Truyen2U.Net quay lại rồi đây! Các bạn truy cập Truyen2U.Com. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

8. Plan 3 - Will

"...yang ketiga, pilihlah sesuai kehendakmu..."

"Caranya bagaimana?"

"Tidak ada cara khusus. Kehendakmu itu berhubungan dengan pikiranmu yang harus memilih dengan mempertimbangkan berbagai keputusan. Dan keputusan ini, lebih dari sekedar kata hati atau kata tubuhmu. Kehendakmu, mungkin akan membuatmu menjadi orang paling lapang dada atau malah orang paling egois yang pernah ada."

"..jadi apa yang harus aku lakukan?"

"Cara ketiga,...."

***

Tandanya benar-benar kembali tegas.

Porschay membatin sambil mengingat-ingat bagaimana bentuk tanda mate-nya pagi ini saat dia memperhatikan cermin. Tanda mate yang mungkin sudah kembali berubah sejak Beberapa hari lalu sejak dia mengalami heat pertamanya.

Heat-nya yang kemudian dibantu oleh Kimhan tanpa sepengetahuannya.

Oh ralat. Dia tau, dia cukup sadar saat menghubungi Kimhan dan meminta tolong. Yang dia tidak tau adalah apa yang sebenarnya terjadi setelah itu. Namun Porschay yakin kalau tidak terjadi apa-apa setelahnya. Heatnya selesai di hari berikutnya karena -entah bagaimana caranya- Kimhan membuatnya meminum suppressant di waktu yang tepat. Dan hanya itu. Selebihnya tidak ada lagi yang terjadi selain Porschay yang kembali menyadari bahwa jarum di tanda mate miliknya kembali tegas setelah sebelumnya jarum milik Kimhan sempat memudar.

Oh, dan juga, feromon Kimhan yang memenuhinya sekarang.

Hanya itu.

Kalau begini caranya, kapan selesainya? Batin Porschay menjerit keras.

Dalam lamunannya sambil berjalan di sepanjang Lorong sekolah ini, Porschay masih terus saja memikirkan solusi apa yang harus dia lakukan. Dia merasa cara yang dilakukannya tidak membuahkan hasil sama sekali. Baik tips dari Great Omega ataupun tips dari Tankhun, dua-duanya selalu berujung ke hal yang sama. Tetap membuatnya bimbang.

Omong-omong, Porschay sekarang memang sedang berada di sekolahnya. Kunjungan terakhir sambil mengambil ijazah kelulusannya yang akan dia gunakan untuk melengkapi dokumen pendaftaran kuliahnya nanti.

Seharusnya dia berangkat kemari pukul 8 tadi bersama Macau. Tapi mendadak Alpha itu mengatakan bahwa dia tiba-tiba ada urusan lain dan mengharuskan Porschay berangkat sendirian. Tanpa teman, karena memang semua temannya sudah mengambil ijazah ini dua hari lalu saat dia masih mengalami heat.

Sambil mendekap map ijazah, Porschay terus berjalan pelan menyusuri Lorong tersebut. Hingga tiba-tiba di sebuah persimpangan, telinganya yang memang sedikit lebih sensitive terhadap suara itu menangkap ada percakapan sekelompok orang yang sepertinya, membicarakannya.

"...aku pikir kalian sudah tau? Ingat video yang beredar beberapa minggu lalu saat Kak Kim hampir berkelahi di bar bersama Macau? Itu juga kan gara-gara Porschay!"

"Benarkah? Aku kira mereka memang ada masalah keluarga saja."

"Ada video dari sisi lain yang menunjukkan ada Chay disana. Dan orang yang mengunggahnya juga mengatakan bahwa saat itu Macau melakukan scenting pada Chay tapi kemudian dia pulang bersama Kak Kim."

"Astaga! Bagaimana bisa jadi seperti itu?"

"Aku tidak tau. Tapi, bukankah kamu berpikir itu menunjukkan bagaimana dia sebenarnya?"

