Please Stay
❝I don't want to say goodbye
Someone tell me why,
I just want to see the stars with you. ❞
***
Lima menit yang lalu seorang wanita berbaju putih bersih berjalan mendekat ke arahku, aku tidak bisa melihat apapun, hanya merasakan. Aku jelas tahu wanita itu mengenakan baju putih, aku sudah biasa melihat dia sebelumnya.
Dia yang paling ramah menurutku. Senyumnya semanis madu, tutur katanya begitu lembut. Andai saja aku bisa menggerakkan bibirku ketika itu, untuk sekadar berkata "Terima kasih".
Rasanya lidahku begitu kelu, tidak sekali saja aku bisa membuka kedua bibirku. Seolah kalau aku memaksa untuk membukanya, bibirku ini akan pecah dan lebur seperti istana pasir yang dengan mudahnya dapat ditendang dan hancur begitu saja.
Ah, persetan dengan istana pasir. Aku benci semua yang berhubungan dengan pantai, pasir, laut, dan terakhir... kamu.
Dulu, sekali aku pernah bercerita tentang pantai dan arusnya yang menyebalkan bagiku. Kenapa? Sepatuku hampir hanyut karenanya. Kamu menertawaiku kala itu, sebal, tapi kamu lucu. Kamu tertawa, membuat kedua ujung bibirku tertarik ke kanan dan ke kiri. Parahnya, jantungku ini berdetak cepat sekali seperti habis dikejar anjing menyeramkan peliharaan tetangga kamu itu. Iya, tetanggamu yang super galak dan berisik.
Coba saja aku masih di sana, menggenggam tanganmu erat dan menghitung jejak kaki kita yang seirama. Lalu kamu akan berhenti sejenak ketika kakimu tidak melangkah yang sama sepertiku, hanya untuk menyamai langkah kita. Kanan, kiri, kanan, kiri, begitu yang aku lafalkan dalam hati.
Tidak penting, ya? Tetapi aku dan kamu sama-sama suka melakukan hal tidak penting itu. Siapa peduli dengan mereka yang memandang kita aneh, kamu bilang mereka hanya iri karena kita serasi.
"Na, please bangun."
Aku ingin bangun. Aku ingin membuka mataku. Aku ingin melihatmu lagi. Sayang hanya sebatas inginku.
Semua itu sudah berlalu, tapi suaramu masih menggema di kepalaku. Rasanya seperti nyanyian pengantar tidur. Mungkin itu alasan aku masih bertahan. Padahal aku membencimu setengah mati, tapi aku mencintaimu lebih dari setengah hidupku.
"Na, maaf."
Aku sudah memaafkanmu, sungguh. Namun sesaknya masih terasa, seperti tercekik.
Tercekik dan terjebak dalam sebuah ruangan. Memori itu terlalu menyakitkan untuk kukenang.
Sekali lagi, mungkin ini alasan aku masih bertahan.
Aku lelah hidup di antara. Antara pergi atau bertahan. Aku ingin membuka mata, tapi aku takut melihatmu lagi. Aku ingin melihatmu lagi, tapi aku takut untuk jatuh yang kedua kali.
"Kenapa harus Alana? Kenapa bukan gue aja, Sa?!"
Aku ingin menjerit, aku tidak tahan lagi. Aku takut mendengar teriakanmu itu. Mungkin ini salahmu, aku tidak mau munafik. Kamu yang mematahkanku, tapi bukan kamu yang membuatku seperti ini.
Kalau saja aku bisa mengeluarkan air mataku, aku ingin. Aku ingin meluapkan semuanya. Terdiam diri selama ini terlalu menyiksaku.
"Gue bego, Sa. Harusnya waktu itu gue dateng."
"Jangan salahin diri lo sendiri Va."
"Harusnya gak gue relain dia gitu aja. Harusnya...."
Seharusnya saat ini aku menggenggam tanganmu erat dan berkata "Tidak apa-apa".
Seharusnya kamu berbahagia saat ini, Alva. Seharusnya kamu tidak usah memikirkan aku lagi. Aku mohon. Ini lebih memilukan daripada yang sebelumnya. Mendengar tangismu, penyesalanmu, dan membayangkan bagaimana kacaunya dirimu.
Aku hanya tidak ingin menjadi alasanmu hancur. Cukup aku saja. Aku tidak ingin menjadi seperti dirimu. Aku tidak ingin melakukan apa yang kamu lakukan.
"Sa, apa ini karma?"
Demi Tuhan aku ingin sekali saja menggerakkan jari-jari ini, menyentuh tanganmu, membagi kehangatan. Tidak bisa, aku tidak sekuat yang aku kira.
"Na, ini cuma mimpi kan?"
Aku harap begitu.
"Please, Na."
Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Seandainya kamu tau Va, aku bahkan belum bisa menghapus namamu dari ingatanku, barang sedetik saja.
Aku tidak peduli bagaimana kamu membuatku menangis berhari-hari, yang aku ingin kenang justru bagaimana kamu membuatku tersenyum-senyum seperti orang bodoh dan aku bahagia akan itu.
Aku harap kamu melakukan hal yang sama. Sebenarnya, aku ingin tahu bagimana kalau...
"Gimana kalo Alana gak bangun lagi, Sa? Gimana kalo takdir gak berpihak ke gue? Gimana kalo gue gak bisa liat dia lagi? Na, please bangun... sekali aja."
