Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XX

Suara deringan ponsel terdengar di seluruh sudut kamar, Doyoung yang baru terlelap selama tiga jam seketika mengerang saat suaranya justru makin keras. Sebelah tangannya bergerak, meraba sisi ranjang yang ternyata kosong tanpa penghuni.

Dengan terpaksa Doyoung membuka mata, baru pukul delapan pagi namun Junghwan sudah pergi?

Tetapi ia dengan cepat mengalihkan fokus ke ponsel yang masih terus berbunyi, dan langsung menghela napas saat melihat nama Jihoon di layar.

"Kenapa?" Tanyanya, enggan berbasa-basi.

"God, finally. Dari kemarin susah banget sih buat hubungin kamu?"

"Ponselku dipegang Junghwan, dia larang aku buat urus soal kerjaan. Ada apa sih? Urgent banget sampe harus telfon jam segini?" Omel Doyoung tanpa sadar.

"Kamu inget kan Paman Yoo? Yang waktu itu pernah dateng ke kantor dan marah-marah karena kakekmu udah gak urus perusahaan lagi."

Dengan cepat Doyoung mengiyakan, bagaimana bisa ia lupa dengan kerabat jauh neneknya yang sempat meminta bagian dari perusahaan karena merasa ada hak di sana.

Saat itu, pria yang seumuran dengan Ayahnya akhirnya menyerah karena Doyoung yang mengancam akan menuntutnya jika ia terus membuat keributan.

"Dua hari ini dia dateng terus, he acted like a boss selama kamu gak ada.

Doyoung kembali menghela napas berat, ia pikir tidak ada lagi masalah yang berarti saat proses balik nama aset yang diwariskan kakeknya. Dan ia yakin bahwa tidak ada satu pegawai pun yang berani mengusir Yoo Dongjun dari kantornya.

"Aku hubungin Junkyu dulu, kalau dia gak bisa handle juga, hari ini aku pulang." Jawab Doyoung sebelum memutus panggilan.

Tangannya bergerak cepat di atas layar ponsel, mencari nama kakaknya lalu menekan tombol hijau dan kembali mengarahkan benda itu ke telinga.

Butuh beberapa kali percobaan hingga akhirnya Junkyu menjawab, Doyoung langsung mendapat omelan karena sepertinya keadaan rumah sakit juga sama sibuknya.

"Aku cuma butuh hyung buat usir dia dari sana."

"Gimana caranya aku ke kantormu kalau aku aja udah tiga hari gak pulang ke rumah? Suruh Jihoon yang handle."

"Jihoon gak berani, paman udah ancem dia karena katanya Jihoon bukan bagian dari keluarga."

"Yaudah, nanti aku minta tolong Haruto—"

"Kenapa malah Haruto? Hyung pikir dia bakal nurut?"

"Ya terus gimana? Kerjaanku juga banyak, Doyoung. Lagian aku gak ngerti apa-apa soal perusahaanmu sama kakek, dari awal kan aku udah bilang kalau aku gak mau terlibat—"

Dengan perasaan kesal setengah mati, Doyoung mengakhiri panggilan secara sepihak. Ia berusaha mengatur napas yang menderu karena menahan emosi, menggigit bibir bagian dalam sambil memandang layar ponsel.

Dibanding meminta bantuan kakeknya dan menimbulkan masalah baru, Doyoung memilih untuk memesan dua tiket pulang. Padahal belum ada lima hari ia dan Junghwan di Jeju, tetapi pada siapa lagi ia harus mengemis bantuan? Tidak ada orang yang dapat menangani masalah ini kecuali dirinya sendiri.

Doyoung bangkit dari ranjang, kondisinya sudah lebih baik dibanding tiga hari sebelumnya karena mungkin tubuhnya sudah mulai terbiasa. Ia meraih tumpukan pakaian yang ada di lemari, merapikannya di atas ranjang untuk diletakkan ke dalam koper besar yang ia bawa bersama Junghwan.

"Kamu ngapain?" Tanya Junghwan yang baru keluar dari kamar mandi, rambutnya masih setengah basah dan ia hanya mengenakan celana tanpa atasan.

Yang lebih kecil menoleh sebentar, kalau bukan karena masalah yang sedang ia pikirkan, dirinya pasti sudah menarik tubuh suaminya untuk kembali naik ke atas ranjang.

"Kita pulang hari ini." Ucapnya setelah menatap suaminya.

"Pulang? Bukannya jadwal flightnya masih dua hari lagi?"

"Ada masalah di kantor."

"Kan aku udah minta kamu buat gak urus kerjaan dulu? Kita lagi liburan, Doyoung."

Gerak tangan Doyoung berhenti, ia kembali menatap Junghwan yang kini berdiri di samping.