"Bagaimana dia sebenarnya seperti apa yang kamu maksud?"

"Murahan."

"Hah?"

"Ya apa lagi Namanya kalau secara serakah mendekati dua orang Alpha selain dia murahan?"

"Jangan seperti itu. Kan kita tidak tau apa-apa. Siapa tau salah satu dari mereka berdua adalah mate-nya Porschay."

"Justru itu! Kalau salah satunya mate-nya, bukanlah Namanya sangat kurang ajar tetap mendekati dua orang secara bersamaan? Apalagi dua orang ini adalah keluarga."

"Ya tap ikan—"

"Dia memang tau saja kalau Theerapanyakul itu memang kaya. Yang satunya adiknya King, yang satunya pewaris berbagai bisnis."

"Kamu jangan mengatakan itu, aku jadi ikut berpikiran buruk."

"Memangnya kamu bisa berpikiran positif? Semua buktinya sudah jelas didepan mata. Kalau aku jadi Kak Kim atau Macau sih aku tidak akan mau dengan dia ya. Seorang Omega yang bahkan tidak bisa menentukan pilihannya tidak ada bedanya dengan jalang murahan yang sebenarnya rakus ingin menguasai semuanya."

Seorang Omega yang bahkan tidak bisa menentukan pilihannya tidak ada bedanya dengan jalang murahan yang sebenarnya rakus ingin menguasai semuanya.

Porschay mendadak tertegun karena kalimat tersebut. Benarkah... benarkah demikian?

Apakah dia memang bukan tidak bisa menentukan pilihan? Tapi itu lebih karena dia memang ingin memiliki semuanya, memiliki keduanya.

Benarkah demikian?

Mendadak Porschay merasakan ada batu besar imajiner yang menghantam dadanya. Fakta bahwa dia seorang omega yang memiliki dua calon mate saja sudah aneh.

"...Lagipula, tidak ada Alpha yang mau bersama dengan omega yang dengan mudah menempel kesana kemari begitu saja..."

Kalimat itu juga benar.

Alpha mana yang mau bersama dengan seorang Omega yang bahkan memiliki dua tanda mate? Alpha mana yang mau dijadikan pertimbangan disaat seharusnya mereka menjadi satu-satunya?

Ada rasa kosong dan nyeri yang memenuhi dada Porschay sekarang. Seperti sekarang dadanya dicengkeram oleh sesuatu dengan begitu kuat. Melukai perasaannya, melukai pikirannya dan juga hatinya.

Porschay merasa, dia baru saja disadarkan...

Kimhan dan Macau mungkin berhak mendapatkan yang lebih baik darinya. Yang bukan seorang omega yang tidak konsisten seperti dirinya.

Seharusnya begitu...

"...Chay?! Heh!"

Porschay tersadar begitu merasakan sebuah tepukan keras di bahunya. Dan saat dia benar-benar mengumpulkan kewarasannya lagi, dia mendapati ada Macau disana. Menatapnya dengan pandangan heran. Namun kemudian Alpha itu seketika langsung menggaruk ujung hidungnya sendiri.

"Ayo pulang." Ajaknya.

Namun yang membuat Porschay sedikit terganggu adalah fakta bahwa Macau masih menggaruk ujung hidungnya dan dia jelas tau kenapa.

Feromon Kimhan masih menempel erat di tubuhnya.

Dan itu mendadak membuat Porschay merasa kecil. Dia, malu.

"Aku akan pulang sendiri." Jawab Chay cepat lalu dengan langkah secepat kilat langsung pergi darisana. Meninggalkan Macau yang meneriakkan namanya dibelakang sana.

***

"Aku pulang." Porschay mengucapkan salam saat memasuki pintu rumahnya karena dia melihat motor Porsche terparkir diluar rumah. Yang tandanya, kakaknya itu akhirnya pulang juga setelah berhari-hari pergi entah kemana -yang pasti sih menghabiskan waktu bersama Kinn—.

