3. TEST DRIVE
Catur mengenakan helm di tangannya, kemudian menyerahkan helm lain pada Monik sambil duduk di jok motor. "Aku anter. Mau ke mana?"
Monik benar-benar tak memiliki energi untuk menolak ataupun mengomel, dan hanya menurut, naik membonceng di belakang Catur. "Surabaya Plaza."
Catur menstarter Vespa tersebut dan menyetir dalam diam, hingga akhirnya Monik angkat bicara, "Stop this, okay?" (Berhentilah bertingkah begini.)
"Stop what?" balas Catur. (Apanya yang dihentikan?)
"Baperin aku. Gak kasian sama aku? Aku lagi patah hati, dan kalau Mas nerusin ini, mama bisa pecat aku jadi anaknya," keluh Monik. Dia tak ingin hidupnya makin nelangsa.
"Well, ada beberapa hal yang pengen aku ceritakan, tapi nanti," jawab Catur.
___HEXA_LIEM___
"Ngapain ke mall?" tanya Catur ketika berjalan beriringan dengan Monik menyusuri area parkir.
Monik menurut saja kala Catur menarik tangannya memasuki sebuah kedai gelato. Catur memesan satu cup gelato rasa choco mint untuknya, dan satu cup lagi dengan rasa rhum butter untuk Monik. Membuat gadis itu bertanya-tanya dalam hati, dari mana Catur tahu rasa gelato favoritnya.
"Ke sini, cari apa?" tanya Catur saat mereka sudah duduk di salah satu meja.
"Aku mau cari cincin buat Anna."
Catur mengangkat alisnya. "Mau proposing?"
Monik menggeleng. "Aku mau kasih ke Kak Sebastian, buat ngelamar Anna."
Catur mengangguk mengerti. "Sebastian anaknya si Bams?"
Monik mengangguk, kemudian tersenyum sedih. "Dunia ini sempit ya, Mas?"
Catur tak menjawab dengan kata-kata, hanya menepuk-meluk tangan Monik untuk menghiburnya. Mereka menghabiskan porsi Gelato masing-masing, kemudian Catur menanyakan apa Monik ingin memesan tambahan atau tidak sebelum mengajaknya keluar dari sana.
Dikira Monik, Catur akan berjalan menuju toko perhiasan. Tapi nyatanya, pria itu malah ngeloyor menuju pintu keluar mall.
"Lah. Mas Catur lupa kalau aku belom dapet cincinnya?" tanya Monik, dalam hatinya dia bermonolog, 'Mungkin aja dia masih ganteng tapi udah pikun. Udah umurnya.'
Tapi Catur malah memutar bola matanya. "Aku belom pikun, Raven." Jawabannya membuat Monik malu sendiri.
"Ya sapa tau, seumuran Mas yang udah lupa sama toilet itu banyak, lho," kilah Monik.
Catur malah tersenyum jahil. "Don't worry, Dear. My whole body is still perfectly functioning." Monik yang 'ngeh' ke mana arah omongan Catur, menganga tak percaya. "Gitu amat ekspresinya. Gak percaya? Mau test drive?" [Seluruh tubuhku masih berfungsi normal.]
Wajah Monik panas sekali. Jujur saja, dia tak tahu bagaimana cara menghadapi pria yang bukan kawan ataupun keluarganya, apalagi yang mulutnya seperti buaya kelas dinosaurus begini, dan itu semakin membuat Catur gemas padanya.
"Stop it ...," rengeknya.
"Gak mau test drive?" ulang Catur sok polos.
"For God's sake Mas, kamu punya istri yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri," gumam Monik sambil menepuk keningnya. Saat tak mendengar balasan jahil lain keluar dari mulut Catur, Monik melihat ke arahnya dan menemukan pria tersebut sedang menatapnya balik, dilengkapi dengan senyuman sedih di wajahnya.
"Hubungan kami udah gak kaya gitu lagi," ucapnya, menimbulkan banyak pertanyaan baru di benak Monik. "Bakalan panjang kalau diceritakan. Sebentar," ucap Catur sebelum berdiri dan memesan dua cup gelato lagi, kali ini rasa Chocho chips dan lemon.
