11 - First Round
Aku punya banyak alasan untuk memaki Luna di depan gerbang sekolah. Dan tentunya Mario juga harusnya menjelaskan alasan kenapa dia lebih memilih menarik tanganku daripada tangan Luna.
Sebut aku beruntung kali ini. Bu Reza selaku bidang kedisplinan siswa hanya menangkap sosok Luna di depan gerbang dengan keributan besarnya.
Mario tidak bicara apa-apa dan hanya menarikku pergi dari sana. Sekarang justru dia sedang tertidur di sebelahku. Dia menyebalkan! Kemarin dia menjauhiku sekarang dia mengurungku.
Oke, jadi saat ini posisiku duduk di kursi sebelah jendela dimana artinya aku tidak bisa keluar kecuali Mario keluar terlebih dahulu dari kursinya.
"Maniak."
Satu kata itu sukses aku lontarkan. Mario tidak akan mendengar. Dia malah tengah mendengkur saat ini.
Kenapa aku menyebutnya maniak? Tentu saja karena sejak awal aku masuk SMA, Mario terus membuntutiku. Lalu sekarang? Dia bertingkah seenaknya. Aku masih ingat kata yang dia ucapkan sebelum pergi ke alam mimpi. "Hari ini lo punya gue."
Memangnya dia pikir aku apa?
"I'm not your bae, you're not even mine. Kenapa lo bersikap seenaknya kaya gini? You frustate me."
Bianca menumpu wajahnya dengan kedua tangannya. Ia hembuskan napas kasar setelah merapalkan kalimat gerutu yang tentunya ditujukan untuk Mario.
Bianca benci ketika ia menjadi tidak bisa berbicara di hadapan Mario. Seolah Mario menarik dirinya dalam pusat perhatian Mario seutuhnya. Masuk ke dalam zona lingkaran setan bagi Bianca.
Ketika Bianca masuk, ia tidak dapat dengan mudah keluar. Kecuali dengan mendorong Mario sampai laki-laki itu terjatuh. Namun ketika itu terjadi, perasaan bersalah menggerogoti pikiran dan jiwanya. Bianca mencampakkan Mario. Siapa yang bilang, huh? Bukankah harusnya judulnya menjadi, Mario menghipnotis Bianca.
"You're not my bae, i'm not even yours. Tapi gue suka sama lo. So can we make it real? Can i erase a not word for us?"
Mario penjahatnya.
Bianca dengan cepat menoleh. Memastikan suara yang baru saja masuk ke dalam telinganya adalah milik Mario.
Oh ternyata kepercayaan dirinya selalu melemah ketika berhadap langsung dengan Mario.
"Bi? Kenapa diem gitu?"
Mario tertawa. Tawanya yang biasanya terdengar menjengkelkan kini terdengar menggelitik. Biasanya ketika Mario membuka mulutnya untuk bicara, Bianca akan membayangkan berjuta pikiran liar untuk memasukkan benda semacam alas kaki ke dalam mulut Mario.
Tapi ini tidak. Justru saat ini seolah semacam alas kaki bermassa lebih besar dari tubuhnya tengah terlempar tepat di perut Bianca.
Oh bukan. Bukan bagian nyeri dan terluka. Mungkin bagian dimana sesak yang mencekat sehingga Bianca tidak lagi bisa mengeluarkan suara selain mengedipkan mata berkali-kali dan menatap Mario penuh tanda tanya.
Tapi gue suka sama lo
"Bi? Gue serius."
Mau dua rius atau berjuta rius sekalipun Bianca tidak peduli.
"Ha?"
Jawaban bodoh. Sangat bodoh.
Mario menatap Bianca sebentar sebelum tertawa pelan. Ia bangkit dari posisi tidurnya menghadap ke arah Bianca. Tangannya dengan bebas mengacak rambut Bianca pelan.
Mario tidak berlalu setelahnya. Ia malah kembali merapikan rambut Bianca yang tengah mati kata dan mati jiwanya. Mungkin ruh Bianca tengah berkeliaran di koridor sekolah menyapa orang-orang seolah Bianca adalah gadis terbahagia di dunia.
"Gue suka sama lo. Selalu suka. Lo mau jadi pacar gue?
Lima kata terakhir yang membuat Bianca mengutuk dirinya sendiri. Satu anggukan yang Bianca lakukan sukses membuat seisi kelas menatap mereka horor.
Bianca sampai tidak ingat kalau bel masuk sudah berbunyi walaupun guru pelajaran pertama belum datang. Tapi teman-temannya sudah duduk manis sambil membayangkan adegan romantis apa yang akan Mario lakukan setelah pernyataan perasaan yang membuat isi perut Bemo terkocok karena geli.
Bemo adalah orang nomor satu yang sangat heboh dan bahagia setelah Mario. Dan Bianca adalah makhluk terbodoh bagi dirinya karena dengan refleks melakukan dua anggukan itu. Dua anggukan yang seolah menjadi lambaian tangan menyerah atas perang dingin maupun perang megah antara Mario dan Bianca yang selalu menjadi topik terhangat di sekolah.
Mario dengan cepat mengembangkan senyumnya. Ia ingin mengekspresikan sesuatu yang terpendam darinya, tapi semuanya tertahan ketika melihat kilatan mata Bianca kepadanya.
Benarkah Bianca yang ada di hadapannya?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com