"Oh sudah pulang? Kamu mengambil ijazah ya?" Porsche yang sedang duduk bersantai di ruang tamu menoleh dan menemukan Porschay yang mendekap sebuah map yang jelas dia tau apa isinya. Namun yang dilakukan Porsche selanjutnya setelah menolehkan kepalanya tersebut adalah menyadari ada yang berbeda dengan Porschay.

Dan saat adiknya itu sudah masuk, meletakkan ijazahnya diatas meja dengan dia yang duduk di seberang Porsche, Porsche baru menyadari apa yang berbeda.

"Kamu berbau seperti Kimhan." Porsche menggaruk ujung hidungnya. Feromon yang menempel di tubuh Chay bukan feromon biasa. Itu adalah feromon tanda dominasi. Dan itu membuatnya sedikit terganggu dengan aroma tidak familiar ini.

"..Sepertinya minggu lalu kamu baru pulang dengan aroma Macau, kenapa sekarang berganti menjadi Kimhan? Aku kira kamu sudah menentukan pilihan."

Porsche sebenarnya tidak memiliki niat apapun saat bertanya seperti itu. Namun dari sudut pandang Chay yang memang sedang sensitif terkait feromon dan mate, semuanya berbeda. Dia, merasa sakit hati.

"Kenapa?" Tanya Chay "Kamu tanya kenapa, Kak?" Nada suara Chay sekarang terdengar berubah. Bukan lagi nada bicara manis seperti yang biasa dia lakukan sehari-hari. Namun kini nada bicara itu terdengar naik satu oktaf dan itu membuat Porsche mengerut heran.

"Kamu bertanya kenapa? Memangnya kenapa dengan ini semua? Apakah kamu juga akan mengatakan aku murahan? Apakah kamu juga akan mengatakan aku terlihat seperti seorang jalang?!" Chay berdiri dari duduknya dan semakin meninggikan nada suaranya. Dan reaksi Chay yang begitu tiba-tiba itu tentu membuat Porsche bingung sekaligus heran.

"Hey, hey. Apa yang kamu bicarakan? Jangan berteriak dan duduklah."

"Aku tidak pernah mau ada dalam posisi ini! Aku tidak pernah meminta! Kenapa takdir mempermainkanku, aku juga tidak tau!" Tapi Chay terlihat tidak peduli dan masih meneruskan seruan kerasnya "Andai saja kamu ada disini disaat aku paling membutuhkan, andai saja kamu tidak hilang disaat aku membutuhkan bantuan! Andai saja kamu tidak egois dengan meninggalkan aku sendirian Beberapa hari lalu, semua tidak akan menjadi seperti ini!"

Emosi benar-benar menguasai Porschay hingga dia tanpa sadar mengeluarkan berbagai emosi yang terpendam didalam dirinya. Air matanya bahkan sudah menggenang di pelupuk mata dan siap jatuh kapanpun dia berkedip. Dia bahkan tidak berpikir bahwa kalimatnya bisa menyakiti kakaknya barusan.

"Porschay, kamu mengatakan apa sih? Kita bicarakan baik—"

"AKU MUAK DENGAN SEMUANYA! AKU TIDAK INGIN MELAKUKAN INI LAGI! AKU TIDAK MAU!"

Teriakan terakhir benar-benar dilakukan Porschay sebelum kemudian dia berlari keluar, meninggalkan Porsche yang masih memproses semua. Pergi menjauh dari rumahnya sendiri, bahkan tanpa menoleh lagi.

***

Di Lorong istana siang itu, Pete sebagai Great Omega secara tiba-tiba saja terlihat berjalan dengan cepat dan cenderung berlari disana. Bahkan Tem yang ada dibelakangnya pun ikut mempercepat langkahnya untuk menyamai langkah Pete.

"Great Omega jangan berlari! Kandungan Anda masih sangat muda!" Tem berseru memperingatkan. Namun Pete terlihat tidak peduli dan terus memacu langkahnya. Hingga sampai didepan sebuah pintu, dia berhenti sebentar. Menarik nafasnya pelan lalu membuka pintu itu dengan kuat.