Monik menerima cup gelato rasa lemon yang disodorkan oleh Catur sebelum duduk kembali. "Kok bisa tau rasa yang aku suka, sih?" tanya Monik heran. Kalau sekali mungkin kebetulan, tapi ini sudah yang ke-2 kalinya.
"Hasil kepoin kamu semingguan ini," jawab Catur tak acuh, sebelum menyuapkan gelato ke mulutnya.
"Maaf sebelumnya, Mas. Tapi aku pengen pastiin aja, are you really into me?" tanya Monik, tak habis pikir menghadapi kelakuan kakek-kakek di hadapannya. [Mas beneran naksir aku?]
"Isn't that ... obvious?" Catur bertanya kembali. [Bukannya udah jelas?]
"Oh, God." Monik menepuk keningnya.
"Dengerin dulu ya, Cantik. Jangan disela."
Monik yang terbiasa menyela omongan orang, membuka mulutnya. Namun, dia mengatupkannya kembali kala melihat Catur mengangkat alisnya. Monik pun mengangguk, walaupun dia merasa aneh, tak biasanya dia segampang ini untuk menuruti perkataan orang lain.
"Tujuh tahun lalu, rumah kami kebakaran. Saat itu aku sama Edna ada acara di luar. Pas sampai rumah, aku lihat ada dua orang yang nyulut api lalu kabur pakai motor. Api menyebar cepat sekali, tanpa pikir panjang, aku nerobos jendela kaca dan masuk rumah ...." Catur menurunkan garis leher sweaternya untuk menunjukkan bekas luka yang cukup panjang di bahunya, terlihat bahwa di area dadanya terdapat sebuah tato yang membuat Monik ingin melihat Catur tanpa atasan supaya bisa melihat keseluruhan desain tato tersebut. 'Sexy-nya aki-aki satu ini,' batinnya.
"Dari kilatan cahaya api, aku lihat rambut almarhumah mamanya Edna di lantai dua, langsung kusamperin, pas aku cek ada luka tembakan di kening sama dadanya. Sayangnya beliau sudah meninggal, bau bensin menyengat sekali dari tubuhnya. Saat itu aku nunduk dan baru sadar kalau Chika ada di ruang tamu dalam keadaan nggak sadar. Aku langsung lari ke bawah dan cek tanda vitalnya, dia luka parah di bagian belakang kepala, tapi masih hidup."
"Panik, aku langsung gotong Chika ke mobil, minta Edna nyetir ngebut ke rumah sakit terdekat. Saat itu aku sudah kalut, sambil pegangin Cika di jok belakang, aku telepon orang-orangku buat urus rumah dan jasad mertuaku. Sayangnya saat mereka datang, rumah kami sudah terbakar habis dan kondisi jasad almarhumah buruk sekali, terbakar sampai nggak bisa dikenali."
"Aku harus bikin keputusan cepat untuk lindungi keluargaku. Makanya, saat Bams kasih saran buat samarkan nama kami dan pindah ke Banyuwangi, tanpa pikir panjang aku ambil tawarannya. Bagiku keselamatan keluarga nomor satu. Tapi ... Edna gak lagi sama."
"Secara gak langsung dia salahkan aku atas apa yang menimpa ibunya dan Chika. Biarpun sudah menjelaskan berulang kali kalau aku nggak ada sangkut pautnya sama pelaku insiden itu, dia menolak percaya. Dia butuh seseorang untuk dijadikan pelampiasan, dan aku mengalah."
"Saat itu kami sudah 34 tahun menikah, dan keputusan untuk pisah ranjang kami ambil, walaupun secara hukum kami masih sah sebagai suami-istri. Kami memutuskan untuk nggak cerai, karena gak pengen Chika tau kalau orang tuanya sudah nggak sama-sama lagi. Kuatirnya akan berpengaruh sama kondisi mentalnya, apalagi setelah mengalami kecelakaan separah itu. Sejak 5 tahun yang lalu, kami sepakat untuk hidup bersama sebagai sahabat, keluarga."
"Sama seperti aku berharap Edna bahagia, dia pun sama. Malah dia yang menyadarkan kalau aku tertarik sama kamu. Dia seneng banget aku naruh perhatian ke perempuan lagi setelah sekian lama."
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com