Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Prolog

Hujan yang tak berhenti untuk berjatuhan dengan deras, angin yang tertiup semakin kencang, petir menyambar dengan kerasnya membuat malam itu semakin menyeramkan.

Malam itu, di mana semua orang akan berada di dalam rumahnya untuk melindungi diri mereka dari derasnya hujan dan kencangnya angin, melindungi tubuh mereka di bawah atap yang kokoh dan meringkuk di bawah kasur yang empuk.

Tapi tidak untuk seorang gadis yang satu ini, seakan dia ingin melawan derasnya hujan, melawan kuatnya angin membawa tubuh kurusnya, dan menghiraukan kilatan tajam di atas langit dengan suara gemuruhnya.

Gadis itu sesekali menoleh ke belakang, memastikan sesuatu. Setelah memastikan di belakangnya aman, dia mulai berlari lagi dengan sekuat tenaga. Menghiraukan kakinya yang telah berdarah dan menyatu dengan air hujan, memeluk tubuh kurusnya yang dingin dan gemetar, wajah kurusnya sekarang telah menjadi pucat tanpa warna.

Memastikan kembali di belakang, ia menoleh. Tak menemukan apa pun selain jalanan sepi tanpa seorang pun selain dirinya. Ia menghela napas lega. Ingin rasanya ia beristirahat sebentar, kakinya seperti mati rasa karena terus berlari.

Tapi ia cepat-cepat menggeleng, jika ia istirahat sekarang, pasti kedua orang itu akan menemukannya dan menangkapnya. Ini tidak bisa terjadi, dia harus berlari walau kakinya rasanya ingin patah tapi tak ada waktu untuk memikirkan itu semua.

Gadis itu mulai berlari dengan sedikit cepat, mengabaikan kakinya bergetar karena lelah. Dan..

'Dor!!'

Bunyi pistol dengan beriringan bunyi petir yang menyambar membuat suaranya sangat nyaring. Gadis itu terjatuh berguling di atas tanah dan setelah itu memegangi kakinya yang mengeluarkan darah segar dengan deras. Gadis itu menangis sesegukan, mengabaikan rasa perih yang menjalar di kakinya, ia berusaha berdiri lagi untuk berlari menjauh dari kedua orang di depannya.

Tapi sebelum berdiri, kakinya yang satu telah di tembak kembali membuat rasa sakitnya dua kali lipat. Gadis itu melihat kedua kakinya yang telah di tembaki, dia memegangnya perlahan, darah yang keluar dari kedua kakinya benar benar sangat banyak membuatnya mual.

Kedua orang itu datang dengan senyum seringai di wajahnya, terpampang jelas walau gelap gulita.

Gadis itu menengok ke atas dengan berlinang air mata.

"Tuan Farken dan Nyonya Farken, mohon ampuni diriku yang hina ini, aku telah membuat kalian berdua murka sampai kalian melakukan hal yang seperti ini."

"akhirnya kamu menyadarinya Via, tapi sekarang sudah terlambat, walau kau memohon-mohon sambil mencium kaki kami, kami tidak akan memaafkan mu, dan mulai sekarang tidak ada lagi belas kasihan seperti dulu lagi Anathasya Silviani. "

Seringai di wajah mereka semakin lama semakin mengerikan, membuat Via terdiam seketika.

Dan akhirnya, mereka menyeret Via seperti hewan untuk menuju ke mobil.

Sambil di seret, Via menengok ke atas, melihat langit malam yang gelap gulita, melihat bagaimana hujan turun dari atas sana, merasakan angin malam yang sedikit menyengat tulang saking dinginnya, dan melihat bagaimana kilatan kilatan muncul di atas langit dan menghilang, meninggalakan suara bergemuruh.

Via tersenyum sinis.

Hujan dan badai akan menjadi saksi, bagaimana Via nanti akan mengubah segalanya. Kehidupannya dan orang-orang di sekitarnya.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com