one
Rintik hujan membasahi kulitku yang pucat. Kugigiti pelan bibir yang bergetar menahan dingin. Hujan terus turun tanpa berhenti, membuatku terpaksa berada di halte sekolah RWC lebih lama lagi. Dan juga, Raka yang sedari tadi kutunggu tak kunjung menampakkan diri.
Menunggu adalah hal biasa yang kulakukan setiap harinya. Termasuk, menunggunya, menunggu cintaku berbalas.
Aku kembali mengeratkan kuncir rambutku yang sempat melonggar. Kutatap rintikan hujan yang menghantam tanah dengan bersamaan, menghirup aroma hujan yang menenangkan jiwa. Hujan ini sangat damai, tak terdengar gemuruh yang menggelegar. Tak terdengar suara klakson para pengendara. Hanya riuh hujan terdengar nyaring di telinga.
Dengan keadaan seperti ini, aku mengingat Raka. Kupejamkan kedua mataku, menikmati sejuknya hujan. Bau yang petrichor yang selalu kurindukan saat kemarau.
"Huh, wangi hujan emang gak ada duanya."
Mataku terbuka melihat siapa yang baru saja berceletuk tentang hujan. "Tama?"
Tama menatapku dengan teduh. "Ayo pulang, Ris."
"Raka?"
Dia mendekat ke arahku, kemudian menjawab, "Raka gak bisa jemput, dia lagi ada di rumah Vira, buat nemenin Indri."
Kuanggukkan kepalaku pelan, perih kurasa dalam sebuah senyuman. "Kenapa Raka yang hubungin aku aja, Tam? Kalo gitu kan, aku bisa pulang dari tadi," ucapku dengan kesal.
Ia tersenyum tenang. "Tama gak tau, Rissa."
Tunggu, kenapa aku merasa perkataannya menenangkan?
Tama menolehkan kepalanya padaku, kemudian berkata, "Sini tangan kamu."
Sejenak, aku menatapnya heran, tapi tak urung aku menyodorkan tanganku pada Tama. "Mau ngapain, sih, Tam?"
"Dingin," jawabnya singkat. Tak lama, digenggamnya tanganku erat. Rasa hangat mulai menyergap, kupandangi dengan lekat tautan tanganku dengannya.
"Tam, kenapa?"
Dia menggeleng, senyum pedih terukir di bibirnya. Tak percaya dengan gelengannya, aku mengeratkan tautan tanganku dengannya. "Tam? Kamu kenapa?"
Tama mengehembuskan napas jengah, matanya menatap hujan yang masih turun dengan deras. Sejenak aku berpikir, kenapa hatiku tidak jatuh kepada Tama? Kenapa harus Raka?
"Ris, gimana rasanya bertepuk sebelah tangan?"
Pertanyaan Tama membuatku meneguk ludah, lidahku kelu untuk berkata. Tak sanggup hati mengelak bahwa rasanya memang pedih. "Pedih, perih, sakit," ucapku lirih.
Tama mengerling padaku, matanya berkilat jenaka. "HAH GALAU! DEMI APA PUN TAMA BERHASIL BUAT RISSA GALAU!" Dengan semangat ia melepaskan tautan tangannya, kemudian meninju udara.
Mulutku menganga. "Dasar Tama kurang ajar! Harusnya aku tau kalo bakal gini jadinya," ujarku kesal. Dari awal, harusnya aku menyadari tabiat usil Tama yang tak pernah berubah. Dan, kenapa aku malah mengikuti sekenarionya.
Kulihat kembali Tama yang masih saja tertawa. "Tama! Udah dong, ih."
Dia membekap mulutnya, menyeka buliran air di sudut-sudut matanya. "Kamu, sih." Aku memutar mata kesal, kulepas converse yang terpasang di kakiku dan melemparnya pada Tama.
"RASAIN!" teriakku puas saat converse itu berhasil mendarat tepat di kepalanya.
Sejenak aku melongo menatap Tama yang sama sekali tidak merasa kesakitan. Tangannya memungut converse-ku yang tergeletak di trotoar. Dengan tingkat keusilan yang maksimal, Tama menggantungkan sepatuku di ranting-ranting pohon yang tinggi.
Dia melirik ke arahku yang masih melongo. Seriangannya menyebalkan tercetak di bibirnya. Setelah sadar sepenuhnya apa yang dilakukan Tama, mataku melotot. "PRATAMA!!"
Dalam hati, aku selalu ber-istighfar ketika Tama mulai dengan kegilaannya. Beruntung, hujan sudah reda, tapi sisa-sisa tetesannya masih terasa.
"Astaghfirullah, Tama. Balikin gak sepatuku!"
Dia mengedipkan sebelah matanya padaku. Kemudian berkata, "Kalo udah dikasihin, gak boleh diminta lagi."
Kuacak rambutku pasrah. "Aku laporin Raka kamu!" ancamku yang membuatnya tak berkutik.
"Iya, deh," sahut Tama tidak ikhlas.
Kembali aku memasang sepatuku yang sempat terlepas dari tempat seharusnya ia berada. Kulemparkan tatapan judes ke arah Tama yang sedang menatap langit.
"Kenapa kamu?"
Tama menoleh, lalu berkata, "Ada pelangi, merah kuning hijau di langit yang mendung."
Sempat aku menatap Tama takjub, bukan takjub, sih, tapi heran. "Kamu suka pelangi?"
"Iyalah, pelangi tuh selalu kasih warna buat langit mendung. Jadi gak mendung lagi, kan bagus, hehe," jelasnya.
Suara Tama yang cempreng-bass itu membuatku terkekeh geli. Selanjutnya, karena kekehanku yang terlalu keras atau apa, Tama menoleh. Tetap dengan kerlingan jahil yang tak pernah luput dari matanya. "Kenapa? Terpesona."
"Gak."
Dia memajukan bibir. Dengan gerakan cepat dia melepas lagi sepatuku dan berlari kencang menembus beceknya trotoar. "TAMA!"
Di ujung sana aku melihatnya tertawa lebar sembari menggantungkan converse-ku di atas pohon. Bahunya bergetar hebat karena tertawa.
Tama ganteng.
Eh?
•••
thanks to ReadersWritersClub rakapratama summertriangel indrindahsr
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com