"Terus aku harus minta tolong siapa? Jihoon gak bisa handle, Junkyu hyung gak bisa ke kantor. Aku harus minta bantuan siapa, Junghwan?" Doyoung menjawab sambil menahan tangis.

Ini yang membuatnya enggan berada jauh dari perusahaan, karena tidak ada orang yang dapat menghadapi masalah mendadak selain dirinya.

Junghwan berdecak pelan sebelum berjalan mendekat, sedikit menunduk untuk menatap jelas wajah suaminya. "Maaf. Jangan nangis, ya. Sini, biar aku yang packing semuanya, kamu mandi dulu aja." Ucapnya sambil mengusap sebelah pipi Doyoung.

Setelah menarik napas dalam-dalam, Doyoung pun mengangguk. Ia mengecup singkat bibir Junghwan lalu bergegas ke kamar mandi yang ada di sudut ruangan, meninggalkan suaminya yang kini sibuk mengemas semua barang bawaan mereka sendirian.

Tidak ada yang bicara selama perjalanan ke bandara, bahkan hingga mereka masuk ke dalam kabin keduanya masih tetap diam, sibuk dengan isi kepala masing-masing.

Doyoung yang memikirkan cara untuk mengusir pamannya dari kantor, dan Junghwan yang mulai merasa bahwa suaminya terlalu sering mengambil keputusan tanpa bertanya soal pendapatnya.

Hubungan mereka memang diawali dengan kontrak yang berisi peraturan bahwa ia harus selalu menuruti perintah Doyoung, tetapi bukankah seharusnya peraturan itu berubah karena kini pernikahan mereka sudah dilandasi dengan cinta?

"Maaf." Ucap Doyoung yang duduk di samping jendela, ia memeluk sebelah lengan Junghwan lalu menyandarkan kepala ke atas bahu lebarnya. "Maaf aku bikin agenda liburan kita berantakan." Lanjutnya, seakan dapat membaca isi kepala suaminya.

Junghwan mengangguk, sebelah tangannya yang bebas bergerak untuk mengusap lembut rambut Doyoung. "Justru aku yang minta maaf karena gak bisa bantu kamu." 

Kepala Doyoung menggeleng kuat, ia mempererat pegangannya sambil menautkan jemari mereka. "Kamu temenin aku aja udah lebih dari cukup. Aku gak tau bakal gimana kalau posisiku sendirian."

Penerbangan menuju Incheon hanya memakan waktu dua jam, masih pukul tiga sore yang artinya seluruh karyawan pasti masih berada di kantor. Mobil milik Doyoung sudah menunggu di tempat parkir, ia meminta supir panggilan untuk membawanya ke bandara agar ia dan Junghwan tidak perlu memakai taksi untuk bepergian.

"Beneran langsung ke kantor? Kamu gak mau makan dulu?" Tanya Junghwan yang duduk di belakang kemudi.

Doyoung menggeleng, "Sekalian makan malam aja. Masalah di kantor harus selesai hari ini." 

Junghwan mengangguk pasrah, lagipula ia merasa tidak ada hak untuk melarang gerak suaminya. Ia tahu betapa berharga perusahaan ini bagi Doyoung yang sudah dilatih untuk memimpinnya sejak dulu.

Mobil yang Junghwan bawa sampai di depan gedung kantor, keduanya masuk ke dalam dan berjalan lurus menuju lift yang membawa mereka menuju ruang kerja Doyoung. Jihoon bilang, Pamannya terus menempati ruangannya karena terobsesi menjadi pemimpin perusahaan.

"Paman ngapain di ruanganku?" Tanya Doyoung setelah membuka lebar pintu ruang kerjanya.

Pria paruh baya yang duduk di kursi yang biasa Doyoung tempati seketika terlonjak, ia tidak menyangka bahwa Doyoung akan kembali ke Seoul secepat ini.

"Bukannya kamu di Jeju?"

"Ya harusnya aku masih ada di Jeju. Cuma karyawanku ada yang ngadu kalau kantorku kedatangan penyusup yang gak bisa diusir." Jawab Doyoung, Junghwan yang berdiri di sebelahnya seketika menoleh, tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut suaminya.

"Penyusup? Saya masih punya hak atas perusahaan ini." Balasnya sambil berjalan mendekat ke tempat Doyoung berdiri.

Junghwan sedikit mendorong tubuh Doyoung agar berdiri di belakangnya, membuat orang di depan mereka malah tersenyum mengejek.

"Ini suamimu? Kamu pikir saya bakal takut sama dia? Dibanding saya, dia yang paling gak punya hak atas perusahaan yang dibangun sepupu saya."

"Jelas suamiku punya hak karena sekarang, ini perusahaanku. Semua aset udah diubah atas namaku."

