Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XXII

"Junghwan... Dengerin aku dulu." 

Doyoung berusaha menggapai tangan Junghwan yang terus berjalan di depan, tetapi berulang kali ia gagal karena suaminya malah mempercepat langkah.

"Junghwan—a please," Mohon Doyoung lagi, ia bahkan nyaris tersandung kakinya sendiri sampai akhirnya berhasil berdiri di depan yang lebih tinggi.

"Kita bahas nanti."  Jawab Junghwan dingin sambil melepas pegangan Doyoung di pergelangan tangannya.

Tetapi Doyoung tidak menurut, ia malah mengikis jarak dengan memeluk erat tubuh Junghwan. Kepalanya menggeleng kuat, dadanya terasa sesak karena perasaan yang sulit tersalurkan.

"Nggak. Aku gak mau berantem sama kamu cuma karena hal kecil ini."

Dan tangisnya tumpah ketika Junghwan malah kembali melepas pegangannya, Doyoung menatap suaminya dengan wajah penuh air mata.

"Kalau kamu anggap hal ini kecil, itu berarti kamu belum tau salahmu di mana." 

Doyoung hanya dapat menatap Junghwan yang akhirnya masuk ke kamar mandi hingga ia akhirnya tertunduk, menyesali perbuatan serta kalimat yang terucap dari mulutnya sendiri.

Memang Junghwan mau ia bersikap bagaimana? Menolak memberi kerabatnya bantuan? Lima juta won memang bukan hal kecil bagi Doyoung yang menghabiskan jauh lebih banyak dari itu tiap ia keluar rumah.

Selama menunggu Junghwan, Doyoung yang berbaring di ranjang malah terlelap karena kelelahan. Nyaris tengah malam saat ia akhirnya terbangun karena lapar, dan perasaannya makin berkecamuk begitu menyadari bahwa tidak ada Junghwan di sampingnya.

Sambil memegangi perut yang mulai terasa nyeri, ia berjalan menuju lantai satu, langkahnya lurus ke arah dapur, berharap ada sesuatu yang bisa dimakan tanpa harus lama menunggu.

Ia berdecak begitu melihat meja makan yang kosong, bahkan kulkas hanya diisi oleh berbagai macam bahan makanan yang Doyoung sendiri tidak mengerti bagaimana cara mengolahnya.

Opsi satu-satunya adalah roti tawar yang ada di sudut dapur, dengan sangat terpaksa Doyoung meraihnya lalu mengoles sisinya dengan selai seadanya.

Sambil mengunyah makanan, ia mencari keberadaan Junghwan. Tujuan pertamanya adalah ruang tengah karena Doyoung kira, suaminya mungkin tidur di sofa. Tetapi nihil, Junghwan juga tidak ada di sana.

Netranya menangkap lampu ruang kerja yang menyala saat hendak kembali ke lantai dua, dengan langkah pelan ia akhirnya berjalan ke sana.

Begitu pintu ruang kerjanya terbuka, Doyoung menemukan sosok Junghwan yang terlelap dengan kepala bersandar di atas meja. Ia menghela napas lalu buru-buru menghabiskan makanan di mulutnya sebelum mendekat ke arah Junghwan.

"Junghwan..." Panggil Doyoung sambil menggoncangkan tubuh suaminya. "Junghwan, jangan tidur di sini." 

Junghwan mengerang pelan lalu akhirnya membuka mata, ia sedikit mundur saat menyadari posisi wajahnya terlalu dekat dengan Doyoung.

"Ngapain kamu di sini? Bukannya udah tidur?" Tanyanya dengan nada ketus, Doyoung yang hendak marah kini berusaha menahan diri begitu teringat bahwa pertengkaran mereka terjadi karena ulahnya.

"Nanti kepalamu pegel kalau tidur di sini, tidur di kamar aja." 

Doyoung mengulum senyum saat Junghwan mengangguk setuju, ia berjalan di belakang suaminya menuju tangga yang membawa mereka ke lantai dua.

