶◀▶

"Gimana keadaan Kak Atha, Ma?" tanya Azka seraya menghempaskan badannya di sofa ruangan rawat Atha. Ia memejamkan matanya yang terasa lelah. Pikirnya terlalu banyak, namun ia tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Ya, aneh memang.

"Mama gak tahu. Maaf tiba-tiba ilang dari rumah gitu aja."

"Iya. Ini pada ke mana semua? Kok sepi?"

Perempuan berumur empat puluh itu ikut menghempaskan badannya di sofa sebelah Azka, ia menyandarkan punggung di sandaran sofa. "Papa pulang, mau kerja. Thaliee sama Arez udah berangkat. Terus, Mama sama Papa si Atha lagi makan di kantin. Jadi Mama sendirian."

Azka mengangguk mengerti, matanya hampir tertutup, sebelum sebuah suara serak terdengar dari arah ranjang Rumah Sakit yang ditempati Atha. Pemuda itu sadar, dengan sebuah senyum terukir di wajahnya, ia menyuruh Azka untuk mendekat.

"Mama gak mau makan di kantin? Sekalian ngasih tau Tante sama Om kalo Kak Atha udah bangun," Azka berucap seraya menghadap Mamanya.

Perempuan paruh baya itu hanya mengangguk. Lalu dengan langkah kecilnya ia mulai bergerak menuju pintu dan keluar.

"Gue mau ngomong sama lo."

Azka mendengus geli. "Ini udah ngomong tau."

Yang dibalas seperti itu hanya tertawa renyah dengan suara sumbang dan parau. Lantas, Atha menegakkan tubuhnya yang tadi berbaring. "Tolong. Gue minta tolong jagain Retta. Ya gue tau sih, harusnya gue ngomongnya ke Rengga, bukan sama lo. Tapi, gue tau Rengga super sibuk. Jadi ... gue ngomongnya sama lo aja."

"Lah ngapa gue? Kan ada lo." Cengiran lebar di bibir Azka membuat Atha tersenyum kecut. Sadar bahwa dirinya tidak bisa menjaga Retta lebih lama lagi.

"Yeu, kalo gue bisa juga gue gak bakal minta tolong sama lo, dugong," balas Atha kesal seraya melempar tisu ke arah Azka.

Sudut bibir Azka tertarik, ia tertawa renyah. "Emangnya lo mau ke mana sih? Serius amat elah, selow aja kenapa."

"Ke tempat yang jauh, gue titip ini ya buat Retta," Atha menyerahkan sebuah kotak sedang berwarna biru donker yang dihias bintang-bintang berwana emas di sekitar kotaknya.

"Oke. Lo nggak mau apa-apa? Gue ambilin, deh." Azka menaikkan alisnya sebelah, bertanya.

"Gue cuma mau tidur dengan damai. Jangan ganggu gue, ya. Selalu doain gue," pesan Atha, lalu tersenyum. Tidak ada yang menyangka sebelumnya, bahwa senyuman itu adalah senyum terakhir yang bisa mereka lihat. Sebelum semuanya hilang oleh takdir.

Azka mematung. Jadi, itu pesan terakhir?

Bunyi nyaring mesin pendeteksi detak jantung itu terasa mimpi buruk bagi Azka.  Buruk, benar-benar buruk saat melihat detik-detik kematian dari orang yang dipercaya terjadi, tepat di hadapanmu, bahkan sebelum bisa memberikan apa pun yang membuatnya bahagia.

Azka menekan-nekan tombol di hadapannya, guna memanggil dokter. Tangan laki-laki beseragam SMP itu bergetar hebat, mecoba mengecek detak jantung Atha.

Berhenti, sudah berhenti.

Berkali-kali otak Azka mengingatkan dirinya bahwa orang di sampingnya ini telah meninggal, tapi hati Azka menolak. Azka tidak bisa membiarkan seseorang yang sangat disayangi Kakak perempuan satu-satunya itu pergi. Tidak bisa.

Atha harus kembali. Demi keluarganya, demi Retta, demi kawan-kawannya.

Namun, sekuat apa pun Azka berusaha, nyatanya takdir Tuhan berkata lain. Atha sudah tiada.

◀▶◀▶

Di sekolah, pada waktu yang sama.

"Dik? Gue mau ngomong bentar boleh gak?"

Dikta menoleh, merasa heran dengan perempuan di hadapannya. Tidak ada angin atau hujan, perempuan yang selama ini jarang sekali berbincang--bahkan, sekedar menyapa pun tidak, kini mengajaknya berbicara. "Boleh, ada apaan? Tumben."

Retta tersenyum tipis menganggapi ucapan Dikta. "Lo punya dendam sama gue, Dik?"

Laki-laki itu terdiam. Mematung dalam duduknya. Pandangan matanya tiba-tiba kosong. Lidahnya terasa kelu sekarang. Ia ingin mengelak, namun tidak sanggup. Ia ingin mengiyakan, namun tidak tega. Hal itu justru membuat Retta tersenyum tulus, raut wajah Dikta sudah menjelaskan semua yang selama ini menjadi teka-teki dalam otaknya. Dugaannya benar, Dikta memiliki suatu rasa dendam kepadanya maupun Atha. Meskipun, sejujurnya Retta tidak tahu apa dendam itu, dan mengapa dendam itu ada.