"Kakekmu bodoh juga, berani warisin perusahaan sebesar ini ke anak kecil yang gak tau apa-apa kayak kamu."

Tanpa sadar Doyoung memutar mata saat mendengar jawabannya, dan itu berhasil membuat amarah laki-laki di depannya kian meninggi. 

Tangannya bergerak naik, hendak menampar wajah Doyoung yang terus bersikap kurang ajar. Namun gerak Junghwan lebih cepat, ia mencengkram pergelangan tangannya serta mendorong tubuhnya agar menjauh dari Doyoung.

Ia hendak bicara, tetapi suara pintu yang dibuka dari luar mengalihkan fokus semua orang yang ada di dalam ruangan.

"Kakek?"

***

Paman Doyoung akhirnya pergi setelah diusir oleh pemilik perusahaan yang sesungguhnya. Kakek Doyoung juga mengancam akan memenjarakannya jika ia terus datang ke perusahaan serta mengganggu cucunya.

Kantor nyaris kosong karena ini memang sudah lewat jam pulang kerja, setelah menasehati cucu serta menantu kesayangannya, kakeknya pun pulang, meninggalkan Doyoung dan Junghwan yang masih ingin berada di sana.

Sambil bersandar ke bagian belakang sofa, Doyoung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Junghwan yang duduk di sebelah seketika menoleh saat mendengar suara isakan yang keluar dari mulut suaminya.

"Doyoung?" Panggil Junghwan sambil berusaha menarik tangan Doyoung dari wajahnya. "Hey, kenapa nangis?" Tanyanya panik.

Doyoung menggeleng namun air mata sudah terlanjur turun membasahi kedua pipinya, dan tangisnya makin keras saat Junghwan menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan.

"Aku capek banget." Keluh Doyoung sambil melingkarkan kedua tangan ke belakang pinggang Junghwan.

Junghwan mengangguk, ia membisikkan rentetan kalimat penenang sambil mengusap punggung suaminya berulang kali.

"Kayaknya aku gak bisa, Junghwan. Aku gak mau urus perusahaan sebesar ini sendirian." 

"Gak sendirian, sayang. Kan ada aku, ada Jihoon juga."

Dan Doyoung kembali menggeleng, "Tapi gak ada keluarga yang bantu aku lagi, kakek gak mungkin kan aku minta buat balik kerja. Kenapa keluargaku gak mau bantu aku?"

Kali ini Junghwan tidak menjawab karena ia tidak tahu apa alasannya. Dirinya juga heran, bagaimana bisa keluarga Doyoung yang lain justru menggeluti pekerjaan berbeda saat kakeknya memiliki perusahaan sebesar ini.

Ditambah karyawan yang kebanyakan adalah orang tua, sepertinya harus diadakan evaluasi lanjutan untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Karena umur tentu menjadi kendala, Doyoung juga kadang kesulitan untuk menegur karyawan yang umurnya jauh di atasnya.

Begitu puas menangis, Doyoung akhirnya melepas pelukan. Ia menatap suaminya dengan wajah basah dan mata bengkak karena menangis serta kelelahan.

"Aduh nangis terus, luntur deh cantiknya." Ledek Junghwan sambil menyeka wajah Doyoung menggunakan ujung lengan kemejanya.

Untungnya berhasil, Doyoung tertawa lalu menepuk pelan bahu Junghwan. "Kamu gak suka aku ya kalau aku gak cantik lagi?"

"Emang bisa?"

"Ya bisa aja lah, aku kan gak tau isi hati kamu gimana."

"Bukan itu. Emang bisa cantiknya ilang dari wajah kamu?" Tanya Junghwan sambil memiringkan kepala, memandang suaminya dengan senyum khasnya.

Doyoung kembali tertawa mendengar jawaban konyol suaminya, dan ia nyaris teriak begitu Junghwan mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas pangkuan. Kedua tangan Junghwan melingkar erat di pinggangnya, sementara tangan Doyoung kini berada di belakang leher suaminya.

"Harusnya kita masih ada di Jeju hari ini." Ucap Junghwan tiba-tiba.

Perasaan bersalah seketika datang, dan Doyoung kembali merengut  "Maaf." Ucapnya sambil menunduk.

Junghwan menggeleng, ia menangkup wajah suaminya dengan sebelah tangan, memaksanya untuk tetap menatapnya. "Karena bulan madu kita masih ada tiga hari, gimana kalau kita coba di sini sekali sama di rumah dua kali?"

"Hah? Apanya?" Tanya Doyoung bingung.

Dan Junghwan tersenyum sambil menggigit lidahnya sendiri. "Bikin bayinya?"












...

yaudah dah lu puas puasin dah, gak kepikiran konflik juga aku jirr biarkan hwanbby MESRA-MESRAAN sampe book ini tamat

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com