Untuk kemudian dia menemukan Chay yang sudah duduk didalam sana dengan wajah basah. Bahkan masih dengan air mata yang menetes deras.

"Chay." Panggil Pete pelan, lalu dia segera berjalan mendekati Chay. Hingga Beberapa langkah terakhir, tanpa aba-aba Chay langsung saja menghambur memeluknya. Membenamkan wajahnya di pelukan Pete. Dan itu membuat Tem hampir saja menarik Chay karena bersikap sedikit kurang ajar pada Great Omega-nya, namun Pete menahan Tem dan memberi intruksi bahwa semuanya tidak apa-apa.

"Kak Pete. Kak... kakak..." Tangisan Porschay terdengar pilu di pelukannya. Dan dengan demikian pun, Pete paham bahwa posisinya sekarang bukan lagi sebagai Great Omega untuk menghadapi Porschay seperti ini.

Tapi dia kembali menjadi seorang Pete. Pete yang biasa bermain bersama Chay, Pete yang biasa menjadi tempat bercerita Chay.

"Iya, Kakak disini." Bisik Pete lembut, mengelus rambut Porschay. Anak ini bahkan masih menggunakan seragam sekolahnya. Apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatnya mendadak ingin bertemu, dan saat bertemu dia justru jatuh patah di pelukannya seperti ini.

"Aku tidak mau kak, aku tidak mau melakukan ini semua. Jangan permainkan aku, aku tidak mau dipermainkan takdir. Kakak..." Racauan Porschay barusan akhirnya membuat Pete sedikit banyak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya membuat Porschay menjadi seperti ini.

Dia tidak bisa menyalahkan Porschay sepenuhnya. Dia tau ini berat untuk seorang omega yang bahkan baru legal sepertinya. Dulu, Pete bahkan juga berpikir bahwa takdir sedang mempermainkannya dengan anugerah dua wolf yang dia miliki sekarang. Tapi ternyata, ada maksud dibalik hal itu.

Dan untuk Porschay, Pete yakin Moon Goddess juga memiliki maksud untuk ini semua. Maksud yang dia sendiri tidak mengerti, namun pasti ada tujuannya.

Pete harus berhati-hati untuk mengatakan hal itu pada Porschay.

"Ada apa?" tanya Pete lembut, masih dengan mengelus kepala Porschay dengan tidak kalah lembutnya "Ceritakan pada kakak."

"Aku tidak mau melakukannya, Kak. Tolong katakan pada Moon Goddess untuk membatalkan semuanya. Aku tidak mau, aku tidak mau menjadi murahan karena hal ini. Aku tidak bisa melakukan semuanya. Kak, tolong..." Racauan Porschay semakin tidak terkendali. Dia seperti mengeluarkan apapun yang dia pikirkan dengan tidak tertata.

Dia tau, dia mengerti. Porschay pasti sedang berada di batas kemampuannya untuk melakukan ini semua.

"Bagaimana..." Pete melepaskan pelukan Porschay secara paksa, menghadapkan omega itu untuk menatapnya tepat di manik mata "...bagaimana kalau kamu mengatakannya sendiri pada Moon Goddess?"

Dan begitu saja, setelahnya Pete langsung menutup kedua mata Porschay dengan tangannya hingga tidak lama kemudian omega itu luruh tidak sadarkan diri. Dan Tem yang masih berada disana membantu Pete untuk meraih dan menangkap tubuh Porschay agar tidak jatuh tepat di lantai.

Beta itu memiliki tubuh yang besar, jadi bukan sebuah masalah untuknya mengangkat Porschay dan meletakkannya untuk dibaringkan di sofa Panjang yang tidak jauh dari tempat mereka bertiga berdiri sebelumnya.

Namun sebelum Tem membaringkan Porschay sepenuhnya, Pete meraih tubuh omega itu, lebih tepatnya meraih bagian belakang kemeja yang dia gunakan dan mengangkatnya sepenuhnya. Memperlihatkan bagaimana tanda mate yang ada di tubuh Porschay sekarang.

