Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

17 - Kloning

Bunyi berisik dari arah dapur sangat mengganggu tidur nyenyak Dela. Aku bangun dengan masih menyelimuti diriku dengan selimut princess ariel hadiah dari Bima. Kadang aku berpikir seharusnya Bima bisa lebih memikirkan sebuah hadiah yang lebih menarik dibandingkan sebuah selimut.

Dan lagi pesan di dalam kotak selimut itu yang selalu membuatku kesal sendiri juga tertawa mengingatnya.

Lo kan sukanya tidur, makanya gue kasih selimut. Tahun depan gue kasih bantal kepala elmo deh sama guling badan doraemon yang lucu. Wishnya lo bikin aja sendiri nanti gue yang aminin. Intinya sih semoga lo sama gue tetep jadi sahabat sampai akhir dunia. Btw, kalimat terakhir sebelum ini Dimas yang ngusulin katanya biar gak terlalu bangke banget suratnya. Panjang umur ya Del, kalo udah tidur jangan lupa bangun nanti keterusan kan gue takut. Dan begitulah yang tertera di kertas binder dengan gambar winnie the pooh milik adik Dimas yang paling kecil. Mereka pasti mengambilnya secara diam-diam.

Aku berjalan gontai menuruni setiap anak tangga yang terlihat seperti rintangan menyeramkan di pagi hari. Aku malas mandi, tapi hari ini aku harus sekolah.

"Bunda! Dela males mandi, mandinya ditabung aja ya besok aku mandi dua kali deh janji."

Aku meracau sambil mengucek mataku lalu duduk di sofa dan mengambil toples berisi keripik kentang balado oleh-oleh dari Bunda Ika atau Ibunya Bima.

"DELAAAA! CEPETAN MANDI, BUNDA MAU NGOMONG PENTING TAU!"

Bunda berteriak dari arah dapur. Aku mencium wangi masakannya di pagi hari dan membuat perutku berbunyi keras. Sepertinya aku benar-benar harus mandi, kalau tidak aku mungkin tidak mendapat jatah sarapan yang sangat menggoda iman ketika puasa, apalagi detik-detik menjelang magrib. Padahal sekarang tidak lagi puasa, tapi tetap menggoda.

Lebih menggoda dari tampannya Taylor Lautner.

"Dela, kalo udah selesai mandi ambil uang warna biru di dompet Bunda ya, beliin kaset drama korea yang baru-baru. Sekalian mintain sama temen kamu yang suka ngoleksi drama korea. Pinjem hardisk kamu dulu ya." Bunda berteriak lagi dari arah dapur.

"Yaelah bun, selesai mandi aja belum, au ah lupa bunda nitip apaan," kataku dari dalam kamar mandi.

"Ihh Bunda abis ini masih sibuk bikin kue, udah ah pokoknya harus inget."

"IYA BUNDA SAYANGG. DELA MANDI DULU YAA."

"Iya, jangan lupa yang warna biru ya jangan yang merah. Korupsi itu dosa del."

"SERAH BUNDA!"

Aku bisa mendengar cekikikan Bunda dari sini. Dan suara Bima yang heboh karena kue buatan Bunda. Yakin Bima akan membawa kotak bekal setelah datang ke rumahku, jelas isinya makanan yang banyak. Bima adalah maling kulkas paling profesional.

*

Rangga : Dela sebelum pulang nanti ke loker kamu dulu ya, pilih kotak biru apa kotak merah, satu aja jangan banyak-banyak

Dela : siap bos!

Aku membuka loker milikku dan menemukan dua kotak besar bertumpuk. Aku memang tidak pernah menaruh apapun di dalam loker sekolah makanya lokerku selalu kosong dan bersih.

Aku mengambil kotak berwarna merah, yang letaknya paling atas. Aku membukanya dan hanya menemukan sebuah kertas.

Maaf anda kurang beruntung. Coba lagi

"Udah kaya hadiah minuman gelas seribuan aja."

Coba lagi aja buka kotak di bawahnya.

"Katanya pilih satu, dih."

Maka aku membuka kotak yang satu lagi dan menemukan satu paket dvd drama korea terbaru. "Wih, mayan dapet tabungan."

Tiba-tiba ponselku bergetar, getarannya sanhat menyebalkan. Aku menyesal telah memasukkan benda persegi panjang itu ke dalam saku rok sekolah.

"Halo?"

"Kenapa Bims?"

"Engga jadi deh Bims, langsung pulang aja."

"Iya, parkiran?"

"Sip sip!"

Aku membawa kedua kotak itu bersamaku lalu menutup pintu loker yang menurutku sangat tidak penting. Bagiku sih, karena aku tidak suka menaruh barang-barang di sana, entah aku yang tidak memiliki barang penting untuk dibawa atau aku memang malas untuk membawa barang-barang itu nanti ketika naik kelas? Atau... lebih parahnya ketika lulus.

