three
"Ris!"
Aku menolehkan kepalaku dan melihat Tama yang tengah tersenyum lebar. "Apa, Tam?"
Dia menyeret bangku yang ada di sebelahnya. Lalu, duduk berhadapan denganku. "Aku mau kamu jawab pertanyaanku. Aku serius. Bener deh, suer." Tama membentuk jarinya menjadi huruf 'V'. "Kamu suka sama Raka?"
Awalnya, aku sempat menaruh curiga pada Tama yang tabiat aslinya tidak pernah serius itu. Tapi begitu melihat tatapan seriusnya, aku terhipnotis begitu saja dalam pesona mata hazel-nya. "Aku itu, ngg ... gimana, ya, Tam?" Kuhembuskan napas jengah. "Aku suka tapi aku pengen lupa."
Dia melirik ke arahku dengan mata memicing. "Lupa aja mendingan, Raga kan, udah punya pacar."
Aku mengetuk-ngetukkan converse-ku pada ubin kelas. Merasa tidak nyaman dengan topik seperti ini. "Susah kali buat lupa," jawabku lelah. Nyatanya, aku memang ingin melupakan, tapi apa daya jika hati masih memaksakan.
Tidak seperti aku yang merasa tidak nyaman dengan topik ini, Tama justru terlihat nyaman dan menyukai topik ini. "Ayo lupain Raka, aku yakin kamu pasti bisa."
"Cara?"
"Membuka mata. Supaya kamu tau di sini ada seorang Pratama yang menunggu Larissa tanpa lelah meski tersiksa."
Seketika badanku terasa kaku. Kuhentikan converse-ku yang masih mengetuk-ngetuk di atas ubin. Dalam hati aku mengumpat pelan, kenapa jam kosong ada hari ini? Jam kosong hari ini tak seindah jam kosong yang lalu. Perkataan Tama membuat suasana canggung. Berkali-kali aku mencoba menetralkan detak jatung yang berdetak lebih cepat di luar kendali.
"Gak usah becanda, Tam," balasku gusar. "Ga lucu tau gak."
"Aku tau, aku emang suka becanda, tapi dalam masalah kayak gini, aku gak pernah becanda." Tama memutar bola matanya bosan.
"Boleh?" tanyaku ragu.
Tama yang ditanya seperti itu melongo. "Boleh apaan?" tanyanya balik.
"Tau ah, ogeb kamu, Tam," jawabku ketus. Tak peduli mukanya yang mulai memerah. "Kenapa mukamu? Merah banget."
"Aku tau maksud kamu 'boleh' itu apa," jawab Tama sembari menekan kata 'boleh'.
Sejenak aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Kalau aku bisa membaca pikirannya, aku ingin tau apa saja yang dia rasakan sekarang. Mengapa tampak begitu tenang? Mengapa dengan semudah itu dia membuatku menuruti perkataannya?
Dia bukan Raka yang kucintai dengan sepenuh hati. Tama bukan seseorang yang selalu membuat pikiranku berkecamuk. Singkatnya, Tama bukan hal yang aku duga untuk hadir dan menyatakan hal semacam ini.
"Kenapa kamu nunggu aku, sih?" Pertanyaan itu langsung saja terlontar dengan mudahnya dari mulutku.
Tama menumpu kepalanya menggunakan tangan. "Karena," ucapnya menggantung, lalu ia melanjutkan, "aku sayang kamu."
"Boong," jawabku singkat.
Tama cemberut, ia memajukan bibirnya. "Terserah deh, yang penting kamu udah jadi punya aku, yay!" soraknya bahagia tanpa beban. Kedua matanya tampak berbinar gembira.
Aku suka melihat wajah sebal Tama. Menurutku, wajahnya yang seperti itu membuatku gemas. "Kata siapa aku punya kamu?"
Senyumnya pudar, tergantikan raut sebal dan bibirnya yang mencebik kesal. "Kata sianida."
Aku ingin menertawakannya. "Kamu kenapa tiba-tiba gini? Tau dari siapa aku suka sama Raka?"
Tama memandangiku dengan raut jahil seperti biasa. Matanya berkilat-kilat jenaka. "Apa sih yang aku gak tau tentang kamu?"
Jawabannya membuatku terkekeh geli. Nyaman dengan semua gurauan Tama yang selalu menghiburku. Dia bagai pelangi setelah hujan. Menghapus awan mendung yang menyebabkan hujan. Dengan berbagai warna dia hadir, mewarnai dunia abu-abuku.
Di sini, aku menatapnya di tengah kelas yang lenggang oleh para siswa. Pikiranku melayang pada beberapa menit yang lalu.
"Ris? Kenapa kamu? Terpesona sama aku?"
Aku mengangkat bahu cuek. "Ayo kantin!"