"Dia benar-benar tidak mau melakukannya." Bisik Pete pelan saat melihat apa yang ada dihadapannya sekarang.

Tanda mate milik Porschay, yang sekarang menunjukkan Kompas tanpa jarum.

Kedua jarumnya menghilang.

"Aku akan bermeditasi." Kata Pete pada Tem "Jaga kami berdua sampai aku kembali terbangun."

Dan selanjutnya, Pete bersiap dalam posisinya untuk menyusul Porschay ke alam ruh-nya sana.

***

Ini adalah kali kedua Porschay bermimpi berada di tempat ini. Mimpi yang menurutnya terlalu nyata dan terlalu jelas untuk dirasakan sebagai sebuah mimpi.

Masih seperti sebelumnya, Porschay menggunakan sebuah kemeja oversize berwarna putih dengan bawahan celana Panjang berwarna khaki. Dia melangkah maju, mendekat ke arah genangan air dibawah air terjun, masuk kesana dan merasakan dinginnya air tersebut.

Mendadak, hatinya terasa damai. Mendadak, semua beban berat yang dia rasakan sebelumnya seperti terangkat.

"Chay." Porschay mendengar suara itu, dan saat dia menoleh ke arah kiri, dia menemukan Pete sedang berjalan ke arahnya, dengan pakaian serba putih dan mengikutinya untuk masuk kedalam air.

"Kak Pete?" tanya Porschay, namun sedetik kemudian dia menggeleng pelan "Ah, ini kan mimpi." Gumamnya.

"Ini bukan mimpi, sayangku." Jawab Pete setelah dia sudah mendekat ke arah Porschay. Selanjutnya dia bahkan memutuskan untuk duduk diatas salah satu batu besar disana, menjulurkan kakinya hingga tenggelam kedalam air. "Ini adalah dunia ruh milikmu, tempat dimana wolf-mu dilahirkan. Dan kamu memiliki kesempatan untuk bisa mengunjungi tempat ini secara langsung." Jelas Pete.

Dan Porschay tertegun. Memikirkan ini semua.

"Benar, bukan mimpi?" Tanyanya. Dan Pete mengangguk yakin.

"Aku menjanjikanmu untuk bertemu langsung dengan Moon Goddess untuk mengatakan semua kekhawatiranmu sendiri."

Mendengar hal itu, entah kenapa membuat Porschay langsung menegang dalam posisinya.

Apakah... apakah dia akan mati hari ini?

Setelah itu secara tiba-tiba Chay bisa mendengar kecipak suara air yang sedikit ribut. Diikuti dengan suara seorang Wanita yang tiba-tiba masuk ke telinga Porschay. Dan saat dia menoleh, dia menemukan seorang Wanita cantik dengan dress putih panjang, rambut hitam legam yang terurai bebas jatuh, dan terlihat mengangkat dressnya sambil mengomel dan berjalan menyusuri air mendekat ke arah mereka.

"Apa sih dasar Great Omega yang sekarang benar-benar menyebalkan ya. Bisa-bisanya mengajakku bertemu secara mendadak seperti ini di tempat yang tidak ramah untuk baju cantikku sekarang! Bagaimana dia bisa kurang ajar menjadi seseorang yang menanggilku seenaknya seperti ini. Ini sebenarnya yang seorang Dewi siapa sih?"

Omelan Wanita itu masih berlanjut hingga dia sudah dekat dengan Porschay dan Pete yang sudah duduk diatas batu. Meninggalkan Porschay dengan sejuta pertanyaan yang muncul di otaknya, sekaligus sejuta pikiran aneh yang menghantui kepalanya.

Kenapa... dia mendadak merasa familiar dengan Wanita ini? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?

"TIDAK!" Wanita itu tiba-tiba mengacungkan jemarinya ke hadapan wajahnya, menunjuknya tepat didepan hidung "Apapun yang kamu pikirkan, kita tidak pernah bertemu sebelumnya, MENGERTI?!"

