Chapter XV
Ada perasaan aneh saat laki-laki di hadapan Junghwan membalas uluran tangannya, kulitnya terasa dingin dan di cuaca mendung seperti ini, apa yang ia lakukan di atap tanpa mengenakan pakaian hangat?
Dia tidak ingin lompat dari atas sini kan?
"Tidak, aku tidak akan melompat dari sini."
Tanpa sadar Junghwan melangkah mundur saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Doyoung, apa laki-laki yang hanya mengenakan pakaian seadanya di cuaca minus itu baru saja membaca pikirannya?
"Benar, aku baru saja membaca pikiranmu." Ucap Doyoung lagi, ia melangkah mendekati Junghwan yang semakin terpojok. Dan saat ia berhasil berdiri tepat di hadapannya, tangan Doyoung bergerak menuju dada Junghwan.
Umpatan keluar dari mulutnya saat merasakan debaran dari balik coat yang Junghwan gunakan. Coat tebal yang bahkan tidak dapat menghalangi cepatnya detak jantung yang ada di dalam sana.
"Kau... benar-benar manusia." Kalimat Doyoung terdengar begitu menyedihkan di telinga Junghwan, tapi dengan cepat ia menggelengkan kepala lalu menyingkirkan tangan Doyoung yang belum lepas dari tubuhnya.
"Jelas aku manusia, kau pikir aku apa?" Protes Junghwan, ia benar-benar ingin marah lebih dari ini tapi entah kenapa sosok Doyoung tidak asing baginya.
Dan terasa menyebalkan karena Junghwan tidak dapat menemukan bagian yang mengingat laki-laki itu di otaknya.
"Dewa tolol yang meninggalkanku sendirian di sini."
Saat merasa ucapan Doyoung makin tidak masuk akal, Junghwan berbalik, hendak meninggalkan sosok aneh itu di atap. Karena selain takut, masih banyak hal yang harus ia urus di unit barunya.
Namun langkah Junghwan terhenti saat menyadari bahwa ponselnya berdering sejak tadi, dengan cepat ia merogoh kantong dan senyuman terukir di wajahnya ketika melihat siapa yang berusaha menghubunginya sejak tadi.
"Jaehyuk hyung! Ya, aku baru sampai dan belum selesai berbenah, kau harusnya membantuku!" Ucapnya seraya menjauh meninggalkan Doyoung yang makin kebingungan di tempatnya.
Doyoung kembali terduduk di tepi rooftop, berusaha memproses kejadian yang terjadi barusan. Tadinya ia enggan menangis karena ia berani bersumpah demi apapun yang ada di dunia, dirinya benar-benar muak menangisi So Junghwan selama berbulan-bulan. Dan hari ini, saat ia mulai menikmati hidup tanpa satu pun makhluk di sisinya, sosok yang sangat mirip dengan Dewa bodoh itu datang ke hadapannya.
Doyoung yakin bahwa itu adalah Junghwan, entah apa yang Dewa itu perbuat saat dirinya ada di atas sana hingga sekarang ia berhasil menjadi manusia seutuhnya.
Dan Jaehyuk? Apa Jaehyuk yang ia maksud adalah Jaehyuk yang sama dengan orang yang berulang kali Doyoung buntuti hanya untuk memastikan apakah ia benar-benar sudah melupakan Junghwan sepenuhnya?
Begitu banyak pertanyaan dan tidak ada satu pun jawaban yang terlintas di pikirannya.
Benar apa kata Jeongwoo, peraturan langit begitu rumit. Dirinya bahkan belum menemukan jawaban mengapa dari semua makhluk yang ada di dunia, ia menjadi makhluk satu-satunya yang tidak melupakan Junghwan.
Padahal Dewa itu tidak meninggalkan jejak apapun di hidupnya kecuali kenangan indah yang mereka lakukan dalam waktu kurang dari satu bulan.
Terlalu cepat, sangat cepat sampai rasanya Doyoung ingin mengulang kenangan itu lagi karena belum merasa cukup dengan apa yang ia buat bersama Junghwan. Masih banyak hal yang ingin ia lakukan, masih banyak tempat yang belum sempat mereka kunjungi, masih banyak kalimat yang belum sempat Doyoung sampaikan kepada Junghwan.
Air mata kembali mengalir di kedua pipinya, Junghwan sempat berkata di surat yang ia tinggalkan bahwa ia berharap untuk tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tapi tidak dengan Doyoung, dirinya rela mendapat siksaan bertubi-tubi dari yang maha kuasa asalkan Junghwan tetap tinggal bersamanya.
Doyoung berteriak karena dadanya makin terasa sesak, kerinduannya terhadap Junghwan jauh lebih menyakitkan dibanding saat mendapat hukuman karena membantu manusia.
Immortal itu akhirnya mengusap wajahnya dengan kasar, menghapus air mata yang enggan berhenti turun di pipinya. Ia harus bergerak cepat untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya, Doyoung tidak ingin terlambat dan kembali menyesal karena tidak lagi dapat menggapai Junghwan yang padahal sudah ada di depan mata.