Kalau Bima, ia menaruh semua buku paket di loker, alasannya ia tidak ingin berat-berat membawa buku ke sekolah. Kalau aku ya tinggal pinjam saja ke Bima, satu buku paket berdua tidak masalah kan?

Sebenarnya semester lalu aku tidak duduk dengan Bima, tapi Bima bilang kalau Dimas sangat menggelikan dan Bima sering tidak bisa konsentrasi tidur ketika pelajaran, karena Dimas yang begitu hyperactive.

Maka dengan pasrah dan sangat amat terpaksa Icha bertukar tempat duduk dengan Dimas. Yah padahal ia juga senang disuruh duduk dengan Dimas, tapi kadang aku kasihan karena tingkah konyol Dimas yang melewati batas.

"Dels? Jalan mulu lo nanti kebablasan sampe ujung kulon!" Teriakan Bima membangunkanku dari lamunan tak berujung ini. Aku menoleh dan berbalik, sejak kapan Bima membawa mobil?

"Heh curut kenapa bawa mobil?"

"Soalnya gak bawa motor jadi bawa mobil?"

"Ih serius."

"Iyaa, tadi Dimas pinjem motor gue, kita tukeran kendaraan deh."

"Loh? Dimas ngapain pinjem motor?"

"Kata dia buru-buru ada urusan penting biar gak kena macet."

Aku mengangguk-angguk mengerti. Bima menyeretku masuk ke dalam mobil dan membawa mobil tersebut ke arah perumahan rumah kami.

"Kotak apaan tuh Del?"

Aku mengambil ponsel Bima dan memainkan salah satu dari sekian banyak games di ponselnya. "Dari Rangga, isinya drakor semua."

"Pantes gak jadi minta temenin beli."

"Iya lumayan buat tabungan."

"Jangan ditilep Del uangnya." Aku menoleh. "Yee kan gue izin dulu mau tilep uang Bunda juga."

"Mau es krim gak Del?" Lagi, aku menoleh. Dengan mata berbinar dan senyum mengembang. "MAUUU!"

Bima langsung menutup telinga sebelah kirinya yang sudah menjadi korban kekerasan dalam persahabatan. Aku hanya tertawa dan melanjutkan memainkan games di ponsel Bima.

Bosan, aku membuka aplikasi LINE. Aku ini memang kepo jadi itu salah Bima jika tidak memasang password di aplikasi LINE-nya.

Tapi ada yang ganjal. "Bims, kok LINE lo ada dua?"

"Iya disuruh Dimas pake itu."

"Lah? Dimas?" Aku mengernyit heran, meminta penjelasan pada Bima. Ia masih fokua pada jalanan di depan. Ia hanya menjawab, "Kepo ih Dela."

Aku menatap Bima menyelidik, ada yang aneh. Kini Bima terlihat gelisah ditatap seperti ini olehku. "Bima ih serius," kataku menuntut jawaban lebih. Sebenarnya aneh sih kenapa aku menanyakan hal ini secara beelebihan, tapi aku seperti ini karena timgkah Bima yang tiba-tiba berubah drastis ketika aku menanyakan hal ini. Seperti ada sesuatu yang ia tutupi.

"Iya itu namanya LINE clone, si Dimas gak jago bahasa inggris bilangnya kloningan," jelas Bima.

"Kloningan lo kira domba di kloning," cibirku. Aku hendak membuka aplikasi yang dimaksudkan Bima itu, tapi tiba-tiba ponsel Bima bergetar tanda telepon masuk, dari Mario. Entah kenapa adik Dimas yang satu ini tiba-tiba menghubungi Bima.

Aku mengangkatnya dan memberi tahu kalau Bima sedang menyetir, belum sempat aku mematikan sambungan, Bima memarkirkan mobilnya dan mengambil ponselnya dari tanganku. Katanya penting.

Dan yah, kali ini kita malah berbalik arah ke rumah sakit, dan hilanglah bayanganku memakan es krim neopolitan ditambah taburan oreo dan cokelat chips yang menggiurkan. Bima harus menggantinya, itu wajib. "Bims, baliknya beliin marshmallow di minimarket depan gerbang ya."

*

a/n : Hola gaess, udah mau selesai Bima dan Dela muehehhee berapa part lagi ya? Entahlah. Tapi gak bakal banyak ini cuma cerita pendek.

Btw, aku gak jago bikin cerita comedy jadi maklumi aku kalau ceritanya garing-garing kres gimana gitu kan yaa huhu. Dan ya, ini project seriesku yang pertama. Pemerannya pasti si ABCD lima dasar itu yeayy

Makasih juga yang udah baca, vote dan comment, aku sayang sehun! *loh

Salam bihun dari bini sehun!


Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com