Tama mengangguk. Berjalan berisisihan denganku menuju kantin. Setelah menemukan bangku yang masih kosong, aku dan Tama langsung mendudukinya. "Tam, emang kamu laper?" tanyaku yang hanya dijawab gelengan oleh Tama. "Haus gak?" tanyaku lagi dan dijawab gelengan.
"Terus ngapain kamu ngajak ke sini?"
Tama memajukan wajahnya. "Karena aku sayang kamu."
"Eh, Tam, ada Raka sama Indri," bisikku pelan. "Sama temen-temennya si Indri juga tuh, tuh liat. Vira, Vana, Naf."
"Lah terus, Tama harus bilang oh my god gitu?"
Aku menabok bahunya pelan. "Ya gak gitu juga kali, aku kan cuma kasih tau."
"Oh ya? Kirain seneng Raka ke sini," balasnya judes.
"Apa sih, dia kan sahabat aku."
Sejenak, kutolehkan kepalaku ke arah Raka. Kulihat dari sini, Raka sedang membisikkan sesuatu yang membuat Indri mengangguk dan pergi bersama ketiga temannya. Tak lama setelah itu, Raka berjalan mengahampiriku dan Tama yang saling berdiam diri satu sama lain.
"Hoi Lar, Tam!"
Raka menduduki bangku di sebelahku dengan semangat. "Kamu jam kosong ya tadi."
"Iya," jawabku singkat.
"Ngapain aja?"
"Jadian sama aku." Tama menyahuti pertanyaan Raka. Mendadak mood-ku meningkat. Tidak tau kenapa.
Tiba-tiba Raka menarik ujung seragamku. "Yang bener?"
Kulirik Tama yang mendengus bosan. "Iya, Tama punyaku."
Jawabanku sontak membuat mata Tama membulat sempurna. Wajah bosannya berganti bahagia. Hanya itu yang aku ucapkan, tapi sudah membuatnya bahagia tak terkira seperti ini.
"PJ jangan lupa!"
Tama menunjukkan deretan giginya yang rapi serta kumis tipis menghiasi atas bibirnya. "Santai, Minggu besok ayo main."
Raka tersenyum puas. "Awas sampe gak jadi. Ya udah, aku ke Indri dulu. Bye."
•••
Aku berdiri di depan pintu kelas Raka dengan tas selempangan yang penuh buku pelajaran. Sudah hampir sepuluh menit lamanya aku menunggu di balik pintu seperti orang gila. Beberapa kali menengok ke arah kelas untuk memastikan Raka sudah pulang atau belum.
Sebelum pulang tadi, Tama mengajakku untuk pulang bersama hari ini. Namun, aku yang memang ingin pulang bersama Raka langsung menolak permintaannya. Tanpa basa-basi aku mengucapkan bahwa aku ingin pulang bersama Raka pada Tama.
Masalah nantinya dia sakit hati itu belakangan. Aku tau, Tama bisa dengan mudah dirayu.
"Lar?"
Kutolehkan kepalaku dan mendapati Raka yang menatapku bingung. "Yuk pulang!"
"Kamu gak pulang sama Tama?"
Aku menggeleng polos. "Tama ngajakin aku, tapi aku tolak."
Raka membulatkan matanya. "Terus kamu bilang apa waktu nolak ajakannya?"
"Mau pulang sama kamu," jawabku luwes.
Wajah Raka memucat. "Kamu salah besar. Tunggu beberapa menit lagi, telepon aku pasti bunyi."
Aku memasang raut bingung. Tidak mengerti dengan semua ini. Selang enam menit setelahnya, ponsel Raka berbunyi nyaring. Dengan tangan gemetar, Raka mengangkat panggilan itu.
Terus kutatap wajahnya yang kian memucat dengan tajam. Merasa dipermainkan tanpa diberi kejelasan. Seperti dulu. Mungkin sekarang juga masih.
"Siapa?"
Raka menoleh. "Tante Eni, Mamanya Tama."
Aku mengangguk paham. "Oh."
"Ayo ke Rumah Sakit." Ekspresi Raka terlihat khawatir, sedangkan aku memandangnya bingung.
"Jelasin."
Raka menggeleng. "Nanti, sekarang ayo kita pergi dulu." Ia mulai melangkahkan kakinya, tapi langsung kutahan.
"Jelasin sekarang!"
"Tama terancam innalillahi."
Aku melongo, menatap tidak percaya dengan Raka. "Gak usah becanda, Rak. Gak lucu tau, gak."
"Aku tau, aku emang suka becanda, tapi dalam masalah kayak gini, aku gak pernah becanda."
Dejavu.
Seketika tangisku pecah, tidak tahan dengan semuanya. "Ayo pergi ke Rumah Sakit."
•••
thanks to eniristiani indrindahsr rakapratama summertriangel Vanila26 thestardim
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com