Ribuan tahun di dunia membuat Doyoung tahu bahwa tidak ada satu pun kejadian yang disebut kebetulan.
***
Doyoung melangkah pelan menyusuri lorong lantai dua, ia sebenarnya ingin langsung berpindah tempat ke dalam unit yang Junghwan huni, tapi Doyoung tidak ingin membuatnya lari karena ketakutan dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
Gedung tua ini ternyata cukup luas, ada belasan kamar di tiap lantainya. Umpatan pelan keluar dari mulutnya ketika mendengar banyak suara dari manusia yang tinggal di sini. Ia terus berjalan sampai tiba-tiba netranya menemukan Junghwan di ujung koridor, Doyoung sedikit berlari untuk menghampirinya yang terlihat kebingungan.
"So Junghwan!" Ada perasaan aneh ketika Doyoung mengucap nama yang sudah mulai terasa asing di mulutnya.
Sedangkan Junghwan hanya menoleh, berusaha tidak peduli padahal kenyataannya ia cukup takut dengan sosok Doyoung.
"Aku belum mengenalkan diri, aku Doyoung, Kim Doyoung. Penghuni lama lantai tiga." Ucap Doyoung dengan nada aneh, ini pertama kalinya ia berusaha untuk bersikap ramah setelah ratusan tahun, wajar jika terdengar canggung di telinga siapapun yang mendengarnya.
Kecuali telinga Junghwan.
Junghwan berdehem pelan, tapi tetap menyambut uluran tangan makhluk yang kini berdiri di sampingnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau butuh sesuatu?" Tanya Doyoung dan dibalas dengan gelengan pelan.
"Hanya melihat-lihat, aku sudah selesai berbenah dan kesulitan untuk tidur karena ada di lingkungan baru."
"Ingin berjalan di daerah sini? Kau pasti belum tahu di mana letak halte atau toserba terdekat, kan?"
Doyoung tersenyum lega saat melihat anggukan semangat Junghwan, ia menarik tangan laki-laki itu dan menyeretnya menuju tangga. "Karena hanya satu lantai, kau tidak perlu berlama-lama antre di depan lift." Doyoung sangat ingin menghadiahi dirinya sendiri dengan tepuk tangan karena sikapnya yang penuh kepura-puraan di hadapan Junghwan.
Untungnya Junghwan tidak menyadari hal itu, ia terus mengekori Doyoung yang memimpin di depan, dengan jemari yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ah, maaf." Ucap Doyoung saat menyadari bahwa ia tidak berhenti memegang tangan Junghwan.
Junghwan mengangguk canggung. "Tidak apa, tapi kau benar baik-baik saja? Di luar dingin, tidak ingin mengambil pakaian hangatmu dulu?" Tanya yang lebih tinggi.
Doyoung menggeleng. "Tidak perlu, aku tidak kedinginan sama sekali."
Keduanya berjalan menyusuri gang sempit yang ada di sekitar rusun, Junghwan tidak berhenti bertanya mengenai daerah yang masih asing baginya, dan Doyoung bersyukur karena ia sedikit banyak mengetahui seluk beluk daerah yang sering ia kunjungi ini.
"Halte lumayan jauh dari sini, kau harus berjalan lima belas menit untuk sampai." Ucap Doyoung.
"Tidak apa, Dokter menyarankan aku untuk banyak berjalan."
"Dokter?"
"Ah, seharusnya aku tidak berkata tentang itu, kita baru bertemu dan aku sudah terlalu banyak bercerita tentang hidupku."
"Tidak apa, ceritakan padaku, aku senang mendengar cerita orang lain."
"Aku mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu dan tidak sadarkan diri selama lebih dari dua minggu, itu membuat kaki ku lemah karena tidak digunakan untuk waktu yang lama. Dan kadang tubuhku terasa sakit di waktu-waktu tertentu, lebih sering di malam hari, Dokter masih belum menemukan jawaban atas keluhan ku yang satu itu. Untungnya sakitnya masih bisa diobati."
Doyoung memandang kaki Junghwan yang terlihat baik-baik saja, dan saat Junghwan menyadari ke mana tatapan Doyoung berada, ia tertawa canggung. "Sekarang kondisi ku sudah sangat membaik, kau tidak perlu khawatir." Jelas Junghwan.
Kecelakaan... berbulan-bulan lalu... apa waktunya bersamaan dengan saat hilangnya Junghwan malam itu? Dan apa sebenarnya hubungan Jaehyuk dengan Junghwan sekarang? Terakhir kali Doyoung mengunjungi manusia bodoh itu dan ia tidak pernah melihat sosok Junghwan di sisinya.
"Sepertinya kau yang tidak baik-baik saja, Doyoung."
Ucapan Junghwan membuat lamunan Doyoung berhenti, ia mengerjapkan mata berulang kali sebelum kembali fokus ke Junghwan yang terus menatapnya. "Haruskah kita kembali? Aku takut kau sakit karena berada di luar dengan pakaian seperti ini."
