Chapter XXV
cw / kdrt sedikit
"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Doyoung, ia ingin bangkit dan menjauh dari Hyunmin yang makin mendekat, tetapi tubuhnya seakan tidak memiliki tenaga.
"Aku cuma mau ngobrol buat minta maaf."
Ucapan Hyunmin tidak lantas membuat Doyoung percaya, ia memanggil nama Jeongwoo keras-keras dan untungnya sekertarisnya itu langsung masuk ke dalam ruangan.
"Usir dia, saya gak mau terima tamu siapapun hari ini."
"Tapi Doyoung, aku beneran cuma mau minta maaf. Haruto hampir bunuh aku pas dia tau semua perbuatanku ke kamu, dan dia juga nyuruh aku buat minta maaf langsung ke kamu."
Doyoung menggeleng kuat, ia memijit keningnya sendiri karena peningnya makin terasa.
"Bawa dia keluar." Perintah Doyoung lagi, Jeongwoo mengangguk sebelum menyeret tubuh mantan kekasihnya.
Samar Doyoung dengar suara berisik dari balik pintu, Jeongwoo nampaknya kesulitan saat berurusan dengan Hyunmin, membuatnya terpaksa meminta bantuan satpam yang akhirnya berhasil mengusir laki-laki itu dari area kantornya.
Tidak lama kemudian, Jeongwoo kembali masuk ke dalam ruangan, ia berjalan mendekat ke arah atasannya.
"Mr. Kim, are you okay?" Tanya Jeongwoo dengan nada khawatir, dan Doyoung hanya mengangguk dengan mata terpejam.
"Mr. So kasih kabar kalau sebentar lagi dia sampai." Lanjutnya, "Maaf, saya gak tau kalau orang yang barusan datang itu tamu yang gak diundang, dia bilang dia teman Pak Haruto dan udah kenal lama sama bapak."
"Gapapa, saya yang lupa kasih tau kamu soal dia." Jawab Doyoung yang akhirnya melempar senyum ke sekertarisnya. "Kamu boleh lanjutin kerjaan kamu."
Jeongwoo mengangguk canggung sebelum akhirnya keluar, meninggalkan Doyoung yang kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan mata terpejam.
Doyoung nyaris terlelap saat pintu ruangannya kembali dibuka, kali ini suaminya yang datang dan langsung berlari ke tempatnya.
"Sayang..." Panggil Junghwan dengan suara pelan, tangannya bergerak untuk mengusap sisi wajah yang lebih kecil.
"Mhm?" Doyoung menjawab samar, ia membuka mata lalu bernapas lega saat melihat wajah Junghwan di hadapan.
"Are you okay? Kata Sekertaris Park tadi Hyunmin ke sini?"
Kali ini Doyoung tidak menjawab dan malah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Junghwan, bergerak mendekat untuk menyandarkan kepala ke depan dada bidang suaminya.
"Aku pusing." Keluh Doyoung pada akhirnya, sedikit merengek sambil mengeratkan pegangan.
Junghwan membalas pelukan, mengusap punggung sempit suaminya berulang lalu mengecup puncak kepalanya. "Pulang aja, ya? Istirahat di rumah."
"Kerjaan aku masih banyak."
"Aku bantu kerjain, kamu istirahat dulu di dalam, gimana?"
Akhirnya Doyoung mengangguk, ia pasrah saat Junghwan membawa tubuhnya untuk berbaring di atas ranjang ruang kecil yang ada di balik meja kerjanya.
"Temenin aku dulu." Pinta Doyoung sambil menarik tangan Junghwan yang hendak keluar dari sana. Ia menggeser tubuhnya ke bagian dalam ranjang agar Junghwan dapat ikut berbaring di sebelah.
Kepala Doyoung berada di atas lengan Junghwan dan wajahnya menempel di ceruk leher suaminya, menghirup bau tubuh yang tidak pernah gagal memberi efek nyaman apalagi setelah ia mengandung anaknya.
Telapak tangan Junghwan bergerak mengusap punggung Doyoung sementara mulutnya bersenandung pelan, cara ini selalu berhasil membuat suaminya terlelap dengan mudah.
Dan benar saja, dengkuran halus terdengar tidak lama kemudian, membuat Junghwan tersenyum dan mengecup kening Doyoung sebelum akhirnya bangkit dari sana untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
Cukup lama Doyoung terlelap, sudah lewat jam makan siang saat ia akhirnya terjaga. Suasana ruangan yang temaram membuatnya tidak ingin berlama-lama berada di sana.
Dengan langkah cepat ia berjalan ke luar ruangan, dan netranya menangkap sosok Junghwan yang tengah duduk di kursi yang biasa ia tempati.
Saat itu juga Doyoung menyadari bahwa ia tidak salah memilih pasangan.
Junghwan nampak sempurna, terlalu sempurna untuk berada di sisinya. Suami yang sigap, tidak pernah tidak menuruti kemauannya, hampir tidak pernah berteriak di depannya, dan selalu melakukan seluruh tugasnya tanpa cela.