Mau tidak mau tentu Porschay mengangguk berulang kali setelah dibentak seperti itu. Namun demikian, otaknya masih merasa janggal. Seperti dia benar-benar melupakan sesuatu yang seharusnya dia ingat.

"Dia adalah Moon Goddess. Beri salam." Kata Pete tiba-tiba dan hal itu langsung membuat Chay melebarkan matanya dan secepat kilat langsung membungkukkan tubuhnya dalam.

Bagaimana bisa dia bertemu dengan seorang Dewi seperti ini? Apakah dia akan dihukum kalau dia tidak bersikap sopan?

Tapi sebenarnya lebih dari itu yang membuat Porschay sedikit salah fokus adalah, bagaimana seorang Dewi ternyata bersikap seperti ini.

Maksudnya, terlalu santai dan terlalu blak-blakan.

"Aishh, sudah sudah. Tidak perlu seperti itu." Selene menepuk punggung Porschay yang membungkuk untuk membuatnya kembali tegak.

"Duduk!" Perintahnya selanjutnya sambil menunjuk batu yang juga diduduki Pete. Tanpa banyak bicara, Chay tentu langsung menurutinya. Duduk seperti anak baik disana, meskipun juga dengan gugup.

"Jadi ada apa?" Selene bertanya.

Chay langsung saja melirik ke arah Pete dan diangguki oleh Great Omega itu. Meyakinkannya untuk mengatakan apapun yang harus dia katakan.

"Moon Goddess, saya ingin— saya ingin berhenti melakukan takdir ini, saya tidak bisa. Tolong hapus takdir ini." Chay menunduk dalam sambil mengutarakan apa yang dia pikirkan. Dia begitu gugup untuk mengatakan ini semua.

Bagaimana dia bisa berani menentang takdir didepan seorang Dewi? Bukankah itu terlalu kurang ajar?

Namun Porschay juga mengakui kalau dia tidak melakukannya, dia sudah tidak sanggup lagi dengan semua ini.

Hening sekian lama melingkupi mereka bertiga didepan air terjun tersebut. Hanya terdengar gemericik air dan juga suara air terjun itu sendiri. Hingga kemudian Porschay merasakan belaian hangat menyentuh rambutnya. Begitu hangat dan lembut, mengelusnya. Dan itu... mengingatkannya pada belaian yang diberikan ibunya dulu.

"Kenapa, anakku?" Suara Selene kembali terdengar. Kini lebih bersahaja, lebih hangat, dan membuat Porschay merasa dia benar-benar dilindungi.

"Kenapa saya?" Bukannya menjawab pertanyaan Selene barusan, Porschay justru mengembalikan dengan pertanyaan lagi. Dan juga memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya.

"Karena kamu mampu melakukannya. Hanya kamu." Jawab Selene, masih mengelus rambut Porschay dengan lembut.

"Tidak. Saya tidak bisa. Semuanya terlalu berat untuk saya. Saya bahkan tidak paham bagaimana melakukannya, saya tidak paham apa yang akan terjadi kedepan kalau misalnya saja saya salah mengambil keputusan. Saya juga— saya tidak bisa."

Pete hanya memperhatikan keduanya yang sedang menyelesaikan urusan mereka dalam diam. Dia tau saat sudah seperti ini, sudah bukan areanya lagi untuk ikut campur. Biarkan Selene sendiri yang menjelaskan tentang apa yang harus dilakukan Porschay.

"Sebenarnya apa yang kamu khawatirkan?" Selene kembali bertanya. Namun kini Porschay tidak langsung menjawab. Dia justru diam dan menunduk. Hingga tangannya kemudian diraih Selene dan diarahkan ke dadanya sendiri. Hingga membuat Porschay bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang nyata dibawah telapak tangannya.