Kurasakan tanganmu menggenggam milikku, setetes air jatuh membasahinya. Rasanya seperti air panas menyentuh kulitku. Aku tidak ingin merasakan tangismu, senyumlah, kumohon, jangan sedih. Aku tidak tahu harus bagaimana jika kamu terus seperti ini.
Kudengar suara derap langkah yang kuyakini adalah milik Arsa, ia melangkah menjauh, keluar dari ruangan ini. Arsa, aku tidak tahu harus berterima kasih bagaimana lagi kepadanya. Ia selalu bisa memberi waktu padaku, membiarkanku menerima kesempatan berkali-kali.
"Na, kamu inget kan dulu aku pernah bilang kalau aku gak akan nangis, aku gak bisa nangis. Aku bukan tipe melankolis kaya kamu. Tapi kenapa kamu bisa bikin aku kaya gini?"
Suaramu begitu lirih. Jari-jemari kita saling bertautan, kamu menggenggamnya begitu erat dan terakhir kamu mendaratkan kecupan di punggung tanganku. Sepertinya kamu sudah sedikit tenang, aku bersyukur, andai kamu bisa melupakan aku.
"Betapa bodohnya aku, Na. Tujuh tahun aku pura-pura gak kenal kamu, terus aku dateng gitu aja ketika kamu kaya gini. Apa pantes aku menyesal?"
Iya. Semua manusia pantas menyesal. Kamu bukan makhluk sempurna, Alva. Kamu pasti melakukan kesalahan. Aku juga begitu.
Kamu salah telah meninggalkanku. Dan aku salah telah menunggu.
Kamu salah telah mengkhianatiku. Dan aku salah telah percaya padamu.
Kamu salah berpura-pura melupakanku. Dan aku salah masih berharap.
Sekarang aku mengerti. Mengapa kamu kembali. Mengapa Tuhan menggerakkan hatimu untuk datang lagi di hadapanku. Dan mengapa perasaan kita tidak pernah pudar, meski seribu cara kamu lakukan untuk memusnahkannya, dan seribu cara aku lakukan untuk bertopang pada angan-angan tentang dirimu.
Tuhan hanya memberi kesempatan, untuk kamu menyesali semuanya. Untukku untuk berhenti berharap. Untuk kita agar bisa mengikhlaskan semuanya.
Mungkin kalau kamu tidak datang saat ini, kamu tidak akan pernah tahu bahwa kamu masih mencintaiku dan begitu pun aku. Meski, kenyataan yang sebenarnya memang tidak selalu yang kita harapkan.
Dengan seluruh kekuatan terakhirku, Tuhan mengizinkanku untuk sekadar mengucapkan salam padamu. Kurasakan tanganku bergerak, meski tidak dapat seleluasa sebelumnya, yang ini terasa begitu berat.
Kedua kelopak mataku terbuka perlahan, bersamaan dengan satu tetes air yang jatuh membasahi wajahku yang mulai mengering, juga dingin. Bisa kulihat kamu sedikit terkejut, lalu detik setelahnya kamu mengecup tanganku berkali-kali. Terus begitu dan begitu sampai yang ke sepuluh kali, aku menghitungnya seraya tertawa pelan.
Namun bukan begini seharusnya.
Maaf Alva.
"Pu... lang," kataku dengan terbata-bata. Alva tersenyum lebar kepadaku. Ia mengeratkan lagi genggaman tangannya seolah ia tidak mau melepaskanku, untuk yang kedua kali, lalu menyesal lagi.
"Iya kita bakal pulang Na, kamu pulih dulu ya. Alana, aku kangen kamu, banget. Aku gatau bakal gimana hidup aku kalau kamu pergi."
Aku hanya tersenyum. Lemah, aku terlalu lemah untuk itu, Va.
"Bu... kan, A-aku... pulang," kataku lagi menegaskan maksudku. Aku tidak bisa menjabarkan panjang lebar lagi Va, tidak seperti dulu lagi.
"Aku tau Na, aku tau kamu udah pulang. Aku di sini, sekarang aku gak akan pergi lagi. Maafin aku, Alana."
Terakhir aku menggeleng, dengan lemah, dan perlahan. Senyumku masih tercetak di wajahku, tangan kananku bergerak memegang tanganmu. "Alva... a-aku udah... ma-af...," ucapku berusaha sekuat mungkin. Tuhan memberikanku kesempatan terkahir, aku janji ini yang terakhir. "Arsa, bi... langin sama dia..., ma-makasih...."
"Na, please jangan lanjutin lagi, kamu istirahat aja, ya. Aku gak mau liat kamu tersiksa kaya gini." Kamu mengecup tanganku lagi. Kelopak matamu menutup, menjatuhkan setetes air mata ke wajah yang sudah berhiasi air mata yang mengering.
Aku mengangguk sebagai jawaban iya. Kini kamu mengangkat wajahmu lagi, kamu tersenyum. Senyum yang selalu aku rindukan. Yang selalu membuat detak jantungku berdegup sangat cepat, tapi sekarang tidak.
"Aku sayang kamu... Alva."
Yang kurasakan justru, jantungku tidak berdegup sama sekali.
Aku pulang.
Tuhan telah memberikanku kesempatan terkahir. Alva telah mengizinkanku untuk beristirahat. Aku harap Alva bisa mengizinkan hatinya untk melupakanku.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com