"Sayang," Panggil Doyoung sambil berjalan mendekat, Junghwan seketika berbalik dan langsung menarik tubuh suaminya untuk duduk menyamping di atas kedua pahanya.
"Kok cepet banget tidurnya?" Tanya Junghwan, tangannya mengusap pinggang Doyoung yang tengah duduk di pangkuan.
"Lama tau, hampir empat jam. Kamu yang keasikan kerja sampai lupa waktu." Omel Doyoung sambil menyandarkan kepala ke atas bahu Junghwan.
Junghwan tertawa, tangannya beralih untuk mengusap perut Doyoung yang masih rata. "Makan dulu yuk? Gak laper emang?"
Doyoung menggeleng pelan, "Mau pulang aja, ayo pulang, kerjaanku udah selesai kan?"
"Belum, sebentar lagi sayang."
Rengekan pelan keluar dari mulut yang lebih kecil, "Mau pulang, emang gak bisa dikerjain di rumah aja?"
"Di rumah juga pasti kamu gak akan bolehin aku buat pegang kerjaan."
Dan Doyoung kembali merengek, tangannya beralih untuk menarik keras rambut Junghwan ke belakang. "Pulang! Ayo pulang. Aku mau pulang."
Junghwan mengaduh kesakitan sementara tangannya berusaha bergerak di atas papan ketik, memastikan semua pekerjaannya tersimpan lalu menjauhkan tangan Doyoung dari rambutnya.
"Sakit, sayang." Keluh Junghwan, tetapi Doyoung tidak peduli dan malah menjewer telinga suaminya.
"Makanya ayo pulang!"
Doyoung tersenyum puas kala Junghwan mengangguk, mematikan monitor di depannya lalu merapikan tas kerja mereka yang bertumpuk di atas meja.
"Yaudah turun dulu." Perintah Junghwan, dengan senang hati Doyoung turun dari pangkuan suaminya, ia langsung memeluk sebelah lengan Junghwan sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruangan.
"Kalau ada hal penting, langsung hubungin saya." Pesan Junghwan pada Jeongwoo yang baru kembali dari kafetaria, sekertaris Doyoung itu mengangguk paham dan menatap atasannya yang masuk ke dalam lift di ujung lorong.
Tidak ada kemacetan di perjalanan pulang, pusing Doyoung seketika hilang begitu mengingat bahwa hari ini ia akan terus bersama Junghwan tanpa gangguan.
Padahal pagi ini Doyoung sendiri yang bersikeras untuk berangkat kerja.
Tetapi kendaraan mendadak berbelok ke rest area, Doyoung menoleh dan menatap heran suaminya yang tiba-tiba melepas sabuk pengaman. "Kok ke sini?" Tanyanya bingung.
"Aku mual banget, bentar, kamu jangan kemana-mana."
Junghwan buru-buru keluar dari mobil, berjalan menuju toilet paling dekat dari tempat parkir, meninggalkan Doyoung yang hanya dapat menatapnya dari dalam kendaraan.
Hampir sepuluh menit Junghwan tidak kunjung kembali hingga Doyoung memutuskan untuk menyusul, memastikan kendaraan terkunci lalu berlari ke tempat Junghwan menghilang tadi. Ia belum sempat masuk saat Junghwan akhirnya keluar dari toilet dengan wajah pucat pasi.
"Kamu kenapa?" Tanya Doyoung panik, Junghwan menggeleng sambil menggenggam erat tangannya.
"Kayaknya karena belum makan."
Doyoung menghela napas, nampaknya ia terlalu fokus dengan dirinya sendiri hingga tidak memedulikan suaminya yang terus bekerja tanpa mengonsumsi apapun hari ini.
"Kita cari tempat makan di sini aja, ya? Aku juga gak mungkin ngebiarin kamu nyetir dalam kondisi kayak gini."
Setelah Junghwan setuju, keduanya berjalan menuju salah satu restoran yang tidak memiliki banyak pengunjung, memesan makanan makanan hangat untuk mereka lalu duduk bersebelahan di kursi yang masih kosong.
Sebelah tangan Doyoung bergerak untuk mengusap wajah Junghwan, menghapus keringat dingin yang bercucuran di kening serta pelipisnya.
"Masih mual gak?" Tanya Doyoung.
Junghwan menggeleng, "Udah nggak, sayang."
"Maaf ya bikin kamu sibuk urus aku sama kerjaan sampai gak sempat makan."
Sebenarnya ini bukan kali pertama Junghwan mual tanpa sebab, saat ia berangkat menuju kantor cabang tadi pagi juga ia nyaris muntah di dalam mobil karena tidak tahan dengan bau kendaraan.
Junghwan sendiri tidak tahu apa penyebabnya, dan belum makan tentu bukan alasan sesungguhnya, ia hanya tidak ingin Doyoung khawatir dengan kondisinya.
Untungnya makanan yang mereka pesan datang dengan cepat, membuat Junghwan tidak perlu menjawab kalimat Doyoung yang malah berujung menyalahkan diri sendiri.