Doyoung menggeleng, ia masih ingin dekat dengan Junghwan, kembali ke gedung tua itu hanya akan memisahkan mereka berdua.
"Akan ku tunjukkan toserba yang buka dua puluh empat jam, setelah itu baru kita kembali, siapa tahu ada barang yang kau butuhkan di sana."
Sensasi dingin kembali menyapa kulit Junghwan saat tangan Doyoung menyentuh pergelangan tangannya, lagi-lagi ia tidak protes saat Doyoung menariknya agar berjalan lebih cepat.
"Kau harus hati-hati saat melewati gang ini, banyak manusia jahat yang berkeliaran." Ucap Doyoung ketika mereka melewati gang gelap tanpa penerangan sama sekali. "Akan ku tunjukkan jalan yang lebih aman saat kembali nanti." Lanjutnya lagi.
Junghwan menyimak kalimat yang keluar dari mulut Doyoung tanpa berniat menginterupsi, ia merasa sangat terbantu dengan perbuatan Doyoung malam ini dan berniat untuk membelikan makanan saat mereka sampai di toserba nanti.
***
"Odeng?"
"Es krim, aku lebih suka es krim."
"Ini jam dua pagi, Doyoung. Kau akan sakit jika makan es krim di cuaca sedingin ini."
Doyoung tidak menanggapi kalimat Junghwan, ia berjalan menuju freezer yang berisi berbagai macam es krim di dalamnya, meraih satu es krim cokelat kesukaannya dan kembali ke tempat Junghwan. "Kau akan membayar ini kan?" Tanya Doyoung dan dijawab dengan anggukan.
Setelah membayar, mereka duduk di kursi panjang yang ada di depan toserba. Junghwan dengan odeng panas di tangannya, dan Doyoung yang menikmati es krim di sebelahnya.
"Hubungi aku jika kau sakit besok pagi, seharian aku ada di unit karena pekerjaan ku baru dimulai lusa." Ucap Junghwan.
"Kau bekerja di mana?" Tanya Doyoung.
"Perusahaan iklan kecil, dua puluh menit jika ke sana menggunakan bus."
"Mengapa kau memilih untuk tinggal di sini?" Tanya Doyoung lagi, ia benar-benar ingin tahu lebih banyak perihal Junghwan.
"Karena aku ingin tinggal sendirian, sejak aku bangun, keluargaku terasa asing bagiku. Dan kebetulan daerah ini dipenuhi dengan rusun murah, aku tidak mempunyai banyak tabungan untuk menyewa apartemen mewah di tengah kota."
Kepala Doyoung terasa pening karena begitu banyak kemungkinan yang ia pikirkan, tapi kemungkinan itu masih terasa rancu, seakan masih banyak sisi kosong yang belum terisi. Doyoung masih harus mengorek informasi tentang Junghwan, tolong ingatkan dia untuk terus berkunjung ke daerah ini nanti.
Keduanya diam, Doyoung dengan pikirannya sendiri, dan Junghwan yang sibuk menikmati angin malam, sudah lama dirinya tidak berada di luar di jam selarut ini.
Dan lamunan mereka buyar ketika mendengar teriakan dari gang yang sebelumnya mereka lewati, Doyoung berdecak saat menyadari bahwa lagi-lagi ada tindak kejahatan di sana.
"Haruskah kita melihatnya?" Tanya Junghwan.
Doyoung menggeleng. "Aku saja, kau tunggu di sini, jangan pergi kemana-mana." Perintahnya sebelum berlari ke sumber suara.
Dan tebakan Doyoung benar, di gang gelap itu ada laki-laki dengan pakaian serba hitam, tubuhnya menghadang langkah perempuan yang sepertinya baru pulang kerja. Hanya butuh satu jentikkan jari untuk membuat laki-laki itu jatuh tersungkur sebelum sempat menyentuh calon korbannya.
"Pergi lah." Perintah Doyoung dan langsung dituruti, perempuan itu berlari menjauh, meninggalkan Doyoung yang belum selesai membuat manusia jahat itu jera karena kini sosoknya mulai bangkit dan mendekat ke arahnya.
"Kau, jangan ikut campur!" Doyoung memutar mata mendengar kalimat ancaman yang masuk ke telinganya, ia kembali menjentikkan jari, membuat tubuh laki-laki itu terjatuh dan langsung tidak sadarkan diri.
Doyoung berbalik, hendak menghampiri Junghwan ke tempat mereka duduk sebelumnya. Dan ia dikejutkan dengan sosok Junghwan yang ternyata berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Baru Doyoung ingin menjelaskan, tapi rasa sakit kembali menyerang tubuhnya. Ia hampir jatuh membentur tanah kalau saja Junghwan tidak berlari dengan cepat untuk menangkapnya. "Ah, semua terasa makin rumit sekarang." Pikir Doyoung sebelum kehilangan kesadaran.
...
gimana gimana tebakan kalian ada yang bener gxxx
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com