Tetapi perasaan bahagia itu tidak bertahan lama karena langkah Junghwan berhenti di kamar yang sudah lama tidak ia tempati.

"Kamu tidur di dalam aja, biar aku di sini."

"Kenapa gak mau tidur sama aku?"

"Gapapa."

"Kamu kenapa sih? Aku udah minta maaf, aku udah kasih kamu waktu juga tapi kamu malah hukum aku kayak gini."

"Gak ada yang hukum kamu, aku cuma lagi mau sendiri."

Doyoung mengusap kasar wajahnya, matanya panas karena terlalu banyak menangis dan tubuhnya juga lelah karena berada di dalam mobil nyaris seharian. Ditambah masalahnya dengan Junghwan yang tidak memiliki titik terang.

Rasanya ia ingin teriak tetapi itu jelas bukan solusi, Doyoung bukan lagi remaja tanggung yang harus melempar tantrum saat keinginannya tidak dipenuhi.

Dan ia memutuskan untuk berdecak kesal sebelum berjalan masuk ke kamarnya sendiri, menutup pintu keras-keras sebelum menjatuhkan diri ke atas ranjang dan menangis dalam diam sepanjang malam.

Ia berniat tidur setidaknya hingga sepuluh jam, namun matahari baru terbit saat ponselnya berdering keras. Tadinya Doyoung hendak mengacuhkannya, tetapi saat melihat nama kakeknya di layar, netranya langsung terbuka lebar.

"Halo?"

"Kamu di mana?"

"Di rumah. Ada masalah apa?" Tanya Doyoung karena baru kali ini kakeknya menghubungi tanpa berbasa-basi.

"Ke sini sekarang, ada hal penting yang mau kakek bahas."

"Gak bisa nanti siang aja? Aku baru—"

"Sekarang."

Doyoung menghela napas, ia bangkit dari ranjang setelah panggilan terputus lalu berjalan lurus menuju kamar mandi di ujung ruangan. Ia mengenakan pakaian seadanya lalu berjalan keluar, menemukan sosok suaminya yang masih terlelap di atas ranjang kamar kedua.

Tadinya ia hendak berpamitan, namun saat teringat pertengkaran mereka tadi malam, Doyoung mengurungkan niat. Ia hanya berpesan pada satpam jaga sebelum pergi ke rumah utama menggunakan kendaraan miliknya.

Doyoung disambut oleh keluarga besarnya—minus Haruto— yang nampak menunggu kehadirannya di sofa ruang tamu. Dengan perasaan bingung, ia duduk di samping kakaknya.

"Kenapa?" Tanyanya pada Junkyu, namun yang lebih tua malah diam dan seakan meminta kakeknya untuk berbicara.

"Kok dateng sendirian? Apa karena ini weekend jadi suamimu yang cuma pegawai kontrak itu libur juga?"

Pertanyaan sarkas yang keluar dari mulut kakeknya membuat Doyoung terdiam seketika, netranya melirik kertas yang ada di atas meja dan jantungnya nyaris lepas saat menyadari bahwa itu adalah kontrak yang ia tulis dengan Junghwan.

"Aku bisa jelasin, itu—"

"Apa? Kamu gak punya pilihan lain dan akhirnya nyuruh karyawanmu sendiri buat jadi suami bayaran? Kita gak pernah maksa kamu buat nikah apalagi sama orang kayak Junghwan."

Kalimat yang Ibunya lontarkan membuat emosi Doyoung terpancing, apa katanya tadi? Tidak pernah memaksanya menikah? Apa ia tidak ingat saat Doyoung harus datang ke kencan bersama orang yang tidak ia kenal sama sekali?

Dan orang seperti Junghwan? Seburuk itu suaminya di mata mereka?

Doyoung mulai tertawa, tidak cukupkah masalah yang ia hadapi di rumah? Karena sekarang keluarganya malah menambah beban pikirannya.

"Gak pernah maksa aku buat nikah? Aku terus-terusan kencan sama laki-laki yang gak aku kenal, dipaksa balikan sama Hyunmin, disindir di pernikahan Jihoon karena kalian semua mau aku buru-buru nikah, gak peduli siapa orangnya."