"Tumben banget? Biasanya kamu gak suka makanan pedas?" Tanya Doyoung heran saat Junghwan terus menambahkan bubuk cabai ke dalam mangkuk supnya.
"Biar mualnya hilang."
Alasan yang kurang masuk akal tetapi nyatanya, racikan itu benar-benar berhasil menghilangkan rasa mual Junghwan.
Laki-laki itu makan dengan lahap, ia bahkan menambah porsi makannya karena kurang puas dengan satu mangkuk sup yang dihidangkan.
"Kok gak dihabisin?" Tanya Junghwan saat Doyoung mendorong mangkuk di depannya agar menjauh.
"Kenyang." Jawab Doyoung setelah menenggak habis satu gelas air.
"Boleh buat aku?"
"Kan kamu udah habis dua, emang masih belum kenyang?"
Junghwan menggeleng lalu menarik mangkuk sup Doyoung ke hadapan, menambahkan berbagai kondimen dan menghabiskan seluruh isinya.
"Kayaknya aku aja deh yang bawa mobil." Ucap Doyoung sambil menarik kunci kendaraan dari tangan Junghwan.
"Kenapa? Aku bisa nyetir kok, lagian mualku udah hilang."
"Tapi kamu kekenyangan, kan? Kamu makan dua setengah porsi sup iga di restoran tadi."
Posisi di mobil pun berubah, Doyoung duduk di belakang kemudi sementara Junghwan justru langsung tertidur di kursi penumpang tidak lama setelah kendaraan bergerak menuju rumah.
Mereka sampai hampir satu jam kemudian karena Doyoung sengaja mengambil rute memutar agar Junghwan mendapat waktu istirahat yang cukup, suaminya itu terbangun tepat saat mobil berhenti di garasi.
"Kok gak bangunin aku?" Tanya Junghwan ketika Doyoung sibuk melepas seatbeltnya.
"Kamu keliatan capek banget, langsung istirahat ya? Gak usah mandi, ganti baju aja."
"Kamu gak mau mandi sama aku?"
Alis Doyoung berjengit mendengar ucapan Junghwan, ia menggidikan bahu sebelum turun dari mobil dan sedikit berlari masuk ke dalam rumah. Junghwan menyusul di belakang, ikut berlari kecil menyusul suaminya.
"Kenapa? Gak mau?" Tanya Junghwan dengan suara manja ketika akhirnya berhasil menyamakan langkah dan memeluk sebelah lengan Doyoung.
Doyoung menggeleng, sekuat tenaga ia mendorong tubuh Junghwan agar menjauh. "Gak mau, sana kamu kalau mau mandi sendiri aja."
Tetapi Junghwan tidak menurut dan malah memeluk erat tubuh Doyoung dari belakang. Dan Doyoung berteriak ketika suaminya itu mengangkat tubuhnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar.
"Junghwan! Lepas gak!" Protes Doyoung sambil mencubit lengannya.
"Gak mau." Jawab Junghwan dengan nada meledek.
Doyoung menahan napas saat Junghwan melempar tubuh mereka ke atas ranjang, ia berbaring dengan tangan terkepal di depan dada, sementara Junghwan kini mengukungnya dengan tangan di kedua sisi tubuhnya.
Netranya terpejam saat kepala suaminya bergerak mendekat, mengecup seluruh sudut wajah dari kening, mata, pipi, dan berakhir di bibirnya.
Tanpa sadar Doyoung mengerang saat Junghwan memperdalam ciuman mereka, menghisap bibir atas dan bawahnya bergantian hingga lidahnya masuk ke dalam mulut, mengabsen seluruh isinya lalu membelit miliknya dan dibawa keluar untuk dihisap kuat-kuat.
Erangannya makin keras ketika sebelah tangan Junghwan mulai masuk ke dalam baju kerjanya, mengusap perut yang masih rata dan berakhir dengan remasan lembut di dadanya.
"Ah—" Desah Doyoung tanpa sadar, membuat Junghwan akhirnya mengakhiri sesi ciuman mereka untuk menatap wajahnya dari atas.
"Boleh gak sih?" Tanya Junghwan dengan raut penuh nafsunya.
Doyoung menggeleng, "Gak boleh." Tolaknya langsung, ia mendorong tubuh suaminya agar menjauh lalu bangkit dari ranjang dan berdiri dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada.
"Kata siapa?"
"Kata aku."
Dengan seringai nakal di wajah Junghwan malah berjalan mendekat, meremas bokong Doyoung berulang lalu mengangkat tubuhnya. Refleks kedua kaki Doyoung melingkar di pinggangnya, dan ia hanya bisa pasrah saat Junghwan membawanya menuju kamar mandi yang ada di ujung ruangan.
...
kalian jangan takut doyo kenapa-kenapa, aku gak akan tega jahatin dia. siap-siap ajah next update ada yang diserang
Anw guys kalo di antara kalian ada yang mau opslot birthday box doyoung yang ini pls let me know yaaaa🥺 butuh... in rush... desperately...
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com