:: pergi ::
Aku melihat Yoongi di hadapanku. Lebih tepatnya Jungkook menabrak Yoongi yang tengah membidikkan kameranya.
Kau tahu apa yang lebih parahnya? Kameranya jatuh. Benda kesayangannya setelah boneka kumamon.
Ya Tuhan aku bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Yoongi terus diam, mengambil kamera yang jatuh dan memandanginya. Kata maaf tak hentinya Jungkook ucapkan pada Yoongi. Bocah itu langsung terjongkok di samping laki-laki dengan mantel cokelat itu. Laki-laki yang sempat ada di hidupku. Laki-laki yang Jungkook bilang brengsek dan tak tahu diri.
Aku yakin seratus persen kalau Jungkook mengetahui dia adalah laki-laki yang sering membuatku menangis, dia pasti tidak akan mengucapkan maaf itu. Yang ada bocah itu akan mensyukuri kejadian tadi.
"Ah maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja."
"Tidak apa-apa, tidak ada kerusakan."
"Eh? Yoongi hyung?"
"Jungkook? Aigoo lihat siapa yang kau ajak kencan malam ini."
Eh? Apa-apaan ini?
Bolehkah aku berlari sekarang? Atau terjun ke Sungai Han? Aku rasa itu ide gila yang aku butuhkan saat ini.
Yoongi mengenal Jungkook. Laki-laki itu tengah menepuk punggung Jungkook pelan. Aish, ia terlihat seperti kakek tua, seperti biasa.
Ah tapi bukan itu masalahnya. Tidak seharusnya aku mengingat hal kecil tentang laki-laki itu. Argh usahaku sia-sia saja untuk melupakan dia.
Masalahnya kalau Yoongi melihatku di sini, kemungkinan besar Jungkook akan mencurigai hal-hal yang berkaitan dengan laki-laki jahat yang aku ceritakan padanya. Kalau Jungkook sampai tahu ia adalah Yoongi, dengan kata lain aku menghancurkan hubungan mereka. Tidak, tidak. Itu sungguh tidak boleh terjadi.
Dengan cepat aku menaikkan syalku hingga menutupi setengah wajahku. Yoongi pasti tidak akan mengenaliku.
"Hanna-ya?"
Oh tidak. Dia mengenaliku.
"Kalian saling mengenal?"
Pikiranku kosong. Yang aku dengar terakhir kali sebelum aku merapalkan doa dalam hati agar Yoongi tidak menjawab dengan sangat jujur adalah suara Jungkook yang begitu menyelidik.
Ya Tuhan aku harap Yoongi tidak menjawab hal-hal aneh. Bisa saja Yoongi bilang kalau ia adalah mantan kekasihku. Dan berakhirlah dengan kejadian yang nantinya tak akan aku bisa lupakan seumur hidupku.
Aku memejamkan mataku. Tak sadar aku mulai memainkan jari-jariku. Hal yang selalu aku lakukan ketika aku gugup atau khawatir.
Ya, aku gugup Yoongi ada di hadapanku saat ini. Dan ya, aku khawatir Jungkook akan mengetahui Yoongi adalah mantan kekasihku.
Huh mantan. Kata itu terdengar menyebalkan bagiku. Apalagi Yoongi adalah mantanku satu-satunya.
"Kami satu kampus. Hanna sangat terkenal, siapa yang tidak mengenalnya. Dia salah satu murid jurusan sastra terbaik. Dia gadis yang hebat."
Suara Yoongi terdengar sungguh aneh. Laki-laki itu melunak dalam sekejap malam ini. Entah apa yang merasuki jiwanya, saat ini aku melihat Yoongi yang dulu lagi.
Yoongi yang kukenal saat tiga minggu pertama kami menjalin hubungan. Bukan Min Yoongi yang pertama kali kukenal mencoba segala cara untuk bicara padaku meskipun dengan cara yang sangat aneh dan menjengkelkan. Yoongi yang memberikan kesan manis pertama kali dalam hidupku. Bukan Yoongi yang meninggalkan kenangan buruk dalam ingatanku.
Namun Min Yoongi tetaplah Min Yoongi, dia hanya mantan kekasihku yang mungkin saja bersikap seperti ini sekarang karena kami berada di antara Jungkook.
Aku hanya terlalu banyak berharap.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com