Ucapannya membuat seluruh keluarganya diam, Doyoung akhirnya bangkit, berdiri sambil menatap wajah mereka dengan tangan di kedua sisi pinggang.

"Lagian apa peduli kalian? Mama sama Papa sibuk di rumah sakit, lebih deket sama Junkyu hyung yang kerja di sana juga. Secara gak langsung, kakek terus maksa aku buat urus perusahaan sebesar itu sendirian. Kalian pikir aku gak capek? Punya waktu buat kencan? Punya waktu buat cari calon suami yang gak berpotensi bawa kabur harta warisan? Bahkan orang yang dikenalin sama iparku sendiri malah nyakitin aku berulang kali."

Doyoung menarik napas dalam-dalam, mengatur emosi yang terus meluap tanpa kendali. Tetapi melihat bagaimana raut keluarganya membuat amarahnya malah makin meledak.

Ini pertama kalinya anak yang terus menurut selama hampir tiga puluh tahun itu mengamuk di depan keluarga.

"Gak usah peduliin kontrak yang aku buat sama Junghwan, kita berdua udah bahagia sekarang." Ucap Doyoung, berusaha melupakan konflik yang sedang terjadi bersama suaminya. 

"Udah? Itu doang kan yang mau kalian bahas?" Tanya Doyoung, tetapi keluarganya tidak menjawab. "Aku masih ada urusan, dan tolong jangan pernah bahas masalah ini di depan Junghwan." Ucapnya lagi lalu merampas kertas yang ada di atas meja sebelum berjalan keluar dari rumah.

***

"Beneran belum pulang? Tadi dia ke rumah sebentar terus langsung pergi lagi."

Jawaban dari kakak iparnya tidak memuaskan Junghwan, sudah lewat pukul delapan malam dan Doyoung masih belum memberinya kabar. Ia sadar bahwa tadi pagi Doyoung pergi tanpa bicara. Namun tidak menyangka bahwa suaminya akan pergi hingga selarut ini dan ponselnya juga tidak dapat dihubungi.

Junghwan akhirnya ikut keluar, mencari keberadaan suaminya di tempat yang mungkin Doyoung kunjungi. 

Kantor adalah tempat pertama yang menjadi tujuannya, karena Junghwan tahu bahwa Doyoung tidak memiliki tempat aman selain ruang kerjanya sendiri.

Untungnya tebakannya benar, Junghwan menemukan sosok yang ia cari tengah berbaring di atas sofa yang mengingatkannya dengan pertemuan pertama mereka.

Doyoung tidak tidur, netranya memandang kosong langit-langit ruang kerja yang sudah ia tempati bertahun-tahun lamanya. Namun ia juga tidak bergerak bahkan saat Junghwan mulai berjalan mendekat dan berjongkok di sebelah.

"Sayang," Panggil Junghwan dengan suara pelan, Doyoung akhirnya menoleh, mengalihkan pandangan ke wajah suaminya yang nampak tidak lebih baik darinya.

"Kamu ngapain di sini?" Tanya Junghwan, tangannya bergerak mengusap sisi wajah yang lebih kecil. Desisan pelan keluar dari mulutnya saat merasakan sensasi hangat ketika kulit mereka bersentuhan.

"Kamu udah gak marah sama aku?" Tanya Doyoung dengan suara serak. Junghwan mengangguk, rautnya berubah menjadi penuh rasa bersalah.

"Maaf," Ucap Junghwan, "Maaf ya sikapku kayak anak kecil, gak seharusnya aku diemin kamu terus-terusan."

Kepala Doyoung rasanya berputar saat ia beranjak untuk duduk di atas sofa, perutnya juga sakit karena tidak mengonsumsi apapun selain roti tadi malam. Ia yang kini duduk bersandar langsung membentangkan kedua tangan, memberi tanda agar Junghwan memeluknya.

Tangis Doyoung pecah di dekapan Junghwan, emosinya meledak karena masalah yang terus datang bergantian. Pertengkarannya dengan Junghwan serta ingatan soal sikap kurang ajarnya ke depan keluarga besarnya barusan.