Retta memang terlihat cuek, tidak peduli, namun selama ini dia selalu merasa ada yang tidak beres. Maka dari itu, dia mencari tahu. Mencari tahu apa yang mengganjal hatinya, memaksa dirinya untuk peduli. Tapi, dirinya masih merasa kurang, masih merasa ada yang tertinggal pada dirinya sendiri. Ada kepingan yang belum tersusun hingga saat ini, namun apa?

"Ya."

Satu kata, menyebabkan berpuluh pertanyaan dalam pikiran Retta. "Kenapa?"

"Kenapa lo tau?"

Retta menahan napas mendengar nada dingin dan ketus dari Dikta. Retta tahu, ia tidak seharusnya bertanya hal sesensitif ini. Tidak ada sejarah bahwa orang yang dendam kepadamu akan menjawab pertanyaan kenapa ia bisa dendam padamu. "Gue mencoba untuk tau. Lo gak tau rasanya jadi gue. Jadi orang yang gak tau apa-apa tentang dirinya sendiri dan diri temen terdeketnya. Jadi orang yang selalu pusing saat ngelihat foto masa kecil gue! Gue gak bisa dan gue gak tau, Dik! Tapi, gue selalu usaha!"

Dikta terhenyak mendengar perkataan Retta. Dirinya seperti dipaksa kembali pada masa yang seharusnya tidak ingin dia ingat lagi, tidak ingin sama sekali. "Kalo gue ngasih tahu lo, sama aja gue nyiksa lo, Rett," jawab Dikta dengan suara yang tidak sedingin tadi.

"Dengan lo gak ngasih tahu gue, gue bakal semakin kesiksa sama ini." Meski menjawab dengan suara samar, Dikta masih bisa mendengarnya jawaban Retta. Mendengar nada putus asa dari perempuan di sampingnya.

"Jadi, lo sahabat gue, Rett. Dari SD sampe sekarang pun, lo tetep jadi sahabat gue. Tapi, nggak lagi sama Atha. Gue benci sama dia, gue gak suka dia udah nyakitin lo. Dua tahun lalu, semua hal buruk itu nimpa lo, Rett," Dikta mejelaskan dengan suara serak.

Retta diam, mencoba menahan rasa pening yang tiba-tiba ia rasakan. Puluhan suara dan bayangan berkelebat di kepalanya. Teriakan, rengekan, tawa, dan tangis melebur dalam dirinya.

"Hari itu, sebenernya lo janjian sama dia. Seharusnya lo seneng-seneng sama dia, tapi dia terlambat, dia gak nepatin janjinya buat nurutin lo. Tapi, akhirnya apa? Lo kecelakaan, ingatan lo rusak! Waktu itu gue kacau, Rett. Gue gak tau harus apa," jelas Dikta frustrasi sambil menjambak rambutnya. "Gimana bisa orang yang udah gue kasih kepercayaan penuh buat jagain lo, tapi dia lalai gitu aja?

"Setelah kejadian itu gue ngejauh, gue benci Atha. Gue pengen dia lenyap. Tapi, gue tau, Atha adalah sumber kebahagiaan lo dan selamanya pun akan gitu." Dikta menghentikan penjelasannya, ia menoleh ke samping dan mendapati Retta yang sedang memegangi kepalanya.

"Udah. Cukup. Pala gue pusing," Retta berujar pelan.

Benar. Kepalanya sangat pusing sekarang, ia seakan-akan dipaksa bangun dari tidur panjang dengan sekali hentak. Kepalanya tidak sanggup menanggung tumpahan memori yang sama sekali tidak pernah muncul dalam ingatannya. Retta merasa ada kepingan baru yang tersusun dalam pecahan ingatannya. Sedikit, namun lebih dari cukup membuatnya paham bahwa hidupnya tidak selalu manis.

Retta juga tau jika dendam dan benci tidak akan timbul apabila tidak ada yang memulai dan menyulut. Api tidak akan menyala jika tidak dinyalakan. Begitu pun perasaan manusia.

"Makasih penjelasannya, itu lebih dari cukup. Gue pergi dulu."

Belum sempat dua langkah Retta berjalan, tubuhnya sudah ambruk duluan.

Menurut Dikta ini menyusahkan, apalagi saat melihat darah menetes di bagian kening Retta yang terbentur batu besar di hadapan perempuan itu. Rasanya seluruh tubuh Dikta mati. Tolong jangan sampai ia menjadi Atha kedua yang lalai menjaga Retta. Tolong jangan hilangkan dulu perempuan ini, Dikta belum sempat mengatakan perasaanya.

◀▶◀▶

Aku tidak akan bisa melakukan apa pun sendiri. Tanpa kamu, setiap potong tubuhku adalah benda mati, benar-benar mati.

◀▶◀▶

A/n

here i go! innalilahi, maafkan aku atha :( maaf, aku gak terlalu bisa bikin orang mewek-mewek karena ada kematian kayak gini. lagian, bikin anak orang nangis itu tidak baik :3 i'll try my best.

see you next time!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com