"Setiap hambaku yang masih memiliki detak didalam sana memiliki kesempatan yang sama untuk menerima takdir kehidupan dariku. Dan takdir itu, aku berikan pada mereka berdasarkan kemampuan yang mereka miliki. Aku tidak mungkin salah dalam menentukan takdir. Aku mengijinkanmu melakukannya karena aku memandangmu mampu menjalani semuanya." Kata Selene lembut.

"Kamu tidak tau apa yang kamu khawatirkan. Jadi bagaimana kalau aku menyimpulkan bahwa sebenarnya kamu khawatir terhadap pendapat orang lain? Bukan tentang apakah kamu mampu atau tidak."

Suara gemericik air disana entah kenapa terdengar makin jelas di telinga Porschay. Berikut pula dengan detak jantungnya sendiri yang semakin keras dibawah telapak tangannya.

"Jangan bergantung pada pemahamanmu sendiri, Anakku. Karena Aku tidak memberikanmu roh ketakutan; tetapi kekuatan, dan cinta, dan pikiran yang sehat."

Air mata hangat kembali merebak di mata Porschay. Tiba-tiba saja dia merasakan kehangatan yang sudah sejak lama absen dari hidupnya. Tiba-tiba dia merasa kehangatan yang merengkuhnya dalam. Mengisi rasa percaya dirinya untuk kembali penuh.

"Saya... bisa melakukannya?"

"Tentu!" Jawab Selene yakin "Jika semuanya berat, berhentilah sejenak dan datang kepadaku. Namun jangan pernah berhenti. Jangan pernah menyerah pada apa yang kamu lakukan. Datanglah dengan beban beratmu itu dan aku akan membantumu meringankannya."

Satu tetes air mata sudah jatuh di pipi Porschay, diikuti dengan tetesan-tetesan yang lainnya. Dan itu juga diiringi dengan elusan tangan Selene yang kini turun ke pipinya. Mengusap disana.

"Menangislah, namun setelah ini berjanjilah kamu akan tersenyum Bahagia lagi." Bisiknya. Dan Porschay melakukannya. Beberapa menit dia menangis disana, ditemani Great Omega dan juga Selene, didalam alam ruh-nya. Berusaha membuat dadanya sendiri lega.

Hingga Beberapa saat kemudian tangisnya sudah mulai berhenti dan hanya tersisa isakan pelannya. Porschay masih merasakan tangan hangat Selene yang ada di pipinya, tapi kemudian tangan itu meraih dagunya dan mengangkat wajahnya untuk menatap Selene lurus.

"Sekarang, apakah kamu membutuhkan saran dariku untuk membuat keputusan?"

***

Porschay terbangun dengan nafas terengah, sesak, dan posisi terduduk. Matanya berkeliling nyalang ke sekeliling ruangan dan memperhatikan dimana dia sekarang.

Dia sudah berada di kamarnya. Entah bagaimana. Namun bukan itu yang penting sekarang.

Porschay mengingat semuanya. Tentang pertemuannya dengan Moon Goddess di alam ruh-nya. Dan tentang apa yang dikatakan Dewi itu kepadanya sebelum dia harus terbangun.

Tentang bagaimana dia harus mengambil keputusan.

Kepalanya menoleh ke kiri ranjang, tepat ke arah cermin besar disana yang memantulkan bayangan dirinya sendiri. Bayangan seorang Porschay yang menatapnya dengan penuh keyakinan.

Satu anggukan dia lakukan, sebelum kemudian dia mencari-cari ponselnya dan menghubungi salah satu kontak disana.

Aku akan mengambil keputusan saat ini juga.

Tiga deringan terdengar di ponsel Porschay, sebelum kemudian sebuah suara menjawab panggilannya dari ujung sana.

"Halo..."

"Macau!" Panggil Porschay "Ayo pergi ke pantai!"

***

Aku gak tau ternyata aku kangen banget sama Selene!

Tiap nulis dia tuh seru banget rasanya wkwkwk. I miss her sooo muchhhhh!

Btw, chapter depan end hehe.

Sebel gak udah sampe chapter ini tapi belom jelas siapa yang bakalan dipilih Chay? Lol. 

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen2U.Com