"Aku capek banget. Padahal aku punya kamu, keluargaku juga, tapi kenapa rasanya aku kesepian tiap lagi ada masalah?"

Junghwan tidak menjawab, ia malah mengeratkan pelukan dan terus membisikkan kalimat maaf tepat ke telinga suaminya.

"Aku yang salah, Junghwan. Aku tau aku salah, aku salah karena ikut campur soal keluargamu, tapi harusnya... harusnya kamu gak perlu diemin aku." Keluh Doyoung di sela isakan, tangannya memukul pelan punggung Junghwan.

"Aku gak punya siapa-siapa selain kamu, aku gak pernah ngeluh di depan keluargaku karena tau mereka juga punya masalah yang lebih berat dari aku. Tapi kalau kamu diemin aku, aku harus cerita ke siapa?"

Doyoung terus menangis, sesekali mengoceh soal perasaan yang hanya dapat ia ungkapkan di depan Junghwan hingga akhirnya terlelap karena kelelahan. Junghwan melepas pelukan mereka, menatap wajah pucat suaminya lalu mengangkat tubuhnya dengan kedua tangan.

Untungnya tidak ada orang di kantor kecuali satpam jaga, membuat Junghwan leluasa membawa tubuh Doyoung ke mobil yang ia parkir di parkiran bawah tanah.

Junghwan membawa mobil dengan hati-hati, berusaha tidak mengganggu waktu istirahat Doyoung yang terlelap di kursi sebelah. Tetapi tiba-tiba suaminya mengerang, membuka mata dan meminta Junghwan agar menepikan kendaraan.

"Kenapa?" Tanya Junghwan panik.

"Mau muntah." Ucap Doyoung sambil menutup mulut.

Kendaraan berhenti di pinggir jalan, dengan cepat Doyoung turun dan berjongkok di samping mobil. Sementara Junghwan ikut berjongkok di sebelah, tangannya memijit pelan tengkuk suaminya.

"Ke rumah sakit ya?" Tawarnya, tetapi Doyoung malah menggeleng.

"Nggak, aku mau pulang. Lagian ini mual aja karena belum makan." Jawabnya, karena memang tidak ada yang keluar dari mulutnya sebab ia belum makan apapun sejak kemarin malam.

Junghwan tidak mendebat dan menuruti permintaannya, mereka masuk ke mobil saat mual Doyoung reda, kendaraan pun bergerak menuju kediaman mereka yang letaknya tidak jauh dari tempat kerja.

"Makan dulu, emang di rumah Papa tadi gak makan apa-apa?" Tanya Junghwan sambil menuntun Doyoung menuju dapur.

"Nggak sempet." Jawabnya, enggan memberi penjelasan lebih jauh.

Doyoung duduk di kursi meja makan sementara Junghwan sibuk menyiapkan berbagai lauk yang sudah dimasak oleh pengurus rumah, tangannya bergerak meraih sumpit yang suaminya sodorkan.

"Bisa makan sendiri kan? Atau mau aku suapin?" Tawar Junghwan, ia merapikan rambut yang menutupi mata suaminya.

"Suapin." Ucap Doyoung sambil mengembalikan alat makan di tangan dan diterima dengan sukarela oleh Junghwan.

"Habis makan nanti minum obat, ya? Kamu demam sedikit." Perintah Junghwan, tetapi kali ini Doyoung menggeleng.

"Gak perlu minum obat, aku demam tuh karena semalem tidurnya gak sambil dipeluk kamu."

Malam itu, tawa kembali terdengar di rumah yang sempat menjadi saksi pertengkaran hebat pemiliknya. Dan Doyoung tidak tahu apakah masalah dengan keluarganya sudah selesai atau justru melebar tetapi yang jelas, ia bahagia walau hidup hanya bersama Junghwan.












...

apakah doyo hamil? Atau asam lambung? Atau mabok karena di mobil baru Junghwan bau stella jeruk?

btw bentar lagi tamat :(

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com